Fri, Jun 4th 2010, 08:18
Selamat Jalan Wali
Murizal Hamzah - Opini 
Inalillahi wa Ina ilaihi raji’un. Aceh berduka, Tanoh Endatu menangis. Kabar 
mengejutkan tercatat pada Kamis, 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.12 WIB. 
Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr Tengku Hasan M di Tiro wafat dalam 
usia menjelang 85 tahun di  Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Pria 
kelahiran Jumat, 25 September 1925 di Gampong Tanjung Bungong Kecamatan Tiro 
Kabupaten Pidie mangkat dalam situasi tidak sadar sepenuhnya setelah hampir dua 
pekan dirawat intensif di rumah sakit pemerintah.

Inilah akhir dari perjalanan hidup buah hasil kasih sayang Leubé Muhammad-Pocut 
Fatimah binti Teungku Mahyuddin bin Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. 
Sebelumnya, pihak tertentu sejak tahun 1980-an menyatakan paling kurang delapan 
Wali-panggilan akrab Hasan Tiro-sudah meninggal dunia. Hal ini terjadi setelah 
ayah dari Karim Tiro ini keluar dari Aceh pada Kamis, 29 Maret 1979 dari 
Jeunieb Kabupaten Aceh Utara (kini Kabupaten Aceh Jeumpa) ke Singapore. Di sana 
menunggu Menteri Perdagangan Atjèh Meurdéhka  Amir Mahmud dan  Menteri Negara 
Atjèh Meurdéhka Malik Mahmud.

Jarum sejarah dirinya dan Aceh berubah total setelah murid kesayangan Teungku 
Daud Beureu-éh mendeklarasikan ulang kemerdekaan Aceh pada Sabtu, 4 Desember 
1976 di Bukit Tjokkan Gunung Halimon Pidie. Alasannya sangat sederhana, karena 
Aceh masih merupakan sebuah negara sambungan (successor state) yang terputus 
sejak 4 Desember 1911 dan kini bersambung lagi. Dengan demikian, Hasan Tiro 
berkeyakinan, dirinya bukanlah seorang seperatis.

Terlepas dari berbagai polemik dalil Wali berjuang, namun ada beberapa kata 
kunci yang sampai sekarang mesti diamalkkan oleh siapa saja terutama yang 
mengaku pejuang. Misalnya, Wali meninggalkan kemewahan di New York pada tahun 
1976. Lalu masuk rimba berteman nyamuk untuk mendidik rakyat Aceh akan hak-hak 
politik yang selama ini telah dirampas oleh rezim orde baru. Hanya manusia yang 
memiliki motivasi dan ideologi yang kuat mengalahkan segala kesenangan bersama 
istri dan anak semata wayang di negeri yang sudah maju dibandingkan 
bergelap-gelap dengan panyot. Pelajaran penting, komitmen memajukan masyarakat 
yang kala itu masih miskin hingga kini tetap dhuafa meruntuhkan gaya hidup yang 
mapan di negara adidaya.

Sisi lain, Wali bukan seorang perokok dan tidak melarang teman-temanya merokok. 
Hal ini disadari benar oleh anggota GAM yang takzim pantang menyalakan sebatang 
rokok di depannya. Wali memberi kebebasan pihak lain untuk mengekspresikan gaya 
hidup selama yang bersangkutan tidak mengganggu pihak lain. Kerapian tidak 
diragukan lagi. Maka para panglima GAM akan segera berjas di depan Wali.

Demikian juga, sosok Hasan Tiro sangat menghargai pihak lain dengan ucapan 
thank you, very good. Begitulah kesan penulis dan puluhan jurnalis ketika 
bertemu dengan dia di Selangor pada Oktober 2008. Apakah kita masih sering 
mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu atau melayani 
kita? Hanya orang yang berjiwa besar yang mampu menghargai karya dan prestasi 
orang lain.

Tokoh GAM Usman Lampoh Awe (alm) kepada saya menuturkan Wali sangat menghargai 
pemberian orang. Pada tahun 1977, Usman yang  meninggal dunia dalam usia 73 
tahun karena kanker darah (leukimia) pada 3 Oktober 2008 di Rumah Sakit Umum 
(RSU) Sigli menyebutkan hingga tahun 2008, Wali masih memakai mesin ketik 
Olivetti yang dibeli pada tahun 1977 untuk mengetik The Price of Freedom: The 
unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. Padahal bisa saja Hasan Tiro membeli 
yang baru. Namun selama benda itu masih bisa dipakai, maka terus dipakai. Dana 
yang ada digunakan untuk perjuangan. Bukan untuk menambah istri, membangun 
rumah seperti gedung dan lain-lain sebagaimana yang dipertontonkan oleh 
pengikut dia selanjutnya. Dengan berpisahnya nyawa dengan badan, maka 
selesailah sudah catatan-catatan manusia. Hanya tiga hal yang menjadi pengawal 
amal Wali di alam barzah salah satunya ilmu kebajikan yang terus mengalir.

Akan banyak kisah human interest yang telah dilakukan oleh Hasan Tiro untuk 
mewarisi dan menanam kepada orang Aceh untuk mengenal dirinya. Jika ditelusuri 
dari pemikiran-pemikirannya sebelum dua kali mengalami stroke, Wali aktif 
melakukan kampanye tentang Aceh termasuk melapor pelanggaran HAM kepada 
berbagai NGO internasional.

Waktu dan usia juga yang menyebabkan Wali terkapar ke sudut-sudut rumah sakit 
setelah berada di tanah kelahirannya. Dalam kegelisahan yang tidak bisa 
dipaparkan, masih ada cita dan mimpinya yang belum terwujud yakni menyaksikan 
masyarakat Aceh menikmati kekayaan alam sambil mengecap lautan ilmu pengetahuan 
sebagaimana yang telah dirasakan oleh dirinya.

Beristirahatlah di alam kubur dengan tenang tanpa ada lagi yang menyatakan 
bahwa ini Peuneutoh Wali. Dari lorong-lorong kegelapan menuju terang ini, Insya 
Allah ada generasi muda Aceh yang akan melanjutkan cita-citamu ini melalui 
ujung pena. Perjuanganmu belum selesai. Selamat jalan Wali.

* Penulis adalah penulis buku Biografi Dr Tengku Hasan M di Tiro: Jalan Panjang 
Menuju Damai Aceh 

_________________________________________________________________________
http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang 
dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari 
menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan 
melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa 
kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."



* Njoe njang beutôi peusan dan wasiët Tgk Hasan di Tiro. Dan KON lagèë njang 
djipeuna-peuna uléh djaroë-gaki musôh / biëk pangtibang njang kajém geutanjoe 
batja lam surathaba musôh Serambi:


"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang 
ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm 
meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 
1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! 
Kheun Tgk Hasan di Tiro 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 
 
Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 

Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related



      

Kirim email ke