"Unity in Diversity" Wawancara dg Ketua PPI
MTA (Musyawarah Tahunan Anggota) PPI India yg diadakan
pada 14 Agustus 2004 telah mengukuhkan Sdr. Jusman
Masga sebagai ketua baru periode 2004-2005 dengan
suara mayoritas mutlak yang belum pernah terjadi
sebelumnya.
Bahwa Jusman akan terpilih sebagai ketua sudah
diprediksi sebelumnya oleh para "analis politik"
kawakan PPI seperti Rizqon Kham, Imam PKS, Ahmad
Qisai, Dodo, ngIzam dan lain-lain. Yg di luar dugaan
adalah terpilihnya Jusman dg suara hampir bulat (90%)
membuat kalangan analis politik PPI geleng-geleng
kepala. Apa yg menarik dari Pak Ketua baru ini? Apakah
kharismanya? Visinya? Atau low-profile-nya? Sense of
humornya yg tinggi? Untuk mengetahui hal ini lebih
lanjut saya mengadakan sejumlah wawancara dgnya yg
dilakukan dalam beberapa kesempatan. Kali ini
interview agak panjang karena menyangkut berbagai
kebijakan PPI periode Ketua yg baru. Berikut
petikannya:
MG (Mario Gagho): Selamat jadi ketua PPI bung Jusman!
JM (Jusman Masga): Terima kasih, Mario. Terima kasih,
Mario.
MG: Lho, kok ucapan terima kasihnya sampai dua kali?
JM: Sebenarnya cuma satu kali. Yg kedua itu gaungnya.
MG: Wah, Anda ini lucu juga yah. Baru kali ini ketua
PPI lucu.
JM: He he he, ya luculah. Sapa dulu Bu Ketu-nya.
MG: Lho, kok Bu Ketu? Emang ada?
JM: Ya adalah. Kalau tanpa adanya Bu Ketu mana mungkin
saya mau jadi ketua.
MG: Terus apa hubungannya lucu dg Bu Ketu?
JM: Ya berkat Bu Ketu, maka semangat humor saya
semakin meningkat (sambil mengebulkan asap rokok dan
goyang2 kaki."Jangan bilang2 Bu Ketu ya kalau saya
merokok, ntar dia marah besar," katanya yg langsung
saya iyakan).
MG: Terus kalau Anda suka melucu, apa Anda tidak
kuatir kehilangan wibawa di mata anak buah?
JM: (mulai serius) Tentu saja tidak. Anggapan semacam
itu sebenarnya paradigma lama. Teori kolonial,
feodalisme dan mental anak jajahan yg kemudian terus
dipelihara oleh rezim Suharto. Karena itu pada era
ORBA semua pejabat ikut-ikutan bersikap serem dan
serius. Beruntunglah pejabat-mental-kuli ala ORBA itu
sekarang sudah tidak ada lagi. Penyakit jaga wibawa
dan mental kuli itu juga terbawa ke kalangan
dosen-dosen. Tidak sedikit kalangan dosen yg sok
wibawa, jual mahal, tidak caring dan sulit ditemui
mahasiswanya.
MG: Menurut Anda apa penyebab sikap seperti itu?
JM: Secara sosio-psikologis, sikap seperti itu timbul
dari asumsi yg salah.
MG: Maksud Anda?
JM: Ya mereka mengira dg bersikap serius di depan
"bawahan" akan membuat mereka berwibawa dan ditakuti.
MG: Tapi itu kan betul?
JM: Memang. Tapi wibawa yg ditimbulkan dari sikap
angker itu sebenarnya wibawa naif dan artifisial.
Bawahan segan, tapi tidak respek. Idealnya, kita
mendapat respek sekaligus disenangi bawahan sehingga
mereka akan bekerja secara lebih efektif. Ini konsep
manajemen modern.
MG: Bisa Anda kasih contoh pemimpin yg ideal?
JM: Tentu. Contohnya banyak. Dalam hal ini kita bisa
bercermin ke Barat. Bagaimana kalangan pejabat
termasuk Presiden begitu dekat dan akrabnya dg rakyat.
Saya pernah lihat di CNN bagaimana Presiden Bush
ditepuk-tepuk bahunya oleh rakyatnya dan disambut dg
tepukan bahu juga oleh Bush. Begitu juga ketika
dikritik tajam oleh media, Bush tidak bereaksi
negatif.Hal semacam itu belum terbayangkan akan
terjadi pada pejabat kita era ORBA.
Soal dosen, kita bisa lihat sikap egaliter
dosen-dosen di India sendiri yg begitu bersahaja,
mudah ditemui, tidak arogan walaupun sudah profesor,
dll. Ini pelajaran berharga buat kita baik yg belum
jadi dosen/pejabat maupun yg sudah jadi agar
sepulangnya dari India juga bersikap yg sama:
bersahaja, sederhana, accessible dan dedikasi tinggi
pada mahasiswa dan pada keilmuan dan pada rakyat.
