Sat, Aug 14th 2010, 14:07
Soal RPP Sabang
Presiden SBY Harus Tegur Menkeu 
Utama 
JAKARTA - Ketua Forum Bersama (Forbes) DPR/DPD RI asal Aceh, M Nasir Djamil dan 
Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Farhan Hamid menyesalkan sikap Menteri Keuangan yang 
mementahkan atau menganulir butir-butir kesepakatan yang sudah dicapai dalam  
pembahasan finalisasi Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pelimpahan 
Kewenangan kepada Dewan Kawasan Sabang. Akibatnya, pembahasan RPP Sabang harus 
dilakukan dari awal lagi. “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bertanggung 
jawab dan menegur keras Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang dinilai tidak 
memperlihatkan sikap simpati dalam proses finalisasi RPP Sabang. Ada kesan 
menteri yang baru itu sama sekali tak memahami kedudukan UU Pemerintahan Aceh,” 
tukas Nasir Djamil menjawab Serambi di Jakarta, Jumat (13/8).

Pandangan serupa diutarakan Ahmad Farhan Hamid yang sedang berada di Maroko. 
“Terus terang kita benar-benar dikagetkan oleh sikap Menteri Keuangan yang 
baru. Persoalan ini sangat serius,” ujar Farhan Hamid yang juga anggota DPD RI 
asal Aceh. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), M Nasir Djamil mengatakan, 
sebagai pembantu Presiden, Menteri Keuangan (Menkeu) seharusnya menyampaikan 
hal-hal yang belum disepakati antara Pemerintah Aceh dan pusat kepada Presiden 
RI. Bukan malah langsung mengeksekusi dengan menutup rapat negosiasi. 

Nasir mengusulkan dan menyerukan kepada rakyat Aceh agar mendesak Presiden SBY 
menyelamatkan UUPA dari rongrongan para menteri yang masih terkesan menampakan 
egosektoral. UUPA itu harus dipahami oleh para pembantu Presiden sebagai lex 
spesialis atau hukum yang berlaku khusus. “Kacau pemerintahan sekarang. Para 
menterinya masih memiliki paradigma lama. Seharusnya membangun daerah itu ya 
dari perspektif daerah, bukan dari perspektif pusat. Kalau begini terus 
Indonesia bisa bubar,” tukas Nasir Djamil dalam nada tinggi. Ia berjanji Forbes 
akan segera merespons tanggapan dan sikap Menkeu yang mengakibatkan tertundanya 
kelahiran PP Sabang. “PP Sabang adalah urat nadi perekonomian Aceh. Karena itu 
harus didesak penerbitannya. Ini juga sudah terlambat tiga setengah tahun,” 
kata Nasir.

Rencananya, Tim Pemantau Otonomi Khusus Aceh dan Papua akan mengundang Menko 
Perekonomian, Menko Kesra, dan sejumlah menteri terkait guna mendengarkan 
kelanjutan sejumlah RPP dan Perpres yang belum selesai. “Kami mengagendakan 
pertemuan akhir Agustus atau awal September 2010. Secara resmi kami juga akan 
menanyakan khusus RPP Sabang,” ujar Nasir yang juga Wakil Ketua Tim Pemantau 
Implementasi Otsus Aceh dan Papua. Farhan Hamid mengatakan rakyat Aceh sudah 
pasti kecewa terhadap kebijakan Menkeu pengganti Sri Mulyani yang dinilai telah 
berusaha mementahkan kembali pembahasan RPP tentang Sabang. “Sebelumnya kita 
diberi tahu bahwa pembahasan sudah final dan sudah dilakukan harmonisasi oleh 
Kementerian Hukum dam HAM. Sebetulnya RPP itu tinggal diteken Presiden saja. 
Kita betul-betul kaget mendengar perkembangan terakhir,” sebut Farhan Hamid.

Secara terpisah, mantan anggota DPRA, Mukhlis Mukhtar SH pesimis pemerintah 
pusat akan menerbitkan PP tentang Sabang dan PP Migas. “Yakinlah 
Saudara-saudaraku di Aceh, RPP Sabang dan Migas akan lahir bila RI bubar,” 
tukas Mukhlis bernada ketus. Watak seperti itu, kata Mukhlis, sudah dirasakan 
sejak pembahasan Otonomi Khusus Aceh dulu. “Saya ikut beberapa pansus. Kesan 
yang saya peroleh ya seperti itu, terutama menyangkut Sabang dan pengelolaan 
Migas,” ulang Mukhlis Mukhtar lagi. (fik) 
_____________________________
 
Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong 
peurintah bak djawa ! 
http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og





 
Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak 
didjadjah lé djawa !http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 
 Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 
Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 
MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related
DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1) 
http://www.youtube.com/watch?v=2p-hnVyXO1A
 
http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang 
dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari 
menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan 
melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa 
kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."
_______________
 
Press Release 

To News Editors
July 21, 1999

For Immediate Release 
 
ACEH REBEL LEADER CALLS INDONESIAN RULE ABSURD 
 
In a rare interview from his exile in Sweden, the leader of the movement 
fighting for independence in Indonesia's northernmost province of Aceh, Hasan 
di Tiro, says Indonesia has no right to govern Aceh. The exclusive interview 
with the FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW appears in its July 29 issue, published 
Thursday, July 22. 
 
The uncompromising di Tiro calls Indonesia another name for the Dutch East 
Indies with new rulers, Javanese instead of Dutch. Di Tiro, who declared Aceh's 
independence in 1976 but fled to Sweden three years later, dismisses 
Indonesia's new autonomy legislation as irrelevant. The notion of Indonesia is 
absurd, he says. He also ridicules the Bahasa Indonesia language as "pidgin 
Malay" and calls the Javanese "barbaric and uncivilized." 
 
Di Tiro puts the overall strength of separatist forces operating in Aceh at 
around 5,000. Asked what sort of message would he send to a new Indonesian 
government, perhaps one headed by Megawati Sukarnoputri whose party won the 
largest number of votes in June's parliamentary elections, Di Tiro says: "No 
message. They're all the same. Uneducated fools." 
 
The REVIEW obtained the interview amid mounting concern that Aceh may be posing 
a serious challenge to Indonesian unity. The REVIEW reports Indonesian military 
concerns that outside support makes Aceh's rebels much more dangerous than the 
ragtag, poorly armed independence fighters of East Timor and Irian Jaya. 
 
Two battalions of troops--backed by 1,700 paramilitary police from 
Jakarta--have renewed operations in Aceh response to a wave of ambushes, 
assassinations and arson attacks in recent weeks. In one of the worst incidents 
so far, guerrillas killed five soldiers and wounded 20 in a July 19 ambush on a 
military convoy. More than 70,000 refugees have scattered across Aceh.

For further information, please contact:
Michael Vatikiotis
Far Eastern Economic Review
Tel 852 2508 4420
Fax 852 2503 1530 





      

Kirim email ke