MENJOROTI KETIDAK KREDIBELNYA LEMBAGA HUKUM DI
INDONESIA -  JAWA
Ali al Asytar
ACHEH - SUMATRA


Betapapun kita belum melihat pihak 
lain yang dapat berbuat lebih efektif dalam kepeduliannya terhadap para Musibah 
Tsunami sebagaimana yang telah dilakukan Forak. Sudah dapat dipastikan bahwa 
mayoritas masyarakat Acheh mendukung Usaha Forak tersebut. Ironisnya polisi 
demikian antusias kalau menyangkut pembelaan terhadap BRR yang sangat 
menyebalkan itu.  Prediksi saya mayoritas rakyat Acheh mengetahui kalau Panji 
Utomo itu sudah duluan diputuskan hukuman sebelum naik sidangnya. Itu adalah 
Tradisi Hukum Indonesia yang sepertinya tidak akan pernah berobah.  
Andaikata kuasa hukum itu mampu membelanya, bagus. Tapi itu persoalan sudah 
banyak sekali pengalaman bagi kita termasuk persoalan Farid Faqih yang dituduh 
mencuri bantuan korban tsunami di Lanud Iskandar Muda.  Lihat juga bagaimana 
hukum Indonesia menangani masalah Suharto cs. 


Demikian juga kasus-kasus yang membikin 
jatuhnya citra TNI-AD di mata rakyat dan masyarakat dunia antara lain, 
pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang tidak bersalah dalam tahun 
65, pembunuhan banyak orang di Timor Timur, tragedi Tanjung Priok tahun 1984, 
pembantaian orang Papua dan Aceh - Sumatra, tragedi Talangsari dan Haur Koneng, 
pembunuhan di Sampang, tragedi 27 Juli 1996, penculikan mahasiswa 1996-1998, 
penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998, penembakan mahasiswa di Semanggi 
November 1998, pembunuhan Marsinah, peracunan pejuang HAM Munir dalam pesawat 
terbang dan masih banyak lagi yang lainnya.  Justru itulah kita mengharapkan 
pada badan internasional agar pelanggaran HAM di Acheh segera dibawa ke 
mahkamah 
Internasional. Kalau pihak Internasional tidak menggubrisnya dan hanya terlibat 
dalam buydaya "puji-pujian" Indonesia, kami bangsa Acheh -Sumatra sudah saatnya 
mengucapkan "Inna lillahi wainna ilaihi rajiun" kepada lembaga HAM 
internasional 
itu.
  
Sementara itu Yudhoyono meminta agar 
masyarakat Aceh tidak lagi menyerang apalagi merusak Kantor Badan Rekonstruksi 
dan Rehabilitasi (BRR). Tindakan seperti itu hanya akan merusak citra 
Indonesia, 
utamanya di luar negeri, katanya. Menaggapi pernyataan Yudhoyono itu, kita 
perlu 
mempertanyakan apakah dengan menutub borok yang diaplikasikan BRR itu terhadap 
para Musibah Tsunami dan para musibah TNI/POLRI, Indonesia terjaga citranya?  
Saya kira masyarakat Internasional sudah memahami kalau Indionesia itu bangsa 
yang tidak mejunjung hukum. Hukum Indonesia itu hanya diberlakukan untuk 
orang-orang kecil saja (rakyat jelata).  Bagaimana mungkin hukum itu hanya 
dterapkan kepada rakyat jelata saja sementara kalau pelakunya pejabat 
pemerintah 
bebas sama sekali dari hukuman. Hukuman yang demikian namanya "hukum laba-laba".
  
Lihatlah jaringan laba-laba yang pertama 
sekali berada di tempat kotor, artinya di negara yang dhalim seperti Indonesia. 
Ketika njamuk, belalang dan serangga lainnya yang lewat terjaring dengan 
mantap. 
Namun ketika burung yang lewat dapat menembusinya. Lalu datanglah kambing, 
anjing dan babi untuk menginjak-injak hukum tersebut. Demikianlah hukum 
yang berlaku di Indonesia Munafiq dan dhalim itu.   


Hukum "labalaba" hanya 
diberlakukan kepada rakyat jelata, sementara anggota keluarga dan kawan dekat 
pejabat negara bebas dari hukumannya (baca segala jenis burung yang mantap 
terbangnya). Kambing, anjing dan babi diumpamakan sebagai pejabat negara mulai 
dari camat, bupati, gubernur, menteri-menteri. Akhirnya datanglah 
serigala-serigala haus darah (baca TNI/POLRI) untuk merobek hukum itu sendiri. 

  
Kalau rakyat jelata sudah agak sadar 
melihat ketimpangan-ketimpangan pemerintah hipokrit itu, mulailah antek-antek 
Yudhoyono itu bersandiwara untuk menerapkan "syariat gadongan". Hal ini membuat 
masyarakat internasional salah paham terhadap orang-orang Islam Acheh. 

