Sat, Jul 17th 2010, 08:30
“Rubicon” Wali
(Renungan 44 Hari Hasan Tiro)
M. Adli Abdullah - Opini 
DALAM artikel singkat ini, saya ingin menukil sepenggal kisah perpindahan 
pemikiran Hasan di Tiro mengenai ideologi ke-Aceh-an. sebagai refleksi 44 hari 
(3 Juni 2010-17 Juli 2010) meninggalnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro Cucu 
Chik di Tiro ini lebih dikenal sebagai Wali Nanggroe. Tokoh kontemporer Aceh 
dipandang berhasil membangun semangat ke-Aceh-an. Sampai hari ini, tidak 
sedikit yang yang menziarahi makam Hasan Tiro oleh masyarakat, baik yang pernah 
bergabung di bawah ideologi yang diusungnya, maupun yang simpati dengan 
perjuangan. Harus diakui sebagai “Wali Nanggroe”, rakyat Aceh lebih mengenal 
sosok dia melalui media atau dari mulut ke mulut. Apa sebenarnya yang menarik 
dari seorang Hasan Tiro sehingga diidolakan bahkan menjadi ikon perjuangan 
rakyat Aceh? Tentu saja, masing-masing kita punya jawaban tersendiri.

Salah satu karya yang selalu dirujuk ketika membedah pemikiran Hasan Tiro 
adalah “The Price of Freedom: Unfinished Diary.” Buku ini merupakan catatan 
harian dia ketika memulai perjuangan ke-Aceh-an. Saya membaca buku ini ketika 
kuliah di Internatinal Islamic University of Malaysia (IIUM) di Malaysia pada 
tahun 1990-an. Buku yang beredar dalam bahasa Inggris dan bahasa Aceh 
memaktubkan kisah hariannya ketika di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 
Maret 1979. Buku ini penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar. Pada 
halaman 4 tercantum: “Saya punya istri yang cantik dan seorang bocah kecil yang 
sangat tampan. Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya 
punya kontrak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam 
lingkaran pemerintahan dunia, seperti AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia 
Tenggara kecuali Indonesia.” Inilah gambaran duniawi yang dinukilkan oleh Hasan 
Tiro ketika dia mengubah haluan kehidupannya
 dari kemewahan ke perjuangan demi Aceh.

Perpindahan pemikiran Hasan di Tiro ini menarik diamati, sebab dia berangkat 
dari serba kegemerlapan duniawi. Walaupun sekarang perpindahan ini tidak 
diikuti oleh semua anak didiknya atau mereka yang mengakui seideologi dengan 
cucu Chik Mohammad Saman. Kutipan di atas, bagi sebagian mereka bisa berlaku 
setelah damai, di mana ada yang “sukses dalam bisnis,” “punya kontrak dengan 
berbagai proyek,” dan “hidup dengan gemerlap nikmat duniawi di rumah-rumah 
mewah.” Saya sendiri belum berani mengambil sebuah keputusan hidup seperti yang 
dilakoni oleh Hasan Tiro. Selanjutnya, pada halaman 8, Hasan Tiro mengungkapkan 
perasaannya ketika mengarungi Selat Malaka pada 28 Oktober 1976 jam 2 malam. Di 
tengah orang-orang sedang tidur lelap, dia lagi mengarungi Selat Malaka menuju 
Kuala Tari Pidie meninggalkan segala kemewahan di Amerika. Pada umur 51 tahun 
yang terbayang dibenaknya keinginan untuk memartabatkan rakyat Aceh. Dia 
menulis dalam buku diarinya
 bahwa pada malam itu yang terbayang hanya kisah yang pernah dia baca tentang 
Kaisar Rumawi saat menakluki Roma Kaisar bersama pasukannya menyebrangi sungai 
Rubicon. Sang Kaisar berhasil membebaskan Roma dalam waktu 40 hari.

Memang Selat Malaka yang diarunginya malam ini lebih besar dari  Sungai Robicon 
yang pernah diarungi oleh Kaisar Roma. Tetapi tulisannya yang membedakan 
dirinya dengan Kaisar Rumawi adalah kalau Kaisar bersama pasukannya siap 
membebaskan negerinya dan menakluki Roma tetapi dia dia pulang pada malam buta 
tersebut dengan “sebuah pesan” kesadaran dan kebangkitan kembali rakyat Aceh. 
Dalam bahasa Hasan di Tiro: “But Ceasar had a legion with him. I have nothing.I 
come back alone-un-armed. I have no instrument of power. I brought only a 
message that of national salvation and survival of the people of Acheh Sumatra 
as a Nation, and a reputation of a Tiro-man.”

Setelah kepulangan Hasan Tiro pada tanggal 28 Oktober 1976 tersebut  dan 
mendeklarasikan Aceh Mardeka di kawasan Gunung Halimun, Pidie pada tanggal 4 
Desember 1976 maka kronik sejarah Aceh, terutama rentang 32 tahun (1976-2005) 
selalu identik dengan Hasan Tiro. Kemudian tanggal ini diperingati setiap tahun 
sebagai Milad Aceh Merdeka. Sejak itu pula gendering perang antara GAM dengan 
RI terjadi. Selama hampir lebih dari 30 tahun bumi Aceh sarat dengan anyir 
darah dan bau mesiu. Ribuan nyawa dan harta jadi tumbal. Di tengah tengah 
suasana damai, anak pasangan Tengku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah ini lahir 
di Tiro 25 September 1925, pada usia 85 tahun kembali kehadapan Khaliknya pada 
Kamis 3 Juni 2010, di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh. Dan 
dimakamkan disamping kuburan kakeknya Chik di Tiro Muhammad Saman di Desa 
Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Sebagaimana ditulis dalam buku 
hariannya, dia benar-benar meninggal dengan
 “kesendirian.” Anak yang tampan dan istri yang cantik tidak menemaninya saat 
detik-detik terakhir kewafatannya. Inilah simbol perjuangan Hasan di Tiro 
“mulai dengan kesendirian” dan “mengakhiri dengan kesendirian pula.”

Kisah hidup Hasan di Tiro memang perih. Membina anak muda Aceh di Libya pada 
tahun 1980-an lalu kembali lagi ke menetap di Swedia seorang diri sambil 
memonitor perjuangan GAM di Aceh. Pejuang Aceh memang jarang seperti Hasan di 
Tiro yaitu mengontrol perjuangan dari bilik kamar. Namun, spirit ideologi yang 
ditanamkan pada anak didiknya cukup berhasil. Selama 30 tahun, Indonesia 
dipaksa untuk berpikir bagaimana menghilangkan ideologi Hasan di Tiro. Operasi 
demi operasi dijalankan. Namun spirit itu menyebar seperti sel. Di akhir 
perjuangannya, walaupun masih misteri, Hasan di Tiro menyetujui damai. Lalu, 
setelah beberapa tahun damai, dia pulang pulang kampung, seperti yang 
dijanjikan dalam buku catatan hariannya. Hanya orang gila dan dungu yang tidak 
percaya aku akan kembali. Setelah 40 hari menghadap sang Khalik, apakah 
semangat hidupnya yang rela mengorbankan kenikmatan dunia demi Aceh masih ada 
yang melanjutkannya. Atau yang ada sekarang elit-elit Aceh
 lagi  mengumpulkan Jeep Rubicon buatan Amerika. Kita tentu saja sudah 
menyaksikan hilir mudik Rubicon atau double cabin pada era damai di Tanoh 
Endatu ini. Padahal Wali hidupnya sangat sederhana. Wali masih memakai mesin 
ketik yang dibeli oleh Usman Lampoh Awe pada tahun 1977 di belantara Pidie 
hingga tahun 1990-an dipakai di apartemen Alby Stockholm. Artinya, Wali melihat 
fungsi dari mesin ketik yang hasil ketikan itu sudah berada dalam jemari 
lembaga HAM atau bahkan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa.

Tentu saja, Hasan Tiro telah meninggalkan sekian kebajikan dan kebijaksanaan 
bagi generasi selanjutnya. Hanya saja, kita tidak bisa mengukurnya sekarang. 
Kepahitan dan keterasingannya saat damai dengan tetap tidak suka pada “Rubicon” 
telah menunjukkan siapa sebenarnya Hasan di Tiro. Dia tetap sebagai cucu 
pejuang dan masih punya mimpi untuk melihat Aceh seperti yang diinginkannya. 
Menurut saya, salah satu kelebihan Hasan di Tiro dia tahu kapan harus memulai 
perang dan menghentikan perang. Ini sebuah falsafah perang Aceh yang diilhami 
oleh ketidakinginan untuk menumpuk harta.

* M. Adli Abdullah adalah anggota tetap International Collective for Support of 
Fishworkes (ICSF), Brussell, Belgia. Dosen Fakultas Hukum Unsyiah. 


Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong 
peurintah bak djawa ! 
http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og





 
Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak 
didjadjah lé djawa !
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 

 Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related
 
Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 

Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related

DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1) 
http://www.youtube.com/watch?v=2p-hnVyXO1A
 
http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang 
dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari 
menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan 
melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa 
kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."



      

Kirim email ke