"Perlunya Sense of Humor dalam Kehidupan Kita"
Wawancara dg Khairurrazi

Sense of Humor atau rasa humor, konon, berguna untuk
menghilangkan berbagai macam penyakit yg diderita umat
manusia. Khususnya, penyakit yg berkaitan dg kejiwaan
seperti stres, depresi, hipertensi, dll.,
penyakit-penyakit yg biasa diderita terutama oleh
kalangan yg memiliki aktivitas tinggi: pria/wanita
karir, akademisi, aktivis organisasi, dll. 

Begitu pentingnya soal humor ini sehingga di Barat
banyak pakar yg menulis disertasinya dg topik seputar
humor dan bahkan ada jurnal ilmiah yg didedikasikan
untuk membahas khusus persoalan ini. Di Indonesia,
pakar humor masih termasuk langka dan jumlahnya masih
dapat dihitung dg jumlah gigi nenek-nenek. Salah
satunya adalah Jaya Suprana, direktur PT Jamu Jago, yg
dikenal sebagai humorolog paling diakui sampai saat
ini, di samping kolumnis beken almarhum Mahbub
Junaidi. Di India, Khairurrazi menjadi salah satu
humorolog (pakar humor) yg namanya sudah established
di kalangan mahasiswa/masyarakat Indonesia.
Khairurrazi, yg baru menyelesaikan program Masternya
di Aligarh Muslim University (AMU) ini sering
melakukan perjalanan keliling Aligarh-Delhi-Lucknow.
Saya beruntung dapat menemuinya dalam beberapa
kesempatan dan mewawancarainya. Berikut petikannya:

Mario Gagho (MG): Selamat siang Razi...
Khairurrazi (KR): (sambil mengedip-ngedipkan mata dan
menjulur-julurkan lidah, maklum baru bangun tidur)
Selamat siang Mario... 
MG: Tampaknya Anda baru bangun tidur...
KR: Sudah jelas mata saya masih bele'an gini masih
nanya lagi.. ya pastinya saya baru bangun tidur... 
MG: Hehe maaf, tapi ini kan sudah siang, kok baru
bangun?
KR: Yah, beginilah. Masa menunggu program Ph.D ini
saya gunakan untuk banyak menulis sampai dini hari
jadi ya.. bangunnya kesiangan terus.
MG: Memang menulis apa saja?
KR: Hm.. saya 'kan jadi koordinator PPI bidang
Pendidikan dan Kajian Ilmiah yg salah satu kegiatannya
menerbitkan buletin mingguan (terbit tiap jumat). Ini
kan hari Kamis. Selain itu saya juga menterjemah
buku-buku terbitan India, dan alhamdulillah satu buku
sudah selesai.
MG: Oh gitu..buku apa saja yg diterjemah?
KR: Ya sebenarnya semua macam buku. Tapi, sesuai dg
pesanan penerbit, saya menterjemah buku-buku yg
berkaitan dg Islam.
MG: Kenapa tertarik menterjemah? Apa manfaatnya?
KR: Setelah banyak membaca, menulis dan menterjemah
ternyata saya baru sadar bahwa wawasan dan kemampuan
saya dalam expresi tulisan sangat lemah. Selama ini
saya dan teman-teman berkonsentrasi hanya untuk
mendapat nilai tinggi dalam ujian, cepat lulus,
bekerja dan cepat kawin (hahaha..). Ternyata asumsi
saya salah...
MG: Maksudnya? 
KR: Ya, selama ini saya masih memakai pola pikir
sewaktu di SMA dulu. Bahwa target utama dalam belajar
adalah naik kelas dan lulus. Dg pola pikir ini, saya
sudah merasa sangat puas dan bangga kalau saya
mendapat nilai tinggi (at least, first division) di
kelas. Saya pikir sekarang, target ini terlalu rendah.

