Coba analisa kenapa banyaknya caffe remang-remang di Acheh? Kenapa musti main 
bakar? Apabila sudah diberikan peringatan yang memadai tetap saja tidak 
digubris baru dibakar. Ini alternatif terakhir. Dulu ada kedai kopi dimana 
sering istirahat pejuang GAM seperti di Bambi, Pidie - Sigli juga dibakar oleh 
TNI/POLRI. Apakah untuk menghadapi sipil sekarang juga ditempuh cara-cara yang 
dijalankan TNI/POLRI? Tidak bijaksanakah kalau pemiliknya kita ambil dan kita 
beriperingatan secukupnya?. Yang terpenting System kita bangun terus agar kita 
dapat menjalankan hukum yang diturunkan Allah.  Pulau  Dijawa adalah sarangnya 
kaffe remang-remang, lalu kenapa penyakit twersebut mudah sekali menular ke 
Acheh?  Secara keseluruhan mengapa kedhaliman di Tanah Rencong tidak berbeda 
dengan di P Jawa?  Ini barangkali dapat diambil sebagai topik untuk 
didiskusikan agar terungkap dengan jelas persoalan di Acheh yang katanya 
"Syariat Islam Gadongan" dan dipertahankan oleh
 orang-orang fanatik buta dan terlalu lugu cara berfikir dalam beragama. Maksud 
saya agar persoalan itu dapat dituntaskan, agar tidak terkesan Acheh main 
hantamkromo segala.

(Ali al Asytar)


________________________________
From: herry iwan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, July 27, 2009 8:54:28 PM
Subject: Re: [IACSF] Cafe Maksiat di Bakar Massa he he

  
Banyak cafe remang2 di aceh, adakah yang akan berani seperti di blang bintang 
???
berikut nya cafe yang mana???


--- On Mon, 7/27/09, Teuku Mulya Johansyah <mulyajohansyah@ gmail.com> wrote:


>From: Teuku Mulya Johansyah <mulyajohansyah@ gmail.com>
>Subject: [IACSF] Cafe Maksiat di Bakar Massa he he
>To: "iacsf" <ia...@yahoogroups. com>
>Date: Monday, July 27, 2009, 8:46 AM
>
>
>  > 
>Cafe Aceh Malaya II Dibakar Massa
>27 July 2009, 11:13 Utama Administrator 
>>BANDA ACEH - Cafe Aceh Malaya II, milik Khairul (30), warga Gue,
>Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu (26/7) siang, musnah
>terbakar. Kafe yang berada pada kawasan puncak bukit di Kecamatan Blang
>Bintang, Aceh Besar, itu sengaja dibakar ratusan massa dari sepuluh
>desa. Meski tak ada korban jiwa, tapi kerugian diperkirakan mencapai Rp
>200 juta.
>
>>Kapoltabes Banda Aceh, Kombes Pol Syamsul Bahri, melalui Kapolsek Blang
>Bintang, Ipda Saleh Ahmad, mengatakan ada sekitar 300 warga dari
>beberapa desa yang membakar kafe yang berada di lintasan pedalaman
>antara Kecamatan Blang Bintang dengan Desa Ie Su’um, Kecamatan Masjid
>Raya, Aceh Besar itu. “Sejauh ini kami belum memperoleh motif dari aksi
>pembakaran yang dilakukan ratusan massa tersebut. Tapi intinya, ada
>beberapa saksi yang akan dimintai keterangan,” kata Saleh Ahmad yang
>dihubungi Serambi.
>
>>Menurutnya, ada beberapa truk yang dipenuhi massa yang berkonvoi ke
>arah kafe tersebut. Massa tersebut berasal dari beberapa desa yang
>tinggal berdekatan dengan Desa Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang,
>Aceh Besar, tempat kafe itu beroperasi. Dia jelaskan, sehari
>sebelumnya, yakni Sabtu (25/7), Ketua Himpunan Mahasiswa dan Pelajar
>Blang Bintang (Himaspta), Agus Rizal, meminta izin kepada muspika
>setempat untuk merazia pasangan yang kerap ditemui boncengan berduaan
>di jalan yang berjarak 10 kilometer dari pusat Kecamatan Blang Bintang
>itu. Namun, apa ada keterlibatan dari Himaspta atau tidak dalam insiden
>itu, menurut Saleh, sejauh ini pihaknya masih melakukan penyidikan. 
>
>>“Begitu massa itu sampai di kafe milik Khairul itu, langsung main
>bakar, tanpa basa-basi dan motif yang jelas. Sementara di kafe itu ada
>pekerja dan keluarganya. Tentu mereka ketakutan melihat aksi itu dan
>langsung lari menyelamatkan diri,” tandas Saleh. Khairul yang
>menghubungi Serambi >menyebutkan bahwa ia sendiri tidak tahu apa motif warga 
>membakar kafe
>miliknya. Padahal, kafe itu, kata Khairul, sudah mengantongi izin dan
>jelas dasar beroperasinya. “Tujuan saya mendirikan kafe di puncak itu,
>semata-mata untuk mengembangkan potensi wisata daerah itu. Tak ada
>tujuan lain. Saya menduga ada yang iri dengan kemajuan usaha saya
>selama ini,” ujar Khairul seraya menyebutkan ia juga sudah melaporkan
>hal itu ke Poltabes Banda Aceh. 
>
>>Sementara itu, Ketua Himaspta, Agus Rizal, yang dihubungi Serambi 
>>>mengatakan, pihaknya sama sekali tak menyangka ratusan massa dari
>beberapa desa itu menyerbu serta membakar Cafe Aceh Malaya II, milik
>Khairul. Karena saat kejadian tersebut tandasnya, ia dan mahasiswa lain
>yang tergabung dalam Himaspta, telah pulang. “Kami tidak terlibat dalam
>pembakaran itu. Selisih waktu kedatangan kami dengan mereka cukup jauh.
>Kami sudah pulang sebelum massa itu datang dan akhirnya membakar kafe,”
>tandas Agus.
>
>Rumah terbakar
>>Sementara itu dari Meulaboh, ibu kota Aceh Barat, dilaporkan sebuah
>rumah milik Zamzami, warga Desa Alue Kuyun, Kecamatan Woyla Timur,
>Minggu (26/7) ludes dilalap si jago merah. Seluruh bagian rumah yang
>terbuat dari kayu itu beserta seluruh isinya hangus. Adapun sumber api
>diduga berasal dari percikan korek gas yang diletakkan di dapur.
>
>>Kebakaran itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB pagi, saat pemilik rumah
>sudah pergi kerja sebagai buruh pada sebuah perusahaan perkebunan di
>wilayah itu. Rumah itu tidak berlistrik, karena pemiliknya orang tak
>mampu. Nasir, warga setempat mengungkapkan, kobaran api berhasil
>dipadamkan warga dengan cara menyiram dengan air, sehingga api tidak
>meluas ke rumah tetangga lainnya. “Harapan kami, warga yang musibah itu
>dibantu sebab dia orang miskin,” ujar Nasir. (mir/riz)  

   


      

Kirim email ke