well done, tasar

to see you have a gut enough in sending an article to
a media is mind-boggling to me. and to see ur debut
article got published is even dumbstruck me. it's
simply amazing, to say the least.

you are a junior-most student and the youngest one.
and that you have a confidence to go it alone ahead of
your seniors (from Acehnese or even from most
Sumateran guys) is one of the strongest signs of your
firm and tough personality. a kind of personality
required to be a leader. a kind of personality that
always stands out in a mass or in a crowd of 'common'
people. 

you must be very happy, your family too who must've
seen your article in print. and among your friends in
India, i must be the happiest. 

but life is an ongoing process. you've lived through
the first test of a very long journey. you should
remember this: a very long journey. despite it's a
good start in the right direction you should not be
disappointed if time and again you get dumped by the
media. that'll and should make you even tougher,
firmer and more determined. my friends of ours feel
"tired" when they got dumped many times and then stop
writing. that's not a good way as far as developing
mental toughness goes. 

My little advice for your further improvement:

1. improve your english skill, by reading as much
english books/media/articles/news as you can;

2. for the start in writing, focus on aceh problem in
particular and sumatera in general. to know this you
need to read the headlines/editorial/opinions in
newspaper/magazines published from aceh/sumatera. if
it's done, you can carry on to study indonesia politic
in general by reading national media. 

3. if you someday get and feel tired, just look up to
the great people with great achievements somewhere to
make you awake and energized again, dont ever see to
anybody around you who you think will make you feel
even more tired. to do that, read
autobigraphy/biography of distinguished scholars in
national as well as in international level. it'll do
the trick.

last but not the least, for technical assistance, you
can ask Rizqon, me, and other friends for help. we're
always ready.

from a happy friend,





Rabu, 01 Desember 2004 10:17 WIB

Ulama Dalam Solusi Aceh

[ penulis: Tasar Karimuddin | topik: Pemerintahan ]


Kunjungan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dengan disertai menko polkam dan menko perekonomian,
serta didampingi beberapa menteri, menarik dicermati.
Kunjungan kerja Presiden RI ke Aceh ini berkaitan
dengan seratus hari masa kerja SBY dan Kabinet
Indonesia Bersatu, dan mencari solusi atas
konflik-konflik di Aceh. 

Kunjungan SBY ini, sepintas, memberikan harapan baru
bagi masyarakat Aceh. Namun penyelesain konflik ini
tidak akan tuntas tanpa memaksimalkan tiga komponen:
agamawan, DPRD, dan KPK dan penegakan hukum.
Penyelesaian konflik di Aceh, bagaimanapun juga, tidak
mungkin terlepas dari peran agamawan. Nanggroe Aceh
dikenal Seramoe Mekkah ini mempunyai fenomena yang
unik dalam interaksi dan interrelasi antara ulama dan
umat. Peran agamawan sangat dominan. Namun, peran
besar agamawan tersebut, dalam beberapa dekade
terakhir, terlihat menipis. 

Gambaran ini sangat terlihat, terutama, sejak
berlakunya operasi militer pada tahun 2001 di Aceh,
Apalagi pada operasi militer besar-besaran melawan GAM
yang ditetapkan oleh mantan Presiden Megawati
Soekarnoputri pada tanggal 19 mei 2003, tidak saja
menelan korban TNI dan GAM tapi rakyat tak berdosa
menjadi sasaran. Ini makin memperjauh hubungan rakyat
dan ulama. 

Dalam banyak hal, rakyat menaruh harapan kepada Majlis
Pemusyawaratan Ulama {MPU}. Lembaga keagamaan ini juga
sangat diharapkan partisipasinya dalam mencari solusi
untuk Aceh. Sayangnya MPU tidak bisa melakukan
apa-apa, kecuali seruan menerapkan hukum Syari�at
Islam yang sampai sekarang pun masih belum serius
dilaksanakan. Kenapa? Karena peminggiran peran ulama. 

Peran ulama sendiri sudah mulai bergeser. Tidak
sedikit ulama yang terlibat dalam dunia politik secara
vulgar, dengan ikut bermain dalam salah satu partai
politik yang ada. Jika demikian, akhirnya, beberapa
ulama hanya menjadi tokoh untuk satu golongan saja,
bukan pelindung seluruh masyarakat. 

Jika ulama kembali ke peran awal, sebagai pelindung
seluruh masyarakat, maka titik terang akan segera
muncul di Aceh. Ulama bisa berperan sebagai juru
bicara rakyat. Dan peran juru bicara ini telah
terpinggirkan oleh operasi demi operasi. Hasilnya
berhasil menggeser peran ulama sebagai penengah
konflik. Sisi lain operasi juga telah merubah pola
kehidupan masyarakat menjadi suram dan menakutkan.
Dalam kondisi semacam ini ulama sulit memberikan
perlindungan kepada meraka. 

Peran perlindungan kepada masyarakat tersebut, mau
tidak mau, seharusnya segera diambil alih oleh para
wakil rakyat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan
menampung aspirasi mereka. 
Secara kelembagaan, pihak yang harus serius manampung
aspirasi-aspirasi rakyat ini adalah DPRD Aceh. Mereka
yang mendapat mandat rakyat ini sudah seharusnya lebih
cenderung memperhatikan situasi dan kondisi
masyarakat. 

