Mungkin kita harus balik kalimatnya: Indonesia lebih keji dibandingkan Malaysia. Tergantung kacamata mana yang kita pegang sebagai platformnya. Hemat saya kalau kita mau berbicara secara objektif pastilah kita dituntut untuk melihat segala persoalan dari "kacamata" Allah swt, kalau tidak kita mustahil menemukan kesimpulan yang benar antar Indonesia dan Malaysia......
Contoh yang gamblang dipahami ketika kita melihat 2 bejana dimana yang satu airnya sudah berulang kali terkontaminasi dengan lidah anjing sementara yang lainnya baru satu kali, kesimpulannya kedua bejana itu tidak terdapat substansi yang baik buat kita yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.......... Dengan demikian kita tidak terkuras tenaga hanya untuk membela yang bathil sementara tujuan hidup kita yang benar baik secara individu maupun secara komunitas tak pernah tersentuh dalam diskusi kita....... ________________________________ From: malem dewa <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sun, August 29, 2010 5:10:24 AM Subject: Re: |IACSF| Aneh...Jadi CUAK Malaysia kok Bangga... Apapun yang tertulis di milis ini tentang Malaysia, harus kita akui Malaysia lebih hebat dari indonesia, Apa yang bisa di andalkan oleh indonesia, koropsi,pembunuhan,pengeniaan,penembakan,penguasaan dan lain sebagainya. Indonesia ngak pernah punya bahasa yang ada bahasa melayu,Indonesia ngak pernah ada bangsa yang ada etnis bermacam etnis,Indonesia ngak pernah ada budaya yang ada hanya BHINEKA TUNGGAL IKA,Indonesia ngak pernah ada kekayaan selain mencuri dari hasil bangsa2 lain yang ada dalam jajahan nya etnis djawa yang di namakan indonesia. Seberapa banyak kekayaan malaysia yang di curi oleh pendatang haram dari Hindia belanda, berapa banyak orang ilegal yang bekrja di malaysia, berapa devisa negara hindia belanda masuk dari malaysia setiap tahun, adakah bangsa malaysia yang datang ke indonesiapura-pura untuk bekerja ilegal ???????????????????? --- On Sun, 29/8/10, MUSTAFA BAMBI <[email protected]> wrote: >From: MUSTAFA BAMBI <[email protected]> >Subject: Re: |IACSF| Aneh...Jadi CUAK Malaysia kok Bangga... >To: [email protected] >Received: Sunday, 29 August, 2010, 6:21 AM > > > >aku rasa persoalan pertikaian Mlaysia dgn Indonesia mula nya >di tabuh oleh president Soekarno dgn Ganyang Malaysia nya,,. >itu menjadi demdam semua org2 melayu malaysia terhadap >Indonesia dan rakyatnya sekalian,.,dan benih itu sudah berkembang >hingga sekarang dan mungkin kedepan ,,,aku rasa kalo masyarakat indonesia >tidak melakukan klarivikasi atas sikap Agresif Soekarno ,sampai kapanpun >kita akan menjadi masyarakat yg bego ,karna kita turut serta dalam membagun >sikap permusuhan antara sesama bangsa yg serumpun,,apalagi kita mayoritas >satu aliran agama yaitu Islam ,,,,dan Org lain akn tepuk tangan dan tertawa >terbahak2 >melihat tingkah polah sikap kedua belah pihak penguasa baik Indonesia maupun >Malaysia yg mengandalkan nafsu syahwat nya,,..sementara rakyat banting tulang >kerja sampai tulang patah2 tetap saja hidup nya melarat,,mereka penguasa negri >ini >tak sanggup mengurus nya,,, lagi coba mengobarkan berperang dgn tetangga >tanpa >landasan yg kuat,,.,,benar2 bego negri ini ,,,org mau hidup dgn normal kita >malah >mau hidup dgn berantam kayak anak2 ABG ja kerja nya Penguasa negri ini,. > > >--- Den lør 28/8/10 skrev FAISAL ZAKARIA <[email protected]>: > > >>Fra: FAISAL ZAKARIA <[email protected]> >>Emne: Re: |IACSF| Aneh...Jadi CUAK Malaysia kok Bangga... >>Til: [email protected] >>Dato: lørdag 28. august 2010 21.33 >> >> >> >>Like