SANDIWARA YANG TIDAK LUCU BAGAIMANA LAGI AKAN KITA SAKSIKAN DALAM
SYSTEM HINDUNESIA - JAWA YANG HIPOKRIT DHALIM DAN KORRUPT DI MASA YANG
AKAN DATAANG? KEMAN PARA ILMUWAN YANG SUDAH BERTITEL PROPESSOR? KEMANA
PARA ULAMA? ULAMAKAH ANDA SEMUA ATAU BAL'AM YANG MENUHANKAN "FIR'AUN - FIR'AUN 
MODERN?

Suharto, siraja korupt nomor wahid di Dunia (bacaa secara
Internasional) telah  berkuasa secara otoriter dengan memanfaatkan
Golkar sebagai kenderaan politiknya plus kuku besi yang membuat jutaan
kaum dhuafa Indonesia  menderita lahir-batin- Di negara-negara Eropa
siapapun yang berkuasa secara diktator, bukan saja penguasa itu saja
menemui kematian di tiang gantung tapi juga kenderaan politiknya akan
dibumihanguskan.Ironisnya di Indonesia penguasa yang korupt dan diktator tidak 
pernah
dibawa ke mahkamah Internasional kecuali mahkamah ketoprak ala Jawa.Mereka 
bagaikan sentoloyo yang larut dengan enggeh-enggeh serta ewuhpakewuhnya, 
bagaikan duri dalam daging kaum dhuafa..

Kini anak si raja koruptor tersebut dengan enaknya berbicara hendak
mempusakai "kenderaan" Suharto, orang tuanya (baca Golkar). Kalau hal
ter sebut menjadi kenyataan, kemalangan apa lagi yang bakal dirasakan kaum
dhuafa Hindunesia - Jawa?  Tidak merasa malukah orang Hindunesia Jawa 
bersandiwara atas penderiataan kemanusiaan non Jawa?  Wahai bangsa
Papua, Maluku dan Acheh - Sumatra, tidak pernah bosankah kita melihat
sandiwara ketoprak Jawa?  Bagaimana mungkin kita demikian sabar
bagaikan domba-domba dimangsa serigala hutan? Kata saudara Warwick
Australia:" seret penjahat-penjahat itu ke meja hijau Internasional.
Hanya dengan cara demikianlah kaum dhuafa dapat kita bela kehidupannya,
kalau tidak omong kosong berbicara keadilan, hakim, hukum dan demokrasi.

(ALASYTAR, ACHEH - SUMATRA) 
Di Ujung Dunia





________________________________
From: Umar Said <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, August 23, 2009 7:26:52 AM
Subject: [OPOSISI] Berita-berita soal Tommy Soeharto

  
 
 
 
Berita-berita soal Tommy 
Soeharto
 
Berikut di bawah ini 
disajikan lanjutan atau tambahan dari kumpulan berita tentang Tommy Soeharto 
ingin menjadi Ketua Umum Golkar dalam bulan Oktober yang akan datang dan juga 
menjadi Presiden RI tahun 2014. Berita-berita lain sebelumnya mengenai 
persoalan 
yang sama dapat disimak dalam website http://umarsaid. free.fr.
 
Berhubung besarnya dan 
seriusnya persoalan ini, yang akan menjadi masalah yang sangat ramai 
dibicarakan 
atau ditulis oleh banyak kalangan maka website tersebut di atas akan menyajikan 
sesering mungkin dan sebanyak mungkin berita, tulisan, atau pendapat mengenai 
persoalan yang penting ini. Berita-berita atau tulisan  itu, yang diambil dari 
berbagai sumber, 
dikumpulkan dalam “Aneka berita utama terkini”. Harap maklum dan 
mengikutinya.
 
        1. Umar  Said
 
============ =========
 
 
Suara Pembaruan, 22 Agustus 2009
Agung Laksono: Belum Waktunya Tommy Maju

[JAKARTA] Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono  mengingatkan Hutomo 
Mandala Putra alias Tommy Soeharto bahwa dia tidak  memenuhi syarat untuk ikut 
dalam pencalonan Ketua Umum Partai Golkar  periode 2009-2014. Sehingga, belum 
saatnya putra mendiang mantan Presiden  Soeharto itu untuk maju sebagai 
kandidat ketua umum.

