Saturday, 23 January 2010
Serangan darat, udara, dan laut militer Arab Saudi terhadap kelompok Al-Houthi,
Yaman. Demi menebus kekalahan dalam pertempuran di darat, militer Arab Saudi
lantas menggunakan senjata-senjata inkonvensional termasuk bom fosfor. Kabar
terbaru, serangan militer Arab Saudi mengubah acara pernikahan menjadi acara
prosesi pemakaman.
Menurut laporan kantor berita Fars, fakta menunjukkan bahwa pemerintah Arab
Saudi dan Yaman meski telah mengerahkan seluruh kemampuan, namun gagal
menggapai tujuannya.
Dan beberapa waktu terakhir, Amerika Serikat dan Inggris ikut-ikutan dengan
membesar-besarkan ancaman Al-Qaeda di Yaman sebagai mukaddimah penempatan
pasukan di negeri itu.
Berikut ini rentetan serangan militer Arab Saudi ke Yaman:
30 Oktober 2009, kelompok Al-Houthi menduduki pangkalan militer di Jebel
al-Dukhan di perbatasan antara Arab Saudi dan Yaman.
6 November 2009, militer Arab Saudi terlibat perang di perang Yaman dengan
memasuki wilayah Yaman dan mebombardir posisi pertahanan Al-Houthi. Pesawat
F-15 dan Tornado Angkatan Udara Arab Saudi membombardir posisi Al-Houthi di
Propinsi Jazan.
Muhammad Abdussalam, Jurubicara Al-Houthi, menyatakan, "Militer Arab Saudi
selain menembakkan roket dan peluru artileri, juga menggunakan bom fosfor. Aksi
ini dilakukan dengan alasan bahwa instabilitas di Yaman telah menjalar ke dalam
negeri Saudi."
7 November 2009, militer Arab Saudi kalah telak dalam pertempuran darat dengan
Al-Houthi. Jubir Al-Houthi menyatakan, "Para pejuang Al-Houthi berhasil memukul
mundur pasukan darat dan komando Arab Saudi serta menimbulkan kerugian besar
terhadap militer Saudi."
"Pejuang Al-Houthi juga berhasil menyandera sejumlah pasukan Saudi serta
menyita berbagai senjata dan perlengkapan militernya."
8 November 2009, Saudi mengerahkan armada darat dan udaranya secara bersamaan.
Kelompok Al-Houthi dalam statemennya menyatakan, pesawat tempur Saudi
membombardir wilayah Malahit dan desa-desa sekitar, serta menghantam pangkalan
militer Ain al-Harra dengan 30 roket. Jet-jet tempur Saudi juga membombardir
kawasan Shadaa, al-Hasama, al-Malahit, dan sejumlah desa lain.
9 November 2009, pesawat tempur Saudi melanggar zona udara Yaman sebanyak 30
kali serta menyerang wilayah al-Malahit, al-Hasama, Shada, al-Qabas, dan
al-Raqi.
9 November 2009, makar kolekfit Arab Saudi, Mesir, dan Kuwait untuk memberantas
Al-Houthi.
Presiden Mesir, Hosni Mubarak dalam kontak telpon dengan Raja Arab Saudi,
Abdullah bin Abdul Aziz, membahas pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman
dan Al-Houthi. Mubarak mendukung Arab Saudi menumpas Al-Houthi.
Pemeritah Kuwait secara resmi menyatkaan bahwa angkatan bersenjata negara ini
siap membantu militer Arab Saudi memberangus Al-Houthi.
10 November 2009, Al-Houthi menyatakan bahwa para pejuangnya berhasil menguasai
sebagian wilayah Qatabir di Propinsi Saada, Yaman, serta merampas seluruh
senjata dan perlengkapan logistik militer di komplek militer tersebut.
Qatabir adalah sebuah wilayah utara Propinsi Saada dan termasuk dalam kawasan
Jazan yang juga berbatasan dengan Arab Saudi. Ini adalah wilayah ketiga setelah
Munaba dan al-Razih yang jatuh ke tangan Al-Houthi.
11 November 2009, pemerintah Yaman menandatangani kerjasama militer dengan
Amerika Serikat.
Demi mencegah apa yang diklaim sebagai terorisme dan dalam rangka mewujudkan
stabilitas, pemerintah Yaman menandatangani kerjasama militerdengan AS.
Kerjasama ini termasuk pertukaran informasi dan pelatihan pasukan, serta
persiapan personil militer Yaman.
11 November 2009, Menteri Pertahanan Arab Saudi: Riyadh melanjutkan serangannya
terhadap Al-Houthi.
Amir Khaled bin Sultan menyatakan, negaranya akan membersihkan kawasan
perbatasannya dari para pejuang Al-Houthi.
Di pihak lain, Al-Houthi menyebarkan rekaman video bagaimana anak-anak Yaman
mengerang kesakitan hingga mati akibat terkena bom fosfor militer Saudi.
