Ibu, Kaulah Wanita Yang Mulia
Oleh: Zamhasari Jamil
 
I seek the refuge in God, from satan the rejected. Ku beri judul tulisan ini dengan "Ibu, Kaulah Wanita Yang Mulia." Aku sudah tidak ingat secara pasti, kapan aku mengetahui bahwa aku dilahirkan oleh yang aku memanggilnya "Ibu." Yang ku tahu, dua tahun setelah aku dilahirkan, kemudian lahirlah adikku. Peristiwa lahirnya adikku ini memberiku suatu pelajaran bahwa seorang anak lahir dari seorang ibu, bukan dari seorang bapak.
 
Dimasa kecilku, aku sudah sering mendengarkan kalimat dari ibuku yang menyatakan bahwa "Surga itu berada dibawah telapak kaki ibu." Hanya saja aku tak mengerti apa maksud dari kalimat itu. Waktu terus berlau, tapi kalimat itu sangatlah membekas dibenakku. Waktu terus berjalan, seiring dengan pertumbuhan usiaku, akupun kembali diajarkan ttg kisah-kisah anak salih dan anak durhaka. Anak durhaka yang sampai saat ini masih ku ingat namanya adalah Malin Kundang. Kisah inipun ku dengar pertama kalinya dari keluargaku.
 
Setelah memasuki bangku Madrasah Tsanawiyah, barulah ku sadari bahwa kalimat yang dulunya pernah ku dengar "Surga itu berada dibawah telapak kaki ibu" adalah berasal dari hadits nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, di Mts itu pula aku diajarkan bahwa ketika Rasul ditanya oleh seorang sahabat, "Kepada siapakah aku harus berbuat baik ya Rasul?" Rasul menjawab, "ibumu." Jawaban serupa disampaikan oleh Rasul sebanyak tiga kali. Kemudian pada pertanyaan yang keempat, barulah ayahmu. Demikian jawaban dari Rasulullah SAW.
 
Sekarang kita ulas sedikit, mengapa Rasul menekankan sekali nama seorang ibu ini? Masih ketika saya kecil dahulu, ada untaian lagu yang sering aku dengar begini (maaf, agak lupa-lupa ingat):
 
Ibu, kaulah wanita yang mulia
Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah
Kau mengandung, melahirkan, menyusui
Mengasuh, mendidik, lalu membesarkan putra-putrimu ibu.
 
Lautan kasih sayang, pada setiap insan
Mataharinya alam, belumlah sepadan
Sebagai balasan
Ibumu melahirkan
 
Benarlah, bahwa mengandung, melahirkan, menyusui ini hanyalah dirasakan oleh ibu semata. Dan mengasuh, mendidik, lalu membesarkan barulah dirasakan oleh ibu dan ayah. Sembilan bulan ibu mengandung kita, bukanlah waktu yang sebentar. Kemanapun ibu pergi, kandungan itu tetap dibawanya peuh dengan kasih sayang. Semakin hari, kandungan terasa semakin berat, kemudian sampailah ibu pada tahapan kedua, yaitu melahirkan. Tak ada pilihan bagi seorang ibu yang melahirkan. Hidup selamat atau mati sebagai syahidah. Hanya ada dua pilihan inilah yang dihadapkan bagi seorang ibu manakala ia melahirkan aku ini, dan anda-anda sekalian. Allah SWT berfirman: "Tidak ada wanita yang mengandung dan melahirkan, tanpa setahu Allah." (QS. 35: 11).
 
Setelah mengandung, kemudian melahirkan, kini sampailah ibu pada tahapan menyusui. Ibu tak lagi menghiraukan dimana ia berada. Saat nyenyaknya tidur dimalam hari, di kala makan, mandi, mencuci, menghadiri pesta atau dimana saja, begitu si bayi menangis, ibupun langsung menyusuinya hingga si bayi tidur kembali. Bila kita sudah mengetahui betapa besarnya perjuangan seorang ibu, pantaskan kita untuk mendurhakainya. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Allah berfirman: "Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tanpa mengetahui sesuatu apapun, kemudian diberinya kamu pendengaran, penglihatan, hati supaya kamu bersyukur." (QS 16: 78). Dilain ayat Allah SWT juga mengingatkan kita, "Supaya berbuat baik kepada kedua orangtuamu. Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan letih dan makin payah sampai masa penyapihan sang
bayinya karena itu bersyukurlah kepada Allah dan kepada orangtuamu.�
(QS 31: 14).
 
Masih ketika aku kecil dahulu, ibuku sering mengingatkan bahwa tatkala aku dilahirkan, telapak kakiku hanyalah selebar dua jari ibu dan ayah saja. Dan kain selebar lengan baju kemeja ayahku, telah mencukupi untuk menutupi selurh badanku. Itulah sebabnya ibu ku sering mengajarkan bahwa adalah tidak pantas bila seorang anak berbuat durhaka pada ibu dan ayahnya. Mengasuh, mendidik, lalu membesarkan adalah aktifitas yang dilakukan bersama oleh seorang ibu dan ayah. Barangkali disinilah sebabnya mengapa Rasul itu mengajarkan kita untuk selalu menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tua kita.
Bagi anak yang tidak menghormati dan berbuat baik kepada ibu dan ayahnya, Allah sudah memberi peringatan: "Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepadanya perkataan
�uf�(atau suara yang keras, membentakan kaki, atau dengan muka yang marah dan masam) dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (dengan lemah lembut), dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku kasihinilah mereka berdua sebagai mana mereka berdua telah mendidik, menyayangi, membesarkanku waktu kecil."
(QS 17: 23�24).
 
Anak yang baik, patuh kepada ayah dan ibunya akan menjadikan kebahagian tersendiri bagi seorang ibu dan ayah. Saya yakin setiap ibu dan ayah kita masing-masing tetap mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Karena itu, wajarlah bila dalam setiap sholat, sering ku dengar ayahku berdo'a, "Yaa Allah yaa tuhan kami jadikanlah anak anak kami cucu2 kami dan istri kami penghibur hati kami dan jadikalah pula kami imam dari orang orang bertaqwa."
 
Selanjutnya, bagaimana cara kita untuk berbuat baik kepada ayah atau ibu kita yang telah kembali ke sisi Allah Rabbul Jalil? Jawabannya, jadilah anak yang shalih dan shalihah yang selalu mendo'akannya. Berbuat baik kepada kerabat-kerabat ibu dan ayah kita semasa hidupnya. Tak ada yang mereka nantikan, selain dari doa-doa kita. "Ya Tuhanku kasihinilah mereka berdua sebagai mana mereka berdua telah mendidik, menyayangi, membesarkanku waktu kecil."
 
Bang Jusman, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku turut berduka cita atas berpulangnya ibu bang Jusman ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa almarhumah, dan menempatkannya di sisi yang layak bagi-Nya. Amien Allahumma Amien. [Okhla, 11 November 2004]  - Wassalam.

Mario <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Obituari: Makna wafatnya seorang Ibu
Oleh Mario Gagho

Pada tgl 9 November jam 4.30 dini hari -- berarti 30 menit setelah
berita meninggalnya ibu Jusman -- saya mendapat telpon dari Jusman yg
lagi berada di Aligarh mengabarkan tentang berita duka cita tsb.
Masih jelas terngiang di telinga saya suara isakan tangis tertahan
Jusman kala mengabarkan berita itu. Saya tidak mengatakan apa-apa
kecuali satu kata, "Jus, Sabar, Jus!"


************* teks dipotong************



* * * * *
Zamhasari Jamil
Pelajar Islamic Studies
Jamia Millia Islamia - A Central University
New Delhi - India 110 025
Website Kampus : http://www.jmi.ac.in
Website Pribadi   : http://e-tafakkur.blogspot.com
Email: izamsh@ yahoo.com
 
 
 
 
 


Do you Yahoo!?
Check out the new Yahoo! Front Page. www.yahoo.com

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppi-india.uni.cc  ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255



Yahoo! Groups Sponsor

Get unlimited calls to

U.S./Canada



Yahoo! Groups Links

Kirim email ke