***
Pembicaraan ditutup karena waktu shalat maghrib tiba.
"Mari kita shalat dulu," katanya. Beberapa hari
kemudian wawancara dilanjutkan di sebuah kawasan
perumahan elite di Okhla, Gali No.13, tepatnya di
rumah Sdr. Izam. Di rumah yg tertata rapi dan apik
dengan tatanan bunga-bunga bonsai yg indah dan asri
membuat Pak Ketu kita jadi termangu-mangu kagum.
"Kalau sudah menikah, saya ingin punya rumah seperti
ini," katanya, "tapi soal penataan ruang dan tamannya
ya terserah Bu Ketu-lah," lanjutnya lagi. Wawancara
kemudian dilanjutkan setelah shalat Isya, setelah Sdr.
Izam menjamu kami dg makanan khas Okhla yg beraneka
ragam seperti Chicken Rumali, Chicken Achari, Chicken
Tanduri, Biryani dan lain-lain makanan yg lezat-lezat
yg membuat pembaca wawancara ini pun akan menelan air
liur. Terutama mahasiswa Aligarh yg taunya makanan
Sabji.
***
MG: Apa tujuan Anda jadi Ketua PPI?
JM: Pertama, saya ingin mengasah kemampuan organisasi
dan manajerial, sebelum saya terjun ke real world
kelak. Kedua, sebagai mahasiswa India saya merasa
berkewajiban untuk membaktikan sedikit waktu saya
untuk kesinambungan organisasi. Dan ketiga, saya ingin
membawa PPI lebih maju.
MG: Apa visi ke depan anda untuk PPI dan anggota?
JM: Pertama, saya ingin menciptakan suasana kondusif
untuk peningkatan kemampuan anggota; baik kemampuan
akademis, intelektualitas dan skill2 yg lain.
MG: Apa visi Anda sudah diimplementasikan?
JM: Alhamdulillah sudah mulai berjalan sesuai dg
rencana. Seperti diskusi bulanan, training
keorganisasian, menerbitkan buletin Jumat secara
teratur dan latihan gamelan sudah berjalan. Hal ini
tentu saja berkat kerja sama yg baik rekan2 pengurus
yg lain dan masyarakat.
MG: Ada lagi yang lain?
JM: Ada. Saya ingin menciptakan kondisi organisasi yg
transparan dan profesional. Semuanya bebas diketahui
anggota dan kami siap dikritik anggota kalau ada dari
kebijakan kami yg kurang berkenan.
MG: Dikritik anggota? Apa Anda tidak keberatan
dikritik?
JM: Tentu saja tidak. Kritik, apapun motifnya, adalah
baik. Kita jadi tahu kelemahan kita dan kita coba
memperbaikinya. Dg kata lain, kritik membuat
jiwa/mental dan pencapaian kita jadi tambah besar dan
maju.
MG: Tapi ada sebagian marah kalau dikritik...
JM: Itu bisa terjadi karena dua hal. Pertama, mental
yg kerdil, lemah dan picik. Kedua, karena arogan.
Kedua sebab itu punya akibat negatif yg sama pada yg
bersangkutan: mereka tidak akan pernah maju.
MG: Apa visi Anda untuk menjamin persatuan dan
kesatuan PPI?
JM: Apa Anda lihat PPI tidak bersatu? Apa Anda pikir
ada organisasi pelajar lain di India yg selain PPI?
MG: Bagaimana dg mahasiswa Roorkee?
JM: Mahasiswa Roorkee juga bagian dari PPI. Roorkee
merupakan salah satu komisariat PPI sebagaimana
komisariat Aligarh, komisariat Lucknow, komisariat
Agra, Bangalore, Pune, dll. Dan mereka juga turut
mensukseskan acara MTA kemaren dan saya berterima
kasih mereka mempercayakan amanahnya pada saya.
MG: Tapi saya dengar Roorkee berdiri sendiri?
JM: Ah, siapa bilang. Dulu memang iya. Sekarang tidak
lagi. Terlepas dari usia, status di Tanah Air, dll
pada dasarnya kita sama-sama mahasiswa di India.
There's no point to be different and divided. Saya
menginginkan kita ini bersatu padu, united, dan solid.
Walaupun kita berbeda suku, agama dan aliran politik.
Saya ingin kita bersatu di tengah realitas perbedaan
kita. Istilah Bang Razi, "Unity in Diversity". Bersatu
dalam keanekaragaman.
***
Wawancara kembali dihentikan karena Pak Ketua sudah
bersiap-siap menjemput Bu Ketu dari kegiatan PKK.
Seminggu kemudian, di sela-sela kegiatan training
tentang keorganisasian yg dibawakan oleh Batara Dewa
Wisnu Setyawan, mahasiswa S2 arsitekturkami, kami
mulai lagi meneruskan wawancara di markas PPI di
Safdarjung Enclave B-6/123 yg temaram.
