Astaghfirullah. Apakah saya salah tangkap. Barangkali ya aba Allev, sengaja menulis doa heningcipta, khasnya doa orang Hindunesia dimana orang yang berperang dulu dengan Belanda juga bukan Islam benaran, makanya cocok ala hening cipta??? Sebetulnya kalau Perang Acheh - Belanda adalah perang jihad fi sabilillah, mereka tidak butuh doa kita, konon pula akidah kita sendiri diragukan. Kalau kita maubilang Jum'at pakek kliwon lagi. Mereka yang syahid di jalan Allah tidak butuh doa konon pula doa hening cipta. Mereka itu pasti masuk surga. Kita yang sangat menyedihkan dimana dimulut mengucapkan lailaha illa Allah tapi dalam kehidupan sehari-hari menuhankan fulus dan kedudukannya hingga setelah perang jihad dengan Hindunesia, belum apa-apa mata kita sudah kabur. Kita tidak mampu lagi melihat mana musuh kita. Sementara orang Acheh yang tetap mendamba kan kemerdekaannya dianggap musuh. Bukankah itu gara-gara menuhankan fulus? Kalau untuk Otonomi Basi buat apa kita berperang? Dimana bedanya antara kita dengan orang yang dulu kita perangi?
Kemudian mari kita kritisi Muhammad Nazar. Katanya 26 Maret harus diperingati agar orang Aceh tahu betapa perang yang dimulai hari itu telah menghancurkan peradaban dan perang selalu berakibat buruk, sehingga perdamaian selalu lebih baik. Pringatan 26 Maret adalah penghargaan untuk jasa para pahlawan yang melawan penjajah dengan tulus ikhlas, sekaligus itu menandakan kita sebagai bangsa yang beradab, demikian pikiran Nazar tapi Allah berkata sebaliknya di surahAl Baqarah ayat 216: ”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Muhammad Nazar yang berpandangan bertolak kelang dengan petunjuk Allah swt tapi mayoritas orang yang mengaku beragama Islam. Andaikata kita memahami konsekwensi Aqidah Islam yang benar tidak ada perdamaian dengan musuh disaat kita telah menyatakan perang, kecuali perang tersebut telah kita menangi dalam arti bahwa kita sudah memiliki power diatas power musuh sebagaimana saat Rasulullah menerima perdamaian Hudaibiyah, kenapa? Sebabnya andaikata musuh tidak jujur, kita dapat menggempur balik. Realitanya perdamaian Hudaibiyah terpaksa dibatalkan Rasulullah atas perintah Allah sendiri disebabkan musuh tidak jujur atau tidak menepati janji yang telah bdisepakati dalam perjanjian Hudaibiyah itu sendiri. Dari contoh yang dilakukan Rasulullah dapat menjadi i'tibar buat ummahnya dikemudian hari, termasuk kita bangsa Acheh - Sumatra bahwa kita tidak dibenarkan berdamai dengan musuh kecuali kita telah memiliki power diatas power musuh. Sedangkan perjanjian Helsinki secara ideologis tidaklah berarti sebagai perjanjian, sebaliknya merupakan sebagai penyerahan kepada musuh. Kalau ada orang yang menganggap "perjanjian" Helsinki mencontohi perdamaian Hudaibiyah, adalah keliru 180 derajat, kenapa. Pertama pemimpin dalam perdamaian Hudaibiyah adalah Rasulullah dimana mustahil tersilah kendatipun Umar bin Khattap menuduh nabi merugikan komunitas muslim kala itu. Kedua Komunitas Nabi Kala itu sudah memiliki power diatas power komunitas musuh sedangkan power komunitas Acheh - Sumatra jangankan kita berbicara soal power malah senjatanya minta dimusnahkan musuh, dapat diterima. Saya sama sekali tidak pernah bermimpi kejadian seperti itu. Ketiga, Iman komunitas kita secara mayoritas jauh dibawah kondisi Iman komunitas Rasulullah kala itu. Tanggapan buat Muhammad Nazar yang terakhir bahwa kalau orang Acheh dulu termasuk beradapdisebabkan pantang berdamai dengan musuh, apalagi bekerjasama/bersatu, bagaimana dengan komunitas anda sekarang yang berdamai, bersatupadu dengan musuh dapatkah dianggap sama beradap