MG: Mengapa demikian? Bukankah target lulus dan dapat
nilai tinggi itu bagus?
KR: Tentu saja. Lulus itu hendaknya menjadi target
utama dan paling penting, karena itu menjadi standar
minimal keberhasilan studi kita. Tapi, kalau cuma ini
targetnya, saya bisa mencapainya hanya dg belajar pas
pada malem ujian saja. Maklumlah, jelek-jelek gini
otak saya lumayan encer juga lho hahaha ...
MG: Apa ada dampak negatif dg target Anda yg terlalu
'rendah' itu?
KR: Ya jelas. Saya jadi merasa banyak sekali waktu
kosong. Saya jadi bingung bagaimana memanfaatkan waktu
kosong tsb. Karena bingung, akhirnya ya saya buat saja
untuk santai-santai: yaa buat main kartu semalaman,
main bilyar, ngobrol online dan offline, dll.
Pokoknya, sekarang saya menyesal banget dah (wajahnya
yg masih bele'an dan belum cuci muka menampakkan rasa
sedih yg mendalam ...)
MG: Wah Razi, maafkan saya kalau pertanyaan saya
membuat Anda sedih...
KR: Nggak kok.. saya tidak sedih karena pertanyaan
Anda...
MG: Jadi?
KR: Saya sedih karena pingin kawin...
MG: Lho, kalau pingin kawin ya kawin saja.. mengapa
mesti sedih?
KR: Itulah masalahnya. Saya menghadapi dilema.
MG: Dilema antara kawin dan nerusin kuliah?
KR: Itu salah satunya. Tapi yg terpenting, karena
cewek yg saya sayang itu bukan WNI. Saya kan ingin
meniti karir sebagai diplomat, seperti P.Dalton,
P.Suhadi, P. Amar, Bu Niniek, itu lho. Sementara
menikah dg non-WNI itu kan dilarang DEPLU... 
MG: Oh gitu, emang gak ada wanita WNI yg cocok? Ingat
Razi, dunia tidak selebar capathi...
KR: Ah ngomong sih gampang, praktiknya susaaahhh... 
MG: Kenapa susah?
KR: Yah, setiap lelaki memiliki kriteria sendiri
tentang tipe idaman dan ideal gadis impiannya. Dan
bagi saya, semua kriteria idaman itu ada pada dia:
hatinya baik, religiously committed, educated,
bersahaja, tidak manja, sikapnya dewasa melebihi
usianya, bermental baja, bisa diajak hidup susah..
pokoknya passs sekali dah. Sayangnya, dia non-WNI itu.
Ahhh... kacawwww (sambil garuk-garuk kepalanya yg
tidak gatal dan langsung ngeloyor ke kamar mandi,
"Mandi dulu ah, ngilangin suntuk," katanya mengakhiri
perbincangan. Dari kamar mandi terdengar suaranya yg
tidak merdu menyanyikan lagu favorit ciptaannya
sendiri yg cuma satu baris: "Razi cinta +++++++++
saaayaaaanggg...). Cinta memang kosa kata unik yg
telah melahirkan banyak pujangga dan penyair; yg
picisan maupun yg beneran. 

----

Pertemuan berikutnya terjadi menjelang Razi hendak
berangkat ke KBRI untuk menghadiri acara resepsi
lulusan 2003 - 2004 yg dihadiri seluruh mahasiswa
Delhi dan sekitarnya (Agra, Aligarh, JNU, DU, dll)
plus masyarakat Indonesia (diplomat dan non-diplomat).
Gaya berdandan dan berpakaian Khairurrazi kali ini
sangat rapi. Tapi, semua itu dilakukannya dg cepat.
Kecuali menyisir rambut yg memakan waktu cukup lama,
karena harus mirip dg gaya Tintin. "Semakin persis
gaya rambut saya dg rambut Tintin semakin tinggi PD
(percaya diri) saya," katanya kalem. Wawancara pun
dilanjutkan. Kali ini agak serius.