This..!! Heee.... >> >> >> >> ________________________________ From: Win <[email protected]> >>To: [email protected] >>Sent: Sun, August 29, 2010 2:25:08 AM >>Subject: |IACSF| Aneh...Jadi CUAK Malaysia kok Bangga... >> >> >>Aceh negeri saya, sempat punya pengalaman sangat buruk dengan Jakarta. Samapi >>hari ini, luka yang ditorehkan oleh Jakarta terhadap negeri kami belum >>benar-benar sembuh. Karena itulah, sampai hari ini tidak sedikit orang di >>negeri >>saya yang tidak suka bahkan masih benci Indonesia. >> >>Mengingat apa yang dilakukan Jakarta terhadap negeri saya Aceh di masa lalu, >>terus terang saya sendiri sempat berusaha merasa senang melihat orang >>Indonesia >>dihina dan dinista di Malaysia. Tapi terus terang juga, sekuat apapun saya >>berusaha, saya tetap nggak pernah berhasil merasa bahagia. >> >> >>Karena mayoritas orang yang melakukan penistaan terhadap negeri kami itu >>adalah >>JAWA, banyak orang di negeri saya yang tidak menyukai orang Jawa, bahkan saya >>sendiri sempat merasa kalau saya adalah seorang pembenci JAWA. >> >>Tapi anehnya, waktu orang Jawa diperlakukan oleh Malaysia seperti kami >>diperlakukan oleh suku JAWA dulu, terus terang saya tidak bisa tidak, jadi >>terpancing emosi juga. Emosi yang saya rasakan saat melihat penistaan yang >>dilakukan oleh Malaysia itu, sama seperti emosi yang saya rasakan saat kami >>diperlakukan dengan semena-mena dulu. >> >> >>Akibat dari sikap yang saya tunjukkan ini, tidak sedikit teman-teman yang >>pernah >>mengenal saya di masa lalu dan tahu persis seperti apa sikap saya pada masa >>itu >>lalu menyindir sikap yang saya tunjukkan terhadap malaysia ini dengan >>mengatakan, "oh ternyata bisa juga nasionalisme si Win terusik" >> >>Belakangan saya baru sadar kalau ternyata, dulu itu yang sangat saya benci >>itu >>adalah PENINDASAN dan DOMINASI Jawa terhadap suku-suku lain di negeri ini, >>bukan >>JAWA-nya sendiri. >> >> >>Karena ternyata yang saya benci itu adalah PENINDASAN dan DOMINASI itulah, >>makanya ketika melihat Malaysia begitu petentengan, dengan pongahnya >>merendahkan >>manusia-manusia yang berasal dari negeri ini saya jadi emosi. >> >> >>Belakangan baru saya sadar kalau emosi yang saya muncul dalam diri saya itu >>sama sekali bukan karena terusiknya rasa nasionalisme saya, tapi emosi itu >>muncul akibat dari terusiknya NALURI SAYA SEBAGAI MANUSIA. >> >>Tapi karena luka yang ditorehkan oleh Indonesia di Aceh teramat sangat dalam, >>tidak sedikit orang di Aceh yang merasa senang dengan penistaan yang >>dilakukan >>oleh Malaysia terhadap Indonesia pada hari ini. >> >>Salah seorang diantaranya adalah seorang teman yang saya kenal cukup baik, >>yang >>sekarang bekerja sebagai salah satu pimpinan lembaga ilmiah non universitas. >>Dalam komentarnya di sebuah photo yang saya pajang di facebook, teman ini >>mengatakan kalau dia lebih bangga menjadi CUAK Malaysia daripada Warga Negara >>Indonesia, (CUAK adalah Istilah dalam bahasa Aceh di masa konflik dulu untuk >>menyebut mata-mata atau kaki tangan militer) >> >>Dalam komentar yang sama, si teman ini menanyakan apa yang bisa dibanggakan >>dari >>Indonesia ini. >> >> >>Untuk pertanyaan ini, meskipun terus terang saya masih sakit hati mengingat >>perlakuan Indonesia terhadap negeri kami dulu, tapi jujur saya katakan, kalau >>dibandingkan dengan Malaysia ada banyak sekali hal yang bisa dibanggakan oleh >>Indonesia. >> >>Contohnya yang paling jelas adalah soal BAHASA misalnya, tidak ada satupun >>kurikulum mancanegara yang memasukkan mata pelajaran bahasa Malaysia kedalam >>kuliahnya, satu-satunya turunan dari bahasa melayu yang