Tips Menulis di Media (4) "Bagaimana Memulai?"
Oleh Mario Gagho
Banyak yg ingin menulis ke media tapi bingung
bagaimana memulainya. Ada dua cara: (1) mempelajari
teori menulis baru praktik; (2) Learn the hard way
atau menulis dulu teori belakangan.
Terserah kita mana yg lebih enak dan nyaman. Tapi,
berdasarkan pengalaman rekan-rekan di India yg
tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif
kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari
Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi,
Jusman Masga, Irwansyah, dll semuanya belajar menulis
dg langsung mengirim tulisannya. Bukan dg belajar
teori menulis lebih dulu.
Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini
karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat
terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis.
Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam
belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung
membaca buku, koran atau majalah. Pernah saya coba
belajar bahasa Inggris dg membaca grammar, hasilnya
sama: pusing kepala.
Sulitkah Menulis?
Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita
menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap "santai".
Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken
Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah
kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang
lain. Artinya, apa yg ingin kita tulis, tulis saja.
Sama dg gaya kita menulis buku diary. Setidaknya,
itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya
dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita
berhasil mengirim tulisan ke media -- dimuat atau
tidak itu tidak penting-- barulah kita dapat melirik
buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan
menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori
menulis kemudian. Seperti kata Rhoma Irama, penyanyi
kesayangan Malik Sarumpaet.
Topik Tulisan
Topik tulisan, seperti pernah saya singgung dalam
posting beberapa bulan lalu, adalah berupa tanggapan
tentang fenomena sosial yg terjadi saat ini. Contoh,
apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami
di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY?
Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di
Indonesia? Dan lain-lain.
Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan
maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung
ke media yg dituju. Jangan pernah merasa tidak pede.
Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa
mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat
tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani
mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat
satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua
prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan
ustadz KBRI, Rizqon Khamami.
Rendah Hati dan Sifat Kompetitif
Apa hubungannya menulis dg kerendahan hati? Menulis
membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong.
Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ
kita sadar bahwa masih banyak orang lain yg lebih
pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yg
sudah menjadi dosen yg di mata mahasiswa-nya mungkin
sudah paling 'wah' sehingga mendorong perasaan kita
jadi 'wah' juga alias ke-GR-an.
Nah, menulis dan mengririm tulisan ke media membuat
kita terpaksa berhadapan dg para penulis lain dari
dunia dan komunitas lain yg ternyata lebih pintar dari
kita yg umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ
kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal.
Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa
tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya
langkah awal kita menuju kemajuan.
Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi
otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi
jabatannya.
Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media
membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui,
untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan
opini yg masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yg
dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yg empat
itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga
belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta
kekuatan mental juara seseorang.
It's your choice: you are either being a loser or a
winner. Being a loser is easy. Just sit down in the
chair, behind your desk. And feel comfort with your
hallucination of being "a great guy" which is actually
not, as a matter of fact.[]
=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
---------
A WINNER works harder than a loser and has more time.
A LOSER is always "too busy" to do what is necessary.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/