catatan: ada tulisan Rizqon yg dimuat di harian
Republika hari ini. Congratulations, Kon. Keep
writing. Doakan semoga aku dan teman2 lain dapat
meniru langkahmu. 

Ada satu hal yg saya sedikit merasa aneh dg fenomena
tulis-menulis ini. Yakni, mengapa teman2 yg suka
menulis di media kok umumnya mahasiswa yg studi di New
Delhi? Seperti Rizqon dan Izam. Mengapa kok tidak
muncul dari Aligarh? Bukankah secara kuantitas
mahasiswa Aligarh paling banyak? mengapa hal ini
terjadi? Terlalu sibukkah mahasiswa Aligarh membaca
buku2 textbook, sehingga tak sempat lagi menulis?
Ataukah ada kegiatan2 "bermanfaat" lain yg begitu
menyita waktu, sehingga tak sempat lagi menulis?

Semoga ini menjadi bahan renungan.

salam hangat,
Mario

http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=160253&kat_id=16

Sabtu, 08 Mei 2004

Kiai Khos, Wali, dan Gus Dur 

Oleh : 


Rizqon Khamami
Mahasiswa Pascasarjana Jamia Millia Islamia (JMI) New
Delhi, India




"Kiai khos" merupakan istilah baru dalam tradisi
Islam, bahkan dalam tradisi Indonesia sekalipun. Hanya
tradisi tasawuf yang membahasnya. Kiai khos diduga
merupakan pelebaran istilah wali. Dunia wali memiliki
jenjang tersendiri. 

Dalam "Kasyful Mahjub", Syekh Hujwiri bercerita bahwa
wali memiliki hirarki tak terlihat. Wali tertinggi
dijuluki Qutub (poros). Sebagai tokoh sufi terkemuka
pada masanya, Wali Qutub memimpin pertemuan teratur
antar-wali. Pertemuan anggota-anggota wali tersebut
tidak terhalangi oleh kesulitan waktu dan tempat.
Mereka datang berkumpul dari seluruh penjuru dunia
dalam sekejap mata. Menyeberang samudera, gunung,
padang pasir, semudah kita melompat ke tepi jalan. 

Di bawah Wali Qutub berdiri bermacam tingkat wali yang
ditentukan oleh kesalehan masing-masing. Syekh Hujwiri
merincinya sebagai berikut: tiga ratus Wali Akhyar,
empat puluh Wali Abdal, tujuh Wali Abrar, empat Wali
Awtad, dan tiga orang Wali Nuqaba'. Terdapat empat
ribu wali, lanjut Hujwiri, yang tersembunyi, dan
wali-wali tersebut tidak saling kenal. Bahkan tidak
tahu bahwa dirinya adalah seorang wali, begitu pula
manusia lain.

Seorang wali, tulis R A Nicholson dalam "The Mystics
of Islam", disertai dengan petunjuk adanya karomah.
Dikatakan, karomah adalah anugerah Allah bagi para
waliyullah (jamak: auliya). Sedang ma'unah diberikan
kepada siapa saja orang mukmin yang
dikehendaki-Nya.Dalam penelitian Nicholson, tradisi
karomah dalam Islam kebanyakan berkenaan dengan
ramal-meramal dan pembacaan hati seseorang. Tidak
lebih. Dicontohkanlah karomah yang dimiliki oleh
beberapa wali, seperti Abu Sa'id ibn Abi al-Khoir dan
Ibnu al-Farid, untuk menyebut beberapa contoh saja.
Ahli keislaman dari Barat ini heran, tradisi karomah
dalam Islam, kenapa hanya sekitar itu-itu saja? Dan
kita layak bertanya, kenapa tidak, misalnya, mampu
membuat emas, lalu dibagikan kepada rakyat Indonesia
yang miskin? Dan membuat Indonesia seketika menjadi
negara makmur. Atau lebih luas lagi, mengembalikan
masa kejayaan Islam dalam sekedip mata seperti pada
abad-abad awal kebangkitan. Malahan, menurut kelompok
Islam modernis, justru ajaran sufi menyebabkan dunia
Islam mundur.

Dalam Al Hikam, Syekh Atha'illah menegaskan bahwa
tidak semua para wali, selama di dunia, dianugerahi
karomah. Bisa saja karomah ditangguhkan untuk kelak di
akhirat. Dan karomah, masih menurut Syekh Atha'illah,
bukan satu-satunya tanda kewalian. Melakukan ritual
sufi janganlah dimaksudkan demi kasyaf, karomah, dan
sebangsanya. Tujuan yang merusak niat, karenanya
marfudl, ditolak.

Tradisi sufi telah memunculkan banyak tokoh suci nan
ikhlas. Salah satu contoh adalah Rabi'ah al-Adawiyah.
Disebut-sebut, Rabi'ah adalah wali dari kalangan
wanita. Kendati begitu, wali wanita ini tidak menyebut
dirinya waliyullah. Dalam perenungannya Rabi'ah hanya
mengungkapkan tentang bagaimana seorang 'abid (hamba
Allah) masuk dalam kelompok khos atau tidak.
Menurutnya, ibadah seseorang yang masih dalam
tingkatan awam hanya diniatkan untuk mendapatkan
balasan surga dan neraka. Sedang pada tingkatan khos,
digerakkan semata-mata oleh hub (cinta). Karena itu,
lantaran kedalaman hati, khos atau tidaknya seseorang
sulit untuk diketahui. 

Meskipun NU pemelihara tradisi tasawuf, namun istilah
kiai khos di kalangan NU sendiri merupakan fenomena
baru. Kemunculan istilah ini, saya duga, baru muncul
satu dekade silam. Selama rentang delapan dekade usia
NU, istilah ini sama sekali tidak sepopuler dibanding
pada masa belakangan ini. Dan karenanya, lalu, PBNU
meminta masyarakat untuk tidak menggunakan istilah
kiai khos sejak tanggal 21 April 2004. Konon, karena
memecah belah dunia perkiaian. 

Bagaimana mitos "kiai khos" di NU muncul? Mitos ini
tidak lepas dari peran KH Abdurrahman Wahid. Muncul,
tepatnya, sejak pasca muktamar NU Krapyak. Diawali
sejak sepeninggal Mbah Ali Maksum, guru dan pengayom
Gus Dur. Menguat dengan wafatnya KH Ahmad Siddiq.
Dengan hilangnya dua tokoh sepuh ini Gus Dur nyaris
tanpa pembela. Posisi Gus Dur sangat rentan. 

Apalagi, langkah Gus Dur sudah sejak awal bermuatan
politis. Salah satunya, perlindungan Gus Dur atas
orang yang paling bertanggung jawab atas kasus Tanjung
Priok, Jenderal LB Moerdani. Dua orang ini
"blasak-blusuk" ke sejumlah pesantren besar NU. Pada
satu kesempatan, Mbah Liem (KH Muslim Imampuro),
Klaten mengalungkan sorban. Menurut sumber yang dekat
dengan penulis, pengalungan tersebut, konon, adalah
sebuah doa dan simbolik "kasyaf" beliau bahwa tidak
lama lagi Moerdani akan tercampak dari panggung
nasional. Dan terbukti. Sejak itu Mbah Liem
disebut-sebut sebagai kiai khos.

Langkah politik Gus Dur makin mantap ketika jajaran
kiai khos bertambah dengan masuknya sejumlah tokoh
sepuh, tiga Abdullah: Salam, Faqih, dan Abbas.
Momentum paling tepat untuk melukiskan peran "kiai
khos" ini adalah pada awal reformasi. Dengan
mengatas-namakan keputusan mereka, Gus Dur, disertai
satu langkah jitu, meraup dukungan warga NU tanpa
'reserve'. Pihak non-NU, demikian pula, tidak
ragu-ragu untuk mencalonkannya menjadi presiden.
Insting politik dan kecerdasan Gus Dur menghasilkan
buah. 

Saya tidak setuju dengan pendapat umum bahwa "Gus Dur
memanfaatkan para kiai untuk kepentingannya. Kini,
banyak kiai sudah mulai sadar "dikibuli", dan
pelan-pelan memberontak". Pembacaan ini, menurut saya,
tidak tepat. Karena seakan-akan menempatkan para kiai
sepuh sebagai pihak yang "dikerjain". Tapi, bagi saya,
keadaan yang ada justru sebaliknya. 

Dengan kenyataan beberapa kiai sepuh berhasil
dimunculkan oleh Gus Dur menjadi kiai khos, di situ
tampak kearifan para kiai dan sekaligus kepiawaian Gus
Dur. Antara Gus Dur dengan para kiai khos terjalin
'simbiosis mutualisme', saling menguntungkan. Meskipun
berangkat dari niat ikhlas semata-mata, namun bagi
para kiai sepuh pemberian gelar tersebut berdampak
cukup besar terhadap posisi sosial, politik, dan
bahkan ekonomis mereka. Antara Gus Dur dan kiai khos
saling membantu pribadi masing-masing untuk muncul
sebagai tokoh nasional yang disegani. Gus Dur dalam
lapangan politik, para kiai sepuh pada lahan
spiritual. 

Dalam bahasa Moeslim Abdurrahman, Gus Dur sangat
cerdas memainkan peran khadam bagi kiai-kiai
pesantren. Dan para kiai sendiri, saya amati, berharap
bahwa Gus Dur bisa menjembatani aspirasi mereka dalam
dunia politik. Antara Gus Dur dan para kiai saling
melengkapi. Tumbu ketemu tutupe, klop sudah. 

Yang sangat mencolok, semua tokoh yang disebut-sebut
sebagai kiai khos merupakan kiai sepuh PKB. Tidak satu
pun kita jumpai kiai sepuh dari pendukung PPP. Jadi,
kiai khos merupakan "kuda politik" Gus Dur. Campur
tangan PBNU dalam penghapusan istilah ini dari
panggung nasional tidak akan berpengaruh apa-apa
selama Gus Dur masih lincah bermain politik.
Pertanyaan yang layak diajukan: kenapa imbauan PBNU
ini baru dikeluarkan ketika menjelang pemilihan
presiden RI?


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs  
http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/careermakeover 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/igXolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
www.ppi-india.da.ru & arsip pilihan di www.arsip.zor.org
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni 
India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: 
www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Bahrum): 9810199471
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke