http://militer.kompasiana.com/2010/05/21/wartawan-aceh-dianiaya-militer/
Wartawan Aceh Dianiaya Militer


REP 
Zulfikar Akbar
|  21 Mei 2010  |  


 
9 dari 9 Kompasianer menilai Aktual.




Tragis, militer yang harusnya bisa menjadikan wartawan sebagai partner 
menjalankan tugas negara,
 
Penganiayaan terhadap jurnalis adalah tindakan primitif. Oknum pelaku layak 
untuk dicopot demi nama baik institusi militer Indonesia
justru menjadi sasaran penganiayaan. Ini terjadi pada salah satu wartawan Aceh 
di Simeulue. Ahmadi yang merupakan kuli tinta di Koran Harian Aceh.
Dari kronologis yang disampaikan via Arsip Online, terlihat oknum militer 
bernama Lettu Inf. Faisal Amin yang merupakan Pasi Intel Kodim, melakukan 
tindak primitif terhadap wartawan tersebut karena Ahmadi tidak memenuhi 
permintaannya agar tidak memuat salah satu berita yang berhubungan dengan 
illegal logging di Simeulue.
Berikut Kronologinya:
Berita “Illegal Logging Marak di Simeuleu” yang dimuat di Harian Aceh, edisi 
Jumat 21 Mei 2010 di halaman 14 (Rubrik Daerah) berbuntut pemanggilan dan 
pemukulan wartawan Harian Aceh di Simeulue, Ahmadi, oleh pihak Kodim 0115 
Simeulue. Untuk advokasi, berikut Harian Aceh membuat kronologis berdasarkan 
keterangan dari Ahmadi

Jumat, Jam 09.30 WIB
Sebelum Ahmadi datang ke Kodim, sebelumnnya Pasi Intel Kodim Lettu Inf. Faisal 
Amin sudah menelepon Ahmadi agar menghadap dia di Makodim. Ahmadi (wartawan 
Harian Aceh) bersama Mohd Aziz (wartawan News Investigasi Medan) datang ke 
Makodim, karena mereka berdua yang ikut bersama-sama meliput kasus illegal 
logging. Kemudian melalui unit Intel Kodim, Kardiar, yang mengiringi Ahmadi ke 
Makodim.. membawa Ahmadi ke lapangan tembak atas perintah dari Pasi Intel.
Sementara Mohd Aziz dipisahkan dari Ahmadi, dan diminta pulang. “Saya tidak ada 
urusan dengan Aziz, saya punya urusan dengan Ahmadi,” kata Pasi Intel.
Ahmadi kemudian dibawa ke lapangan tembak yang berada di belakang Makodim. 
Merasa dirinya tidak tahu atas urusan apa yang bersangkutan dipanggil, Ahmadi 
mencoba bertanya, “ada urusan apa bang?” Pertanyaan itu bukannya dijawab, tapi 
malah Pasi Intel mengambil Hp yang dipegang Ahmadi. “Apa kamu mau merekam 
saya?” tanya Pasi Intel Faisal. Setelah diambil, Hp itu kemudian dibuang ke 
parit yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tak hanya itu, Tas milik 
Ahmadi yang berisi laptop juga diambil dan dibuang ke jalan.
Saat mengambil Hp Ahmadi, Pasi Intel sudah mencabut pistol. Entah untuk 
menakuti atau apa, Pasi Intel itu kemudian menembakkan pistol ke ban yang 
dipasang di lapangan tembak. Dengan nada membentak, Pasi Intel itu memaki-maki 
Ahmadi dengan kata-kata kasar. (Ahmadi tak ingat lagi apa saja yang dikatakan 
Pasi kecuali kamu pembohong, penipu).
“Kamu pembohong, kamu penipu,” “Kamu sudah tiga kali mempermalukan saya. Saya 
bilang jangan dimuat, tapi kamu muat juga,” kata Pasi Intel.
Kemudian selesai mengatakan itu, Ahmadi disikut ke wajah dan mengenai gigi 
(mulut) serta wajah dan dipukul di bagian muka.
“Akan saya bunuh keluarga kamu jika berita itu tidak kamu ralat,” ancam Pasi 
Intel. Selesai itu, Pasi intel melepaskan tembakan untuk kedua kalinya, dan 
sekali dekat dengan saya. Saat itu, Ahmadi diminta membuka baju dan celana. 
Namun, Ahmadi tidak mau membuka celana.
Saat Ahmadi diinterogasi di lapangan tembak itu, ada seorang anggota Provost. 
Si Pasi Intel kemudian meminta si Provost agar mengusir Mohd Azis (teman 
Ahmadi). “Kamu usir si wartawan satu lagi?” perintah Faisal ke Provost.