11 November 2009, Al-Houthi mengumumkan persyaratannya untuk gencatan senjata.
Jubir Al-Houthi, Muhammad Abdussalam, mengimbau pemerintah Sanaa untuk tidak
bersikap rasis terhadap kelompok ini, serta mencegah keterlibatan Arab Saudi
dalam perang saudara di pemerintah ini.
12 November 2009, Arab Saudi berencana mewujudkan wilayah terpisah di Yaman.
Pemimpin Al-Houthi, Abdussalam menyatakan, Arab Saudi tengah berupaya
mewujudkan sebuah wilayah terpisah di Yaman.
13 November 2009, serangan darat dan udara militer Arab Saudi ke utara Yaman
terus berlanjut.
Serangan udara dan darat militer Arab Saudi ke berbagai wilayah di utara Yaman
terus berlanjut dan jet-jet tempur Saudi membombardir kawasan al-Malahit,
al-Hasama dan berbagai desa yang terbentang di sepanjang perbatasan dengan Arab
Saudi.
Penasehat Negara Arab Saudi menyatakan, negaranya mengerahkan armada udara dan
artilerinya untuk memisahkan kawasan utara Yaman dengan kawasan lain hingga
radius 10 kilometer.
13 November 2009, Arab Saudi merekrut kembali para veteran perangnya untuk ikut
membasmi Al-Houthi.
Panglima Pasukan Penjaga Perbatasan Arab Saudi di wilayah Jizan selatan
merekrut kembali seluruh veteran perangnya untuk membantu militer Saudi dalam
memerangi Al-Houthi.
Pada saat yang sama, pusat komando militer Saudi menginstruksikan seluruh kapal
perangnya untuk memblokade perairan di utara Yaman.
Serangan udara militer Saudi tak kunjung berhenti.
14 November 2009, Angkatan Laut Arab Saudi memblokade perairan utara Yaman.
Penasehat Negara Arab Saudi menyatakan, Riyadh memblokade perairan utara Yaman
demi mencegah masuknya suplai persenjataan dari Laut Merah.
Menlu Yaman, Abu Bakar Al-Qirbi, dalam wawancaranya dengan koran Al-Ahram
terbitan Kairo mengaku bahwa Sanaa memiliki kerjasama erat dalam menumpas
Al-Houthi.
15 November 2009, Arab Saudi melipat gandakan personilnya dekat perbatasan
Yaman.
Sumber militer Arab Saudi dalam wawancara dengan koran trans-regional Al-Sharq
Al-Awsat menyatakan, militer Saudi telah mengerahkan tentaranya dalam jumlah
besar ke perbatasan dengan Yaman.
Satuan pasukan terjun payung juga dikerahkan untuk membantu operasi penyisiran
di kawasan.
Pesawat tempur Saudi membombardir kawasan Al-Malahit, Shada, dan Haidan.
16 November 2009, Arab Saudi mempersempit blokadenya di perairan utara Yaman.
Angkatan Laut Arab Saudi memblokade pelabuhan Midi dengan alasan mencegah
penyelundupan senjata. Kapal-kapal perang Saudi berpatroli di sekitar pelabuhan
Midi.
Pemerintah Arab Saudi mengklaim para pejuang Al-Houthi mendapatkan suplai
senjata yang disusupkan melalui Eritrea.
17 November 2009, serangan udara Saudi semakin sadis.
Dalam sehari, militer Saudi telah menembakkan 40 roket ke wilayah al-Razih,
al-Malahit, dan Shada.
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=18873
Lhokseumawe - Seorang warga Alue Rime, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Anwar
Abu Bakar (35), terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Lhokseumawe,
setelah Rabu (20/1) sekitar pukul 16.30 WIB dipukuli sejumlah oknum TNI yang
sedang mengamankan ExxonMobil, proyek vital nasional (provitnas) di Desa Alue
Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu.
>
>Murdani (30), rekan korban, kepada sejumlah wartawan di RSI Lhokseumawe, Kamis
>kemarin menjelaskan bahwa permasalahan ini berawal dari kayu (papan dan
>beroti) yang diklaim korban sebagai miliknya. Kayu yang beratnya hampir
>setengah ton itu disimpan Anwar di sebuah kilang kayu, rencananya untuk
>membangun rumah. Tapi pada Rabu pagi Anwar mendapati seluruh kayu itu hilang.
>
>Setelah dia selidiki, ternyata kayu tersebut berpindah ke kilang lain yang
>jaraknya ratusan meter dari kilang semula. “Ketahuan juga bahwa kayu Anwar itu
>diangkut oleh seorang tukang becak,” jelas Murdani, didampingi temannya yang
>lain, Dedi. Begitu tahu bahwa kayu miliknya “pindah tempat”, Anwar pun
>bermaksud mengambil kembali kayunya. Namun belum sempat kayu tersebut
>dibawanya, tiba-tiba sejumlah oknum TNI mendatanginya. Pos jaga TNI memang
>hanya berjarak 100 meter dari kilang tersebut.
