NJAN KA DJIPEUGET SANDIWARA MATJAM LAENLOM DI ACHEH. AKHEDJIH SOE MANTENG NJENG 
PEUGAH ACHEH MERDEKA AKAN DJITUDOH TERORISTJIT. NJOE PEUNJAKET ALA SUPPERSIV 
SUHARTO TERHADAP SOEMANTENG NJENG KRITIK KEZALIMAN ORDE BARO. NJANTJOK HAI AWAK 
ACHEH NJENG KAMEUNGEN NGEN MUSOH, PEUE TARASA DJINOE? PEUE GOHLOM MEURASA 
DJIPEUNGEUT?  HOKA PEUDJUANG ACHEH, PEUE KATEUNGEUT? AWAKNJAN TERORIS DJITUDOH 
KEUGEUTANJOE. TJARADJIH MANGATTHAT DJIPEULAKU. NAN MANTENG SANDIWARA.
......................................................................................................................................................................................




Penyerbuan kamp latihan teroris percikan ketakutan atas kebangkitan 
TOM Allard HERALD Koresponden 
25 Februari 2010 

JAKARTA:
Polisi Indonesia telah meluncurkan perburuan untuk sampai dengan 50
anggota kelompok teroris yang dicurigai di Aceh tengah melaporkan bahwa
nasional Afghanistan adalah di antara mereka yang melarikan diri dari
serangan di sebuah kamp pelatihan pada hari Senin malam. 

Empat
orang ditahan dalam serangan, sementara seorang warga sipil secara tak
sengaja ditembak mati setelah lebih dari 100 perwira bersenjata berat
menghantam kelompok yang, menurut polisi Indonesia,''dapat benar-benar
menempatkan negara kita dalam bahaya''. 

Di antara mereka yang ditahan adalah dua militan dari Banten, sebuah provinsi 
di Jawa dikenal dengan kantong Islamisme radikal. 

Seorang
jurubicara kepolisian nasional Indonesia, Inspektur Jenderal Edward
Aritonang, menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal apakah kelompok
itu terkait dengan Jemaah Islamiyah, kelompok yang bertanggung jawab
atas pemboman Bali pertama yang secara luas diyakini telah
terdegradasi. 

''Saya tidak akan menyebut nama apa pun. Namun kelompok ini dapat benar-benar 
menempatkan negara kita dalam bahaya,''kata Inspektur Jenderal Aritonang. 

Dia
menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal laporan media Indonesia
bahwa seorang pria Afghan telah bertindak sebagai instruktur di kamp
dan sedang dicari oleh polisi. Di
antara bahan-bahan yang ditemukan oleh polisi adalah video dan dokumen
memuji pelaku bom Bali pertama, serta pisau, seragam dan perlengkapan
militer lainnya. 

Senjata
tampaknya telah diam-diam ketika sebagian besar orang-orang di kamp -
yang telah dipantau sejak bulan September - melarikan diri ke hutan. 

Seorang analis keamanan, Ken Conboy, mengatakan munculnya suatu kelompok jihad 
di Aceh mengganggu. 

Aceh
mengikuti merek murni Islam tetapi, selama panjang, sukses perjuangan
untuk otonomi, para pejuang telah ditolak tawaran dari para pelaku
jihad kekerasan. 

''[Jemaah Islamiyah] dibuat hampir nol terobosan ke Aceh. Aceh tidak mau 
berurusan dengan orang Jawa,''kata Mr Conboy. ''Sungguh menarik bahwa mereka 
telah menemukan beberapa non-Aceh bermain di hutan.'' 

Sementara
itu, Saudi melanjutkan sidang nasional di Jakarta kemarin karena
dituduh membantu membiayai serangan di JW Marriott dan hotel
Ritz-Carlton tahun lalu. 

Pensiunan
guru Khelaiw Ali Al Abdullahhas membantah keterlibatan tetapi polisi
menuduh dia funnelled 54 juta rupiah ($ 6.000) untuk rekan dalang
teroris Noordin Mohammed Top.



________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, February 24, 2010 10:44:17 PM
Subject: «PPDi» Training camp raid sparks fears over terrorist resurgence

  
http://www.smh. com.au/world/ training- camp-raid- sparks-fears- 
over-terrorist- resurgence- 20100224- p3mq.html
 
 
Training camp 
raid sparks fears over terrorist resurgence 
TOM ALLARD HERALD CORRESPONDENT February 25, 2010 
JAKARTA: Indonesian police have 
launched a manhunt for up to 50 members of a suspected terrorist group in Aceh 
amid reports that an Afghan national is among those who fled a raid on a 
training camp on Monday night.
Four people were detained in the raid, while a 
civilian was accidentally shot dead after more than 100 heavily armed officers 
hit the group that, according to Indonesian police, ''can really put our 
country 
in danger''.
Among those detained were two militants from 
Banten, a province in Java known for its pockets of radical Islamism.
A spokesman for Indonesia's national police, 
Inspector General Edward Aritonang, refused to confirm or deny whether the 
group 
was linked to Jemaah Islamiyah, the group responsible for the first Bali 
bombings that was widely believed to have been badly degraded.
''I won't name any name. But this group can really 
put our country in danger,'' Inspector General Aritonang said.
He refused to confirm or deny Indonesian media 
reports that an Afghan man had acted as an instructor at the camp and was being 
sought by police. Among the materials found by police were videos and documents 
praising the first Bali bombers, as well as knives, uniforms and other military 
paraphernalia.
Any weapons seem to have been spirited away when 
most of those at the camp - which had been monitored since September - escaped 
into the jungle.
A security analyst, Ken Conboy, said the emergence 
of a jihadi group on Aceh was troubling.
Aceh follows a purist brand of Islam but, during 
its long, successful struggle for autonomy, its fighters have rebuffed 
overtures 
from violent jihadists.
''[Jemaah Islamiyah] made almost zero inroads into 
Aceh. The Acehnese don't want anything to do with the Javanese,'' Mr Conboy 
said. ''It's interesting that they have found some non-Acehnese playing in the 
forests.''
Meanwhile, a Saudi national went on trial in 
Jakarta yesterday for allegedly helping finance the attacks on JW Marriott and 
Ritz-Carlton hotels last year.
Retired teacher Al Khelaiw Ali Abdullahhas denied 
involvement but police allege he funnelled 54 million rupiah ($6000) to 
associates of the terrorist mastermind Noordin Mohammed 
Top.
 


      

Kirim email ke