Seharusnya sunny menyertai komentarnya, tidak hanya memforward sepakterjang 
orang-orang yang menempatkan diri sebagai ujung tombak penguasa Hindunesia. 
Mereka itu adalah "pesuruh". Pesuruh itu ada dua klasifikasi. Klasifikasi redha 
Allah dan klasifikasi terkutuk disisi Allah. Kita yakin bahwa cepat atau lambat 
kita akan menemui kematian, termasuk juga kopassus Hindunesia itu walaupun 
sekuat apapun mereka.  Saya menyerahkan kepada orang West Papua, Ambon dan 
Acheh - Sumatra, bukan kepada orang yang bersatupadu dalam system taghut dhalim 
korrup dan  hipokrit. Apakah kopassus itu baik disisi Allah atau terkutuk? 
Hanya ini saja comment saya.




________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, January 12, 2010 4:11:09 PM
Subject: «PPDi» Buku Kopassus untuk Indonesia; Rahasia Pasukan Komando

  
http://www.cenderaw asihpos.com/ detail.php? ses=&id=1627
 
12 
Januari 2010 09:39:52
 
 
Buku Kopassus untuk Indonesia; Rahasia Pasukan 
Komando
Menyamar Pedagang Durian 
hingga Sniper Ambon 
 

Isi buku Kopassus untuk Indonesia 
yang diluncurkan Kopassus TNI-AD tak sembarangan. Buku dengan desain gaul itu 
membuka rahasia dapur korps terbaik ketiga di dunia itu, termasuk operasi 
intelijen bawah tanah. Seperti apa?
RIDLWAN HABIB, Jakarta 

WANITA itu bukan tentara. Gaya pakaiannya juga santai. Turun dari 
mobil New Honda City metalik, dia disambut hormat oleh prajurit Kopassus. "Mbak 
Esti ini sudah kami anggap bagian dari keluarga," kata Letkol Farid Makruf yang 
menyambut Esti di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur Kamis lalu 
(7/1). 

Siang itu suasana sekitar Kesatrian Kopassus agak lengang. Sebab, 
pada jam dinas, semua prajurit sibuk dengan tugas masing-masing. "Sebelum 
mengenal mereka, saya benar-benar awam dengan dunia militer," kata Esti yang 
sengaja berkunjung ke Kopassus untuk menemui Jawa Pos (Cenderawasih Pos 
Group).

Nama lengkapnya Erastiani Asikin Natanegara. Bersama penulis lain, 
Iwan Santosa, mereka diberi kepercayaan penuh oleh Komandan Jenderal (Danjen) 
Kopassus untuk menulis buku yang mulai beredar tiga minggu lalu itu. 

"Buku ini adalah buku resmi Kopassus pertama yang ditulis sipil dan 
untuk umum," kata Letkol Farid yang ikut berbincang. Farid adalah alumnus Akmil 
1991 yang juga menjadi salah satu narasumber buku. Mantan kepala staf pribadi 
(Kaspri) Danjen Kopassus itu juga menjadi anggota tim penyusun buku bersama 16 
orang lainnya. 

Menurut Farid, Kopassus sengaja meminta orang luar agar tulisannya 
objektif. "Mbak Esti ini mulai nul puthul. Kita memang buka apa adanya. Kalau 
mau ditulis jelek, ya tulis saja," kata perwira asal Pulau Madura itu. 

Isi 
buku setebal 345 halaman itu memang blak-blakan. Misalnya, cerita seorang 
anggota Sandhi Yudha Kopassus yang bertugas sebagai intelijen Kopassus saat 
masa 
darurat militer di Aceh pada 2003. Sersan Badri (nama samaran, Red) bertugas 
untuk masuk ke lingkaran utama Gerakan Aceh Merdeka. 

Untuk menyukseskan misinya, Badri harus menyamar sebagai pedagang 
durian dari Medan. Berselang setahun, sendirian, Badri menembus akses untuk 
mendapat kepercayaan anggota GAM. "Saat paling sulit, saat dia diminta pimpinan 
GAM melindungi istrinya dari kejaran pasukan TNI. Selama tiga bulan, Badri 
harus 
mencari tempat kos yang aman dari kejaran TNI yang sebenarnya temannya 
sendiri," 
katanya. 
Agar jaringan intelijen sempurna dan tidak bocor, Badri tidak 
pernah diketahui identitasnya sebagai anggota Kopassus kecuali oleh beberapa 
pimpinan operasi. Meski menyamar sebagai pedagang durian, Badri menggunakan 
kesempatan itu untuk menyabot senjata-senjata GAM. "Misalnya, alat pembidik 
pada 
senapan-senapan GAM sengaja digeser agar tembakan mereka melenceng atau tidak 
tepat sasaran," katanya.
Kisah lain yang juga sengaja dibuka Kopassus adalah 
tim Kopassus yang bertugas mengamankan kerusuhan Ambon pada Januari 2001. 
Mereka 
bertugas di tengah-tengah kelompok Merah (Nasrani) dan kelompok Putih (muslim). 
Namun, ternyata, sumber kerusuhan adalah sniper (penembak jitu) gelap yang 
memprovokasi serangan. 

Narasumber dalam kisah itu adalah Wakil Asisten Intelijen Kopassus 
Letkol Nyoman Cantiasa yang saat itu masih berpangkat kapten. Kebetulan Nyoman 
pernah menceritakan kisahnya secara singkat kepada Jawa Pos beberapa bulan lalu 
saat tak sengaja bertemu di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dalam buku itu, dikisahkan bahwa Nyoman memerintahkan beberapa 
anggota tim untuk mencari asal sniper yang menembak di malam hari. Ternyata, 
para perusuh itu bersembunyi di Hotel Wijaya II Ambon. Mereka juga menyadap 
saluran HT pasukan Nyoman. Bahkan, kata sandi Nyoman saat itu yakni Arjuna 2 
juga diketahui. 

