Refleksi : Lumayan besar modal para teroris. Mungkin hanya bank tertentu saja yang mengetahui dari mana datangnya dana modal mereka. Apakah ditransfer melalui Bank Century juga sluit diketahui karena masalah bank ini belum ada kecerahannya ditambah lagi dengan terjadi kebakaran di kementrian keuangan beberapa waktu silam.
Dengan direncanakan kunjungan presiden Obama maka dibersihkan kaki tangan kaum penguasa yang selama ini disimpan dan disembunyikan dari umum. Apakah semuanya dibersihkan sulit diketahui, tetapi yang pasti dengan pembersihan ini bukan saja menunjukkan kesuksesan pemberantasan terorisme, tetapi juga untuk mensucikan diri dan noda-noda darah para korban yang melekat pada tangan para petinggi kaum penguasa NKRI, bukankah begitu Pak SBY? Di Maluku sangat murah noda dibersiakan, hanya dengan hadiah sebuah gong. http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=134071 [ Sabtu, 15 Mei 2010 ] Polisi Telusuri Sumber Dana Jihad di Aceh Senilai Rp 1 Miliar DETASEMENKhusus (Densus) 88 Mabes Polri terus bergerak. Kemarin (14/5) mereka menangkap lagi seorang yang diduga teroris di daerah Semanggi, Pasar Kliwon Solo. Dia bernama Heri Suranto. Itu serangkaian dengan operasi penangkapan tiga orang di Baki, Sukoharjo, sebelumnya. Densus menyita komputer dan beberapa dokumen di rumah Heri. Selain terus berburu teroris, korps burung hantu tersebut menelusuri sumber dana jihad di Aceh. Jumlahnya Rp 1 miliar. Tiga tokoh penting dalam pendanaan tersebut ditangkap Kamis lalu (6/5). "Dananya berasal dari tiga orang, yakni Haris Amir Falah, Hariyadi Usman, dan dokter Syarif Usman," ujar Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) dalam jumpa pers kemarin. BHD menyebut Haris mempunyai Rp 200 juta, Hariyadi Rp 250 juta, dan Syarif Rp 200 juta. Sisanya ditemukan di rumah Maulana, teroris yang tewas di Cawang, Jakarta Timur. "Ditemukan dalam pecahan dolar, ringgit, dan rupiah," tutur mantan Kabareskrim tersebut. Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, Haris adalah ketua Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) DKI Jakarta. Dalam rekonstruksi Rabu lalu (12/5) di Pejaten, Haris dihadirkan bersama Ubeid serta seorang pria berjenggot dan berbaju putih panjang dengan name tag Abu Bakar Baasyir yang datang dengan menggunakan mobil. Ditanya soal kemungkinan keterlibatan Ba'asyir, Kapolri menjawab diplomatis. "Soal pendanaan itu, kami tak boleh langsung menuding. Yang jelas, penyidik punya bukti permulaan yang pengusutannya kini dikembangkan di lapangan," papar Kapolri. Kepala Densus 88 Mabes Polri Brigjen Tito Karnavian tak membantah bahwa Haris adalah ketua JAT DKI Jakarta. Namun, papar dia, peran Haris saat ini disidik, apakah bertindak dalam kapasitas pribadi atau tidak. "Masih penyidikan, sedang berjalan," tutur Tito setelah jumpa pers. Sumber Jawa Pos di lingkungan mantan kombatan menilai, analisis polisi terlalu mengada-ada. Sebab, tingkat ekonomi orang-orang yang ditangkap itu justru pas-pasan. "Saya akrab dengan Haris Amir Falah. Tak mungkin dia punya Rp 200 juta, apalagi dana itu untuk terorisme," ujarnya. Dia juga tak yakin bahwa Haris setuju dengan aksi jihad melalui kekerasan seperti yang ada di Aceh. "Saya menduga, dia dijebak dan diarahkan untuk skenario tertentu," terang dia. Kapolri membantah dengan tegas dugaan rekayasa atau skenario itu. "Sudah ada rangkaian untuk semuanya, bukti saling terkait. Mereka berasal dari berbagai kelompok, seperti Kompak, NII, dan lainnya. Mereka bergabung jadi satu," ucap dia. Secara terpisah, Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan meminta Polri meminta maaf kepada 13 orang yang ditangkap tanpa bukti. "Kami akan melapor ke Komnas HAM dan DPR," tutur Michdan kemarin. TPM juga meminta nama JAT direhabilitasi. "Kelompok teroris itu sama sekali berbeda dengan JAT. JAT tidak terlibat apa pun. Densus harus minta maaf," tegas dia. Sementara itu, jenazah teroris yang tersimpan di gedung Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS Polri Kramat Jati, Jakarta, mulai didatangi keluarganya. Kemarin pagi Awal Purwono, kakak kandung Saptono, datang untuk memastikan apakah yang tewas benar-benar anggota keluarganya. "Saya belum boleh melihat (jenazah, Red), apalagi membawa pulang," ucapnya. Namun, dia menjelaskan, berdasar data yang dikeluarkan oleh tim forensik, ciri-ciri fisik salah seorang jenazah di sana sangat sesuai dengan Saptono, adiknya. Misalnya, tahi lalat di pipi kiri. "Kata tim, administrasinya belum selesai. Masih harus tes DNA dan sidik jari," terangnya. Awal menuturkan, keluarga mengambil jenazah Saptono hari ini (15/5). Rencananya, jenazah itu dimakamkan di Kampung Sajra, Rangkas Bitung. (rdl/kuh