HUMOR dan TUMOR

MG: Bisa dijelaskan sedikit seputar humor?
KR: Tentu, humor adalah kata-kata, perbuatan atau
peristiwa yg bisa membuat syahwat tertawa kita
bangkit.
MG: Apa humor itu bermanfaat dan perlu?
KR: Ya pasti. FRANK S Caprio dalam bukunya "How to
Enjoy Yourself" mengatakan bahwa humor itu perlu
bahkan penting untuk hidup. Begitu perlunya sampai
Caprio menyamakannya dengan kebutuhan oksigen bagi
paru-paru manusia. Cuma perlu diingat, bahwa humor itu
ada dua macam: humor dan tumor.
MG: Lho, bisa dijelaskan lebih lanjut?
KR: Humor yg baik adalah yg bisa membuat kita
tersenyum tanpa membuat orang lain sakit hati. Sedang
tumor adalah kata-kata atau sikap yg lucu yg,
disengaja atau tidak, akan membuat orang lain
tersinggung atau sakit hati. 
MG: Bagaimana cara membedakan antara humor dan tumor?
KR: Eee.. ini masalah yg sulit. Sulit membuat definisi
yg jelas. Diperlukan selera humor dan sensitivitas
tinggi pada perasaan orang lain untuk mengetahui
apakah sebuah lelucon itu humor atau tumor. Seorang
pehumor yg baik tidak akan tertawa ketika mendengar
atau melihat sesuatu yg lucu yg mengandung unsur
"tumor". Kemampuan kita untuk dapat membedakan antara
humor dan tumor ini akan sangat berpengaruh pada level
pergaulan kita. Semakin tinggi selera dan sensitivitas
humor kita, maka kita akan semakin diterima oleh
lingkungan sekitar. Intinya, timing kapan kita tertawa
dan kapan kita tidak tertawa itu tak kalah pentingnya.
Ini juga berkaitan dg level pendidikan dan wawasan
kita. Selain itu, humor dan tumor sifatnya sangat
kontekstual dan kondisional.
MG: Maksudnya?
KR: Artinya, bisa saja sebuah humor dianggap tumor di
tempat, kondisi dan lingkungan tertentu. Dan bisa saja
sebuah tumor dianggap humor dalam lingkungan dan
kondisi yg berbeda; contoh: humor yg "jorok" (porno)
akan lucu di lingkungan anak muda, tapi akan dianggap
humor "sampah" di lingkungan tua atau formal. Di sini,
diperlukan insting yg kuat untuk dapat membedakannya.
MG: Jadi humor sangat diperlukan dalam pergaulan?
KR: Ostosmastis lah. Anda lihat orang atau tokoh yg
pergaulannya luas, pasti memiliki selera humor yg
tinggi. Satu hal yg perlu dicatat, bahwa seorang
pehumor tidak otomatis harus lucu seperti pelawak.
MG: Jadi?
KR: Yg paling penting adalah dia bisa mengapresiasi
humor. Bisa tersenyum atau tertawa pada humor yg baik
dan sehat dan bisa bersikap bijak dan berusaha
menetralisir pada humor yg bersifat tumor.

SENSE of HUMOUR atau SELERA HUMOR

MG: Tadi Anda menyinggung sedikit tentang sense of
humor atau selera humor. Apakah selera humor itu bakat
alam atau bisa diusahakan?
KR: Menurut Mike More, seorang humorolog dunia, selera
humor itu "not inherited, it's learned" (bukan bakat,
tapi dipelajari).
MG: Kalau begitu, bagaimana cara meningkatkan selera
humor kita?
KR: Ada lima langkah, menurut Mike More, untuk
meningkatkan selera humor. Yg paling penting,
"menertawakan diri sendiri" (laugh at yourself).
MG: Menertawakan diri sendiri? Apa tidak dianggap gila
'ntar?
KR: Maksudnya bukan tertawa sendirian. Tapi,
menceritakan kebodohan diri sendiri yg lucu pada orang
lain. Contohnya seperti ketika kita ke KBRI pake
auto-rikshaw dan meminta pak supir pake meter supaya
lebih murah. Eh ternyata, malah jauh lebih mahal.
Berarti pak supir lebih pinter dari kita. Kita yg
sudah lulus program Master ternyata kalah pintar dg
supir auto-riksha yg buta huruf.. hahaha.. Apa Anda
masih ingat peristiwa yg mengesankan itu?
MG: Iya, ingat. Tapi, apa tidak malah merendahkan diri
sendiri?
KR: Tidak. Justru sebaliknya, itu menunjukkan
kerendahhatian kita. Artinya, kita mengakui bahwa
sebagai manusia kita memiliki berbagai kekurangan di
samping berbagai kelebihan. Ini akan membuat kita
tidak terlalu meninggikan diri sendiri dan pada yg
sama tidak terlalu merendahkan orang lain, walaupun
secara tampilan tampak lebih rendah. Para pakar
humorolog dunia sepakat bahwa 'menertawakan diri
sendiri' adalah level humor yg paling tinggi. 
MG: Terus apalagi trik-trik untuk meningkatkan selera
humor kita?
KR: Masih menurut Mike More, ada empat lagi. Pertama,
sering baca cerita humor dan kartun. Kedua, tanamkan
kondisi humor dan tawa di lingkungan kita. Ketiga,
bergaul dg orang yg suka humor. Keempat, gunakan humor
untuk menetralisir konflik, baik konflik dg teman
maupun dg pacar/istri/suami.
MG: Razi, jawaban-jawaban Anda sangat memuaskan dan
ilmiah. Apakah memang humor itu suatu hal yg ilmiah?
Saya dengar bahkan ada jurnal internasional bergengsi
yg mendedikasikan diri khusus membahas masalah
humor...
KR: Terima kasih atas pujiannya, Mario. Saya masih
banyak belajar, kok. Awak nie apalah ya kan? hehehe Oh
ya, memang soal humor ini dibahas serius secara ilmiah
di Barat. Jurnal Humor yg Anda maksud itu adalah
International Journal of Humor Research terbitan
International Society for Humor Studies (ISHS), USA . 
MG: Buku kajian humor apa yg paling menarik yg pernah
Anda baca?
KR: Saya belum pernah membaca buku kajian humor yg
berbahasa Indonesia. Tapi untuk yg terbitan Barat ada
beberapa yg menarik. Seperti "Humor and personality in
everyday life" karya Kenneth H. Craik--Aaron P. Ware;
"Is sense of humor a positive personality
characteristic?" karya Nickolas Kuiper--Rod A. Martin;
"The ill side of humor: Pathological conditions and
sense of humor" karya Giovannantonio Forabosco, buku
yg saya sebut terakhir ini membahas masalah humor yg
bersifat "tumor" itu dan masih banyak lagi yg lainnya.
MG: Ok, Razi, yg terakhir, apa pesan Anda terhadap
masyarakat Indonesia di India?
KR: Ciptakan persatuan dg humor. Redakan konflik dg
humor. Tingkatkan persahabatan antar berbagai
kelompok, suku, dan agama dg humor. Rendahkan hati dan
lapangkan dada dg humor. Pokoknya, humor
zindabat...humor zabardast...hehehe. Satu lagi pesan
saya: jalani karir dg hard work, dan sikapi dg humor. 

----

Wawancara terakhir yg bertempat di luar gedung wisma
duta dan dilakukan sambil mendengarkan penghitungan
suara pemilu kedua itu pun berakhir dg obrolan panjang
yg penuh canda dan tawa, membuat perut saya yg kembung
air Bisleri dan telat makan siang jadi terkaget-kaget.
Khairurrazi, yg saat ini sedang dalam proses program
Ph.D-nya di Aligarh Muslim University, memang humoris
dan sekaligus humorolog, teorisi dan praktisi humor.
Tak heran, bila ia disukai kawan maupun "lawan".
Banyak gadis yg mengelilinginya. Dan tidak sedikit
orang tua yg ingin mengambilnya menantu. Humor bukan
segalanya, tapi signifikansinya dalam karir dan
pergaulan memang tidak dapat dianggap remeh, to say
the least. Dan Khairurrazi telah membuktikan itu.  

  


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppiindia.shyper.com  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni 
India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: 
www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke