Meunje kasalah jalanphon tjit ladju meutjarueh-tjarueh
mansabohnjan. Meukaroh mengen ngen djen, lagee hanmungkenle meungen
ngen manusia. Paleng tjareng geuseumike peue tameungen ngen aneukdjen
atawa ngen madjen. Meunje tameungen ngen aneukdjen geutanjoe djikituk
le madjen atawa bapakdjen. Njeng djeulaih hanle leukang ngen djen, bah
pih tapeugah njeng beutei meunurot Po teuh Allah, teutap lamgeutiiek
djentjit disosok. Disinankeuh teuka istilah bahwa puliteknjan djeuheut
atawa djahat. Meusababnjan pajah meureunoe kiban definisi pulitek
Iseulam yang origin atawa Siasah fatanah, bek peugah-peugah manteng hai ibnu 
Maad.
Islam origin adalah Islam dua dimensi. Islam yang diproklamirkan
Rasulullah, Muhammad saw wa aalihi. Islam yang dimulai dengan kata
"Tidak" oleh Rasulullah dihadapan Abu Sofyan, prototipe almunafiqun
dimana fenomenanya dapat kita saksikan di Acheh sekarang ini. Islam
yang dilanjutkan dengan kata tidak oleh Imam Ali bin Abi Thalib di
majlis made in Umar bin Khattab. Islam yang dimulai dengan kata "Tidak"
oleh Imam Hussein bin Ali dihadapan Yazid bin Muawiyah, kendatipun para
keluarga Rasul itu dibantai oleh Pengikut Yazid bin Muawiyah, dimana
prototipenya dapat kita saksikan di Jawa hingga menular ke Acheh -
Sumatra. Islam yang dimulai dengan kata "Tidak" oleh Imam Khomaini cs
dihadapan Shah Reda Palevi. Islam yang dimulai dengan kata "Tidak" oleh
Tgk Hasan Ditiro dihadapan para Yazid-yazid Hindunesia tapi sekarang
seperti benarnya apa yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani dibawah
ini.

Wahai bangsa Acheh. Tgk Hasan Tiro mengatakan lebih baik mati berkalang
tanah daripada hidup dalam system Hindunesia almunafiqun, type Yazid
bin Muawiyah yang mengaku beragama Islam tapi membunuh keluarga
Rasulullah.
Tgk Hasan Tiro mengambil inspirasi perjuangannya dari peristiwa
"Karbala", Imam Hussein berani menantang Pengusa zalim walau mati
sekalipun, kenapa bangsa Acheh tidak?  Dalam kalender Neugara Acheh,Tgk
Hasan Ditiro menyertakan hari Hasan - Hussein sebagai hari besar Acheh
- Sumatra. Mengapa kita tidak menelusuri pikiran Tgk Hasan saat beliau
masih produktif dalam berfikir?

Kita yang masih sadar, harus berdaya upaya untuk mengingatkan bangsa
kita walaupun kebanyakan dari mereka salah paham terhadap kita.
Sudirman keliru, ketika dia menyamakan perdamaian Helsinki sama dengan
perdamaian Hudaibiyah. Sekarang 99 % untuk Hindunesia dan hanya 1 %
untuk Acheh - Sumatra (baca kemungkinan merdeka).
Mampukah PA meraihnya? atau tenggelam terus dalam jurang yang dalam. 
Renungkanlah saudaraku.
(alasytar, Acheh -Sumatra)



________________________________
From: Fadli Hasan <[email protected]>
To: [email protected]; Atjeh Lon Sajang <[email protected]>
Cc: [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; JUNISHAR Al <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
universityofwarwickofceulaka <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
sisinga maharaja <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib
 <[email protected]>; [email protected]; Niklin Jusuf 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; AJI Banda Aceh <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected];
 [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Saturday, June 13, 2009 4:54:27 AM
Subject: [OPOSISI] BANGSA ACEH YANG SAKIT JIWA SEDANG BERSIAP2 UTK MEMILIH 
PEMBUNUH BANGSANYA MENJADI PEMIMPINNYA





Musim “Stockholm syndrome”

Oleh Yusra Habib Abdul Gani
[Serambi Indonsia, Opini, 6 June 2009] 
ISTILAH “Stockholm syndrome” muncul pertama dalam sejarah psychology
modern, setelah peristiwa perampokan bersenjata yang dilakukan oleh Jan
Erik Olson, dengan menyandera pegawai “Kreditbanken” di jantung kota
Stockholm selama enam hari (tgl. 23 - 28/08/1973). Belum setengah jam
setelah kejadian, Polisi Swedia mengepung. Olson menembak seorang
anggota Polisi yang merambah masuk. Anggota polisi yang luka tembak
diselamatka, sementara itu, para sandera diperintahkan duduk di kursi
dan Olson menyanyikan lagu “Lonesome Cowboy” guna menghiburnya. 