Mereka bukan hanya duduk, diam, dan duit {D3}. Kalau
itu yang masih terjadi pada anggota Dewan sekarang,
maka tiada bedanya mereka dengan Dewan yang
sebelumnya. Sekaranglah waktu untuk menepati
janji-janji tersebut. Karena, peran personal anggota
Dewan ini juga berarti perlindungan kepada masyarakat.
Bagaimana aplikasinya? Anggota hendaknya mengadakan
kunjungan ke setiap desa. 

Ini sebagai langkah awal untuk meninjau perkembangan
kehidupan masyarakat dan berdialog secara terbuka. Dan
itu bukanlah suatu hal yang mustahil untuk
dilaksanakan, karena pada pra-Pemilu pada umumnya
anggota Dewan akrab bergaul dengan masyarakat. Apakah
jabatan sebagai anggaota Dewan tersebut menjadi tembok
pemisah masyarakat? Tentu tidak. 

Tanpa mendengar langsung keluhan masyarakat, hal ini
berarti anggota Dewan telah tertimpa krisis moral.
Krisis moral berikutnya adalah bersikap angkuh, korup
dan menipu rakyat. Kalau saja anggota Dewan masih
bertindak seperti ini, maka runtuhlah harapan rakyat.
Baik kepada anggota Dewan, bahkan kepada sistem. Pada
gilirannya, kelompok pemberontak akan memanfaatkan
ketidak-puasan rakyat ini, dan konflik di Aceh pun
makin berlarut-larut. 

Dendam buyutan 
Konflik di Aceh sulit akan mereda ��jika kita lebih
dalam mencermati��, karena adanya dendam bebuyutan.
Meskipun kita katakan bahwa keadaan Aceh telah
kondusif pada tahun 2005, namun apakah pada tahun 2020
nanti generasi-generasi Aceh yang merasa tidak
mendapat keadilan terhadap pembunuhan keluarganya akan
diam saja? Tentu saja tidak. 

Nah, kalau sampai keadilan kepada mereka tidak
terpenuhi, maka penyelesian konflik Aceh mustahil akan
terwujud. Penegakan hukum adalah salah satu titik
perhatian kita. Sekarang ini, pemberian hukuman kepada
orang-orang yang telah berbuat salah harus ditegakkan.
Para pembunuh, perampok, pemerkosa dan penganiaya
rakyat, sipapun dia, harus diberi hukuman yang
sepadan. 

Hal mendesak berikutnya dari penegakan hukum ini
adalah penanganan serius untuk setiap kasus korupsi
yang terjadi di Aceh. Dari situ, peran KPK, sebuah
lembaga yang paling berkewajiban menanggani kasus
korupsi, dituntut untuk berperan besar. Pemerintah
baru di Jakarta, dikatakan, memberikan perhatian utama
pada konflik dan penanganan kasus korupsi di Aceh.
(Serambi Indonesia, 24 November 2004). 

Namun, kendati demikian, penanganan kasus korupsi
hingga detik ini belum berjalan lancar sebagaimana
yang diharapkan oleh rakyat. Dugaan kasus korupsi
gubernur Aceh, Abdullah Puteh, belum ada titik terang.
Malahan, kasus-kasus korupsi kecil saja yang diangkat.
Ini bisa dikatakan mengalihkan permasalahan. 

Perlu menjadi perhatian kita, tanpa penanganan serius,
maka masalah korupsi di Aceh tak akan pernah
terselesaikan. Pada gilirannya, hal ini membuat krisis
kepercayaannya kepada pejabat di mata Rakyat makin
menebal. Tetapi jika KPK secara sungguh-sungguh
menjalankan kinerjanya, tidak mustahil penyelesaian
masalah korupsi ini menjadi awal penyelesaian konflik
di Aceh. 

Dan kepercayaan rakyat lambat laun akan pulih. Jadi,
penyelesain konflik di Aceh sebetulnya berawal dari
hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem
pemerintahan NKRI. Penanganan yang tepat dengan
disertai keseriusan besar akan mengembalikan
kepercayaan rakyat terhadap lembaga resmi tersebut,
dan dengan sendirinya akan menipiskan kepercayaan
kepada kelompok lain. 

*) Penulis adalah Mahasiswa Political Science Agra
University, India 



--- Irwansyah Yahya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> salam, 
>  
> M.TASAR. K
> negri di UP(Uttar Pradesh) dimana mario gagho adalah
> salah satu mahasiswa lulusan dari universitas ini,
> sepertinya mario gagho telah mewariskan segala ilmu
> saktinya kepada mahasiswa yang ingusan ini, sehingga
> tampil wah dalam surat khabar aceh kali
> ini............. 
> check tulisannya di :
> www.serambinews.com 
> rubrik/opini/ rabu 01 desember 2004  ULAMA DALAM
> SOLUSI ACEH
>  
> wassalam,
> ir_ones


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Meet the all-new My Yahoo! - Try it today! 
http://my.yahoo.com 
 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi 
nasional: www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke