Dulu masa orde baru akan mendapat lavel SUPPERSIV bagi siapa saja yang berani mengkritisi kezaliman penguasa Hindunesia. Nampaknya politik "siluman" itu mulai dipraktekkan oleh penguasa Hindunesia, Orde Baru Jilid II di Acheh - Sumatra. Acheh tidak ada pilihan lain kecuali MERDEKA. Kalau tidak selalu dibodoh-bodohi oleh antek-antek Hindunesia. Mereka dibayar dengan untuk tutup mulut agar politik kejin itu dapat berjalan mulus. Angku di Tampok Donja.
________________________________ From: Fadli Hasan <[email protected]> To: Ahmad Sudirman <[email protected]>; Risyaf Ristiawan <[email protected]> Cc: Sekretariat KPA <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; Agoosh Yoosran <[email protected]>; Satria Pitpancal <[email protected]>; Ahmad Sudirman <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Muhammad al qubra <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Acheh Merdeka <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Pos Bali <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Che Guevara <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; arlan nur <[email protected]>; [email protected]; [email protected] Sent: Mon, March 1, 2010 8:17:47 AM Subject: ANJING-ANJING JAWA NKRI SEMAKIN MEMPERLUAS PROPAGANDANYA DI ACEH 1 Maret 2010, 12:22 Jaringan Teroris Meluas ke Bireuen * 2 Senjata AK dan Ribuan Peluru Ditemukan Utama Memperlihatkan AK Kapolres Bireuen AKBP T Saladin SH, didampingi Waka Polres, Kompol Armaini, bersama sejumlah Brimob Polda Aceh dan anggota polres setempat, Minggu (28/2), memperlihatkan dua pucuk AK dan ribuan amunisi, serta sejumlah barang bukti lainnya yang diduga milik sekelompok orang bersenjata yang diduga teroris pelarian dari Aceh Besar. SERAMBI/FERIZAL HASANBIREUEN - Jaringan teroris Aceh Besar diyakini mulai melebarkan sayapnya ke Kabupaten Bireuen. Asumsi itu menguat setelah aparat jajaran Polres Bireuen bersama Satuan Brimob Polda Aceh dalam sebuah penyisiran, Sabtu (27/2) sore, menemukan dua pucuk senjata AK-56 dan 58, peluru AK 7.476 butir, amunisi M16 sebanyak 1.245 butir, dan ratusan butir peluru pistol. Selain itu, ditemukan juga pakaian loreng, baju koko, kaus oblong, Tabadul Quran, buku doa, buku-buku tentang jihad, serta sejumlah barang bukti lainnya di kawasan desa pedalaman Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber, Minggu (28/2), kuat dugaan sejumlah barang bukti yang ditemukan aparat Polres Bireuen yang dibantu satu peleton anggota Brimob Polda Aceh itu, terkait dengan pelarian sekelompok orang bersenjata yang diduga sebagai teroris dari wilyah Aceh Besar empat hari lalu. Kapolres Bireuen, AKBP T Saladin SH yang didampingi Wakapolres Kompol Armaini, kepada Serambi di mapolres setempat kemarin mengungkapkan, awalnya polisi mendapat informasi dari warga bahwa di desa pedalaman Kecamatan Samalanga dan Simpang Mamplam terdapat sekelompok orang bersenjata. Laporan itu langsung ditindaklanjuti. Lagi pula, terkait dengan adanya sekelompok teroris bersenjata api di Aceh Besar, Kapolda memerintahkan agar semua jajaran polres untuk lebih siaga, karena tidak tertutup kemungkinan jaringan yang diduga teroris itu merebak ke wilayah polres lainnya. “Nah, apa yang disampaikan Kapolda itu kini hampir dipastikan terbukti. Kawasan di wilayah Polres Bireuen diduga telah dijadikan sebagai tempat pelarian dan ajang latihan oleh sekelompok orang bersenjata yang diduga teroris,” ungkap Saladin yang juga didampingi Kabag Ops dan Wakaden B Sat Brimob Polda Aceh, Kompol Rizkian SIK. Saladin menerangkan, empat hari setelah penyergapan sejumlah orang bersenjata yang diduga teroris di Jalin, kawasan Jantho, Aceh Besar, sekira Kamis (25/2) pagi, ia mendapat informasi dari masyarakat bahwa di wilayah pedalaman Kecamatan Samalanga dan Simpang Mamplam, ada orang-orang yang dicurigai yang berada di beberapa titik di daerah perbukitan atau perladangan, kecamatan tersebut. Masyarakat melihat ada sekelompok orang yang bersenjata, namun tidak mereka kenal. “Setelah mendapat informasi tersebut saya laporkan ke Kapolda bahwa diduga di Bireuen ada pelarian yang diduga teroris dari Aceh Besar. Kemudian Kapolda memerintahkan saya untuk lebih atensi. Saya pun langsung memerintahkan Wakapolres Kompol Armaini dan tim lapangan untuk melakukan penyelidikan semaksimal mungkin dengan menggalang semua potensi masyarakat bersama polisi untuk membantu penyelidikan informasi terkait teroris tersebut,” terang Teuku Saladin. Kemudian Wakapolres, Kabag Ops, Katim Walet, Katim Elang, dan Katim Rajawali Polres Bireuen, lanjut Saladin, melaporkan bahwa informasi masyarakat tersebut semakin santer dan mendekati kenyataan. Dari semua informasi yang dikumpulkan, ditambah dengan keyakinan Kapolres bersama sejumlah anggotanya, disimpulkan bahwa informasi tentang adanya sekelompok orang bersenjata di pedalaman Bireuen itu bukan isapan jempol semata. “Setelah kami yakin, kami telepon lagi Kapolda untuk meminta BKO Brimob membantu kami melakukan penyisiran, karena kami sudah yakin ada sekelompok orang yang mencurigakan dan memiliki senjata,” terang Kapolres lagi. Penyisiran pun dilakukan selama dua hari. Akhirnya, pada Sabtu (27/2) sekira pukul 16.00 WIB, di sebuah ladang ditemukan sebuah gubuk. Di sekeliling gubuk tua berukuran 2x4 meter itu terdapat empat titik bekas galian yang baru ditimbun dengan tanah. Karena mencurigakan, dilakukan penggalian. Ternyata, di empat lokasi galian itu ditemukan ribuan amunisi AK dan amunisi M16 yang dimasukkan dalam jeriken ukuran 2 kilogram (kg), 5 kg, dan 25 kg. Selebihnya dimasukkan ke dalam kaleng cat ukuran 25 kg juga ke dalam botol air kemasan ukuran 1,5 kg. Di dalam lubang berkedalaman 30 centimeter (cm) itu juga ditemukan belasan magasin dan tas ransel. Setelah dilakukan penyisiran lebih lanjut, sekira 100 meter dari gubuk itu aparat kepolisian menemukan dua pucuk senjata AK yang disembunyikan di dalam semak-semak dekat ladang yang posisinya terjal dan medannya lumayan berat. Seterusnya di lokasi yang tak jauh dari tempat itu, ditemukan sejumlah pakaian loreng, baju koko, kaus oblong, topi, peci, tas pinggang, tas samping, topi koplo, tas ransel, Tabadul Quran, buku kumpulan doa, syal dan selendang, buku tentang jihad, sejumlah sepatu sport, sepatu boot, tripod kamera, rompi, dan sebuah granat asap. Saat ini, sebagaimana diakui Kapolres, semua barang bukti yang ditemukan itu telah diamankan di Mapolres Bireuen. Akan tetapi, belum seorang tersangka pun berhasil ditangkap di wilayah hukum Bireuen, karena setelah menanam amunisi dan senjata tersebut pelakunya menghilang. Namun, Kapolres T Saladin menyatakan mereka akan terus diburu. Ia berharap bantuan dari masyarakat menginformasikan keberadaan komplotan yang memiliki senjata api dan ditengarai sebagai teroris itu. Apa pun persepsi masyarakat, kata Saladin, dengan ditemukannya bukti-bukti itu, diduga kawasan pedalaman telah dijadikan tempat persembunyian sekelompok teroris yang lari dari Aceh Besar. Saladin menduga, kawasan pedalaman Bireuen itu bakal dijadikan sebagai tempat latihan mereka, setelah “terusir” dari Aceh Besar. “Oleh karenanya, mari kita bahu-membahu untuk memberikan informasi. Apa pun jenis kejahatan, apalagi terorisme, harus ditumpas habis,” imbuh