seperti orang dulu? Kami harap anda lebih baik diam saja daripada asal bunyi atau asbun. Pakar Sejarah Uiversitas Syiah Kuala (Unsyiah) Mawardi Umar,Penyusun Qanun Mukim Zulfadli Kawom dan Rusdi Sufi, Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), seharusnya lebih berbobot pikirannya tapi ternyata tidak berguna sama sekali kalau tidak kita katakan lebih asbun daripada Muhammad Nazar, kenapa? Sebetulnya mereka itu hendak mengkritisi sepakterjang penjajah Belanda yang merugikan orang Acheh - Sumatra tapi realitanya mereka secara tidak sadar telah masuk perangkap penjajah terselubung (baca penjajah Hindunesia terhadap Acheh - Sumatra, West Papua dan RMS). Justeru itu mustahillah bagi mereka dapat mengungkapkan hal yang bermanfaat bagi bangsa Acheh - Sumatra. Lebih dari itu peringatan basa-basi tidak bermanfaat samasekali kalau kita tidak memiliki ideology yang benar hingga mampu membaca fenomena yang sama di zaman kita sekarang ini dengan fenomena penjajah Belanda itu sendiri. Tidak berbeda dengan sebahaguan orang yang memperingati hari Asyura dimana mereka tidak mampu mengenal fenomena Yazid di dalam kehidupan mereka sendiri. Ini termasuk juga sandiwara yang tidak lucu. Angku Meureudu di Tampok Donja ________________________________ From: Aba Allev <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, March 25, 2010 3:57:38 AM Subject: |IACSF| Memperingati 26 Maret, apa kata mereka? Jumat 26 Maret 2010 hari ke 137 tahun Belanda memulai perang dengan Aceh. Para syuhada dalam perang hari itu dan setelahnya membutuhkan kiriman doa hening cipta, kebetulan hari Jumat, alangkah berterima kasihnya para palawan itu jika kita cucu-cucu mereka (orang-orang Aceh) baik yang sedang berada di Aceh maupun di seluruh dunia, berdoa dalam masjid sebelum, di dalam atau setelah salat Jumat pada 26 Maret 2010, sebagai umat yang menjunjung tinggi perang sabilillah melawan Belanda dulu (lebih lengkap baca di http://www.facebook .com/home. php?#!/notes/ thayeb-loh- angen/memperinga ti-26-maret/ 379023907186) Apa Kata Mereka? Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar SAg., “26 Maret harus diperingati agar orang Aceh tahu betapa perang yang dimulai hari itu telah menghancurkan peradaban dan perang selalu berakibat buruk, sehingga perdamaian selalu lebih baik. Pringatan 26 Maret adalah penghargaan untuk jasa para pahlawan yang melawan penjajah dengan tulus ikhlas, sekaligus itu menandakan kita sebagai bangsa yang beradab.” Pakar Sejarah Uiversitas Syiah Kuala (Unsyiah) Mawardi Umar 26 Maret merupakan tanggal yang mempunyai arti sangat penting bagi rakyat Aceh. Hal ini berkaitan dengan maklumat perang yang diproklamirkan oleh Belanda kepada Kesultanan Aceh 137 tahun yang lalu. Episode sejarah tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perjalan sejarah Aceh untuk masa selanjutnya. Di samping merupakan awal dari Perang Aceh, yang telah menelan banyak korban jiwa maupun harta benda di kedua belah pihak, peristiwa tersebut juga telah menempatkan Kesultanan Aceh dari suatu kesulatan yang merdeka menjadi korban kolonialisme Belanda. Oleh karenanya, sepantasnyalah peristiwa tersebut diperingati oleh orang Aceh. Realitasnya ternyata berkata lain. Sudah 137 tahun peristiwa itu terjadi, dan lebih dari itu, sudah 65 tahun kita merdeka, ternyata belum sekalipun peristiwa itu diperingati. Apa yang salah? Apakah orang Aceh, terutama para pimpinan daerah, tidak tahu, atau merasa tidak penting peristiwa tersebut? Jawabannya tidak, karena saya sangat yakin kalau kita tanya pada orang Aceh, hampir pasti jawabannya sama, yaitu: ”Peristiwa itu perlu