SETIAP HARI ADALAH ASYURA, SETIAP BULAN ADALAH MUHARRAM DAN SETIAP TEMPAT 
ADALAH KARBALA

JADILAH HUSSEI ATAU ZAINAB, KALAU TIDAK ANDA ADALAH YAZID. HUSSEIN MENYIRAMI 
POHON ISLAM DENGAN DARAH DAN AIRMATA. ZAINAB MENYAMPAIKAN MISSI HUSSEIN HINGGA 
DIKETAHUI MANUSIA DI DUNIA SEJAK DULU HINGGA KINI BAHKAN SAMPAI MENEMUINYA DI 
PANCUTAN AL KAUTSAR.

Kalimat demi kalimat baris demi baris dan alinia demi alinia telahpun berlalu 
hingga goresan bung affan ini terbaca habis tanpa terasa lelah sedikitpun. 
Mengapa tidak kisah yang diangkat adalah cucuanda Nabiullah, Imam Hussein as, 
Imam ke 3, ayahanda dari Imam Alis Zainal Abidin bin Hussein as. Sayang di 
Acheh sepertinya takterbaca peristiwa yang demikian dahsyat dan menyayat hati 
bagi pribadi yang benar-benar beriman bukan hipokrit alias hanya mengaku saja 
beriman sementara sepakterjangnya sepertinya tidak jauh berbeda dengan duplikat 
Yazid bin Muawiyah itu sendiri.

Sebahagian orang yang mengaku bermazhab Syiah di pulau jawa hanya terbatas 
dengan mengeluarkan airmata ketika memperingati hari syahidnya Imam Hussein di 
Karbala tapi setelah itu merekapun sepertinya tidak berbeda dengan pengikut 
Yaziz bin Muawiyah, bersatupadu dalam system Hindunesia yang Yaziddin itu . Ini 
membuktikan bahwa mereka baruterbatas berilmu Syiah hingga mereka hanya 
mengetahui kalau Imam Hussein teranianya di Padang Karbala, namun tidak 
memiliki ideology Hussein yang pantang bersatupadu dalam system taghut dhalim 
dan hipokrit. Sebahagian mereka memiliki banyak ilmu tentang Syiah dan 12 
Imamnya hingga mereka layak disebut Ilmuwan Syiah namun sebetulnya mereka masih 
belum apa-apa dan tidak jauh berbeda dengan Islam non Syiah. Untuk berguru 
tentang Syiah, tentang Karbala tentang Imam Hussein memang mudah tapi untuk 
memahami Syiah, Imam dan Karbala diperlukan mendalami Ideologynya. 

Kalau kita terbatas pada ilmu Syiah, Imam dan Karbala, kita belum mampu melihat 
fenomena yang ditentang Syiah, Imam - Imam dan Karbala di jaman kita 
masing-masing. Justru itulah kita masih saja bersatupadu danbahkan 
mengidentifikasi dirikita sebagai fenomena dimana Yazid menjadi prototipenya 
fenomena tersebut. Itulah yang dinamakan Syiah hitam atau syiah dekaden. Syiah 
sejati atau syiah Alawi adalah syiah merah. Mereka bukan saja berilmu Syiah 
tapi juga berideology syiah, Imam-imam dan Karbala.  

Agama manapun memiliki dua wajah yang saling bertentangan, wajah dekaden dan 
wajah ideology. Islam berwajah dekaden seolah-olah melibtkan dirinya dalam 
kejahatan, menumbuhkan reaksionerisme, kelambanan, dan kelumpuhan. Agama Islam 
macam ini telah mengekang spirit kebebasan dan secara culas membenarkan ststus 
quo. Sedangkan Islam yang lain, Islam ideology yang pantang bersatupadu dalam 
system Islam yang dekaden. Sudah barang pasti Islam Ideology tidak 
diperbolehkan tumbuh dan berkembang dalam sejarah oleh Islam dekaden. Justru di 
jantung bangsa-bangsa Muslim, sebagaimana kita ketahui, kebenaran dan cita-cita 
Islam sedang dikorbankan. 

Dalam bentuknya yang tidak ideologis agama adalah suatu kumpulan kepercayaan 
turun-temurun dan perasaan individual; suatu imitasi terhadap upacara-upacara, 
aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan agama dan praktek-praktek yang sudah berurat 
berakar dari satu generasi kegenerasi lainnya. Jenis agama semacam ini 
menunjukkan semangat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Agama seperti ini 
tidak pernah nenemukan esensinya hingga memperlihatkan penentangannya terhadap 
spirit dan semangat kemanusiaan yang sesungguhnya.