dijadikan kurikulum >>pendidikan bahasa asing adalah BAHASA INDONESIA. bahasa ini diajarkan di >>Universitas-universitas di Australia, Belanda, Rusia, China, Jepang, Eropa, >>sampai USA. Hal ini disebabkan karena bahasa Indonesia merupakan salah satu >>bahasa yang berpotensi semakin besar pemakaiannya di dunia (UNESCO), untuk >>saat >>ini aja pengguna bahasa Indonesia udah lebih banyak ketimbang pengguna bahasa >>Perancis di seluruh dunia . >> >>Yang lain adalah keunggulan budaya. Dalam hal ini jelas sekali kalau >>keunggulan >>budaya Indonesia jauh atas Malaysia, baik itu budaya klasik maupun >>kontemporer. >>Contoh terdekat sekarang Lagu-lagu Indonesia banyak membanjiri Malaysia, >>bahkan >>menjadi top chart di negara mereka. Belum lagi hasil-hasil budaya lainnya >>seperti film, kerajinan, pencak silat, kebudayaan tradisional, dan lain-lain. >> >> >>Soal Petronas Tower yang mereka banggakan itu, Arsitektur misalnya, sudah >>menjadi pengetahuan umum kalau menara kembar Petronas mencontek dari desain >>Candi Prambanan di Indonesia. Fenomena ini diakui oleh budayawan serta banyak >>artis Malaysia sendiri, salah satunya adalah Amy yang begitu gundah atas >>membanjirnya produk budaya dari Indonesia ke Malaysia. Terus siapa yang jadi >>kontraktornya KOREA, siapa yang menenejnya?..Australia. bandingkan dengan >>Menara >>BNI di Jakarta, gedung tertinggi di Indonesia yang memiliki desain yang >>benar-benar orisinal itu, itu didesain oleh seorang tamatan STM asal Bukit >>Tinggi Sumatera Barat, orang yang sama sekaligus menjadi kontraktor yang >>mengerjakannya. >> >>Terus yang paling esensial, soal kebebasan berekspresi dan berbicara. >> >>Di sini, sekarang kita bisa ngomong apapun tentang negara dan segala >>kebobrokannya tanpa perlu takut akan ditangkap polisi (seperti Lukman >>sendiri, >>bisa santai ngomong lebih bangga jadi CUAK Malaysia ketimbang pendukung >>Indonesia). Sementara di Malaysia?...Perbincangan secara terbuka mengenai >>kuasa >>pimpinan tidak dibenarkan kerana membahayakan keselamatan negara dan boleh >>ditahan dengan menggunakan ISA atau Akta Hasutan. Di Malaysia, semua >>komunikasi >>dalam negara , semua pengguna alatan komunikasi dan website diharuskan >>mendaftar >>agar memudahkan pemantauan dan pengawsan. Malah PDRM memang memantau semua >>hubungan telefon dalam negeri yang katanya dilakukan untuk tujuan >>keselamatan. >>Persis seperti di zaman Soeharto dulu, dan sekarang masih berlaku di semua >>negara Komunis manapun di dunia, mulai dari Cina, Korea Utara sampai Kuba. >> >>Di sini, banyak pemimpin brengsek, bahkan presiden yang terpilih pun >>Presiden >>yang lebih mengutamakan Citra ketimbang karya, tapi itu hasil pilihan rakyat >>sendiri. Karena sekarang mayoritas rakyat masih belum cerdas maka pemimpin >>yang >>dipilih pun jadi seperti itu, tapi kalau satu saat nanti rakyat jadi lebih >>cerdas (dan ini sangat mungkin karena akses informasi terbuka luas), pemimpin >>yang lebih baik pasti didapat. Sementara di Malaysia, semua keputusan yang >>dibuat oleh pimpinan negara walaupun prakteknya adalah Musyawarah, tapi itu >>musyawarah ala DPR/MPR masa Orde Baru dulu. Sudah begitu hasil dari >>'Musyawarah' >>itu juga tidak boleh dipertanyakan. Di Malaysia, siapa saja yang >>mempersoalkan >>hasil 'Musyawarah' ini dapat diklasifikasikan sebagai orang yang membahayakan >>keselamatan negara dan dapat ditahan dengan menggunakan ISA atau Akta Hasutan. >> >>Contoh terbaru adalah Nurul Izzah (anaknya Anwar Ibrahim ) yang gara-gara >>berkomentar soal korupsi pengadaan kapal selam Scorpene yang merupakan >>kebanggaan