MUI itu tertulis dengan jelas Majlis Ulama Indonesia. Kalau hanya kita berkaca
dengan syar'i mereka itu Ulama tapi apabila kita sanggup melihat persoalan
tersebut dengan kacamata Ideologis dan filosofis (baca hakikat), sesungguhnya
mereka itu bukan Ulama. Mereka adalah "penjilat" penguasa, sejak Suharto sampai
hari ini. Posisi ulama mereka gunakan untuk berfatwa menurut kemauan penguasa
atau majikannya bukan menurut kemauan Allah, Pemilik manusia dan alam semesta.
Bagi orang orang yang terlanjur bersatupadu dalam system taghut yang dhalim,
hipokrit dan korrup itu, mengusap dadanya ketika mendengar keterangan seperti
ini. Sesungguhnya kita tidak mengenal agama Islam benaran jika kita belum
mengenal Ulama benaran. Ulama benaran adalah Ulama warasatul ambiya. Yang
namanya Ulama mustahil tidak mampu memahami Qur-an dan Hadist secara tepat.
Berdasarkan keterangan diatas, itu Ulama Huda yang berkiprah di Acheh adalah
bahagian dari MUI dan MUA. Mereka ini juga tidak berfatwa menurut kehendak
Allah tapi menurut kehendak Jawakarta. Dalam masa perang saja mereka yang
bergabung dalam HUDA itu tidak berpihak kepada GAM tapi kepada Jawakarta.
Mereka itu sama dengan Ulama yang berfatwa untuk kelanggengan tahta Yazid bin
Muawiyah dulu. Siapa berani mengatakan bahwa mereka itu bukan ulama ketika itu?
Demikian juga sekarang, siapa berani katakan bahwa MUI itu bukan ulama di
Indonesia? Mengapa tidak ada orang yang berani menafikan mereka? Jawabannya
adalah disebabkan mereka semua bahagian dari system taghut yang dhalim,
hipokrit dan korrup, demikian. . . . .
Agama adalah jalan hidup. Barang siapa yang tidak benar agamanya mereka tidak
benar dalam hidupnya. Benar tidaknya jalan hidup seseorang bukan menurut orang
"pintar" tapi menurut "kacamata" Allah, Rasulnya dan Imam yang diutus.
Orang yang memfokuskan agamanya pada dimensi ritual semata bukan agama benaran
tapi agama dekaden. Mereka sa ngat peka melihat gerhana bulan atau gerhana
matahari tapi mereka tidak peka melihat kaum dhuafa hidup digubuk-gubuk derita.
Mereka hidup senang dan bangga ketika orang ramai menyebutnya sebagai ulama.
Mereka mendapat "sedekah" dalam hidupnya dari penguasa yang mereka support.