Drop dan ba u Mahkamah International !
Wiranto Cs
Drop dan ba u Mahkamah International !
SBY Cs
--- On Mon, 8/9/10, Guenoeng Geureudoeng <[email protected]> wrote:
From: Guenoeng Geureudoeng <[email protected]>
Subject: «PPDi» Re: «PPDi» Jaringan Teroris Kelompok Jawa Barat Dibekuk
To: [email protected]
Date: Monday, August 9, 2010, 1:43 PM
Teroris ciptaan sendiri seperti di Aceh.
--- On Mon, 8/9/10, sunny <am...@tele2. se> wrote:
From: sunny <am...@tele2. se>
Subject: «PPDi» Jaringan Teroris Kelompok Jawa Barat Dibekuk
To: Undisclosed- Recipient@ yahoo.com
Received: Monday, August 9, 2010, 5:41 AM
Reflekis : Apakah para teroris bukan anak asuhan sendiri?
http://www.jawapos. com/halaman/ index.php? act=detail&nid=149329
[ Minggu, 08 Agustus 2010 ]
Jaringan Teroris Kelompok Jawa Barat Dibekuk
Berencana Serang Konvoi Presiden dengan Bom Mobil
BANDUNG - Jaringan teroris di Indonesia tak pernah habis. Kemarin (7/8) regu
penindak dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri kembali menangkap lima
orang yang diduga sebagai teroris kelompok Jawa Barat. Mereka telah menyiapkan
skenario untuk menyerang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Lima orang yang diamankan tadi malam itu ditangkap di beberapa tempat. Yakni,
di Cibiru, Bandung (dua orang), Subang (satu orang), Padalarang (satu orang),
dan Cileunyi (satu orang). Mereka masih diinterogasi secara serius di sebuah
tempat di Bandung, Jawa Barat. ''Baru besok (hari ini) kami bawa ke Kelapa Dua
(Mako Brimob),'' ujar seorang petugas lapangan di lingkungan antiteror saat
dihubungi koran ini tadi malam.
Dua di antara lima orang yang ditangkap di Cibiru itu sudah bisa dipastikan
sebagai anggota kelompok teroris. Mereka adalah Fahri alias Tejo dan Hilmi
alias Hamzah.
''Mereka regu penyerang jaringan Sonata (Abdullah Sonata, gembong teroris yang
sudah ditangkap 24 Juni lalu di Boyolali),'' katanya.
Penangkapan lima orang itu merupakan pengembangan interogasi terhadap Abdullah
Sonata dan Heri Samboja yang tertangkap di Boyolali dan Klaten pada 24 Juni
2010. ''Ini sekelompok dengan Yuli Harsono juga,'' katanya.
Yuli adalah terduga teroris yang tewas dalam penggerebekan di Klaten. Yuli
adalah pecatan anggota TNI-AD yang disangka membunuh terhadap polisi di
Purworejo, Jawa Tengah.
Fahri dan Hilmi merencanakan serangan terhadap presiden dengan menggunakan
rangkaian bom mobil. Polisi sementara menduga plot itu dirancang Heri Samboja
yang memang pernah dipenjara karena terlibat dalam peledakan bom di Kedutaan
Besar Australia pada 2004. Heri adalah anak asuh mendiang Dr Azhari dalam
bidang perangkaian bom.
''Kami menduga ini rencana susulan setelah rencana serangan 1 Juli dan serangan
Kedubes Denmark kami gagalkan,'' kata alumnus Akpol 1992 itu.
Kelompok Sonata memang pernah merencanakan pengeboman saat peringatan ulang
tahun Polri 1 Juli lalu. Serangan dengan sandi kado untuk anak kucing itu batal
karena Sonata tertangkap.
Setelah diinterogasi, Sonata juga mengaku akan menyerang Kedubes Denmark
sebagai balasan atas insiden pembuatan kartun Nabi Muhammad. Plot itu juga
berhasil terungkap.
Secara terpisah, Kepala Densus 88 Mabes Polri Brigjen Tito Karnavian belum
bersedia menjelaskan penangkapan tersebut secara detail. ''Belum bisa
sekarang,'' katanya saat dihubungi, lantas buru-buru menutup telepon genggamnya.
Penangkapan jaringan teroris itu diapresiasi langsung oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Presiden menyatakan mendapat laporan dari tim pengamanan
bahwa ada ancaman teroris di Ciwedey, Bandung. Laporan itu disampaikan pada
Jumat malam (7/8).
''Saya dapat laporan dari jajaran pengamanan, ada anak bangsa yang punya niat
tidak baik di sekitar Ciwedey,'' kata presiden dalam sambutan kunjungan di
Secata Rindam III/Siliwangi, Pangalengan, Sabtu (7/8) dua jam setelah
penangkapan teroris di Cibiru.
Sebelumnya, presiden menginap di Hotel Mason Pine dalam kunjungan kerja
peninjauan pelatihan atlet di Kopassus pada Jumat. Esoknya, presiden meninjau
Sekolah Dasar Cinta Kasih dan Secata Rindam III/Siliwangi.
Presiden meminta Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan aparat keamanan
menjalankan tugas secara profesional. Menurut presiden, kelompok teroris tidak
akan pernah menang di Indonesia. ''Justru akan mengorbankan anak bangsa.
Pengamanan jalankan tugas secara profesional, '' katanya.
Presiden memastikan tidak akan terganggu adanya ancaman seperti itu. ''Saya
akan tetap menjalankan tugas,'' ujarnya.
Tanpa Baku Tembak
Dua di antara lima tersangka teroris dibekuk Densus 88 di sebuah rumah
kontrakan di Kampung Sukaluyu, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kota
Bandung. Mereka adalah Fahri alias Tejo dan Hilmi alias Hamzah. Penggerebekan
tersebut berlangsung cepat. Selain itu, tidak sampai terjadi baku tembak.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Sutarman kepada wartawan di lokasi mengatakan,
total Densus 88 menangkap lima orang. "Saya tak bisa menyampaikan daftar
namanya untuk sementara karena masih diperiksa," ujarnya.
Kapolda juga membenarkan bahwa dalam rumah yang digerebek itu ada bahan peledak
aktif. "Petugas jihandak (penjinak bahan peledak, Red) kini berusaha
menjinakkan itu (peledak, Red). Kalau tidak bisa diatasi, mungkin dilakukan
disposal (peledakan, Red) di tempat," katanya.
Kapolda hanya menyebut inisal dua tersangka yang ditangkap, yakni T (Tejo) dan
H (Hilmi). Ketika ditanya wartawan soal jaringan asal tersangka, Kapolda
menyebut jaringan teroris yang selama ini beroperasi di Indonesia. "Penerus Dr
Azhari dan Noordin M. Top," ucap dia.
Salah seorang saksi mata, Kustianti Haryani, 41, menceritakan, rumah yang
digerebek itu dikontrak pria yang mengaku bernama Hilmi. "Rumah tersebut punya
kakak saya, Tri Susilo Wati (42). Pada awal 2010, Hilmi datang bersama seorang
perempuan untuk menanyakan kontrakan. Setelah disepakati harga kontrak Rp 3
juta setahun, Hilmi langsung membawa barang-barangnya dengan mobil," ungkap
dia.
Dia menuturkan, Hilmi telah tinggal enam bulan di sana. "Ngakunya bujang. Dia
bilang bahwa rumah itu mau dijadikan pabrik. Dia nunjukin bahan-bahan untuk
gantungan kunci. Ada bahan kimia cair di drum dan tepung seperti terigu,
semuanya disimpan di gudang," tambah dia.
Namun, Kustianti merasa ada sedikit kejanggalan saat itu. Sebab, rumah
kontrakan Hilmi selalu tertutup rapat. "Kaca ditutup dengan koran dan nggak
pernah terdengar suara ribut-ribut. Padahal, kan dia bilang bahwa rumah
tersebut dijadikan pabrik," ungkapnya.
Iis Komariah, 29, menyatakan, sehari-hari Hilmi termasuk ramah. "Orangnya
tampak alim, pakai kacamata, dan suka menyapa. Tapi, kalau ngomong, nggak
panjang lebar," ujar Iis, yang rumahnya bersebelahan dengan rumah tersangka.
Bambang, tetangga lain, menambahkan, Fahri dan Hilmi tampak seperti orang
baik-baik. "Mereka bicara seperlunya. Fahri izin ke Palembang dua minggu, baru
kemarin pagi pulang," tambahnya.
Bambang juga merasa sedikit aneh atas sikap para tersangka. "Di rumahnya, nggak
ada lemari, nggak ada kasur. Yang ada cuma bahan-bahan untuk bikin gantungan
kunci, karung dengan isi seperti tepung, jeriken, dan drum yang katanya berisi
bahan cair. Paling-paling ada piring, gelas, dan sendok seadanya," jelasnya. (rd