--- In [EMAIL PROTECTED], "Wina SW1" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

ini tulisan dari kompas
 
Kompas, Kamis, 30 Desember 2004 
Teman-teman "Serambi Indonesia", di Mana Kalian... 
PERTAMA kali menginjak kota Banda Aceh, saya tak tahu harus ke mana. 
Saya cuma terpana menyaksikan kemegahan Masjid Baiturrahman yang 
terkenal di jantung kota ini. Karena beberapa hari tidak mandi, saya 
memutuskan untuk minta izin mandi di masjid tersebut. Penjaga masjid 
mengizinkan saya mandi di situ meski ada tato salib di lengan saya. 
Itulah kenangan pertama saya tentang Banda Aceh.
Inilah yang bisa dikorek dari wartawan Kompas berdarah Papua, Korano 
Nicolash LMS, yang pada awal tahun 1990-an mencoba merintis karier di 
koran yang masih "bersaudara" dengan Kompas, harian Serambi 
Indonesia. Awal tahun 1991, ketika Serambi Indonesia hendak terbit 
(kembali), dipasang iklan di Kompas untuk mencari wartawan baru. 
Korano Nicolash-kini kami biasa memanggilnya Nico-tertarik untuk 
bergabung. Dengan bekal uang mepet dan menumpang berbagai kendaraan, 
dia berangkat dari Jakarta ke Banda Aceh untuk ikut tes Serambi 
Indonesia.
Kenangan Nico ini sekaligus ungkapan keprihatinan kami terhadap teman-
teman kami di Serambi Indonesia dulu, yang kini kami tak tahu nasib 
sebagian besar dari mereka. Teman kami, Ismail M Syah, yang sekarang 
menjadi wakil Serambi Indonesia di Lhok Seumawe, mendapati kantor dan 
percetakan Serambi Indonesia di Jalan Laksamana Malahayati telah 
hancur ketika dia mengunjungi Banda Aceh. Mesin cetak di sana bahkan 
dia lukiskan telah hancur berkeping-keping.
Sebagian besar wartawan maupun karyawan Serambi Indonesia tinggal di 
sekitar kantor dan percetakan itu, yang disebut orang daerah Lam 
Nyong. Sungguh sulit untuk menerima kenyataan ini: adakah sebagian 
besar rekan-rekan kami ini ikut tewas disapu tsunami?
Bang Darmansyah, Barlian AW, Muhammad Rokan, Erwiyan Syafrie, Helmi 
Hass, dan lain-lain-yang pernah begadang bersama kami semasa awal 
Serambi Indonesia dulu, nongkrong di Rex sampai tengah malam, makan 
pecel di kantin Rumah Sakit Zainul Arifin di depan kantor (kantor 
kami waktu itu masih di Jalan Teuku Nyak Arief) sambil melirik-lirik 
para suster-di mana sekarang kalian semua? Kami putus asa, sedih, 
gemas, karena handphone kalian semua sekarang hanya menyahut dengan 
bunyi tu-la-lit....
Hati kami tambah ciut karena ada SMS: "SLRH 225-AN KRYWAN/WATI 
SERAMBI, TRMASK 100-AN WRTWNYA MENNGGL KRN TSUNAMI. TOLNG FORWARD SMS 
KE SMUA TMN2 EKS PERSDA".
Mimpikah kami?
MENDADAK kota Banda Aceh yang dalam kenangan kami begitu indah dulu 
itu membayang begitu jelas. Masjid Baiturrahman, tempat kami bersama 
pengamat politik William R Liddle pernah berteduh di emperannya 
sambil berdecak mengagumi kecantikan masjid ini; Bioskop Gajah, 
tempat kami sering menonton film apa saja, pokoknya untuk 
menghabiskan waktu; Rex yang terus hidup hampir sepanjang malam 
dengan nasi goreng "Si Busuk" yang menjadi favorit semua teman; 
kawasan Darussalam, tempat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan IAIN 
Ar Ranniry; gubuk-gubuk mahasiswa di bawah pohon-pohon kelapa di Lam 
Poh U; dan lain-lain.
Kawasan Darussalam pasti punya arti tersendiri, baik bagi kami maupun 
para wartawan Serambi Indonesia yang kini kami tak tahu bagaimana 
nasib mereka. Dari dua kampus di situ, Unsyiah dan Ar Ranniry, 
sebagian besar dari mereka berasal. Waktu itu, umumnya mereka baru 
saja lulus kuliah ketika bergabung dengan Serambi Indonesia. Mereka 
umumnya masih merupakan jiwa-jiwa muda yang dinamis, idealis, dan 
