Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita menerima undangan pernikahan dari seorang rekan, karena undangan ini punya banyak makna.
Pertama, kita dihargai sebagai seorang teman yang layak untuk diundang. Kedua, akan ada pintu kebaikan yang terbuka yang bisa kita masuki untuk meraihnya, bisa berupa bantuan tenaga, materi, maupun spirit. Ketiga, suasana kegembiraan yang terpancar dari acara walimah yang sedikit banyak mengimbas pada kita (dan jangan lupa acara makan-makannya :-)..), dan makna-makna lain yang nggak bisa disebutkan disini (karena kehabisan ide :-)..). Dari kesemuanya itu, mungkin yang paling bermakna adalah pertanyaan terhadap diri berikut ini:
"Kapan saya akan menyusul?"
Ya, itulah pertanyaan yang sering diajukan kita ke sang 'diri'. Pertanyaan yang kerap menghantui kita seiring dengan merayapnya usia. Kita toh akhirnya dihadapkan pada kesadaran bahwa sebenarnya kita sudah dewasa, sudah pantas untuk menyandang gelar abi/ummi.
Padahal, baru kemarin rasanya kita
turun dari pangkuan bunda, bermain ayunan, dan melewatkan masa kecil kita yang begitu lepas, tanpa beban dan tanggung jawab.
Kita akhirnya merasa perlu kehadiran 'someone else' untuk berbagi cinta dan kasih sayang, berbagi beban hidup, berbagi suka duka dan berbagi apapun yang bisa dibagi dalam bingkai syar'i. Seseorang yang memahami kita dan kita pun memahaminya, seseorang yang menjadi
pakaian bagi kita dan kitapun menjadi pakaian baginya.
Seseorang yang nantinya bersama-sama mendidik dan membesarkan anak-anak. Seseorang yang....
Akhirnya timbul pertanyaan,
"mengapa kita tidak menikah
juga? Bukankah impian dan harapan sudah begitu tinggi?"
Ada begitu banyak jawaban yang dikemukakan orang berkaitan dengan pertanyaan ini. Baik dari mulai ijin ortu sampai kehidupan yang belum mapan. Dari calon yang tidak cocok sampai calon yang diatas 'spesifikasi'. Tentunya bukanlah sikap yang arif jika kita mencemooh semua alasan ini. Adalah sikap yang naif jika kita memaksa seseorang untuk begitu saja mengabaikan hambatan ini. Keputusan kapan menikah adalah hak prerogatif masing-masing individu. Yang seharusnya kita lakukan adalah memberikan dorongan
bukan paksaan, memberikan alternatif bukan provokatif, memberikan penyelesaian bukan celaan, memberikan bantuan bukan manambah beban, dan memberikan kontribusi yang bermanfaat ketimbang segudang kalimat.
Pengalaman seseorang tidak bisa begitu saja diterapkan pada orang lainnya, karena perbedaan watak, karakter dan juga perbedaan
pola pikir. Pengalaman seseorang tidak bisa begitu saja dijadikan tolok ukur, tetapi sebatas referensi, yang kadang cocok diterapkan dan
kadang tidak.
Jadi... silahkan direnungkan sendiri. Semoga bermanfaat! Maaf kalo mungkin diantara teman2 milis ada yang tersentuh hatinya untuk menyusun niat baru untuk menikah.
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppiindia.shyper.com ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