  
Berdasar penghitungan matang, Nyoman akhirnya memerintahkan tim 
dengan seizin Pangdam Pattimura (saat itu dijabat Mayjen M. Yasa) menyerbu 
Hotel 
Wijaya. Terjadi baku tembak selama dua jam sebelum seluruh sniper dilumpuhkan. 
Mereka berhasil menyita beragam senjata, seperti AK 101, AK 102, SKS, MK1, SS1 
, 
M16, dan US Karabine 30 mm. 

  
Selain Aceh dan Ambon, Kopassus membuka kisah di balik 
operasi-operasi di Papua, Timor Leste (dulu Timor Timur), dan berbagai lokasi 
lain di Indonesia. Tidak khawatir strategi Kopassus bocor ke tangan intelijen 
asing? Menurut Farid, kekhawatiran selalu ada. "Tapi, ibarat memasak nasi 
goreng. Bumbunya tidak semua orang tahu, tapi hasilnya enak. Jadi, secara 
detail 
teknisnya masih kami tutupi," kata Farid yang sekarang menjabat kepala 
penerangan Kopassus itu. 

 
Tanpa bermaksud sombong, kata Farid, Kopassus mempunyai kemampuan 
intelijen dan antiteror yang bisa diandalkan. "Rata-rata pembebasan sandera 
hanya butuh tiga menit. Di Woyla dulu juga cukup tiga menit," katanya. 

  
Saat ditanya tentang operasi Densus 88 di Temanggung yang butuh 
waktu 17 jam untuk meringkus Ibrohim, otak peledakan Ritz-Carlton, Farid 
menggeleng. "Kami tidak mau mengomentari keahlian orang lain. Cukuplah 
masyarakat yang menilai dengan buku. Kalau memang Kopassus jelek, ya, silakan 
dianggap jelek. Apa pun itu kami bangga bertugas demi negara. Itu kehormatan 
komando," kata perwira yang pernah dikirim ke Sierra Leone, Afrika, itu. 

  
Masih banyak kisah lain yang ditulis Esti. Misalnya, proses 
perekrutan anggota Kopassus yang ketat. Seorang prajurit yang bisa diterima 
Kopassus harus bisa berlari 12 menit dengan jarak tempuh minimal 2.800 meter. 
Lalu pull up 12 kali, push up 40 kali minimal dalam satu menit, sit up 40 kali 
minimal dalam satu menit, renang dasar 50 meter dan tidak takut ketinggian 
lebih 
dari 15 meter. 

  
Setelah itu mereka harus ikut seleksi psikologi dan jika lolos 
harus menjalani pendidikan komando selama tujuh bulan. Pelatihan itu sangat 
berat. "Mereka punya istilah kaki tomat, yakni kaki yang melepuh karena harus 
long march dari Bandung ke Cilacap jalan kaki dengan jarak tempuh 500 kilometer 
selama 10 hari dengan beban perorangan 30 kg di pundak," kata Esti. 

Kisah-kisah kegalakan pelatih juga dideskripsikan. Misalnya, 
galaknya Kapten Encun di Pusat Pendidikan Kopassus Batujajar. Encun yang ahli 
melempar pisau komando itu sudah melatih spesialisasi komando 26 tahun. "Semua 
pohon randu di Batujajar tidak ada yang selamat. Semua dibabat habis untuk 
latihan lempar pisau," katanya. 

  
Kisah-kisah humanis anggota Kopassus saat bertugas di luar negeri 
juga dideskripsikan. Juga saat korps baret merah itu menjadi garda depan 
penanggulangan bencana alam. Wanita alumnus Sastra Tiongkok, Universitas 
Indonesia itu mengaku hanya butuh tiga minggu untuk menyelesaikan bukunya. 

  
"Sehari saya wawancara delapan hingga 10 prajurit, mulai pangkat 
terbawah sampai jenderal," katanya. Interaksi tiga minggu itu telah mengubah 
pandangannya tentang Kopassus. "Mereka orang-orang aneh yang mengidap adrenalin 
junkie, yakni orang yang bekerja sangat prima dalam kondisi stres dan dalam 
tekanan tinggi," katanya. 

  
Dia 
mencontohkan salah seorang bintara bernama Serka Sumardi. Orang itu istimewa 
karena sudah 14 kali ditugaskan di medan operasi. Sedangkan rata-rata prajurit 
yang lain hanya empat kali. Sumardi pernah sekali ditugaskan sebagai anggota 
pasukan PBB di Bosnia. 
"Saat saya tanya apa yang paling enak dalam 
penugasan, dia menjawab saat dikirim ke Bosnia karena bisa merasakan enaknya 
landing (mendarat). Ternyata selama 14 kali terjun operasi, dia selalu dilempar 
ke udara dengan parasut dan belum pernah sekalipun naik pesawat. Ini ndeso, 
tapi 
jujur," kata Esti sambil melirik Farid.

Farid tertawa lepas. "Kisah-kisah seperti itu kami harap bisa 
menarik minat anak muda bergabung ke Kopassus. Kalau yang tua-tua, terus 
terang, 
kami capek meyakinkan mereka," katanya. (*/iro) 
(scorpions)
 


      

Kirim email ke