  
Pemimpin pemimpin Islam Acheh dan 
rakyatnya yang sudah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri (membebaskan diri 
dari pemerintah Indoinesia Munafiq itu yang sudah begitu lama mempraktekkan 
hukum "labalaba" di kepulauan Melanesia itu), tau persis akan sandiwara yang 
sedang dimainkan antek-antek "pencuri 7" itu.
  
Pemimpin-pemimpin Islam Acheh dan 
rakyatnya yang sudah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri, tau persis bahwa 
jangankan sekarang, setelah Merdekapun bukan hukum dulu yang diprioritaskan, 
melainkan Finansial hidup rakyatnya. Sebab semua ketimpangan sosial itu 
berpunca 
pada finansial hidup rakyat itu sendiri.   Bagaimana mungkin hukum diterapkan 
kepada kaum dhu'afa sementara mereka tau persis bahwa itu adalah hukum 
"Laba-laba". 


Bagaimana mungkin rakyat tidak melanggar 
hukum sementara pembesar-pembesar negara tidak berbuat adil terhadap mereka. 
Negara adalah milik rakyat, namun hanya sebahagian orang yang bersekongkol 
dengan pembesar-pembesar negara sajalah yang menikmati fasilitas negara. (baca 
Kontoro cs), sementara para musibah Tsunami samapi sekarang masih mendekam 
dalam 
"penjara - penjara" tenda. 

  
Mereka (baca penguasa Indonesia munafiq) 
mengurus harta negara macam mengurus harta milik moyangnya, sementara 
orang-orang yang menuntut keadilan mendapat perlakuan yang hina dari 
antek-antek 
penguasa dhalim tersebut. Demikianlah yang diaplikasikan di Acheh sejak dari 
Sukarno sampai Yudhoyono sekarang ini. Islam sejati adalah Islam rahmatan lil 
alamin. Pemimpin Islam sejati tidak hanya memikirkan kesejahteraan orang-orang 
Islam saja tapi segenap manusia apapun latar belakang agamanya. Justru itu 
andaikata suatu negara dipimpin oleh orang-orang Islam sejati (yang mewarisi 
keimamahan Rasulullah saww), sudah barang pasti rakyat di negara tersebut 
mendapat keadilan seluruhnya. Bukan saja manusia yang menikmati kemerdekaan, 
namun binatangpun terlindung dari perbuatan semena-mena. Lucunya justru di 
Norwegia dan beberapa negara eropa lainnya yang kita saksikan fenomena 
tersebut. 

  
Sayang nya diabad ke 21 ini dan juga 
abad-abad sebelumnya, tidak kita saksikan realita itu di kawasan Asia dan 
afrika, kecuali di Republik Islam Iran. Sayangnya lagi republik yang satu ini 
senantiasa mendapat fitnah dari negara-negara kawasan Asia - Afrika lainnya. 
Hal 
ini dapat di mengerti oleh orang-orang yang mau "berafala ta' qilun dan afala 
yatazakkaraun".  

Bagi pemimpin pemimpin dan orang-orang 
yang berpendidikan, sudah waktunya untuk melupakan perbedaan-perbedaan yang 
tidak prinsipil demi tergalangnya persatuan yang dapat menghambat 
"sandiwara-sandiwara" yang dimainkan antek-antek dari "yazid-yazid" moderen 
dimanapun kawasan yang penduduknya mengaku diri Islam, termasuk di Acheh yang 
sedang kita sorot ini.

Islam sejati, jangankan kepada orang Islam 
yang berbeda aliran, kepada orang yang berlainan agamapun, dilarang 
memudharatkannya, sebaliknya saling menghormati dalam kontek kemanusiaan. 
Justru 
itu sayang seribukali sayang ketika kita menyaksikan banyaknya orang yang 
mengaku diri "Islam", namun membunuh orang Islam lainnya disebabkan berlainan 
mazhab. 

  
Demikian jugalah serigala-serigala yang 
haus darah (baca TNI/POLRI) yang sedang mengadakan pembunuhan besar-besaran di 
Acheh - Sumatra.serta seluruh orang-rang yang bersatupadu dalam system muafiq 
tersebut., Sesungguhnya mereka tidaklah termasuk dalam golongan orang-orang 
yang 
beriman, melainkan munafiq. Kendatipun mereka tinggi pendidikannya sampai 
mendapat titel DR, Propessor, Kiyai dan bahkan banyak yang mengaku diri sebagai 
"Ulama".   
Mereka nampaknya pintar, namun tidak teguh 
iman. Justru itulah mereka tak mampu memahami kesalahan mereka yang fatal 
dibidang Tauhid/Aqidah/Idiology. Mereka tidak mampu melihat realita sejarah 
yang 
"haq", di mana kita dapat menemukan Representantnya untuk kita teladani. 
Representant itulah yang mampu menterjemahkan Al Qur-an secara benar.

Bagaimana mungkin buku resep obat dapat 
digunakan dengan efektif tanpa mendapat penjelasan dari dokternya. Tanpa 
dokter, 
buku resep obat itu tidak dapat digunakan secara tepat guna. Sekarang 
kebanyakan 
orang Indonesia sudah tertutup mata hatinya disebabkan begitu lamanya mereka 
bersekongkol dalam system yang munafiq tersebut yang sudah begitu banyak mereka 
bunuh orang-orang yang tidak berdaya (baca kaum dhuafa yang dibunuh sejak dari 
pemerintahan "Yazid - Sukarno", Suharto, Gusdur, Megawati dan - Yudhono"), yang 
sedang bersandiwara sekarang ini.
    
Kenapa mereka tidak mampu berfikir padahal 
mereka jauh lebih pintar dari orang yang mengatakan bahwa mereka tidak mampu 
berfikir? 
  
Jawabannya terpampang di pintu gerbang 
Ilmu: " Dilarang masuk orang-orang yang tidak beriman" (QS.56:79) Justru orang 
Islam munafiqlah yang membuat citra Islam tergadai marwahnya di mata 
Internasional. Pertama sekali Internasional melihat kenapa orang-orang Islam 
itu 
saling membunuh sesamanya. Mereka sepertinya tidak mengetahui bahwa tdak pernah 
terjadi di permukaan planet Bumi ini, orang-orang Islam saling membunuh 
sesamanya.
  
Yang sering terjadi Justru Orang Islam 
munafiq membunuh orang Islam sejati, sehingga terjadilah perlawanan dari 
orang-orang Islam sejati untuk membela diri.(baca TNI/POLRI vs TNA, komunitas 
Syah Reza Palevi vs komunitas Imam Khomaini, Yazid bin Muawiyah vs Imam Husein 
bin 'Ali, Mu'awiyah bin Abi Sofyan vs Imam 'Ali bin Abi Thalib, Talhah bin 
Ubaidillah dan Zuber bin Awam vs Imam Ali, Marwan bin Hakam vs Muhammad bin 
Abubakar, pemimpin yang dipilih rakyat vs pemimpin yang ditunjuk Rasulullah 
saww 
sendiri dan yang terdahulu sekali Qabil vs Habil)   


Sepak terjang orang-orang 
munafiq itu dapat kita saksikan dalam surah Al Baqarah dari ayat 8 s/d 20 plus 
surah Al munafiqun dan masih tersebar lagi di berbagai surah blainnya. Banyak 
orang terkecoh dengan apa yang berkomat kamit di mulut mereka, sementara mereka 
lupa dalam sepak terjangnya. Padahal mereka memahami bahwa syarat tauhid itu 
ada 
tiga: 

  
Pertama. Mengucap dengan lidah. 
Kedua: 
Mentasdiqkan dengan hati dan yang menentukan adalah: 
Ketiga: Aksi, Aplikasi 
atau sepak terjang dalam realita hidupnya: 
-- Apakah mereka bersekongkol 
dalam system Munafiq ? 
-- Apakah mereka termasuk dalam golongan yang 
menghambat perjuangan suci ? 
-- Apakah mereka mengenal betul pemimpin yang 
"haq" dita'ati di jamannya ? 

-- Apakah mereka sekedar berbicara dengan lidah tanpa 
dibuktikan dengan realitanya kedalam golongan mana dia bergabung dalam hidupnya 
? Golongan "Habilkah" atau golongan "Qabil".

Apakah mereka menaiki "Bahtera Nabi 
Nuh" atau tidak, menaiki "Bahtera Ibrahim" atau "Namrud", "Bahtera Musa wa 
Harun" atau "Fir'aun", "Bahtera 'Isa bin Maryam" atau "Kaisar-kaisar" di Roma, 
bahtera Muhammad atau Abu Sofyan, bahtera Ali atau Mu'awiyah, bahtera Hussein 
atau Yazid, Bahtera Ayatullah Khomaini atau Syah Reza Pahlevi, bahtera Hasan 
Muhammad di Tiro atau Yazid-yazid moderen (baca Sukarno, Suharto, Gusdur, 
Megawati dan Yudhoyono)   


Demikianlah penjelasan saya semoga siapapun yang 
menamakan diri orang Acheh menghindarkan diri dari propokasi antek-antek "yazid 
- Yudhoytono". Sudah sa'atnya untuk bertaubat sebelum nyawa berada 
dikerokongan. 
"Memang pahit bak pel Keunine, namun itulah yang dapat menjembuhkan penyakit 
malarianya kalian" (Husaini Daud Sp)   
 
Billahi fisabililhaq 
Ali Al Asytar ACHEH - 
SUMATRAhttp://achehkarbala.blogspot.com/


      

Kirim email ke