http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/rms-tak-lagi-tuntut-kemerdekaan-maluku-0

 
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/rms-tak-lagi-tuntut-kemerdekaan-maluku-0

 

Map 
Hilversum, Belanda 
Hilversum, Belanda 
RMS Tak Lagi Tuntut Kemerdekaan Maluku 
Diterbitkan : 17 Agustus 2009 - 2:15pm | Oleh Redaksi Indonesia 
Diarsip dalam: 
  a.. John Wattilete 
  b.. Otonomi Khusus 
  c.. RMS 
  d.. Wim Manuhutu 
Tokoh RMS di Belanda John Wattilete, yang akhir tahun ini menjabat Presiden 
Republik Maluku Selatan (RMS) memberi wawancara pada harian Belanda, Nederlands 
Dagblad.

John Wattilete menyatakan RMS tidak serta-merta memperjuangkan kemerdekaan 
Maluku Selatan, dan sekarang bisa menerima bentuk otonomi khusus seperti Aceh. 
Untuk pertama kali pihak RMS menyatakan hal itu secara resmi kepada umum. 
Berikut penjelasan Wim Manuhutu, seorang cendikiawan Maluku di Belanda, kepada 
Radio Nederland Wereldomroep, tentang hal tersebut.

Wim Manuhutu [WM]: Saya juga mendengar berita itu dan sesudah itu saya juga 
mencoba untuk membaca wawancara dari Bapak John Wattilete dengan Nederlands 
Dagblad, harian Belanda tersebut. Di dalam wawancaranya Bapak John Wattilete 
mengatakan bahwa Gerakan Republik Maluku Selatan memang tetap mencoba untuk 
cita-cita satu negara tersendiri, tetapi juga berunding dan berbicara dengan 
Indonesia. 

Bilamana rakyat di Maluku sendiri memutuskan bahwa mereka puas dengan otonomi 
khusus seperti yang ada di Aceh, Gerakan RMS juga akan menerimanya. Itu 
sebenarnya inti dari wawancara Bapak John Wattilete. Dan itu memang merupakan 
suatu kebijakan baru dari Gerakan RMS. 


Cukup otonomi
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Mengapa tujuan perjuangan dari RMS ini 
berubah dari kemerdekaan menjadi daerah otonomi?

WM: Saya rasa memang seorang tokoh Maluku seperti Bapak John Wattilete sudah 
cukup lama melihat perkembangan di Indonesia. Pada saat itu juga mengatakan 
mungkin Gerakan RMS harus melihat perkembangan aktual di Indonesia dan juga 
harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah.

Saya rasa bahwa ucapan Bapak John Wattilete yang nanti akan menjadi pemimpin 
gerakan RMS di Belanda, ya merupakan suatu kesimpulan yang ditarik, waktu ia 
melihat perkembangan-perkembangan yang ada.

RNW: Rakyat Maluku sendiri dan juga masyarakat RMS di Belanda bisa setuju 
dengan tujuan baru ini?
WM: Pasti ada yang pro, pasti ada yang kontra. Pasti ada yang sebenarnya kurang 
setuju, karena mereka tetap mempertahankan tititolak dari Gerakan RMS, yaitu 
proklamasi Republik Maluku Selatan tahun limapuluh. 

Akan tetapi mungkin juga sebagian yang cukup sifnifikan, yang merasa bahwa, 
yang terpenting adalah kesejahteraan, dan keamanan untuk rakyat di Maluku. Dan 
bilamana hal itu bisa dicapai dengan model otonomi khusus, maka mungkin jalan 
itu yang harus dipilih. Ya saya rasa pasti ada yang pro dan yang kontra.

Sikap resmi RMS
RNW: Apakah gagasan ini atau tujuan ini pernah diucapkan secara resmi kepada 
pemerintah di Jakarta?

WM: Saya rasa kali ini adalah kali yang pertama bahwa tujuan atau ucapan ini 
dikeluarkan secara resmi dari pihak Gerakan RMS terhadap publik umum, termasuk 
juga Republik Indonesia. Saya tidak tahu apakah sudah ada 
pembicaraan-pembicaraan antara Gerakan RMS dan utusan dari Republik Indonesia. 

Dan saya rasa dengan ucapan ini pasti pembicaraan atau perundingan lebih 
gampang dari sebelumnya. Apabila diadakan otonomi khusus yang sungguh-sungguh, 
didukung oleh rakyat di Maluku dan sesuai juga dengan pemerintahan yang benar, 
pasti bisa membawa dampak yang positif untuk rakyat Maluku dan daerah Maluku 
yang masih harus masih diperbaiki, sesudah konflik kerusuhan yang terjadi 
beberapa tahun silam. 

Masih banyak yang harus dikerjakan. Bilamana otonomi khusus bisa diadakan, 
mungkin kebijakan pemerintahan bisa menghasilkan hasil yang lebih baik.

Sementara itu Dubes RI yang berkuasa penuh untuk Kerajaan Belanda J.E. Habibie 
menyatakan, ia gembira dengan pernyataan John Wattilete, tapi ia merasa tidak 
terdorong untuk berunding dengan RMS.

Habibie:"Republik Indonesia tidak mengenal RMS di mana pun. Itu sudah tuntas. 
Sudahlah kita lupakan perjuangan RMS. Mari kembali ke pangkuan ibu pertiwi 
dengan tata laksana di Indonesia yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, 
dengan sistem otonomi di daerah-daerah."

Soal otonomi daerah, tambahnya, sebenarnya itu sudah ada.

  a..  

<<RMS.jpg>>

<<Wim%20Manuhutu.jpg>>

Kirim email ke