MG: Bagaimana visi Anda tentang hubungan PPI dan KBRI?
JM: Hubungan PPI dan KBRI harus harmonis dan dinamis.
Berbeda dg organisasi pelajar di Tanah Air yg biasanya
terkesan 'menjauh' dari birokrasi, PPI sebagai
organisasi luar negeri justru sebaliknya: kita harus
mengadakan hubungan dan kesepahaman yg tinggi. Karena
kita sama-sama duta bangsa dan memiliki objektif yg
sama, yakni mempromosikan Indonesia di luar negeri.
Jadi, kita saling memiliki ketergantungan. KBRI
memiliki dana, dan kita memiliki sumber daya manusia
(SDA). Apabila KBRI punya rencana kegiatan yg
membutuhkan SDA, kita siapin. Sebaliknya, apabila kita
punya rencana acara yg membutuhkan dana relatif
banyak, KBRI diharapkan bersedia membantu mengucurkan
dana. Intinya ada mutual need and understanding. Ada
mutual take-n-give.
MG: Apa itu tidak akan mengurangi independensi PPI?
JM: Maksud Anda apa?
MG: Ada sebagian anggota atau alumni India yg
mengatakan kalau PPI terlalu dekat dg KBRI dikuatirkan
PPI akan dikooptasi?
JM: (tertawa) Hahaha.. itu pola pikir lama. Memang,
sebelum era reformasi, tepatnya di era ORBA, itu bisa
saja terjadi. Karena sistem politik waktu itu di bawah
tirani diktator Suharto yg menginginkan semuanya
homogen dan seragam. Tapi sekarang? Apa yg perlu
dikuatirkan? Semua pejabat KBRI bebas memilih capres
atau partai yg mereka suka. Kita juga bebas memilih
capres/partai yg kita suka. Tidak ada lagi tekanan,
intimidasi atau bujukan. Jadi, kekuatiran semacam itu
mengada-ngada atau sudah ketinggalan jaman.
MG: Mungkin maksudnya kita jadi tidak kritis lagi...
JM: Saya kira itu juga terlalu berlebihan. Karena
pejabat sekarang sudah jauh beda sikapnya dg dulu.
Sekarang sudah sangat terbuka baik dalam sikap
keseharian mereka maupun terhadap kritik rakyat. Tapi
saya juga berharap pada anggota PPI agar tidak asal
kritik. Kritik jangan sampai menghilangkan etika
universal yg sama-sama kita pahami maksudnya: tidak
kasar, rasional, konstruktif dan elegan. Sebagai
kalangan terdidik, kita pasti mampu melakukan itu.
MG: Tentang kedekatan hubungan member PPI dg individu
KBRI?
JM: Well, itu tentu saja hak setiap orang untuk
berhubungan dg siapapun yg dia suka. Tetapi tentu saja
dg tidak melupakan konvensi universal dalam etika
pergaulan: jaga keseimbangan take-and-give. Jangan
cuma 'take' tanpa 'give'. Sebab kalau ini terjadi,
maka akan mengurangi nilai 'respek' (baca, honor and
dignity) yg bersangkutan di mata orang lain. Hubungan
pergaulan dg konsep mutual-respect harus menjaga
keseimbangan take-n-give ini.
MG: Bagaimana dg studi Anda?
JM: Alhamdulillah saya sudah diterima program Ph.D.
MG: Oh, selamat kalau begitu. Terus bagaimana dg Bu
Ketu?
JM: Alhamdulillah, dia juga sudah diterima program
S3-nya.
MG: Wah, jadi sama-sama program Ph.D?
JM: Iya. (sambil senyum-senyum simpul penuh bahagia).
MG: Wah selamat juga kalau begitu buat Bu Ketu juga.
JM: Akan saya sampaikan nanti (tanpa permisi langsung
nelpon ke Bu Ketu. Sayup-sayup terdengar suara merdu
Bu Ketu tertawa renyah di antara canda-canda mesra
mereka berdua yg tampak begitu harmonis).
***
Wawancara ketiga dan terakhir ini diakhiri dg makan
chomein bersama di PPI. Makanan andalan mukimin
Safdarjung yg sebenarnya kurang enak tapi disantap
habis oleh rekan-rekan mahasiswa yg lagi mampir di PPI
yg umumnya ganas dan berlibido tinggi pada segala
jenis makanan.
Jusman, sang Ketua PPI baru, yg dikenal sebagai
"mahasiswa termuda" (karena semua orang dipanggil
abang/kakak) kemudian masuk ke ruang komputer PPI,
tampaknya hendak menulis sesuatu. Mungkin surat cinta.
Siapa tahu.
=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di
www.ppi-india.da.ru dan www.ppi.4t.com
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni
India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional:
www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/