Itu bukan binatang, bung Murthalamuddin tapi "Basyar" . Kemungkinan besar yang 
masih memiliki senjata api di Acheh selain tentara dan polisi adalah TNA yang 
merasa sangat kecewa terhadap ketidakadilan paska MoU Helsinki sebagaimana 
keterangan bung Murthalamuddin di akhir tulisan nya. Andaikata bung Murthala 
TNA yang kecewapun saya yakin akan bertindak seperti itu juga, termasuk saya. 
Sikap mereka sangat wajar sama wajarnya dengan perjuangan Acheh Merdeka dulu 
dalam meluluhlantakkan Hindunesia Jawa, bukankah tidak demikian dalam pandangan 
TNI dan Polri?

Basyar adalah level yang tepat terhadap pihak yang melavelkan "teroris" kepada 
TNA yang masih asli itu, kendatipun mayoritas TNA yang sudah bergabung dengan 
Hindunesia mencomoohi nya. Kalau pandangan Amerika Serikat dan konconya, 
teroris itu merupakan level yang paling terkutuk. Namun ironisnya mereka 
mengira kaum teroris itu bermarkas di Afganistan dan Irak. Tak ajal lagi negara 
tersebut tadipun dihajar sampai hari ini tidak kunjung selesai dan bahkan 
belakangan terke san sepertinya justru Amerika Serikat dan konconya sendiri 
yang terperangkap ala teroris. Andai kata AS dan konconya langsung meninggalkan 
Irak setelah tertangkapnya Saddam, prototipe Ya zid bin Muawiyah, pembantai 
keluarga Rasulullah saww, klaim AS dan konco-konconya itu dapat ditolerir 
tetapi ternyata ada mahunya yang lain dibalik pelavelan tersebut.

Persoalan teroris sesungguhnya belum objektif. Israel juga melavelkan pejuang 
Palestina sebagai teroris. Sebaliknya justru Israel yang teroris dalam 
pandangan orang Palestina. Jadi pelavelan Isra el dan Polisi Hindunesia 
sepertinya sangat subjektive. Adalah hal yang sama dalam pandangan Rakyat Irak 
dan Afganistan, justru AS dan konconya yang teroris.  Saya sendiri sangat 
mengutuk pihak yang menteror masyarakat umum seperti teror terhadap menara 
tinggi di Amerika Serikat dan teror yang menciderai masyarakat sipil dimanapun. 
Keyakinan saya ini sesuai dengan persepsi Islam itu sendiri dimanha jangankan 
teror yang menzalimi masyarakat sipil dalam situasi biasa, dalam situasi perang 
saja dilarang meledakkan tempat dimana banyak orang sipil yang tidak berdo sa 
ikut terzali mi.  Justru itulah ketika RII melawan tindakan brutalnya Saddam, 
senantiasa membu at pengumuman agar pihak sipil meninggalkan daerah yang akan 
mendapat serangan balik RII. Islam juga me
 larang memproduksikan senjata pemusnah massal. Justru itulah RII tidak akan 
mem produksikan senjata Nuklir kecuali Nuklir non militer. 

Sepertinya masih banyak masyarakat Dunia yang belum mampu membedakan teror yang 
terkutuk dan dianjurkan. Hal itu sama juga seperti membunuh, dimana terkutuk 
pada umumnya namun ada kecuali yaitu membunuh demi membela diri dan membunuh 
dalam perang Jihad fi sabilillah, yang pada hakikatnya adalah membela diri juga 
atau demi membela kaum dhuafa. Teror yang dibenar kan adalah terornya orang 
Palestina, meledakkan bom dalam kerumunan tentara Israel yang da tang ke 
Palestina, tidak ada tujuan yang haq kecuali membunuh orang Palestina. 
Kemabali kepersoalan sepakterjang polisi Hindunesia yang melavelkan pihak yang 
mereka zalimi paska MoU Helsinki sebagai teroris, benarkah? Sebagaimana sering 
saya ulang bahwa manusia yang mendiami planet Bumi ini terbagi kepada dua 
golongan, yaitu golongan manusia Qabil dan go longan manusia Habil. Golongan 
penindas dan yang tertindas. Golongan penjajah dan yang terja jah. Adakalanya 
terjajah secara terang terangan melalui intervensi suatu negara maupun penjajah 
yang terselubung, dimana penjajahnya berlagak terhormat namun pada hakikatnya 
mereka tidak memiliki hati nurani. Mereka inilah yang kita lavelkan dengan 
"Basyar". Menurut DR Ali Syariati bahwa Basyar itu tidak pernah berubah pola 
pikir piciknya, dari itu ke itu juga. Basyar secara kasar berarti binatang 
berkaki dua dan tidak berbulu di telapak tangannya. Mawas dan Gorella juga 
memiliki dua kaki tapi berbulu di telapak tangannya. Mawas dan Gorella juga 
Islami dimana kita haram membunuhnya kecuali
 benar-benar mengganggu kemuslihatan umum dan tidak ada cara lain selain 
terpaksa dibunuh. Sedangkan Basyar adalah makhluk yang tidak Islami. Mereka 
sekedar exist di Dunia ini dan dapat dipastikan tidak pernah beresensi.