diperingati.” Hal yang sama juga terjadi pada episode-episode sejarah yang lain. Sebagai contoh, hampir semua orang Aceh sangat bangga dengan keagungan Iskandar Muda. Malahan mereka akan marah besar jika kita mengungkapkan segi negatif dari idola mereka tersebut. Namun ironisnya, kebanggaan tersebut tidak diaplikasikan dalam tindakan. Hal ini dapat dilihat dari kurang terawatnya pemakaman raja-raja Aceh dan situs-situs sejarah lainnya. Malahan, orang yang berkunjung ke sana pun sangat-sangat sedikit. Sejarah Aceh memang penuh dengan ironi. Dari sekian banyak episode penting dalam sejarah Aceh, kalau saya tidak salah, hanya Hari Pendidikan Daerah saja yang selalu diperingati. Itupun saya kira tidak terlepas dari Dies Natalis Unsyiah yang selalu diperingati. Kembali pada pertanyaan, apa pentingnya peristiwa tanggal 26 Maret diperingati? Menurut saya sangat penting. Peringatan tersebut, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan identitas kebersamaan orang generasi muda Aceh, baik identitas ke-Acehan maupun identitas ke-Indonesiaan mereka, yang sekarang mulai banyak dipertanyakan orang, terutama para peneliti Barat. Padahal, identitas kebersamaan tersebut sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan. Tanpa membangun identitas tersebut, pembangunan yang menghabiskan banyak dana akan sia-sia belaka. Dipundak pemerintah, terutama pemerintah daerah, dan kita semua sebagai orang Aceh lah tugas itu terletak. Peringatan itupun bukan hanya sebatas seremonial belaka, seperti banyak ritual yang kita lakukan selama ini.” Direktur Pusat Kebudayaan Turki Dr Mehmed Ozay Beberapa waktu lalu Direktur Pusat Kebudayaan Turki Dr Mehmed Ozay ke kantor Harian Aceh menemui penlis terkait analisis 'Aceh dan Snouck.' Ahli sejarah dan kebudayaan Turki tersebut menanyakan, apakah 26 Maret diperingati di Aceh, baik oleh pemerintah atau rakyat secara keseluruhan seperti peristiwa-peristiwa besar di tempat lain? Maka dengan malu penulis menjawab belum pernah diperingati. Ia juga bertanya apakah sejarah-sejarah Aceh diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Aceh, juga terpaksa diberikan jawaban serupa. Dr Mehmed tanyakan tentang Snouck, penulis tetap mejawab seperti yang ditulis dalam analisis tersebut, bahwa kacaunya keadaan peradaban Aceh saat ini terkait tulisan-tulisan Snouck yang memfitnah Aceh untuk generasi Aceh sendiri dan sebagian besar orang Aceh teracuni olehnya tanpa sadar sampai kini. Penyusun Qanun Mukim Zulfadli Kawom “26 Maret 1873 Aceh jadi kelabu, Belanda telah merusak peradaban Aceh yang dibangun beberapa raja Aceh terdahulu. Dua cara Belanda menghancurkan Aceh, pertama dengan invansi militer, kedua dengan mengadu domba umara dan ulama. Tanggal ini harus diperingati agar orang Aceh sadar siapa Belanda dan bagaimana sikap indatu terhadap penjajah. Peringatan ini juga penting untuk menghargai jasa-jasa pahlawan seperti yang diamanahkan negara kita.” Rusdi Sufi, Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) “Masyarakat Aceh harus ingat peristiwa terbesar yang menimpa bangsa ini pada 26 Maret 1873. Dimana pada hari tersebut, Belanda menyatakan maklumat perangnya terhadap kerajaan Aceh. Karena maklumat tersebut Aceh mengalami kehancuran seperti sekarang. Belanda cuma dua kali menyatakan maklumat perangnya, pertama kerajaan bali dan kedua adalah Kerajaan Aceh, dari 400 lebih kerajaan di dunia. Tetapi tidak ada yang coba mengingat hari tersebut. Mengingat awal kehancuran membuat sebuah bangsa tahu bagaimana harus bangkit, jadi 26 Maret harus diperingati.” dbs Oleh: Thayeb Loh Angen, penulis novel TEUNTRA ATOM.
