saya ingin memberi sedikit komentar seputar pasangan yg tepat dan cocok ini, sekedar untuk memancing para pakar yg lebih 'otoritatif' di bidang ini (mas pur, harun, rahmat, pak regar, p.suhadi, p.dalton, bu niek, dll) yg sudah duluan mendapat pasangan 'tepat & cocok'. dan sekalian buat mancing rizqon yg sudah menggiring-giring bola di sekita gawang 'lawan'. buat fahim, mas hizazi di pune dan temen2 yg masih "lari2 kecil di luar lapangan bola" seperti saya boleh juga ikut sumbang opini.
nikah itu saya kira seperti hidup itu sendiri: gampang2 susah. temen2 cewe saya waktu SD dulu banyak yg langsung menikah setelah lulus SD (di bawah umur) toh hidup berjalan lancar: punya anak, 'sukses' hidupnya, tidak ada masalah, dll. begitu juga temen2 cowo saya banyak yg nikah setelah lulus smp, sma atau kuliah S1. belum ada satupn dari mereka yg saya dengar cerai. bukankah itu tanda perkawinan yg berhasil? lalu, kalau begitu, kenapa rekan2 saya yg kuliah di india kok pada telat menikah? kenapa tidak menikah sebelum ke india? bukankah itu lebih baik biar selama kuliah di india dan tamat S3 dan lulus PH.D dapat tambahan gelar P.KA (pendekar kaya anak)? saya mencoba menanyakan hal ini pada Harun yg baru nikah setelah Ph.D, pada sdr. Mujab, dan lain-lain, tapi tidak ada jawaban yg memuaskan. Tampaknya temen2 ini termasuk orang2 yg menganggap nikah itu sulit, sama dg sulitnya hidup bagi sebagian orang. waktu saya tanya pada Rizqon, dia cuma tertawa tanpa ada satupun jawaban yg jelas. Apakah memang semakin tinggi pendidikan seseorang, pernikahan itu semakin sulit sama dg sulitnya hidup itu sendiri? Salah satu jawaban klise yg sering terdengar dari kalangan ini adalah "belum ada jodoh" (padahal puluhan gadis sudah menunggu untuk dipinang Rizqon -- ini off-the record, mohon tidak dibocorkan ke media). Jadi, kira2 apa jawaban yg tepat atas 'kadaluwarsanya' status bujang mereka? Sebuah pertanyaan yg belum ada yg bisa menjawab secara memuaskan. Termasuk Rizqon. Sama sulitnya menjawab pertanyaan saya sendiri: "mengapa saya kok ikut2an Rizqon?" salam, > Fachim bin Ali Harharah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum WrWb > > Cerita menarik dari seorang kawan (thank's buat Ika di UnBra Malang) > >Saya menjawab seperti ini sebenarnya hanya gurau. Toh bapak ini >tidak mungkin tanya lebih dalam. Ternyata tidak! "Yaa walaupun >langsung nikah tapi kan perlu kenal dulu calonnya tho' mba. mosok >moro2 nikah, koyok jaman siti nurbaya. la kalo emang calonnya baik >dan cinta sama mba trus > mba nya juga suka, nda masalah. tapi kalo ternyata calonnya jahat >gimana?" > "Makanya cinta itu perlu mba. biar cinta, ya saling kenalan dulu. kalo anak jaman sekarang bilangnya pacaran gitu lah. sayangnya pacaran jaman sekarang beda sekali dengan pacaran jamannya bapak muda dulu. sekarang sudah benar2 kelewatan ya mba. sama pacarnya sudah kayak sama suaminya sendiri." Lagi2 saya terdiam. > "Mba kalo nyari calon suami itu yang tepat bukan yang cocok?", "maksud bapa?" Hmmm menarik juga. "kalo nyari yang cocok ya nda bakal ketemu mba. la wong tiap manusia itu beda, ndak ada satupun manusia di dunia ini yang sama. cinta itu seperti bubur ayam ini mba. semua perbedaan jadi nyatu dalam mangkok ini. ada buburnya sendiri, kuah kaldu yang asin, daging ayam, kecap, seledri, bawang goreng, kacang kedelai semuanya menyatu, hasilnya enak tho. coba kalo mba makan buburnya aja atau seledrinya aja, ato kuahnya aja, gimana? nda enak tho? ya sma cinta juga gitu, perbedaan itu bukan untuk disamakan mba tapi untuk disatukan." > > Subhanallah, ternyata belajar cinta tidak perlu membaca beratus2 halaman buku. justru saya mendapatkannya dari seorang tukang bubur ayam yang hanya sekolah sampai kelas 4 SD! Makasih pa, saya pasti akan mencari orang yang tepat untuk saya bukan yang cocok dengan saya. _________________________________________________________________________ Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc ========================================================================== Catatan penting: 1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India 2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326 4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647 5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