Ulah penyandera bikin pihak berkuasa dan Polisi geram dan marah,
apalagi Olson menelefon Perdana Menteri Swedia, Olof Palme, yang
nadanya mengancam akan membunuh semua sandera sambil mendengarkan suara
jeritan, kalau tuntutannya tidak dipenuhi. Olof Palme sempat menyatakan
rasa kesalnya atas sikap Polisi yang dinilai kurang agresif yang
seolah-olah membiarkan perampok bebas dan para sandera menderita.
Padahal sesungguhnya, Polisi sedang menyususn taktik dan negosisasi
dengan penyandera dengan maksud mengelak terjadi kontak senjata dan
korban jiwa. 

Dalam rentang enam hari itu, yang dihadapi serentak oleh penyandera
ialah Penguasa, Polisi serta para sandera. Olson berhasil membangun
rasa persahabatan -musuh yang mesti dimusuhi- saling percaya, mengubur
kebencian dan merapatkan emosinya dengan para sandera. Hubungan emosi
yang diciptakan Olson tak ubahnya seperti “emosi atau naluri anak baru
lahir untuk membentuk suatu emosi yang akrab dengan orang dewasa,
saling mengenal dan menghargai.” Frank M. Ochberg & David A.
Soskis. “Victims of Terrorism”. Boulder Colorado: Westview Press, 1982.
Penampilannya intelek, prilakunya menarik dan dalam situasi yang
genting, Olson menyanyikan lagu Roberta Flack’s berjudul: “Killing Me
Softly” yang membuat para sandera merasa kagum dan simpatik kepadanya. 

Pada 26. Agustus, Polisi coba melobangi dinding dengan perkiraan bisa
menditeksi posisi sandera dan penyandera, tapi gagal. Pada 28 Agustus,
dalam pembicaraannya dengan Perdana Menteri Swedia, Olson mengancam
membunuh para sandera dengan memakai gas. Dia menyandera 4 orang dalam
bilik jerjak besi dan meminta tebusan supaya rekannya (Clark Olofson
yang meringkuk dalam penjara), dihantar ke sana dengan membawa uang
tiga million Kronor ($730,000 US 1973), dua pucuk senjata lengkap
dengan peluru, pakaian tahan peluru dan mobil cepat. Bagaimana pun,
atas izin dari pihak Penguasa dan Dinas inteligen, Olofson akhirnya
diangkut dan masuk Bank bersama beberapa personil Polisi sebagai
negosiator. Olson dan Olofson menghalangi Polisi merapat ke ruang
jerjak besi, tempat 4 orang sandera. Juru runding setuju memenuhi semua
perintah Olson, termasuk memberi sebuah mobil cepat untuk melarikan
diri, tapi tidak mengizinkan membawa serta 4 orang sandera, jika mau
selamat. Satu jam setengah kemudian mereka menyerah. 

Kristin Enmark, seorang sandera mengaku bahwa mereka merasa lebih
terjamin dan selamat bersama Olson dan Olofson. Rasa simpatik, bukan
saja diperlihatkan selama disekap enam hari, melainkan juga di luar,
sesudah mereka bebas. Para sandera sering mengunjungi, mengirim kartu
ulang tahun, mengantar makanan ke Penjara. Selama 10 tahun meringkuk
dalam Penjara, Olson banyak menerima surat simpatik dari wanita-wanita
yang pernah dikenalnya selama ini, bahkan berjanji kepada salah
seorang, bila sampai saatnya nanti, akan mengajaknya untuk melakukan
‘unlawful activities’. Kristin Enmark berjumpa dan menganggap bekas
penyanderannya itu sebagai teman akrab dan menyatu dalam famili Kristin
Enmark. Semua ini Olson lakukan, berkat inspirasi dari film
Norrmalmstorg, dibintangi oleh Håkan Lindhé yang disiarkan TV Swedia
pada August 29, 2003. 

