Kalau istilahnya berobah, apakah perjanjian yang dicapai di Helsinki juga 
dibatalkan, karena yang ditandatangi atas nama NAD  

  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 22, 2009 5:03 AM
  Subject: [pantau-komunitas] Nama NAD Menjadi Aceh Lagi





  Jakarta 20 Mei 2009

  Untuk mensosialisasikan nama Aceh bagi warga ibukota Jakarta,
  Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan:"Hadirin sekalian, perlu
  diketahui, sekarang nama Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sudah di ganti
  seperti semula menjadi ACEH, tolong di sebarluaskan".

  Gubernur Aceh Irwandi Yusuf  hadir di acara seminar "Menggerakkan
  Kawasan Sabang Sesuai Statusnya", di Hotel Borobudur, Jakarta,
  selasa(19/5) siang jam 12:30 WIB, yang di adakan oleh BPKS (Badan
  Penguasaan Kawasan Sabang).

  Pak Gubernur, kapan nama NAD berubah menjadi Aceh? Setelah berpikir
  sejenak, beliau menjawab :Sejak keluar Peraturan Gubernur tanggal 7
  April 2009".

  Setelah makan siang usai, acara ramah tamah antara para peserta
  seminar, saat di tanyai lebih lanjut, mengapa nama NAD di rubah menjadi
  Aceh, beliau menjawab: "Aceh ya Aceh, sejak dahulu; nama NAD itu hanya
  pemberian pusat (Jakarta) agar menarik perhatian bagi GAM bahwa Aceh
  telah menjadi Nanggroe  / Negeri (Nanggroe Aceh Darussalam)."
  "Itu hanya akal-akalan pusat saja, yang penting substansinya;
  ngapain NAD-NAD, palak kali (marah sekali) Aku saat mendengar orang
  ngomong (bicara) NAD-NAD, mau Aku pukul orang itu yang ngomong
  NAD-NAD", ujar Irwandi.

  Menyinggung baru sekarang tahun 2009 NAD berubah menjadi Aceh,
  "Sekarang Aku Gubernur nya, Aku yang berkuasa di Aceh", kata Irwandi
  Yusuf berapi-api.

  "Lihat saat PON (Pekan Olahraga Nasional) berlangsung, dahulu Aceh
  pada parade pembukaan selalu di urutan awal, karena sesuai abjad A
  (Aceh); setelah di ganti NAD menjadi paling akhir,sebab abjad N (NAD)".

  Tentang perubahan nama provinsi NAD menjadi Aceh kembali, apakah
  pusat sudah setuju? " Ya sudah, pusat sudah Aku surati, mereka setuju;
  sekarang semua kop surat, nama plang kantor, cap stempel sudah di ganti
  menjadi ACEH".

  "Kamu sudah makan? makan dulu kesana, sudah pak", menutup percakapan
  siang itu. Sebelumnya terlihat Irwandi Yusuf turut antri megambil
  makan, setelah itu beliau buru-buru pulang ke Aceh, masih banyak
  kerjaan, datang ya ke Aceh, main- main ke Sabang, berkunjung ke kilometer 
nol, berenang di taman laut pulau rubiah, pantai iboih, pantai gapang, pantai 
kasih, lihat ribuan benteng jepang, pergi ke pulau terluar pulau rondo serta 
nikmati segala keindahan kota sabang.

  "Aceh sudah aman lho, tidak seperti di Jakarta, banyak copet,
  maling, jambret, kita berjalan sering di tabrak orang", kata Irwandi
  sambil tertawa.

  "Aku capai kerja ngurusin Sabang, tapi pusat (Jakarta) selama
  sembilan tahun, status sabang belum dapat bergerak secara optimal,
  karena belum ada PP (peraturan pemerintah) yang di keluarin, jadi
  implementasi UU NO. 37 tahun 2000 dan UU NO 11 Tahun 2006 terhambat".

  Pengembangan kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang
  untuk 20 tahun kedepan butuh investasi Rp 11,043 trilyun, saat ini baru
  Rp 1,2 trilyun yang di berikan pemerintah kepada Aceh.

  wassalam
  RACHMAD YULIADI NASIRINDEPENDENTpemerhati public & mediarbacakoran at yahoo 
dot comwww.walikotasabang.blogspot.com


  

Kirim email ke