Refleksi : Apanya yang ganggu? Takut karena salah ataukah berani karena benar? Penguasa NKRI sekarang, teristimewa mantan-mantan militer mempunyai tangan berlumuran darah atas kekejamanan terhadap rakyat, antara lain pembunuhan besar-besaran 1965/1966, kasus Tanjung Priok, Aceh semasa DOM, Papua, orang hilang, korupsi besar-besaran, jadi dengan sendirinya kalau "Balibo Five" ini dibongkar akan memperburuk wajah mereka lebih buruk seperti apa yang dikatakan kata-kata mutiara "potong hidung rusak muka".
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=51630:film-balibo-five-ganggu-australia-indonesia&catid=16:internasional&Itemid=29 Saturday, 12 September 2009 16:32 Film 'Balibo Five' ganggu Australia-Indonesia Warta - Internasional WASPADA ONLINE JAKARTA - Film Balibo Five yang menceritakan tewasnya 5 jurnalis Australia di Balibo, Timor Timur tahun 1957 menjadi salah satu faktor yang membuat Kepolisian Federal Australia (AFP) membuka kembali kasus tersebut. Tentu saja hal ini akan mengganggu hubungan bilateral kedua negara, Australia dan Indonesia. "Kedua negara sangat menghargai hubungan bilateral, hubungan bilateral kami sangat stabil dan positif. Tapi, bukan berarti hubungan positif ini akan bertahan," kata juru bicara departemen luar negeri (Deplu), Teuku Faizasyah, di Jakarta, sore ini. Ia menyebutkan ada contoh-contoh yang bila tidak ditangani hati-hati akan memunculkan situasi buruk. Dan, Balibo Five merupakan salah satu isu yang membuat situasi tersebut terjadi. Menurut Faizasyah, film itu berangkat dari satu novel yang dikembangkan jadi satu film. "Jadi dari awal kita sudah menduga itu disesuaikan dengan tuntutan skenario yang disediakan oleh sutradara," paparnya. Sedari awal, kata Faizasyah, Indonesia mempertanyakan apakah film itu fiksi atau bukan. "Kalau dianggap hiburan tak ada masalah," kilahnya. Teuku Faizasyah menjelaskan bagi pemerintah Australia dan Indonesia, masalah itu sudah dianggap selesai. Sudah dipastikan pula, mereka meninggal karena terjebak dalam peperangan. Deplu akan mengikuti terus isu ini. Karena, tuturnya, ini sangat serius bagi masyarakat dan pemerintah. Dia mengaku belum menonton film ini. Menurut rencana film ini akan muncul pula di Indonesia. "Saya rasa, faktanya, kita tidak melarang untuk melihat film itu sebagai masyarakat sadar dan dewasa untuk menerima sesuatu yang bagus," katanya. Ia mengaku pihak RI telah bertemu dengan Menlu Australia, Steven Smith, dan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd. "Dari sisi Australia tidak akan menganggu. Tapi, kita melihat dari kasus ini ada potensi untuk mengganggu. Posisi kita sudah saya sampaikan, kita tidak merencanakan adanya pertemuan lanjutan," katanya. (dat07/ann)
