Kalau saja kezaliman terhadap kaum dhuafa Acheh tidak ada yang dapat 
mengatasinya, kemungkinan besar Tsunami yang lebih dahsyad lagi akan terulang. 
Mengapa manusia Acheh pada umumnya tidak menepati janjinya ketika berkampagnje 
dulu?  Mengapa kebanyakan orang yang berkuasa tidak  berbeda 
sepakterjangnyadengan penguasa jawakarta?

Kepada orang-orang Acheh yang anti kezaliman, berhijrahlah sebelum terlambat 
kalau tidak mampu melawan kezaliman kaum yang berperangai cangkul itu. 
Kebanyakan orang kaya baru itu menggunakan baju "GAM" untuk memperkayakan diri. 
Mereka tidak melihat sebelah matapun kepada TNA yang tidak punya apa-apa. 
Mereka mengatakan bahwa kekayaan yang diperolehnya sekarang atas usaha mereka 
sendiri bukan disebabkan afuah GAM. 

Manusia itu di uji Allah dengan "tiga ta": Wanita, Harta dan Tahta. Hal itu 
sedang dimainkan jawakarta paska MoU Helsinki. Tidak adakah orang Acheh yang 
mampu memperbaiki marwah Acheh? Andaikata seluruh khatip hari jum'at 
menyuarakan kezaliman penguasa, tidak seorangpun diantara mereka yang mampu 
ditangkap polisi zalim. Tetapi kenapa mayoritas khatib itu takut kepada 
penguasa bukan kepada Allah? Inilah diantara yang penting kita analisa siapa 
mereka itu yang sebetulnya. Kita harus mampu mengenali persekongkolan "Fir'un, 
Karun dan Bal'am", kalau tidak Acheh senantiasa dalam keadaan hina-dina.



Barakallahu li walakum fil Qur-aanil karim
wanaf ani waiyyakum bima fihi minal ayati 
wazikri hakim wataqabbala minni wamingkum
tilawatahu, innahu huassamiul alim, 
walazikrulaai akbar
http://www.youtube.com/watch_popup?v=ESahsqp5nwM


________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, April 7, 2010 7:23:38 AM
Subject: «PPDi» Gempa Guncang Aceh, Pusat Krisis Tak Ada Penjaga

  
Refleksi : Maaf, lagi dinas luar.
 
http://internasiona l.kompas. com/read/ 2010/04/07/ 07503624/ Gempa.Guncang. 
Aceh..Pusat. Krisis.Tak. Ada.Penjaga
 
 
Gempa Guncang Aceh, Pusat Krisis Tak Ada 
Penjaga
Laporan wartawan KOMPAS Mahdi 
Muhammad
Rabu, 7 April 
2010 | 07:50 WIB
 
 
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Ruang Pusat 
Kendali Operasi atau Pusat Krisis Badan Penanggulangan Bencana Provinsi 
Nanggroe 
Aceh Darussalam, Rabu (7/4/2010), masih terkunci. Padahal, ruang ini sangat 
vital untuk mengoordinir penanggulangan bencana, seperti yang baru saja terjadi 
di Simeulue, tadi pagi. 
Kompas yang mendatangi ruangan yang terletak di gedung 
serbaguna kantor gubernur Provinsi NAD, sekitar pukul 07.00 wib, mendapati 
ruang 
itu terkunci. Lampu masih menyala. Ruangan dengan sistem komputer bantuan 
negara 
Perancis ini, seperti pada simulasi tsunami tahun 2008 lalu, memiliki peran 
vital untuk mengatur lalu lintas informasi pascabencana dan proses evakuasi, 
bila memang di suatu daerah dinyatakan akan terjadi tsunami.  
Namun, pagi ini, tidak ada satu petugas pun di ruangan 
tersebut. Prosedur operasional standar, para operator yang bertugas di ruangan 
ini seharusnya bertugas selama 24 jam. Manajer Pusdalops atau Badan 
Kesbanglinmas Provinsi NAD belum bisa dikonfirmasi terkait dengan kondisi 
ini.
TERKAIT:
        * Kedalaman  Gempa Aceh 34 Km 
        * BMKG  Catat 7,2 SR, USGS 7,7 SR 
        * Listrik  dari Pantai Timur Hingga Banda Aceh Padam 
        * Gempa  Simeulue Rusak Bangunan Kantor Dinas Sosial 
        * Warga  Sinabang Aceh Berlarian Cari Tempat Aman 
 
 


      

Kirim email ke