>
>Para prajurit yang menghampiri Anwar itu, menurut Murdani, sedang tidak
>berseragam militer, namun menenteng senjata laras panjang. “Dua di antara
>mereka mendekati korban. Lalu korban dipukuli, bahkan sempat dipopor kepalanya
>sehingga luka parah dan korban pun tersungkur,” jelas Murdani tanpa menyebut
>berapa persis jumlah aparat TNI itu.
>
>Setelah korban tersungkur, lanjut Murdani, ia yang kebetulan berada di tempat
>itu langsung membawa lari korban ke puskesmas terdekat. Tak lama kemudian
>korban dirujuk ke RSI Lhokseumawe. Dedi mengaku sangat menyesalkan sikap
>kasar yang dipraktikkan sejumlah oknum TNI yang sedang mengamankan ExxonMobil
>itu. “Sikap seperti itu sedianya tidak boleh ada lagi di masa damai ini, demi
>lestarinya perdamaian dan terciptanya situasi keamanan yang kondusif,” kata
>Dedi. Pria yang mengaku sebagai Juru Bicara KPA Pase ini meminta petinggi TNI
>untuk menindak tegas anggotanya yang masih melakukan kekerasan terhadap warga
>sipil di Aceh. Dedi menambahkan bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan ke POM
>Kodim Aceh Utara.
>
>Kesalahpahaman
>Terkait kasus itu, Kapendam Iskandar Muda, Letkol Dudi Dzulfadli menyatakan,
>peristiwa itu terjadi hanya karena kesalahpahaman belaka. “Dan kasus itu
>diselesaikan secara damai,” ujar Dudi saat dihubungi Serambi di Banda Aceh,
>tadi malam. Sayangnya, Dudi tak merinci lebih lanjut tentang bentuk konkret
>dari penyelesaian secara damai itu. Begitupun, kata Dudi, prajurit TNI yang
>diduga memukul Anwar Abu Bakar itu tetap ditindak tegas. “Ke dalam, kasus ini
>tetap kita proses. Apabila pelaku bersalah, kita akan tindak dia sesuai dengan
>hukum yang berlaku,” demikian Letkol Dudi Dzulfadli.
>
>--- On Thu, 1/21/10, kram krum <jeundr...@yahoo. com> wrote:
>
>
>>From: kram krum <jeundr...@yahoo. com>
>>Subject: Re: |IACSF| Prajurit Yonif 116 Amankan Proyek Vital
>>To: ia...@yahoogroups. com
>>Date: Thursday, January 21, 2010, 12:18 PM
>>
>>
>>
>>HANTAM sajaaa...
>>
>>
>>
>>
________________________________
From: Asmara Diah Saputra <asmar...@gmail. com>
>>To: ia...@yahoogroups. com
>>Sent: Thu, January 21, 2010 9:55:36 AM
>>Subject: |IACSF| Prajurit Yonif 116 Amankan Proyek Vital
>>
>>
>>21 Januari 2010, 08:54
>>Prajurit Yonif 116 Amankan Proyek Vital
>>Aceh Barat
>>
>>Kasrem 012/TU Letkol Inf Mundasir memeriksa senjata prajurit Yonif 116/GS
>>dalam penglepasan prajurit Yonif 116/GS di Makoyonif, di Alue Panyareng, Aceh
>>Barat, Rabu (20/1) yang akan ditugaskan ke Lhokseumawe dan Aceh Utara guna
>>mengamankan objek vital. SERAMBI/RIZWANMEULABOH - Prajurit Batalyon Infanteri
>>(Yonif) 116/Garda Samudera, Aceh Barat dikirim ke Lhokseumawe dan Aceh Utara
>>untuk mengamankan proyek vital. Proses pelepasan pasukan dilakukan oleh
>>Danrem 012/TU Kol Inf Arminson yang diwakili Kasrem Letkol Inf Mundasir SIP,
>>di Makoyonif Alue Peunyareng, Meulaboh, Rabu (20/1).
>>
>>Kasrem Letkol Mundasir mengatakan, mengamankan obyek vital merupakan aset
>>negara sangat penting bagi kehidupan rakyat dan beroperasinya obyek vital
>>menjadi modal pembangunan nasional. “Kewajiban kita untuk senantiasa
>>meningkatkan kualitas dan profesionalisme sebagai prajurit. Kita harus selalu
>>melaksanakan tugas sesuai hakikat kita sebagai TNI,” katanya.
>>
>>Ia menegaskan supaya prajurit menghormati adat istiadat setempat serta
>>menghindari pelanggaran sekecil apapun serta menanamkan dirinya bahwa semua
>>tugas merupakan kehormatan, kebanggaan serta harga diri yang harus diaplikasi
>>melalui disiplin tinggi, penuh dedikasi dan kesetiaan yang berpedoman pada
>>sapta marga, dan sumpah prajurit.(riz)
>>.