Pada waktu Irwandi dan kawan-kawannya bergerilya (baca 'teroris'), polisi 
hindunesia (baca teroris asli) juga menghimbau agar group Irwandi mau 
menyerahkan diri kepada teroris Hindunesia, namun kebanyakan yang menyerah diri 
tetap dianianya oleh teroris Hindunesia dan malah banyak juga yang dihabisi. 
Ironisnya Irwandi hari ini ikut kehendak teroris Hindunesia agar 'teroris' 
Acheh - Sumatra mau menyerah diri. Rupanya demiki an mantap kepercayaan Irwandi 
kepada teroris Hindunesia sekarang ini. Dari sisi pandangan Dunia tanpa 
Akhirat, Irwandi beruntung dimana setelah sekian lama bersatu dalam group 
'teroris' Acheh - Sumatra, berhasil keluar masuk group teroris Hindunesia 
hingga mendapat kepercayaan dari tuannya di Jawakarta. Hal inilah yang membuat 
Irwandi berani menjamin keselamat 'tan' anggota 'teroris' Acheh - Sumatra yang 
mau menyerah diri macam Irwandi cs dulu.


Angku di Meureudu




________________________________
From: Fadli Hasan <[email protected]>
To: Fadli Hasan <[email protected]>; [email protected]
Cc: [email protected]; Atjeh Lon Sajang <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; JUNISHAR 
Al <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; universityofwarwickofceulaka <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; Ali Al Asytar 
<[email protected]>; sisinga maharaja <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected]; Yusra Habib Abd Gani Yusra 
Habib <[email protected]>; [email protected]; Niklin Jusuf 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Sun, March 28, 2010 8:42:39 AM
Subject: Pue djipeugah si gam njoe, pukaima djih


Djih ka djidjak meurakan ngon kaphe djawa nkri untok poh Bansa Atjeh njang 
kritik djih kadjeut keu tokang padjoh hareuta rakjat. Njan hai bansa Atjeh 
neuingat mandum, bek le neudjak pileh asei njan djeut keu "peumimpen" droe 
neuh. Atra ka leupah kakeuh bek le neuseusalkan.
 
Kah Irwandi kadjeut djak mita bubei ladju djak theun eungkot batje lam parek, 
hana pue kadjak harap le djabatan njan kali ukeu. Meunjoe Bansa Atjeh geudjak 
pileh kah lom keu "peumimpen" geuh, mumakna mandum Bansa Atjeh kadjeut keu 
keuleudei bangai.
 
Njoe Bansa Atjeh ingat mandum, droe neuh bek le djeut keu keuleudei bangai asai 
kadjibi peng griek dua neuk sapo kaneudjak pileh laknat njoe keu "peumimpen" 
neuh. Djih njan hana djipike untuk djipumakmu dan peuseudjahteura droe neuh, 
njan na djipike pakriban pumakmu dan peuseudjahteura keuluarga droe djih dan 
njang tem lieh iku djih.
 
Droe neuh neuduek lam geureupoh manok, didjih djiduek lam istana. Njan troh bak 
reumoh adjudan djih si Mahdi Olo ube istana Fir'un. Njoe siat teuk lon keuneuk 
djak tjok photo reumoh njan lon kirem lam email njoe keu bukti mandum keu 
ureung droe neuh. Kon lon peugah-peugah mantong. Njan pane peng djitjok di 
geureubak tulak njan? 
 
Droe neuh neudjak ngon tapak, didjih djiek moto mangat Rubicon, Hummer, dan 
kapai teureubang. Didroe neuh mate lam krueng bak neu'ek raket, didjih djikhem 
djeut keu peasan. Inong hana mangat saboh, djimita inong laen. Didroe hana 
breuh lam eumpang, didjih djipadjoh bu bak restauran. 
 
Njan neuingat atra lon peugah. Meunjoe hana neuingat kakeuh didroe neuh mandum 
djeut keu keuleudei bangai.
 
Njan matong peusan lon. Neudeungo kakeuh neudeungo, hana neudeungo kakeuh 
neurasa keudroe neuh. Lon hana urosan sapue meunjoe droe neuh seunang atawa 
meurana.


28 Maret 2010, 11:02
Irwandi Siap Memediasi Teroris yang Menyerah
* FPI Aceh Sediakan Pengacara
Utama 
BANDA ACEH - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyambut baik keinginan sejumlah 
teroris yang masih tersisa di Aceh untuk segera menyerah kepada polisi, dengan 
mengajukan sejumlah syarat. Irwandi bahkan menawarkan diri sebagai mediator 
agar syarat-syarat yang diajukan para teroris itu dihargai dan konsisten 
dilaksanakan oleh aparat penegak hukum di provinsi ini.

“Kalau memang kelompok teroris yang sedang buron itu serius mau menyerahkan 
diri bersama senjata, amunisi, dan perlengkapan lainnya, serta mau berlaku 
jujur, maka saya sebagai Gubernur Aceh bersedia memediasi penyerahan diri 
mereka kepada pihak kepolisian,” demikian disampaikan Gubernur Irwandi kepada 
Serambi di Banda Aceh, Sabtu (27/3) pagi, sebelum ia terbang ke Jakarta naik 
Garuda.