Agung  menegaskan, sesuai anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART)  
partai, syarat utama untuk menjadi ketua umum harus minimal lima tahun  pernah 
menjadi pengurus Partai Golkar. Tommy Soeharto tak memenuhi syarat  itu.

"Tommy sebaiknya bersabar dulu. Dia masih muda. Masih panjang  waktunya 
berkarier di Partai Golkar. Apalagi, dia anak pendiri Golkar.  Peluangnya cukup 
besar ke depan," ujar Agung kepada wartawan di Gedung  MPR/DPR Jakarta, Jumat 
(21/8).

Syarat lainnya yang juga menentukan,  katanya, calon ketua umum adalah kader 
yang sehari-hari terlibat dalam  kegiatan partai dan mendapat dukungan dari 
daerah minimal 30 persen.  Karena itu, Agung menyarankan agar Tommy sebaiknya 
aktif dulu di  kepengurusan partai.

Kedekatan dengan partai akan lebih memudahkan  dirinya maju sebagai pemimpin ke 
depan. "Terlibat aktif di partai  menentukan besar dan kecilnya peluang seorang 
calon ketua umum. Semakin  sering terlibat, peluang itu akan semakin besar,"  
katanya.

Dikatakan, perubahan AD/ART bisa dilakukan dalam  Musyawarah Nasional (Munas) 
Partai Golkar pada 4 hingga 7 Oktober  mendatang di Pekanbaru, Riau. Munas akan 
memilih pengurus Partai Golkar  periode 2009-2014.

Tapi, perubahan itu tidak bisa hanya untuk  memenuhi kepentingan sesaat, 
apalagi hanya ingin mengakomodasi kebutuhan  satu atau dua orang. Agung 
menegaskan, menjadi pemimpin partai bukan untuk  mencari posisi atau untuk 
kepentingan pribadi.

Selain Tommy, bursa  pencalonan Ketua Umum Partai Golkar juga memunculkan nama 
Surya Paloh,  Aburizal Bakrie, Yuddy Chrisnandi, dan Ferry Mursyidan Baldan. 
Sedangkan,  Munas Partai Golkar akan diikuti 467 DPD tingkat kabupaten dan 
kota, 33  DPD tingkat provinsi, 10 organisasi sayap, serta  DPP.


Dingin

Sementara itu, suhu politik di tubuh Partai  Golkar yang kian panas menjelang 
munas disikapi dingin oleh DPD Partai  Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 
Ketua DPD Golkar DIY Gandung  Pardiman mengatakan, pihaknya belum menentukan 
pilihan calon ketua umum  yang akan didukung. Pasalnya, semua figur yang ingin 
maju belum mendekati  DPD DIY.

"Kami belum menentukan, karena Jakarta sama sekali belum  berkomunikasi. 
Komunikasi ini penting untuk mengetahui progres ke depan,  sekaligus menakar 
kepentingan dan orientasi kepemimpinan para calon itu.  Karena, sampai sekarang 
belum ada yang mempromosikan diri. Kami menunggu  saja," ujarnya.

Ketua DPD I Sulawesi Tenggara (Sultra) Ridwan Bae  mengatakan, keinginan Tommy 
untuk memimpin Partai Golkar harus  diapresiasi. Namun, bentuk apresiasi 
tersebut bergantung pada forum  tertinggi partai, yakni munas.

"Sebagai kader Partai Golkar, tentu  Tommy mempunyai keinginan untuk membangun 
partai. Karena itu, keinginan  tersebut harus diapresiasi melalui forum 
tertinggi partai,"  ujarnya.

Menurutnya, bentuk apresiasi tersebut tidak harus menjadi  ketua umum, 
melainkan bisa sebagai pengurus lain di tingkat DPP. Karena,  ujar Ridwan, 
untuk menjadi ketua umum, Tommy harus memiliki  persyaratan- persyaratan yang 
diatur dalam AD/ART.

Dikatakan pula,  dari sejarah perjalanannya, Partai Golkar tidak bisa 
dipisahkan dari  Keluarga Cendana. "Pak Harto juga pernah membesarkan Partai 
Golkar, meski  ada kelemahan di sana sini. Jadi, ketika berbicara tentang 
sejarah Golkar,  tidak bisa dipisahkan dengan Keluarga Cendana," ujarnya.  
[J11/152/M-16]
* * *
Tommy Memang Siapkan Diri Jadi Ketum Golkar

Kompas, 22 Agustus 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Keinginan putra mantan Presiden  Soeharto, Hutomo Mandala 
Putra atau Tommy Soeharto untuk menggantikan  Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum 
Golkar, ternyata  sudah dengan  persiapan matang. Salah satu orang dekat Tommy 
Soeharto, Yusysafri  Syafei  menyatakan posisi Ketum Golkar adalah target awal 
untuk  mencapai target utama, menjadi calon Presiden  di tahun 2014  mendatang. 
Kini, Tommy Soeharto, diakuinya sedang melakukan operasi  senyap, menggalang 
dukungan di berbagai daerah untuk bersaing sehat  bersama para kandidat ketum 
Golkar lain, termasuk Aburizal Bakrie, atau  Ical.

Dalam perbincangan dengan Persda Network, Jumat (21/8)  malam  Yusyafri Syafei  
tak membantah saat dikonfirmasi tentang  pertemuan Tommy Soeharto dengan 
kandidat lain, Yuddy Chrisnandy, di salah  satu gedung di bilangan Kuningan, 
Jakarta Selatan, Rabu (19/8) sore lalu.  Pertemuan itu, kata Yusyafri hanyalah 
sebatas silaturahmi saja dan belum  ada kesepakatan apapun atau berkoalisi.

"Pertemuan dengan Mas Tommy  dengan Yuddy  memang benar. Tapi belum ada deal 
apa-apa, karena  keduanya sama-sama berniat maju menjadi calon ketua umum 
Golkar. Pertemuan  itu sebatas silaturahmi saja. Dan  kalau ditanya apakah Mas 
Tommy  serius, 100 persen Mas Tommy sudah mempersiapkan diri secara serius 
untuk  memimpin Golkar ke depan  dan siap bersaing sehat dengan yang lain  
termasuk dengan Pak Aburizal Bakrie (Ical)," katanya.

Tommy,  ujarnya, sudah mempersiapkan tim pemenangan yang memang tidak diungkap  
kepada publik. Ia memberikan alasan, hal ini karena  masing-masing  kandidat 
memiliki cara serta taktik sendiri-sendiri dalam bersaing sehat  di Munas 
Golkar 4-7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau.    

"Masing-masing memiliki taktik peperangan mas. Kalau  dikatakan taktik dengan 
cara melakukan operasi senyap, boleh jugalah.  Karena memang tidak terlihat ke 
publik taktik apa seperti apa.  Kalau  kita umbar taktik apa yang dilakukan, 
itu sama saja  mengungkapkan  kesombongan. Yang jelas,  setiap orang dijamin 
dalam undang-undang  termasuk Mas Tommy untuk terjun ke dunia politik. Salah 
satu saratnya  adalah melalui partai politik," katanya.

"Mas Tommy  sebagai  warga negara ingin berkiprah di dunia politik melalui 
partai politik.  Yaitu, ingin merebut kursi Golkar 1.  Soal dukungan,  berarti  
harus ada pernyataan di atas kertas, berupa surat dukungan. Mengenai ini,  
memang sudah masuk beberapa surat dukungan dari beberapa daerah. Dari mana  
saja, kami belum mau sebut, karena tidak etis, bisa berakibat buruk  terhadap 
DPD I maupun DPD II yang memberikan dukungan itu. Jadi, untuk  sementara kami 
rahasiakan dulu," Syafei menjelaskan.

"Kalau ditanya  prosentasenya, saya hakul yakin akan sangat tinggi dari yang 
lain. Nah,  soal dukungan yang diungkap oleh kubunya Pak Aburizal Bakrie, 
apakah itu  realistis? Kan, harus dibreakdown dulu, bisa saja itu hanya sebatas 
taktik  saja untuk menjatuhkan lawan. Ingat, Mas Tommy punya team work dibidang 
 bisnis yang sudah running well," Syafei menandaskan.

Syafei  kemudian menjelaskan merebut kursi Golkar 1 adalah keinginan Tommy  
Soeharto awal saja. Ke depannya, Tommy Soeharto diakuinya memang ingin  menjadi 
salah satu calon presiden di 2014 nanti, bisa menjadi pengisi  Istana Negara.

"Apapun ceritanya, Tommy adalah anak Soeharto. Yang  jenius di dalam strategi 
yang secara genetik diturunkan kepada Tommy  Soeharto. Jadi, target maksimalnya 
adalah menuju Istana, bertarung menjadi  capres di 2014. Memperebutkan kursi 
Golkar 1, adalah target jangka  pendeknya. Istilah orang minang, bajanjang 
naik, batangga turun,"  ungkapnya lagi.
* * *
Yuddy Syukuri Kehadiran Tommy
Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2009
Jakarta, RMOL. Kerja-kerja koalisi antara kaum muda di Partai Golkar akan  
sangat mungkin terjadi mengingat adanya kemandekan regenerasi di tubuh  partai 
senior itu. 

Politisi senior, AS Hikam, memandang  adanya keinginan kuat dari kelompok muda 
di Golkar untuk menghilangkan  kemandekan partai. Gerakan kaum muda Golkar yang 
dipelopori oleh Yuddy  Chrisnandi juga disebutnya dilegakan dengan datangnya 
pangeran Cendana,  Tommy Soeharto. Apalagi, Yuddy dan Tommy telah melakukan 
pertemuan perdana  yang langsung membicarakan kemungkinan koalisi. 

“Kerja-kerja  koalisi antara kaum muda sangat dimungkinkan. Yuddy sebagai 
politisi muda  menggunakan peluang kehadiran Tommy,” ucap AS Hikam, saat  
dihubungi Rakyat Merdeka  Online sesaat lalu (Sabtu,  22/8). 

Ditambahkannya, saat ini kehadiran Tommy tidak penting  untuk diperdebatkan dan 
dituding macam-macam. Karena, bisa jadi kehadiran  Tommy bisa menambah kekuatan 
generasi muda partai demi misi pengembalian  Golkar sebagai mesin politik dan 
partai yang  berkualitas. [ald]
* * *
Tommy Digadang-gadang, Golkar Bisa Terjebak 
Kapitalisme  Politik Fulus
Rakyat Merdeka, 21 Agustus 2009
Jakarta, RMOL. Lepas dari faktor Tommy Soeharto yang berkantong tebal,  tidak 
bisa dibantah partai politik di Indonesia ini terjebak kapitalisme  politik 
uang. 

Demikian pandangan politisi muda Partai Golkar  Viktus Murin kepada Rakyat  
Merdeka Online sore ini (Jumat, 21/8). Viktus  mengatakan pasca reformasi 
budaya politik di Indonesia mengalami  degradasi. Mengedepankan ideologi bukan 
lagi hal yang dijunjung tinggi,  apalagi menghadapi momen seperti munas. 
Menghadapi momentum itu, partai  politik kata Viktus mengalami kapitalisme 
politik  finansial. 

“Lepas dari siapa Tommy Soeharto tidak dapat  dibantah bahwa dalam budaya 
politik pasca reformasi hampir semua partai  mengalami kapitalisasi financial. 
Semua terjebak dalam kapitalisme politik  berdasarkan uang,” katanya. 

Kondisi seperti itu menurut dia  menjadi masalah bagi Partai Golkar dan juga 
partai-partai lainnya. Apakah  tetap ingin terjebak dalam politik seperti itu 
atau meletakkan kembali  basis kekuatan pada ideolog partai. Oleh karena itu 
menurut Viktus, jika  partai berlambang pohon beringin ingin menciptakan 
eksistensi baru, munas  adalah momentum yang tepat untuk mengeluarkan Golkar 
dari kapitalisme  politik yang didasarkan uang. 

Mantan Sekjen GMNI periode  1999-2002 ini mengakui siapapun yang ingin maju 
menjadi Ketua Umum Partai  Golkar harus menyiapkan dana. Namun jangan sampai 
hal itu jadi faktor  penentu dan Golkar semakin kehilangan idealismenya. [dry] 
* * * 
 
   


      

Kirim email ke