Praktek agama seperti ini sampai hari ini berkembang dan tumbuh subur dalam 
system yang hipokrit, dimana mereka mengaku beragama Muhammad tapi mereka 
tidaklagi memiliki ideology Muhammad, Ali dan Hussein di Karbala. Sebahagian 
mereka dari kampung berpindah kekota. Dikota mereka menimba ilmu diberbagai 
perguruan hingga memungkinkan mereka menjadi orang besar setelah bergabung 
dengan orang-orang pemerintahan. Mereka menjadi kaya, memiliki rumah yang luck, 
gaji yang tinggi dan mobil mewah. Namun kebanyakan mereka hidup miskin dan 
menderita tapi mereka tetap berdaya upaya agar tidak ketinggalan ketika musim 
maulid tiba kendatipun rasulullah sendiri melarangnya, namun mereka sepertinya 
takpernah mengetahuinya adalarangan tak obahnya seperti kebiasaan orang kristem 
memperingati hari lahirnya Yesus, mereka tidakpernah memahami bahwa tgl 
25 Desemeber itu bukan hari lahirnya nabi Isa tapi hari lahirnya dewa matahari. 
Demikian juga pohon cemara yang mereka
 hias sebagai pohon Natal, padahal pohon tersebut takpernah eksist 
ditempat kelahiran Nabi Isa.

Dikalangan Syiah jaman Syah Redha Valevi juga demikian kondisi masyarakat, 
dimana orang-orang miskin walau makanpun tak menentu, berdaya upaya walau 
dengan cara menabung guna membeli lampu pompa, rantai untuk flagelasi 
(memukul-mukul tubuh dalam peringatan terbunuhnya Imam Hussein di Karbala), 
alat bunyi-bunyian dan jubah hitam.    Ironisnya acara tersebut dikordinir 
penguasa. Pada hari Asyura malah semua orang dipaksakan harus mengalir airmata 
tapi satuhari setelah itu atau esoknya pemerintah membuat hari bergembira 
dimana tidak dibenarkan seorangpun menangis kecuali ditangkap polisi. Jadi 
semua mereka (baca penguasa plus rakyatnya adalah syiah tapi syiah Safavid 
bukan syiah Alawi. Syiah alawi tidak dibenarkan berkembang hingga Imam 
Khomaini, Dr Ali Syariati, Murtadha Mutahhari cs muncul hingga mampu 
menggulingkan penguasa safavid dan berdirinya system Islam Syiah Alawi  yang 
sangat cemerlang sekarang ini. 

Mudah-mudahan tulisan singkat ini menjadi renungan bagi banbgsa-bangsa yang 
sedang tertindas di jaman kita ini. Kita harus belajar memahami karbala hingga 
menemukan karbala dikalangan kita masing-masing. Kita harus mampu mana sosoknya 
Yazid di jaman kita, dikalangan kita dan mana sosok Hussein dikalangan kita 
masing-masing. Lalu bersatulah "Hussein-hussein" untuk meluluhlantakkan 
"yazid-yazid". Dengan cara demikianlah kita terlepas dari api neraka, bukan 
dengan mengalirkan air mata di hari Asyura dan berpuasa agar dapat pahala 
sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita bersatupadu dalam system yang sama 
dengan system yang ditentang Imam Hussein di Karbala.

Billahi fisabililhaq
Ali Al Asytar
Acheh - Sumatra




________________________________
From: Vendra Dj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, January 1, 2010 5:46:25 AM
Subject: |IACSF| Pentas Karbala, Simbol Perlawanan Atas Kebatilan

  
Pentas Karbala, Simbol Perlawanan Atas Kebatilan
Refleksi Atas Kesyahidan Imam Husain bin ‘Ali
 