Semut yang hidup sepuluh abad yang lalu dapat dipastikan bahwa mereka membuat 
sarangnya sama seperti sarang semut di jaman kita sekarang ini. Dari itu kita 
dapat menganalisa sepakterjang orang-orang yang bersatupadu dalam system 
Hindunesia yang taghuti, zalim, hipokrit dan korrup. Di jaman Suharto mereka 
membunuh jutaan  orang yang tidak berdosa dengan menggunakan lavel PKI. Mereka 
juga telah membunuh banyak orang diseluruh Nusantara Melanesia dengan 
melavelkan Suppersiv. Belakangan mereka melavelkan separatis dan pengacau 
keamanan kepada siapa saja yang mereka klaim berpihak kepada Pejuang Acheh 
Merdeka, West Papua dan RMS. Ketika mereka tidak sanggup menghabisi pejuang 
Acheh Merdeka yang merasakan tidak adanya keadilan paska MoU Helsingki, para 
basyar tersebut melavelkan mereka sebagai Teroris, betapa dungunya. Demikianlah 
sepakterjang para basyar dimanapun mereka berada, mengklaim kebena ran sebagai 
milik mereka tanpa peduli suara mereka yang
 terzalimi.

Dulu ketika DR Hasan ditiro, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah berada di Swedia 
juga pernah dituduhkan kepada mereka sebagai Teroris. Namun disebabkan 
Pemerintah Swedia bertindak jujur, klaim mereka ternyata nihil. Ironisnya 
setelah mereka tidak berhasil dengan lavel Teroris, tidak merasa malu 
sedikitpun mengajak orang yang pernah diklaim teroris itu untuk berdamai. Lebih 
ironis lagi mereka tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka 
janjikan sebagai self Government, mereka sulap dengan otonomi basi. Allah 
berkata: "Dan diantara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah 
dan Hari Kemudian", padahal mereka bukanlah orang yang beriman (baca munafiq)" 
(QS. 2 : 8)
Billahi fi sabililhaq
Angku di Tampok Donja





________________________________
From: irmansyah ibrahim irman <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, March 2, 2010 10:06:51 AM
Subject: |IACSF| Teroris Aceh, Binatang Apa Lagi Ini?

  
Kolom Analisis
Harian Aceh, Selasa 2 Maret 2010
 
 
Teroris Aceh, Binatang Apa
Lagi Ini?
 
Oleh Murthalamuddin
 
           
“Tho bileh kareng leubot, peunyaket sot
meuriwang teuma”. Minggu-minggu ini Aceh kembali dihebohkan dengan isu
baru.  Kali ini sungguh sangat menyeramkan karena Aceh telah dilabelkan
sebagai daerah beroperasinya kaum teror yang disebut teroris.
Entah apa yang salah dengan
negeri keuneubah Iskandar Muda ini? Sehingga, selalu saja mendapat musibah yang 
rada-rada menakutkan dan
selalu terkait dengan cerita bunuh membunuh. 
Kasus penggerebekan sarang
teroris di Aceh besar kembali membuka nuansa baru di Aceh. Sebelumnya tidak
terpikir bahwa di Aceh akan menjadi ladang baru bagi musuh kemanusiaan ini.
Anehnya, kali ini aparat keamanan langsung melabelkan mereka kaum teroris. Hal
ini jelas sangat menakut. Pasalnya, sekarang ini di atas planet bumi ini, inilah
label yang sangat dimusuhi oleh dunia barat dan kaum antifanatisme.
Dalam kisah Aceh pelabelan ini
bukan hal baru. Di masa lalu kita dicekoki dengan label Cumbok, DI/TII, Gerakan
Pengacau Keamanan, Gerakan Separatis Bersenjata dan label-label lain yang
menyeramkan. Kali inipun pelabelan teroris ditanggapi masyarakat dengan negatif 
thinking. Selama ini semua
pelabelan di atas memberi adjustment bagi pihak keamanan untuk melakukan 
tindakan-tindakan yang di luar patron
resmi. Di masa lalu pelabelan itu berujung hilangnya nyawa dan pelanggaran HAM
besar-besaran.
          Pengungkapan
kasus-kasus kekerasan bersenjata atau kepemilikan senjata api sejak
perdamaian selalu dikaitkan dengan kriminalitas. Tapi kali ini aparat
kepolisian langsung menyatakan mereka kelompok teroris. Definisi kejahatan
bersenjata dengan teroris mungkin hanya dibedakan pada tujuan dari tindakan si
pelaku. Oleh karenanya bisa saja para pelaku yang ditangkap itu hanya numpang
tenar saja. Bisa saja mereka cuma pelaku kriminal biasa.
        Amat tidak arif bila kasus ini diseret ke
wilayah politis dengan pelabelan begitu. Bagi masyarakat Aceh tindakan itu
bukan malah memberi semacam pemahaman  yang baik terhadap penindakan itu. Rakyat
Aceh sudah sangat anti segala sesuatu yang bersifat pelabelan. Karena sudah
menjadi rahasia umum bahwa semasa konflik dulu setiap ada yang kehilangan nyawa
karena kesewenang-wenangan dalam penegakan hukum selalu dibuat pembenaran
dengan pelabelan.
           
Kinipun banyak pihak menduga ini menjadi permainan baru untuk membuat Aceh
setengah stabil. Jangan salah kira yang dimaksud di sini bukan langsung
menuding ini hanya rekayasa polisi, walaupun mugkin ini bisa saja terjadi. Yang
kita ingin katakan bahwa kelompok ini memang diset untuk berada dan bergerak di
Aceh. Kemudian ini dibocor untuk ditindak oleh polisi. Karena mereka
bukan murni warga Aceh maka dipastikan lebel teroris jadi lebih mudah di
umbarkan.
        Benar
atau tidaknya asumsi di atas tidak begitu penting. Yang paling kita prihatinkan
nanti kasus ini menjadi ajustment bagi
penindakan di luar hukum terhadap warga lainnya yang kemudian dituduh teroris. 
Begitu
juga imej bagi Aceh setelah kasus ini ter-blow
up. Mainan lama bahwa ada separatisme di Aceh telah berakhir. Jualan ini
jelas tak laku lagi untuk memojokkan Aceh di tingkat nasional maupun 
internasional.
Nah yang paling seksi untuk mendapat dukungan adalah label teroris. Kelompok
ini memang sedang menjadi musuh bersama di atas muka bumi ini. Maka bila ini
berhasil dijual dan diamini pihak luar maka nanti akan lahir operasi baru untuk
menumpas kaum “keparat” ini. Bilapun kemudian jatuh korban pihak yang tidak
terlibat, tinggal tempel saja di jidatnya label teroris.
       Siapapun
yang memegang kendali keamanan di Aceh saat ini harus sadar bahwa Aceh tidak
bisa dikerasi. Semua penyelesaiaan konflik Aceh tidak pernah berhasil dipadamkan
dengan senjata. Apapun tindakan penegakan hukum jangan dibawa ke wilayah yang
politis. Karena dipastikan resitensi masyarakat akan menjadi tinggi. Sebagai
contoh bagaimana sulitnya polisi mendapat informasi masyarakat untuk
pengungkapan kasus-kasus pelaku perampokan bersenjata. Tidak ada artinya blow 
up yang megah bila ternyata rakyat
malah mencurigai ini sebagai awal mereka akan kembali diawasi dan dicurigai.
           
Selama ini berkembang dari mulut ke mulut bahwa Aceh dan Papua adalah alat
bergaining bagi pihak otoritas keamanan dengan pemerintah. Maka bila benar ada
unsur rekayasa dalam kasus teroris ini tudingan di atas akan mendapat
pembenaran. Kita berharap cukup sudah Aceh menjadi alat bagi pihak-pihak yang
haus legalitas dan kekuasaan. Jangan jadikan Aceh untuk memperkuat bergaining
politis. Jangan jadikan Aceh lahan uji coba atau sarana latihan intilijen. 
Kasus-kasus
kepemilikan senjata api di sini sudah berlangsung lama. Maka bila sekarangpun 
terjadi
harus dilihat bagaimana ini tidak lari dari koridor penegakan hukum kelabelitas.
Rakyat trauma setiap pergerakan besar-besar atau operasi aparat keamanan.
           
Semua pihak terutama para pengambil kebijakan harus sadar, bahwa buruknya
situasi keamanan atau tingginya tingkat kriminalitas karena ketidakmampuan
mereka memberi jaminan hidup bagi rakyat yang mereka pimpin. Selamat masih ada
disparitas sosial yang tinggi antar kelompok di masyarakat, selama itu akan
lahir kelompok sakit hati. Bila sudah begitu tinggal disulut saja, maka mereka
segera menjadi pelaku kriminal. Sadar atau tidak saat ini banyak di antara
rekan ”seperjuangan” yang terpuruk han
glah meukeu bakong asoe pih. Sementara bagi yang lain yang berhasil
mengakses kekuasaan berpesta dengan gelimangan rupiah.[]
             

 


      

Kirim email ke