Mengenang 1 Februari 1979 Thursday, 04 February 2010 Di hari itu, seluruh rakyat Iran turun ke jalan-jalan. Tak peduli anak-anak, wanita dan orang tua, semuanya dengan semangat menyala meneriakkan yel-yel Allahu Akbar, Khomeini pemimpin kami. Teriakan yang menggelegar itu membuat bumi seakan-akan goyah. Di hari itu, mahasiswa, dosen, guru, ulama, pedagang, pejabat dan pekerja bersama-sama turun ke jalan mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Imam Khomeini.
Di setiap mata mereka tersirat cahaya kebanggaan dan kehormatan. Tangan-tangan mereka membawa sekuntum bunga dan beriringan menjemput kedatangan pemimpin mereka. Ketika matahari muncul di ufuk timur, tampak sesosok tubuh keluar dari pintu pesawat. Ketika warga melihatnya serentak mereka meneriakkan yel-yel "Khomeini wahai pemimpin". Dialah Imam Khomeini yang baru saja tiba di Iran dari tempat pengasingannya di Perancis. Ulama sekaligus pemimpin karismatik ini menyambut luapan kegembiraan rakyat Iran dengan tersenyum. Itulah hari ke 12 di bulan Bahman 1357 H.S bertepatan dengan 1 Februari 1979. bersamaan dengan kedatangan Imam Khomeini ke Iran, seorang analis Barat menulis, "Kini seorang ulama menjadi pemimpin sejati dan kedudukannya di atas para politikus lainnya". Koran Times terbitan London ketika mengenalkan pribadi agung ini menulis, "Imam Khomeini sosok yang berhasil menarik simpati berbagai kalangan dengan ucapannya. Beliau berbicara dengan bahasa masyarakat awam dan berhasil memberikan rasa percaya diri kepada pengikutnya. Beliau menunjukkan kepada rakyatnya bahwa ia mampu menghadapi AS". Michel Foucault, filosof asal Perancis menyatakan, "Keperibadian Ayatullah Al-Udzma Khomeini mampu meruntuhkan legenda keluarga Pahlevi. Tidak ada pemimpin negara dan politik meski mereka mendapat dukungan penuh media yang berani mengklaim bahwa rakyatnya memiliki hubungan emosional yang tinggi seperti yang dimiliki Imam Khomeini dengan rakyat Iran". Imam Khomeini sang pencetus Revolusi Islam bukan sekedar pemimpin politik dan revolusi. Sosok yang tak pernah kenal lelah ini selama bertahun-tahun menghabiskan usianya untuk memberi penerangan kepada rakyat dan menyeru untuk memerangi kezaliman dan ketidakadilan. Keperibadian beliau melampaui batasan manusia biasa yang terkekang dengan fisik kasarnya. Beliau seorang ulama yang mengikuti dan meneruskan jejak para nabi serta senantiasa meneriakkan kebenaran dan keadilan sebagai hakikat penciptaan. Oleh karena itu, revolusi yang dipimpin Imam Khomeini tidak terbatas pada rakyat Iran. Revolusi Islam bersumber pada Al-Qur'an dan Islam yang mengajak umat manusia ke arah kebenaran dan kebebasan serta keadilan. Nilai-nilai luhur ini bukan hanya dihormati rakyat Iran, namun juga seluruh bangsa di dunia. Dunia modern pun tak luput dari pengaruh revolusi besar ini yang menyerukan kebebasan dan independensi. Dengan cepat revoluisi ini menyebar ke seluruh penjuru dunia dan telah berhasil menyadarkan berbagai bangsa dunia dari tidur panjangnya. Pribadi Imam Khomeini penuh dengan semangat relijius dan kepercayaan tinggi terhadap diri sendiri. Alvin Toffler, pakar sosiologi dari AS mengatakan, "Ayatullah Khomeini kepada dunia mengatakan, selanjutnya kekuatan arogan dunia tidak menjadi pemain tunggal di pentas internasional karena seluruh bangsa memiliki kekuasaan. Apa yang diucapkan Imam Khomeini kepada kita adalah klaim kekuatan arogan dunia yang mengaku memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia sejatinya mereka tidak memiliki hak tersebut". Revolusi Islam Iran sebagai revolusi idiologi dan religi terbesar dunia modern memiliki posisi penting. Keistimewaan yang dimiliki revolusi ini yang menjadikannya berbeda dengan revolusi-revolusi dunia lainnya adalah sisi modernisitas yang terkandung di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan revolusi ini hingga kini terus mendapat perhatian para pengamat politik dan sosial meski telah berusia tiga dekade. Meski demikian, kita menyaksikan upaya besar-besaran media Barat untuk mencitrakan bahwa revolusi Islam Iran telah habis masanya dan sistem yang diusung revolusi ini telah usang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Revolusi Islam yang kini memasuki dekade ke empat dari usianya berada dalam kondisi khusus. Mengingat revolusi ini bertumpu pada gerakan massa, namun Revolusi Islam adalah benda hidup, kokoh dan dinamis. Revolusi Islam sepanjang sejarahnya berhasil melalui berbagai rintangan yang menghadang dan berhasil mencapai kemajuan dan keagungan. Menurut para pengamat politik, Revolusi Islam di fase terbarunya tetap memiliki semangat seperti pertama kali meletus. Tak hanya itu, revolusi Islam juga mampu menghadapi seluruh rintangan yang menghadang. Di puncak terdapat seorang pemimpin yang berani, luas pengalaman dan tegas. Pemimpin ini telah menggariskan perjalanan bangsa Iran. Slogan rakyat Iran yang berbunyi, "Metode masa depan bangsa Iran adalah jalan yang telah digariskan Imam Khomeini, revolusi, penentangan terhadap pemaksaan kekuatan arogan dunia, membela kaum tertindas dan mengibarkan bendera Islam di dunia", sejatinya perjalanan yang telah digariskan Imam semasa hidupnya. Rakyat pemberani dan pejuang Iran sebenarnya juga pendukung utama revolusi Islam. Mereka di saat kritis telah berhasil mengembalikan nilai dan norma revolusi Islam dengan aksi mereka turun ke