Inti dari “Stockholm syndrome” ialah: gejala atau perubahan prilaku
jiwa orang-orang yang disandera, dirampas kemerdekaannya, dizalimi,
diteror dan trauma berubah secara ektreem dari rasa membenci menjadi
cinta dan simpatik kepada penyandera mereka. “Unsur yang paling penting
dalam “Stockholm Syndrome” ialah: tidak didapatinya perkataan kasar dan
penjagaan ketat dari penyandera, sehingga lebih mudah dimengerti,
mengapa ada sokongan para sandera, cinta dan merasa saling
ketergantungan sesama mereka. Setiap syndrome mempunyai beberapa
gejala, tapi “Stockholm Syndrome” merupakan pengecualian.” Dr. Joseph M
Carver, PhD. “Love and Stockholm Syndrome”. Korban “Stockholm syndrome”
sama sekali tidak menyadari kalau mereka dalam aksi penjagaan. Inilah
yang kebanyakan terjadi dalam ‘psychologically traumatic situations’
dimana mereka tidak pernah tahu epilognya. “Stockholm Syndrome”
menyertakan ikatan emosional yang dalam dan saling memerlukan.” Dee
L.R. Graham, Edna Rawlings, Nelly Rimini. “The Stockholm Syndrome: Not
Just For Hostages.” 

Gejala (sympthom) kejiwaan ini menjadi objek menarik untuk dikaji dalam
laboratorium psykology. Bayangkan saja, mereka justeru lebih takut
kepada polisi yang kemungkinan menambah runyam masalah oleh sebab
menggunakan pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan kasus ini. Yang
tidak kurang menariknya adalah: “They clearly sympathized with their
captors, which has led to academic interest in the matter.” Kriminolog
Nils Bejerot. Berdasarkan analisis psycholog ini disimpulakn bahwa:
Natascha Kampusch (10 tahun) yang diculik oleh Wolfgang Priklopil
selama delapan tahun di Austria, menderita “Stockholm syndrome.” Dia
sukar menyembunyikan rasa sedih dan simpatik kepada penculiknya yang
mati bunuh diri. Begitu pula Patty Hearst, pewaris millioner, diculik
oleh “Symbionese Liberation Army.” Setelah dua bulan, Patty ikut serta
menyusun strategi perampokan yang dilakukan bersama. Pengacaranya gagal
membela, kalau kliennya mengidap “Stockholm syndrome”. Kemudian Patty
sadar dan meminta pengurangan hukuman kepada Presiden Jimmy Carter
tahun 1979 dan barulah menerima pemaafan dari Presiden Bill Clinton. 

“Stockholm Syndrome” bisa saja terjadi dalam lingkungan keluarga dan
hubungan persahabatan. Charles T. Brusca malah lebih jauh mengaitkan
dengan politik dan ideologi. “Rentang masa yang panjang, memungkinkan
mereka merapatkan emosi dan rasa ‘human being’ antara para sandera
dengan penyandera, terutama saat berhadapan dengan masalah politik atau
ideology. Ianya bisa berubah menjadi familiar, bertukar pandangan dan
sejarah mereka menentang penguasa. Sampai akhirnya percaya, bahwa
penyadera itu berada pada posisi yang benar.” Charles T. Brusca
“Psychological Responses to Terrorism.”

Demikianlah duduk perkaranya. Jadi, “Stockholm syndrome” merupakan
suatu pengajaran penting tentang prilaku labil (multi dimensi) manusia
. Apalagi jika dikaitkan dengan politik dan ideology. Rasa dendam dan
kebencian terhadap seseorang atau satu kelompok, karena terbukti telah
melakukan kejahatan kamusiaan yang menghancurkan martabat dan peradaban
manusia, bisa bertukar menjadi idola, hormat, tempat mengadu dan
simpatik kepada sipenjahat kemanusiaan itu, bahkan untuk menyatakan
kesetiaannya, mereka memilih sipenjahat itu menjadi Imamnya
(pemimpinnya) . Sekarang, lagi musim sakit jiwa karena mengidap
“Stockholm syndrome”. Hati-hati. 

* Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research.  

________________________________


Trænger du til at se det store billede? Kelkoo giver dig gode tilbud på LCD TV! 
   


      

Kirim email ke