 
Semoga jurnalis ke depan lebih dimanusiakan
Selesai di situ, Ahmadi di antar Kardiar (anggota Unit Intel Kodim) keluar dari 
lapangan tembak. Saat mengantar itu, Kardiar menyarankan Ahmadi agar melapor 
langsung ke Dandim dan Pangdam (Tapi kata Ahmadi, si Kardiar minta agar dia tak 
dilibatkan karena juga bisa membuat dirinya terancam). Menurut Ahmadi, bisa 
jadi si Kardiar kasihan dan ingin menolong Ahmadi. Karena hubungan mereka 
selama ini dengan pihak Kodim sangat baik.
Dari Kodim, sekitar jam 13.00 WIB Ahmadi melaporkan kasus pemukulan dirinya ke 
Polres Simeulue termasuk meminta surat keterangan agar bisa melakukan visum. 
Saat melaporkan ke Polres, Ahmadi menjumpai Wakapolres  Kompol Azas Siagian, 
dan diarahkan menjumpai bagian KSTK (bagian pengaduan).
Selesai di Polres, Ahmadi shalat Jumat. Dan jam 16.00 WIB Ahmadi pergi ke Rumah 
Sakit untuk melakukan visum dengan dengan diantar anggota Polres. Di Rumah 
Sakit Ahmadi dirontgen dan diperiksa, hingga jam 18.00. Menurut keterangan 
orang rumah sakit, kata Ahmadi, hasil visum baru keluar hari Senin (24/5) 
mendatang.
Saat mereka berada di Rumah Sakit, anggota dari Unit Intel Kodim (namanya tidak 
diketahui) menelepon Mohd Aziz (teman Ahmadi) dan menanyakan sedang dimana dan 
soal Ahmadi. “Mana Ahmadi?” tanya anggota unit intel.
“Saya tidak tahu, bang?” jawab Mohd Aziz.
“Kamu dimana sekarang?” tanya anggota lagi. “
Saya di Rumah Sakit,” jawab Aziz.
“Ngapain kamu di Rumah Sakit?” anggota intel bertanya lagi.
“Sepupu saya ada yang sakit,” jawabnya.
Kondisi terakhir Ahmadi trauma berat. Wajahnya bengkak dan dadanya lebam. Agar 
tidak terjadi sesuatu, Ahmadi mengungsikan keluarganya ke tempat famili. 
Menurut Ahmadi, Wakapolres menawarkan Ahmadi agar menginap di komplek Polres. 
Tapi, Ahmadi menolaknya (Sumber: disini).
Sedang Kompas.com, dalam beritanya menyebutkan Oknum pelaku sudah ditangkap. 
“Mereka ditahan dan tidak boleh melakukan tugasnya sebagai perwira sampai 
proses atas kasus ini selesai,” kata Mayor Yuli Marjoko. Demikian seperti 
dikutip di sini. Semoga saja, kejadian demikian tidak lagi terjadi. Karena 
jelas, tindakan oknum tersebut tidak hanya mencoreng nama institusi, tetapi 
juga nama Indonesia yang selama ini terpuruk oleh berbagai persoalan yang belum 
menemukan titik akhir.

Sumber gambar: Kompas.com dan ini
Juga dipublikasikan di: Pedestrian.


Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 

Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang 
ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm 
meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 
1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! 
Kheun Tgk Hasan di Tiro 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 


MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related


      

Kirim email ke