jalan-jalan. Aksi demo pada sembilan Dey 1388 atau 30 Desember 2009 lalu membuktikan loyalitas warga terhadap nilai-nilai Revolusi Islam. Menurut pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Al-Udzma Ali Khamenei, "Selama bangsa ini dengan kesadaran dan iman mereka bertekad mempertahankan hak-haknya maka pasti mereka akan menang". Revolusi Islam ibarat mentari pagi hari yang menghapus kegelapan malam. Ia muncul dengan mengusung ide bahwa politik harus bergandengan dengan etika dan agama. Oleh karena itu, yang berhak menjadi pemimpin adalah pribadi cerdik dan bertakwa serta menyerukan keadilan sehingga dunia dipenuhi perdamaian. Revolusi Islam memberikan harapan kepada manusia yang hidup di bawah tekanan kezaliman.15:06:38 Last Updated ( Thursday, 04 February 2010 ) < Prev Next > ________________________________ From: Ali Al Asytar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, February 7, 2010 11:41:55 AM Subject: |IACSF| SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI Catatan Wan Hadi dari Malaysia PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA SYI’AH DAN AHL-SUNNAH AL-ASY’ARI TENTANG SAHABAT (catatan ini dibuat agar kita bisa saling memahami) Kenapa Ahl-Sunnah Al-Asy’ary (ini hanya guna memudahkan istilah karena terdapat beberapa golongan dalam Ahl-Sunnah dalam Akidah mereka hingga taraf saling mengkafirkan , sebagai contoh Imam Syafi’I mengkafirkan siapa saja yang berpaham Mujasimah , sementara Al-Asy’ari menyiratkan sebaliknya, demikian juga Al-Asy’ari mengkafirkan paham Muntzilah dan Murjiyah , sementara Imam Hanafi adalah berpaham Murjiyah. Mengapa hanya Ahl-Sunnah Al-Asy’ari yang dibandingan? , karena selalu saja golongan ini yang menolak penyatuan Sunnah dan Syi’ah , ketika yang lain mendukung dengan mendahulukan ukhuwah Islamiyah dan Akhlak dibanding Madzhab maka kelompok ini (yang diwakili Wahabi) selalu menolak dengan cara mengkafirkan Madzhab Syi’ah, dan tidak mau kompromi untuk pendekatan antar Madzhab. Inilah perbedaan pandangan dalam menilai sahabat antara SYi’ah dan Ahl-Sunnah al-Asy'ari. SYI'AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an secara keseluruhan) . Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada mereka adalah dari Sifat fi'l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak. AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa'ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy'ari memberikan implikasi: a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas. b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur'an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur'an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma'at (62): 11). c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, "Talak (yang dapat dirujuk) dua kali." Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya'irah menerimanya dan dijadikannya "hukum" yang sah sekalipun bertentangan nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301). d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy 'Ala Khairil l-'Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110). e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur'an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw). f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, " dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil." Mereka juga berkata," Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini." Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata," Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman." Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur'an. g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan "aqidah" , padahal Sahabat sendiri berkelahi, caci-mencaci dan berperang sesama mereka. h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena "bersepakat" dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:"Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah (Ibid, hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan "persetujuan/ kesepakatan" dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas. i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:" Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu." Mereka berkata lagi:"Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada "aqidah" mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat." Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur'an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman! SYI'AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua urusan/ perkara. AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324). Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah," Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, " Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka." Karena itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran. SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI Wan Hadi, Malaysia ............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ...... Sabda Rasulullah saww: "Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku. dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semua adalah al- Qo'im (Imam Mahdi)." (14 Manusia Suci Hal 92) Salman al-Farisi r.a. berkata:"Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: "Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi." (al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)