antusias untuk belajar. Kini, beberapa di antaranya tidak lagi 
bergabung dengan Serambi Indonesia, dan menjadi kebanggaan kami, 
karena kami sering mendengar nama mereka. Misalnya, Mustafa 
Gelanggang yang kini menjadi Bupati Bireuen, atau Teuku Mahiansyah 
maupun Hamdani S Rukiah, yang namanya sering disebut dalam siaran 
Metro TV. Mereka itu adalah teman-teman kami yang begadang bersama 
kami dulu, bahkan kami sering menginap di rumah mereka.
Bagi Nico, Kampus Unsyiah mungkin punya kenangan khusus meski dia 
tidak berkuliah di situ. Dulu ia numpang tidur di emperan Gedung 
Serbaguna Unsyiah untuk mengikuti tes masuk Serambi Indonesia yang 
dilangsungkan di situ. Petugas satuan pengamanan (satpam) di sana 
pagi hari memberikan jatah sarapan bubur kacang ijonya kepada Nico 
ketika mendapatinya pagi hari tidur di emperan. Kebaikan petugas 
satpam itu berlanjut, dengan menawari Nico untuk tidur di atas kasur 
di Rektorat Unsyiah pada malam-malam selanjutnya.
Ada orang bilang, hati orang Aceh itu seperti rumah Aceh. Pintunya 
kecil, tetapi begitu kita masuk, di dalamnya adalah ruangan luas 
tanpa sekat-sekat. Artinya, sekali kita diterima masuk, kita akan 
diterima seluas-luasnya.
Ismail M Syah dulu sering membuatkan kami gule pli yang enak sekali, 
karena tahu kami suka makan sayur khas Aceh itu. Bang Darmansyah, 
salah satu yang paling senior di Serambi Indonesia, pernah sambil 
makan nasi pecel di sekitar Rex bercerita tentang pengalaman masa 
kecilnya, termasuk ketika berlangsung pergolakan Darul Islam (DI). Ia 
menceritakan bagaimana generasi seangkatannya umumnya masih menyimpan 
trauma terhadap peristiwa itu. Karena peristiwa DI, pada umumnya 
mereka merasa mendapatkan stigma 
sebagai "pemberontak", "pembangkang", sehingga sulit untuk bisa 
diterima bekerja di lembaga-lembaga pemerintah.
"Kalau ditanya, apa yang diingini orang Aceh, pasti hanyalah suasana 
damai," begitu lebih kurang pengakuan Bang Darmansyah saat itu 
menceritakan kenangannya tersebut dengan mata berair.
KAMI meninggalkan Aceh sekitar pertengahan tahun 1991, sedangkan Nico 
meninggalkan Aceh pertengahan tahun 1992, untuk bergabung dengan 
Kompas di Jakarta. Meski berjauhan, kami tetap sering berkontak 
dengan teman-teman di Serambi Indonesia.
Dari situ kami juga tahu, betapa sulit perjuangan mereka dari hari ke 
hari, terlebih di zaman bergolaknya kegiatan Gerakan Aceh Merdeka 
(GAM) sekarang. Beberapa kali mobil pengantar koran harian ini 
diancam, ditembak, bahkan ada yang hilang dirampas orang. Setiap hari 
rekan-rekan itu berpacu dengan detak jantung karena pemberitaan 
mereka selalu diamati oleh pihak luar, "memihak GAM atau tentara". 
Dua-duanya mengandung risiko. Bekerja di Serambi Indonesia 
ibaratnya "meniti di titian rambut".
Kira-kira seminggu sebelum gelombang tsunami melanda Aceh, yang kini 
nama resminya Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kami sempat bertemu 
Bang Darmansyah di Jakarta, makan-makan di McDonald's di Plaza 
Senayan. Sosok yang selalu bercerita dengan sistematik ini 
menyinggung betapa telah terjadi disintegrasi sosial luar biasa di 
Aceh.
"Sekali-kali, datanglah lagi ke Aceh," tuturnya.
Tiba-tiba, bencana itu datang. Kami mencoba menghubungi Bang 
Darmansyah, atau siapa saja rekan di Serambi Indonesia yang kami 
biasa berkontak. Kalau dengan handphone rasanya jarak antara Jakarta 
dan Banda Aceh hanya sejengkal, kini kami merasa Banda Aceh 
sebenarnya lebih dekat lagi. Jaraknya hanya sejengkal doa.... (BRE)
--- End forwarded message ---






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke