http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=26607

      Selasa, 16 Jun 2009, | 15 

      Mestinya JK Buka Fakta 
     
     
      Jakarta,AE.- Pernyataan calon presiden Jusuf Kalla (JK) mengenai perannya 
dalam proses terciptanya perdamaian di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), mendapat 
dukungan banyak pihak.  Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia 
(LIMA) Ray Rangkuty mengatakan, sudah semestinya JK membuka fakta-fakta yang 
terjadi di internal pemerintahan. 

      Fakta-fakta yang diungkapkan JK sangat penting bagi publik. "Itulah 
fakta-fakta yang selama ini tidak kita ketahui. Jusuf Kalla telah membuka fakta 
tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam lima tahun ini. Tinggal publik yang 
menilai, siapa yang sesungguhnya bekerja, SBY atau JK," ungkap Ray Rangkuty di 
Jakarta, Senin (15/6).

      Seperti diketahui, saat berkampanye di Aceh,Sabtu(13/6), JK menyebutkan 
hanya dirinya yang berani menandatangani perundingan damai RI dengan Gerakan 
Aceh Merdeka (GAM) yang disebut dengan perjanjian Helsinki itu. JK dengan lugas 
juga menyatakan, demokrasi lokal Aceh tumbuh berkat dirinya. Pasalnya 
persetujuan pendirian partai lokal dirinya juga yang menandatangani, sedangkan 
Presiden SBY tidak mau sama sekali.

      Menurut Ray, pernyataan JK tidak boleh dilihat dari kacamata etis atau 
tidak etis. Bagi publik, yang terpenting bisa tahu fakta-fakta apa di 
pemerintahan yang memang harus diketahui publik. Kalau kubu pasangan Susilo 
Bambang Yudhoyono-Boediono menilai pernyataan JK itu tidak etis, kata Ray, itu 
menunjukkan sikap reaktif lawan politik JK. "Karena pihak SBY sudah kehilangan 
ide sehingga hanya menarik pernyataan JK ke bingkai etis atau tidak etis," 
ungkap Ray.

      Kalau bicara etis tidak etis, kata Ray, justru banyak hal tidak etis yang 
dilakukan kubu SBY-Boediono. Antara lain, banyak menteri dan pejabat BUMN yang 
menjadi anggota tim sukses. Bahkan, ada sebuah stasiun TV swasta yang dalam dua 
hari, yakni 13 dan 14 JUni 2009, terus-terusan menayangkan pidato SBY saat 
kampanye di Surabaya dan Kendari, dengan durasi satu jam. "Itu yang tidak etis. 
Saya sedang mengumpulkan data untuk selanjutnya melaporkan ke Bawaslu," ujar 
mantan Koordinator Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) itu.

      Seperti diketahui, kubu SBY-Boediono telah bereaksi menanggapi pernyataan 
JK di Aceh itu. Dalam rilis yang disampaikan ke sejumlah media, Wakil Ketua 
Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, Bara Hasibuan, menyatakan hal 
tersebut sebagai pelanggaran etika bernegara.

      Ray menilai, dalam sepekan masa kampanye in, JK memang menguasai 
pengembangan isu. "Masa kampanye seminggu ini memang menjadi panggungnya JK. 
Jadi wajar kalau tingkat elektabilitas JK terus naik. Mega-Prabowo masih stabil 
dan SBY-Boediono hanya sibuk mengcounter isu, sehingga publik tidak bisa 
membaca apa yang mau disampaikan SBY-Boediono ke publik," terang Ray.

      Lebih lanjut dikatakan Ray, kalau tren seperti ini berlanjut, bukan tidak 
mungkin tingkat elektabilitas JK melejit mengalahkan SBY. Secara umum, Ray 
menilai, masa kampanye pilpres 2009 ini jauh lebih baik dibanding pilpres 2004. 
Alasannya, perang program begitu dominan dilontarkan para capres-cawapres. 
Mega-Prabowo terus gencar menawarkan program ekonomi kerakyatan dan JK-Win 
dengan gerakan kemandirian bangsa. "Sedang SBY mencoba mengusung ekonomi jalan 
tengah, yang sebenarnya hanya untuk mengcounter program dua rivalnya itu," ujar 
Ray. 
      (sam/JPNN)  

Kirim email ke