Sebagai calon mediator, Gubernur Irwandi menjamin bahwa pihak kepolisian di 
daerah ini tidak akan memperlakukan para teroris yang menyerah secara melawan 
hukum. “Mereka akan diperlakukan secara baik-baik. Yang penting, jangan sampai 
terlambat,” tegas Irwandi. Sebagaimana diberitakan kemarin, setelah lama berada 
di persembunyian karena diburu aparat keamanan, anggota kelompok teroris di 
Aceh akhirnya menyampaikan keinginan untuk menyerah kepada polisi, tapi dengan 
sejumlah syarat.

Syarat pertama, aparat keamanan diminta tidak menyakiti (menyiksa) mereka yang 
menyerah selama dalam tahanan. Kedua, keluarga diberi akses untuk menjenguk 
setiap saat atau seperlunya. Syarat ketiga, tidak ditahan di luar Aceh, karena 
keluarga kelompok ini adalah orang miskin dan tidak punya biaya untuk menjenguk 
ke luar Aceh.

Keinginan untuk menyerah dan syarat-syarat penyerahan diri itu diungkapkan 
Ketua Front Pembela Islam (FPI) Wilayah Aceh, Yusuf Al-Qardhawi Al-Asy kepada 
Serambi, setelah ia menerima telepon dari Taufik alias Abu Sayyaf, anggota 
kelompok radikal yang masih terus diuber polisi itu.   Dalam perbincangan 
melalui telepon, kata Yusuf Al-Qardhawi, tersirat keinginan Taufik dan 
kawan-kawannya untuk menyerahkan diri, mengingat beberapa teman mereka juga 
sudah menyerah. Cuma, mereka masih khawatir akan keselamatan diri serta 
terhambatnya akses keluarga untuk menjenguk mereka saat ditahan.

“Oleh karena itu, mereka meminta perhatian dan perlakuan khusus dari pemerintah 
dan aparat keamanan kalau mereka nanti benar-benar menyerah,” kata Yusuf kepada 
Serambi, Jumat (26/3). Berdasarkan catatan kepolisian, Taufik alias Abu Sayyaf 
saat ini masuk dalam daftar buronan atas dugaan keterlibatannya dalam jaringan 
kelompok teroris di Aceh. Taufik asal Padang Tiji, Kabupaten Pidie bersama 
beberapa rekannya pernah terdaftar sebagai relawan jihad ke Palestina dan 
mendapat pelatihan dari Komando FPI Pusat di Jakarta. Namun, FPI saat itu batal 
mengirim relawannya ke Palestina seiring dengan meredanya situasi politik dan 
keamanan di Gaza.

FPI Siapkan pembela 
Dalam keterangan terbarunya yang dikutip LKBN Antara, Sabtu kemarin, Yusuf 
Al-Qardhawi menambahkan, FPI Aceh siap menjadi fasilitator antara para 
tersangka teroris dengan pihak kepolisian, dengan harapan semua masalah bisa 
selesai. “Meski tersangka teroris itu bukan anggota FPI, tapi saya pribadi siap 
menjadi fasilitator penyerahan diri mereka kepada polisi. Namun, saya juga akan 
minta agar mereka menyerahkan seluruh senjatanya kepada Polri,” kata Yusuf.

Bahkan, menurut Yusuf, FPI juga siap memberikan pembelaan jika mereka 
disidangkan pada pengadilan di Aceh nantinya. “Jika menyerah secara baik-baik, 
maka kami siap memberikan pembelaan kepada mereka di persidangan. Kami sudah 
mengontak Munarman SH (pengacara/anggota tim pembela FPI),” ujar Yusuf. Ia 
tambahkan bahwa para tersangka teroris itu menyatakan siap menyerahkan diri 
karena mengaku sudah “salah jalan”. Cuma mereka  belum mau menyerah karena 
khawatir disakiti aparat kepolisian saat penahanan atau ketika proses 
interogasi berlangsung.

Dilatih di Jawa 
Di pihak lain, Ketua FPI mengaku warga Aceh yang kini diklaim aparat terlibat 
jaringan teroris itu adalah mereka yang pernah dibekali pelatihan di Pulau 
Jawa. Sekitar Februari 2009, ada sembilan orang dari FPI ikut latihan di Jawa. 
Pelatihan itu sendiri bertujuan untuk pembelaan “saudara seiman” di Palestina 
yang dirongrong serdadu Israel.

“Saya sendiri ikut pelatihan itu. Tapi, setelah kami menyadari bahwa tujuannya 
sudah lain dan menyimpang, maka kami langsung kembali ke Aceh. Hanya enam orang 
yang tinggal di Jawa, tapi dari enam orang itu tidak semuanya terpengaruh 
dengan jaringan radikal tersebut,” kata Yusuf. Sementara itu, aparat kepolisian 
jajaran Polda Aceh yang diperkuat Detasemen Khusus (Densus 88) Antiteror Mabes 
Polri, hingga kini masih memburu sejumlah orang yang diduga kuat sebagai 
kelompok teroris di Aceh. Kapolda Irjen Pol Adityawarman menyebut anggota 
teroris yang tersisa di Aceh saat ini hanya sepertiga lagi (dari sekitar 55 
orang yang pernah teridentifikasi). (dik/ant)  
__________________________________________________
Bruger du Yahoo!?
Er du træt af spam?  Yahoo!Mail har den bedste spambeskyttelse, der findes 
http://dk.mail.yahoo.com 


      

Kirim email ke