Oleh; Novendra Dj
 
Catatan sejarah umat Islam mengabadikan satu tragedi yang memilukan dan menohok 
jantung orang-orang muslim yang peka dengan agama dan hakikat kemanusiaan. 
Tepat pada hari ke-10 dibulan Muharram tahun 61 H, suatu peristiwa pembantaian 
sadis menimpa al Husain bin ‘Ali bin Abithalib beserta  para pengikut setianya. 
Tragedi yang mengambil tempat di padang Karbala, Iraq ini menyisakan kepiluan 
dan kepedihan hati kaum mu’min. Bagaimana tidak, karena yang dibantai adalah 
cucunda Rasulullah saw, anak putri tercinta beliau, Fathimah az Zahra. Dan yang 
melakukannya adalah orang-orang yang mengaku umat Muhammad saw.
Sang kesatria dan hujjatullah dibantai oleh Yazid bin Mu’awiyah, salah seorang 
khalifah dinasti Umayyah. Mereka membunuh  seorang putra Bani Hasyim demi 
memadamkan cahaya Islam dan memuluskan jalan nafsu keserakahan atas kekuasaan 
dan harta benda. Kesilauan dunia telah memperdayakan dinasti Umayyah, hingga 
mereka tega menumpahkan darah suci keturunan Rasulullah saw. Bala tentara 
kezaliman itu menggenangi tanah Nainawa (nama lain dari Karbala) dengan darah 
yang dialiri dari tubuh Imam Husain beserta pendukung setianya. 
Perang antara Imam Husain bersama pengikut setianya dengan pasukan Yazid 
berlangsung tidak seimbang. Puluhan orang dari barisan beliau melayani serangan 
ribuan prajurit Yazid yang dibekali persenjataan lengkap. Sangat tidak adil 
jika dikatakan peristiwa Karbala tersebut adalah peperangan, melainkan sebentuk 
pembantaian. Sang petempur terakhir yang hidup (Husain) merenggang nyawa dalam 
keadaan teraniaya. Pribadi agung ini  menjadi tonggak keteladanan, merelakan 
dirinya syahid dalam keadaan teraniaya demi pengabdiannya kepada Islam. Ia 
menjawab panggilan dan menjalankan dengan sempurna amanat Allah dan Rasulnya.
Tragedi Karbala sebuah peristiwa yang tidak ada bandingannya dalam sejarah 
manusia. Bentuk pengorbanan dan ketabahan yang ditampilkan Imam Husain menjadi 
energi dahsyat bagi orang-orang yang yakin dengan janji-janji Rabba nya. Husain 
menjemput ajalnya di Karbala bukanlah berlatar putus asa atau pasrah pada 
takdir yang ditentukan Allah Swt untuknya. Tetapi dia datang dengan visi dan 
misi yang jelas, yaitu upaya penyelamatan dan mengembalikan eksistensi serta 
kemurnian agama kakeknya, Muhammad saw.
Kemurnian Islam sejak wafatnya Rasulullah saw mulai terkikis. Pelbagai 
penyelewengan terjadi akibat nafsu serakah sebagaian kalangan elit yang masih 
menyimpan dihati mereka bongkahan-bongkahan kebencian dan dendam kepada al 
Mustafa dan ahlulbaitnya, terutama kepada ‘Ali bin Abithalib. Keadaan yang 
mencederai citra Islam ini mendorong Imam Husain bangkit dan melawan, terutama 
setelah Mu’awiyah mencabik-cabik traktat perdamaian antara ia dengan Imam 
Hasan. Dimana traktat tersebut berisi kesepakatan bahwa kaum muslim akan 
memilih khalifahnya setelah meninggalnya Mu’awiyah. Namun Mu’awiyah dibalik itu 
berusaha memperoleh bai’at bagi Yazid, putranya. Dan mulai menebar fitnah atas 
ahlulbait Nabi, secara khusus terhadap pribadi Imam ‘Ali. 
Namun pribadi seperti al Husain tidak tinggal diam dan pasrah membiarkan cahaya 
Islam redup. Dia tidak akan sudi membai’at dan membiarkan urusan umat Islam 
ditangan orang seperti Yazid. Al Husain memandang perlu membangun simbol lebih 
jelas antara kebenaran dan keadilan yang diwakili dirinya, dengan simbol 
kebatilan dan kezaliman yang diwakili Yazid bin Mu’awiyah. Tentunya langkah 
yang diambil al Husain tersebut membawa konsekuensi besar mengenaskan. Dimana 
kepedihan dan kedukaan dahsyat akan menimpa Rasulullah dan keluaganya beserta 
orang-orang yang setia pada agama yang hanif. Karena tipe Yazid tidak sungkan 
menumpahkan darah orang-orang yang menghalanginya, meskipun itu manusia agung 
seperti al Husain.