Saladin. Dengan temuan yang mengagetkan itu, kata Saladin, diharapkan semua elemen masyarakat Bireuen, khususnya yang telah merasakan penderitaan pada masa konflik, tsunami, dan kasus baru ini lagi, hendaknya menjadi “mata telinga” polisi dalam memberikan informasi kepada polisi, sehingga konflik tidak terulang lagi di kabupaten ini dan Aceh umumnya. Karena diyakini aktivitas teroris mulai merambah ke wilayah Bireuen, ia juga berharap agar setiap desa di kabupaten itu menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) pada siang dan malam hari. “Siskamling adalah senjata paling ampuh untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan, terutama pada malam hari,” demikian Teuku Saladin. Produksi AS dan Rusia Berdasarkan data senjata api di laman Wikipedia, M16 adalah senapan serbu buatan Amerika Serikat (AS). M16 menggunakan peluru 5,56 x 45 mm. Senapan ini digunakan sebagai senapan serbu utama oleh infanteri AS sejak 1967. M16 juga dipakai oleh 15 negara NATO lainnya dan merupakan senapan berkaliber 5,56 mm yang paling banyak diproduksi. Adapun AK-56 dan 58 merupakan senapan serbu yang banyak digunakan dalam peperangan modern. Bila AK-47 (singkatan dari Avtomat Kalashnikova 1947) merupakan senapan serbu yang dirancang Mikhail Kalashnikov, diproduksi oleh pembuat senjata Rusia, Izhmash, dan digunakan oleh banyak negara Blok Timur semasa Perang Dingin, tidak demikian halnya dengan AK-56 dan 58. Persepsi umum yang menganggap AK-56 dan 58 adalah versi yang lebih baru AK-47, tidak sepenuhnya benar. Senapan ini diadopsi dan dijadikan senapan standar Uni Soviet pada tahun 1947. Jika dibandingkan dengan senapan yang digunakan semasa Perang Dunia II, AK-47 mempunyai ukuran lebih kecil, dengan jangkauan yang lebih pendek, memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 mm yang lebih kecil, dan memiliki pilihan tembakan (selective-fire). AK-47 termasuk salah satu senapan serbu pertama dan hingga kini merupakan senapan serbu yang paling banyak diproduksi. Adapun AK-56 dan 58 adalah senapan serbu dan banyak digunakan dalam peperangan modern, bikinan Cina. AK-56 dan 58 merupakan tipe senapan serbu kopian Cina untuk jenis AK-47. Angka 56 ataupun 58 merujuk pada tahun 1956 dan 1958, tahun pertama senjata itu diproduksi. Ketiga senjata ini memiliki dimensi yang serupa, tapi AK-56 tergolong senapan serbu yang agak ringan, beratnya 3,8 kg, sedangkan bobot AK-47 mencapai 4,3 kg. Kedua jenis senjata ini menggunakan peluru 7,62 mm dan memiliki 30 putaran sistem feed yang berarti satu magasinnya mampu menyimpan hingga 30 peluru. Kehebatan senjata jenis AK ini dapat digunakan hampir dalam segala jenis medan, termasuk di bawah air dan di bawah lumpur. Karena desainnya sederhana dan kehandalan yang tinggi, menjadikannya salah satu senjata yang dihasilkan paling banyak di dunia. AK-56 senapan adalah senjata standar militer Cina hingga tahun 1980-an. Banyak negara lain dan kelompok pembebasan menggunakan AK-56 dalam perjuangan kemerdekaan. Semasa konflik Aceh bergolak, senjata AK-47, 56, 58, dan M16 juga banyak jatuh ke tangan gerilyawan GAM. Terbukti, pada masa darurat militer dan darurat sipil, jenis-jenis senjata ini banyak diserahkan GAM yang menyerah kepada TNI dan Polri. Belakangan, pada massa decommisioning senjata GAM oleh Aceh Monitoring Mission (AMM) pasca-MoU Helsinki, jenis-jenis senjata ini termasuk ke dalam kelompok senjata yang diserahkan GAM ke AMM untuk “disembelih”. (c38) __________________________________________________ Bruger du Yahoo!? Er du træt af spam? Yahoo!Mail har den bedste spambeskyttelse, der findes http://dk.mail.yahoo.com