Malaysia, dilaporkan oleh angkatan Laut Malaysia karena dituduh >>membocorkan rahasia negara. >> >>Situasi seperti ini membuat perdebatan ilmiah di Malaysia itu berlangsung >>tidak >>leluasa, sehingga di kelas orang terdidik A.K.A yang sudah mencicipi bangku >>kuliah, orang sini ya jelas lebih hebat ketimbang orang Malaysia. >> >>Soalnya gara-gara akses informasi dari media informasi (surat kabar, televisi >>dan lain-lain) terbatas, membuat rakyat Malaysia itu hidup seperti katak >>dalam >>tempurung. Akibatnya, mereka merasa pintar padahal sesunggunya hidup dalam >>kemalasan dan kebodohan yang teramat sangat. Ditambah lagi semua pelajar dan >>mahasiswa diarahkan untuk tidak terlibat dengan dalam pergerakan politik >>melalui >>Akta AUKU, sudahlah makin hancur-hancuran dunia intelktual di Malaysia itu. >> >>Makanya kalau kita mencoba berdiskusi dengan orang Malaysia, diskusi yang >>terjadi seringkali berlangsung NGACO. Untuk membuktikannya, silahkan anda >>coba >>memasuki forum-forum diskusi mereka, maka di sana anda akan melihat sendiri >>kalau mereka sama sekali tidak pernah bisa berdiskusi fokus ke tema. Kita >>diskusi isu perang mereka mengalihkan pembicaraan ke isu bencana gempa. Saat >>kita diskusi soal arogansi Malaysia, mereka mengalihkan diskusi ke soal dosa >>dan >>"mahluk lain" yang letaknya dalam imajinasi. Kalau sudah tidak mampu bertahan >>menghadapi argumen kita, mereka akan beramai-ramai minta kita di banned. >> >>Perilaku KAMPUNGAN seperti itu bukan cuma ditunjukkan untuk kaum intelektual >>kelas kambing, bahkan untuk intelektual sekelas DOKTOR pun kelakuan KAMPUNGAN >>seperti ini masih dipelihara, contoh adalah bagaimana ketika seorang Dr. >>Kamarulzaman Askandar, seorang Doktor dari USM yang karena merasa berjasa >>membentuk Aceh Institute lalu melarang memuat tulisan-tulisan saya yang >>mengkritisi Malaysia di milis AI. >> >>Faktor-faktor seperti di atas tersebutlah yang menyebabkan kenapa sampai >>sekarang di Malaysia itu tidak pernah mucul tokoh-tokoh besar yang berasal >>dari >>komunitas non pemerintahan, sebab mereka memang tak mampu untuk berfikir >>lebih >>maju. Bandingkan dengan banyaknya tokoh besar yang berasal dari luar sistem >>yang >>bertebaran di sini. >> >>Karena itulah meskipun saya tidak bisa mengatakan bahagia dengan fakta bahwa >>saya adalah Warga Negara Indonesia, tapi kalau saya diharuskan untuk memilih >>untuk menjadi Warga Negara Malaysia atau menjadi Warga Negara Indonesia, maka >>berjuta kali saya lebih memilih untuk menjadi WNI. Kalau saya disuruh memilih >>untuk membesarkan anak di sini atau di Malaysia, maka berjuta kali saya lebih >>memilih untuk membesarkan anak di sini. >> >>Soal ekonomi... >> >>Melayu Malaysia memang maju secara ekonomi, tapi itu didapat dengan cara >>mengebiri hak-hak kelompok suku lainnya melalui NEP-nya yang sangat tidak >>tahu >>malu itu. Dalam NEP, istilah melayu diperhalus jadi Bumi Putera, tapi >>kenyataannya Bumi Putera itu ya MELAYU, Bumiputera Non Melayu, di sana >>nasibnya >>ya nggak jauh beda dengan penghuni kolong jembatan di sini. >> >>Contohnya ini, hanya beberapa jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, ibu >>kota >>Malaysia yang megah, puluhan ribu warga suku asli Semenanjung Malaya yang >>dikenal sebagai orang Semai hidup terlunta-lunta dibelit kemiskinan. >> >>Selengkapnya baca : >>http://internasional.kompas.com/read/2010/07/24/11380334/Suku.Asli.Semenanjung.Malaya.Terlunta >> >> >>Untuk melihat bagaimana nasib suku-suku asli non Melayu di Malaysia, silahkan >>lihat situs-situs di Youtube ini : >>http://www.youtube.com/watch?v=XFlrxEx2KHo&feature=related >> >>Kemajuan ekonomi etnis Melayu di Malaysia itu didapat dengan cara MENCURI >>hak-hak suku minoritas di sana, itulah sebabnya kenapa nama Malaysia itu >>sangat >>cocok diganti dengan MALINGSIAL, karena kenyataannya mereka itu memang BANGSA >>MALING. >> >>Jadi karena memang dasarnya MALING, omong kosong kalau dikatakan pembangunan >>di >>Malaysia itu lebih merata untuk semua pribumi, kalau Melayu Malaysia itu >>membanggakan kemajuan ekonomi mereka, ya itu sebenarnya sama persis dengan >>MALING dan KORUPTOR yang sedang pamer kekayaan dengan noraknya. >> >>Kalau orang Malaysia membanggakan kemajuan negara mereka, itu sama saja >>dengan >>ketika orang kulit putih Afrika Selatan, Pra-Mandela yang membanggakan >>kemajuan >>negara Afrika Selatan yang menganut politik Apartheid itu. >> >> >>Kalau kita mau berpikir jernih dan menilai dengan adil, maka kita akan >>melihat >>dengan jelas kalau sebenarnya yang terjadi di negara MALINGSIAL itu tidak >>berbeda dengan yang terjadi di Indonesia sini di masa Soeharto dulu. >> >>Zaman itu, seperti di Malaysia sekarang, oleh penguasa di negeri ini yang >>dianak emaskan itu suku mayoritas yaitu JAWA. >> >>Dulu Aceh emosi dan mengajak Jakarta perang dikarenakan Indonesia menerapkan >>kebijakan yang JAWA sentris, persis seperti kebijakan RESMI pemerintah >>Malaysia >>yang MELAYU SENTRIS yang tetap berlangsung sampai hari ini. >> >>Tapi kenapa di sini meskipun pernah diistimewakan, JAWA yang mayoritas tidak >>bisa hidup senyaman Melayu di Malaysia?...Itu karena di sini kebijakan itu >>tidak >>secara resmi dituangkan ke dalam Undang-undang, sehingga yang bukan Jawa pun >>kadang bisa mencicipi keistimewaan itu. Beda dengan di Malaysia yang >>menuangkan >>diskriminasi itu secara resmi melalui NEP-nya. >> >> >>Faktor lain yang membuat tidak berhasilnya politik dominasi JAWA di sini >>adalah >>karena di sini suku-suku minoritas masih bisa bersuara. Minoritas di sini >>tidak >>selemah suku-suku minoritas di Malaysia. Di sini, jangankan Aceh yang memang >>pernah punya peradaban gilang gemilang di masa lalu, suku minoritas yang >>oleh >>banyak orang dianggap primitif seperti PAPUA pun masih cukup punya harga diri >>untuk berontak saat kepalanya terlalu keras diinjak. >> >>Sementara di Malaysia, suku-suku minoritasnya sama sekali tidak punya cukup >>nyali dan kekuatan untuk melawan dominasi Melayu-melayu kemaruk itu. >> >>Kemudian satu hal yang janggal mengenai pernyataan teman saya yang mengatakan >>lebih bangga jadi Cuak Malayasia itu adalah fakta bahwa Malaysia adalah >>negara >>yang memperbolehkan perubahan status tanah dan mengusir penduduk yang >>mendiami >>tanah tersebut tanpa perlu membayar ganti rugi apa-apa, sebab semua urusan >>ini >>sudah tertulis jelas dalam Kanun Tanah Negara 1966 yang diperbaharui pada >>1996. >> >>Nah soal ini janggal, sebab saya tahu persis, teman saya yang mengatakan ini >>adalah orang yang pernah merasakan dinginnya lantai penjara Kodim gara-gara >>membela tanah rakyat yang dirampas penguasa saat Soeharto lagi lucu-lucunya >>dulu, eh kok sekarang malah menyatakan bangga jadi CUAK MALAYSIA. >> >>Pernyataan yang diucapkan oleh teman saya itu terus terang membuat saya >>merasa >>aneh, karena bagi saya pernyataan seperti itu sama saja dengan teman ini >>meminta >>diktator seperti Soeharto kembali memimpin negeri ini, tanpa kompromi dan >>dengan >>satu tujuan yaitu memajukan satu etnis MAYORITAS saja yaitu JAWA... >> >>Wassalam >> >>Win Wan Nur >>Orang Aceh suku Gayo yang sampai hari ini masih berstatus WNI >> >> >> >