Kita bisa bayangkan bagaimana Imam Husain, cucunda kesayangan Rasulullah saw, 
dibantai dengan sangat biadab. Begitu juga sangat memilukan saat Ali Al Ashgar, 
bayi Imam Husain syahid dengan panah beracun menembus lehernya. Kekejaman 
terhadap keturunan Rasul saw ini senantiasa membuat kesedihan mendalam. 
Tetapi di balik kesedihan itu, banyak makna lain terkandung dibalik pengorbanan 
dan syahidnya Imam Husain beserta para pengikutnya. Disitu tersimpan kisah 
heroik, sebelum menjemput syahidnya, Imam Husain dengan gagah berani melawan 
ribuan prajurit seorang diri. Ini mengisyaratkan pesan bahwa seorang muslim 
mesti tetap tegar melawan kezaliman. Bagaimana pun keadaannya.
Peristiwa karbala memotret dua sisi yang saling bertolak belakang. Barisan 
pengusung bendera haq satu pihak dan barisan kebatilan dipihak lain. Imam 
Husain beserta rombongannya datang ke tanah Karbala demi menegaskan tapal batas 
haq dan batil. Ia datang dengan kesadaran ilahiah, bahwa pengorbanan dan 
kucuran darahnya akan merobek tabir-tabir kejahilan dan kezaliman. Beliau 
menyadari bahwa umat Islam selanjutnya membutuhkan suatu tonggak inspirasi yang 
akan memompa spirit mereka dalam menentang penindasan dan ketidak adilan.
Disisi lain, perlakuan Yazid dan bala tentaranya terhadap Imam Husain, 
putri-putri Bani Hasyim, dan para pengikut setianya adalah mempertontonkan 
budaya ala rezim penindas. Peristiwa ini sungguh menegaskan bahwa antara haq 
dan kebatilan tidak akan pernah bisa bercampur. Haq tidak akan pernah tunduk 
dihadapan lawannya, keduanya senantiasa berhadap-hadapan. Semangat perlawananan 
atas kezaliman mesti senantiasa dipupuk, dijadikan spirit yang mengakar 
dikalangan umat Islam. Jika tidak, maka kezaliman akan merasa aman memegang 
kendali, dan ia juga bisa menyelubungi dirinya dengan jubah kebenaran, dan 
topeng keadilan. 
Keprihatinan kita, Peristawa Karbala seperti terlupakan oleh umat Islam 
mayoritas. Entah karena sengaja demi menyelamatkan muka umat Islam dari rona 
buram lembaran sejarah pilu. Namun demikian, tidak bisa dihindari, sejarah umat 
ini ternyata tidak semulus dalam  lembaran buku-buku yang popular beredar 
ditengah-tengah kita. Pelbagai fakta terkait tragedi-tragedi menyayat hati 
turut memburamkan fenomena umat ini. Diantara peristiwa besar dan terpenting 
serta layak dikenang, adalah tragedi Karbala. 
Tragedi menyesakkah hati ini memang hanya akrab dan selalu dikenang oleh umat 
Islam dari mazahab Syiah. Kalangan umat Islam yang memiliki loyalitas tinggi 
pada ahlulbait Nabi saw ini melihat peristiwa tersebut  sebagai pembuka mata 
umat Islam atas batasan haq dan batil yang tidak mungkin dicapur satu sama 
lain. Membangunkan kesadaran umat bahwa Islam beserta kebenaran dan keadilan 
yang diusungnya mesti senantiasa diperjuangkan, meskipun harus dibayar dengan 
penderitaan dan darah sekalipun. Dan mereka senantiasa menjadikan kenangan 
Asyura sebagai wadah membangun spirit untuk bangkit, loyalitas  pada kebenaran, 
dan senantiasa menolak kezaliman dan penindasan.
Namun demikian, pembelajaran ataupun hikmah Asyura bukanlah monopoli Islam 
Syiah saja. Sejatinya peristiwa ini menjadi spirit bersama umat Islam dari 
kalangan manapun yang setia dengan ajaran Rasulullah saw, yang menginginkan 
batasan haq dan batil tetap dikenali, dan keadilan ditegakkan. Karena Imam 
Husain telah menggoreskan tonggak keteladanan – dengan kemuliaan pengorbanannya 
demi kemurnian dan tegaknya agama Muhammad saw – dan menjadikannya sebagai 
pesan agung, bahwa duduk bersanding dengan penindas dan kezaliman itu sendiri 
adalah aib dan kehinaan. Dan umat Islam dituntut untuk senantiasa berada dalam 
kemuliaan, penyampai kebenaran, dan pengimplementasi keadilan. Labbaika ya 
Husain...[Sumber; Serambi Indonesia]
 
 
 



      

Kirim email ke