Tulisan yang berjudul Wasiat ini nampak jelas ditujukan  kepada Hasan Muhammad 
Tiro. Saya dapat mentolerir tulisan semacam itu tapi dalam hatiku masih 
bertanya-tanya apakah Hasan Tiro sekarang ini masih seperti dulu? Andaikata dia 
masih sadar seperti dulu pastinya apa yang diungkapkan bung Umar itu tepat 
sekali, sebaliknya kalau Hasan Muhammad Tiro kondisinya tidak sadar lagi, 
sungguh tulisan bung Umar itu keliru 180 derajat. Bagi siapapun yang 
bersatupadu dengan komunitas zalim, hipokrit dan korrup, mereka sama zalimnya 
dengan komunitas tersebut kecuali bagi orang yang tidak sadar lagi. Orang yang 
nampak matanya terbuka belum tentu dapat melihat dan orang yang mendengar auman 
singa dan harimau belum tentu mampu membedakan antara suara yang haq dan yang 
bathil. Kita manusia yang mendiami planet Bumi ini senantiasa dihadapkan Allah 
dalam berbagai cobaan. Dari itu janganlah berputus asa dan janganlah 
menggantungkan harapan hanya pada satu orang saja hingga
 pabila orang tersebut tidak sadar lagi kitapun terjerumus dalam perangkap 
putus asa yang sangat dibenci Allah swt.

Angku Meureudu
di Tampok Donya.





________________________________
From: Haji Umar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, March 23, 2010 12:03:50 AM
Subject: Re: |IACSF| Sekali Merdeka, tetap Merdeka.

  

>
>
>  
>W a s i a t 
>
>
>Kutulis warkah ini bukan karena aku sudah benci pada perjuangan tuan. Bukan 
>pula karena aku tidak sepakat lagi untuk hudep beusare dan mate beusajan. 
>Sengaja kutulis warkah ini, karena pengikut tuan sedang berembuk kembali di 
>kota dingin dan sejuk Helsinki. Lewat warkah ini, aku hanya ingin mengatakan 
>bahwa aku sudah lelah oleh-oleh janji-janji pengikut tuan. Bayangkan, pengikut 
>tuan sampai bersumpah, bahwa jika partai yang dibentuk oleh pengikut tuan 
>menang, gunung seulawah akan dipindahkan. Semua ketidakjelasan akan menjadi 
>terang. Pengikut tuan sampai bertaruh, bahwa jika tahun 2013 tujuan itu tak 
>tercapai, dia minta ‘alat vital’nya dipotong.
>
>
>Terus terang, Tuan, aku ragu tentang semua mimpi yang tuan hembuskan. Aku 
>menjadi tak semangat mengikuti petuah-petuah pengikut tuan, yang
> mencoba membius dengan sebuah optimisme. Sebab, sebelumnya aku sudah pernah 
> termakannya. Ternyata, akhir dari optimisme tersebut seperti yang kusaksikan 
> hari ini. Semakin hari, orang-orang semakin banyak membenci pengikut tuan. 
> Semakin banyak yang berpaling.
>
>
>Tuan, ketika aku bimbang, aku coba membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah 
>tuan tulis puluhan tahun silam. Kucoba menerjemahkan pikiran-pikiran tuan 
>dalam kondisi yang terjadi hari ini. Tapi, sama sekali tak kutemukan 
>hubungannya. Pikiran-pikiran tuan seperti tergantung, dan menjadi tak lagi 
>aktual. Sepertinya, yang kusaksikan sudah jauh melenceng dari pesan tuan.
>
>
>Aku pernah membaca salah satu dari bagian tulisan tuan. Tuan begitu 
>bersemangat mengutip wasiat Nietzsche, untuk menanamkan semangat pada pengikut 
>tuan. Tapi, kurasakan, pengikut tuan sama sekali tak mengingatnya, apalagi 
>mengamalkannya. 
>
>
>“Kepadamu tidak kuajarkan kerja, tapi peperangan, 
>kepadamu tidak kuajarkan damai, tapi kemenangan. 
>Jadikan kerja untuk perang, jadikan damai untuk menang”
>
>
>Kalimat-kalimat tersebut, hingga kini masih tersimpan rapi di diary Tuan yang 
>tidak selesai. Aku yakin, pengikut-pengikut tuan tak lagi membacanya. Mereka 
>sibuk dengan rutinitas mencari lebih dari sekedar sesuap nasi. Katanya, 
>perjuangan tanpa didukung modal adalah sama dengan bunuh diri. Aku jadi ragu, 
>apakah ketika modal terkumpul sangat banyak, mereka masih peduli pada 
>perjuangan yang pernah tuan gariskan? Bukankah mereka akan berfikir, “Untuk 
>apalagi perjuangan, kita sudah sama-sama sejahtera. Perang, tak menjanjikan 
>apa-apa, malah menghancurkan semua yang kita punya.” 
>
>
>Tuan, sebagai seorang yang mengagumi keberanian, kecerdasan dan sifat 
>konsisten tuan, aku kecewa. Sebab, aku sangat yakin, bahwa tuan sama sekali tak
> meramalkan bahwa akhir dari cita-cita yang pernah tuan cetuskan akan menjadi 
> seperti ini. Dalam beberapa penggalan tulisan tuan, yang dulu menjadi buku 
> wajib yang harus dibaca pengikut tuan, aku sempat membaca bahwa tuan selalu 
> menanamkan “udep mulia atau mati syahid.”
>
>
>Hidup mulia yang tuan inginkan bukanlah bergelimangan dengan uang, jabatan 
>atau memiliki istri yang cantik dan lebih dari satu. Hidup mulia yang tuan 
>inginkan tak sekedar kemenangan, melainkan bagaimana negeri ini kembali tegak 
>seperti ratusan tahun silam. Jika cita-cita itu tak mampu digapai, kata tuan, 
>lebih baik mati syahid. Aku menangkap keseriusan dari kata-kata tuan. Sebab, 
>seperti dulu pernah kudengar dari kaset-kaset ceramah tuan, bahwa orang 
>seperti tuan lebih memilih mati seribu kali, daripada hidup dalam perintah 
>orang, seperti hidup para budak. Entahlah, tuan, saya sendiri malas 
>memikirkannya. Sebab, banyak ketidakbenaran dipertontonkan, dan aku jadi tak
> bersemangat. (HA 060109)
>============ ========= ========= ========= ========= ========
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>2010/3/22 Pang Sagoe <emnamb...@gmail. com>
>
>  
>> 
>>Takzim Ulontuan ke Wali Nanggroe Tgk.Hasan Di Tiro, dan semoga " Kemerdekaan 
>>Ekonomi" yang ka tanyoe raih dan tengeh getanyoe nikmati nyoe, akan tetap 
>>abadi. 
>>Meraih kemerdekaan sangat susah, tapi lebih susah lom mempertahankannya, pu 
>>lom Kemerdekaan Ekonomi,  Salah-salah getanyoe mandum payah cok silop lom jak 
>>mita Suaka Politik u luar nanggroe.
>>Hidup Wali Nanggroe, Hidup Tgk.Hasan Di Tiro. 
>>Terimenggeunaseh.
>> 
>>Sekali Merdeka, tetap Merdeka.
>>Pang Sagoe 
>> 
>> 
>> 
>> 
>>22 Maret 2010, 14:50
>>Usai Checkup di Malaysia
>>Hasan Tiro Kembali ke Aceh 
>>Utama 
>>BANDA ACEH - Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan (checkup) kesehatan di 
>>salah satu rumah sakit di Malaysia, Deklarator Aceh Merdeka, Dr Tgk Hasan 
>>Muhammad Di Tiro (85) kembali ke Banda Aceh. Hasan Tiro serta rombongan tiba 
>>melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh 
>>Besar, Minggu (21/3) sekira pukul 12.30 WIB. 
>>
>>Petinggi Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Ligadinsyah mengatakan, Hasan 
>>Tiro yang di kalangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Komite Peralihan Aceh 
>>(KPA) dipanggil “Wali”, saat tiba di Bandara SIM didampingi ajudan 
>>pribadinya, Tgk Muzakkir Abdul Hamid, Wakil Ketua KPA Pusat Abu Razak, Kepala 
>>Keamanan KPA Tgk Barat, dan keponakan Hasan Tiro, Ridwan. 
>>
>>Sedangkan rombongan yang menjemput, antara lain, Ligadinsyah dan Keponakan 
>>Hasan Tiro, Tgk Musanna. Setiba di Bandara, Hasan Tiro dan rombongan dibawa 
>>pulang menggunakan mobil khusus, Mazda BK 917 PZ ke
>> rumah yang dikontrakkan KPA untuknya di Jalan Pemancar, Lamteumen, Banda 
>> Aceh.     
>>
>>“Wali sehat-sehat saja. Beliau ke Malaysia hanya untuk checkup rutin. Dokter 
>>pribadi Wali, dr Fakhrul Jamal sudah pulang duluan. Sekarang  Wali sedang 
>>istirahat di kamar,” kata Ligadinsyah menjawab Serambi usai menjemput Hasan 
>>Tiro kemarin. Menurut Liga, selama di Malaysia, Hasan Tiro hanya dirawat satu 
>>malam di salah satu rumah sakit di negeri jiran itu saat pertama kali datang. 
>>Selebihnya, Hasan Tiro dan rombongan menginap di salah satu apartemen di 
>>kawasan Shahalam, Selangor, Malaysia. 
>>
>>Menurut catatan Serambi, pada akhir Desember 2009 ayah dari Karim dan kakek 
>>dari Alexander ini sempat dirawat beberapa hari di salah satu rumah sakit di 
>>Kuala Lumpur. Sedangkan pada awal Desember 2009, Hasan Tiro dirawat empat 
>>hari di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, karena asam 
>>lambungnya kambuh. 
>>
>>Selain lelah
>> lantaran banyak menghabiskan waktu untuk bersilaturahmi dengan keluarga di 
>> kampung halaman saat Idul Adha 1430 Hijriah lalu, Hasan Tiro saat itu juga 
>> mendadak naik asam lambung usai mengonsumsi penuh semangat beberapa gelas 
>> kopi Aceh. Padahal, sehari-hari Hasan Tiro lebih sering meminum soft drink 
>> merek terkenal asal Amerika Serikat yang sudah sejak lama beredar di Aceh. 
>> (sal)  
> 

 


      

Kirim email ke