--- In [EMAIL PROTECTED], Indra Purnama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:



Catatan Harian Aceh (Bagian 4-Habis) 

Mempersiapkan Dapur Umum
PAGI itu, seperti biasa, saya bangun pada saat subuh. Saya keluar ke
geladak, dan mencoba melihat ke daratan. Masih gelap, dan saya sama
sekali tak dapat membayangkan apa yang ada di depan sana. Gelap
gulita. Tak ada satu pun lampu kota yang menyala. Sesekali tampak
cahaya bergerak, menandakan adanya kendaraan bermotor yang lewat. 

Sekalipun dingin, saya tetap berdiri di geladak, menunggu menit demi
menit sampai terang tanah, dan beberapa bangunan besar di daratan
mulai tampak. Aminsyah, Komandan Kompi Relawan, yang sehari-hari
bekerja sebagai konsultan konstruksi pelabuhan dan pernah beberapa
kali berkunjung ke Meulaboh, menunjuk gedung berlantai empat dengan
atap genting hijau di sana adalah kantor Korem. 

Saya naik ke anjungan. Komandan Kapal ternyata sedang sibuk memimpin
olah gerak untuk memindahkan tempat "parkir" kapal agar lebih dekat ke
pantai. Kami mendekat hingga jarak 700 meter dari pantai. Karena
pelabuhan Meulaboh telah hancur, kapal tidak bisa merapat dan sandar
di dermaga. Sekalipun KRI Teluk Peleng mempunyai kemampuan beaching,
yaitu "menyodok" ke pantai dan membuka pintu roll-on roll-off di
depan, tetapi tsunami yang baru saja terjadi tentu telah mengubah
gradient (kelandaian) pantai, sehingga Komandan Kapal memutuskan lego
jangkar di tengah laut, sedekat mungkin dengan garis pantai. 

Saya meminjam teropong di anjungan untuk melihat daratan. Ternyata, di
antara beberapa gedung besar dan tinggi yang masih tampak berdiri,
yang terlihat hanyalah tumpukan puing-puing. 



Beberapa facade --bagian muka dari suatu gedung-- bangunan komersial
tampak rontok. Tetap tak tampak ada kehidupan. Tak ada orang
lalu-lalang. Meulaboh kota mati! 

Bulu kuduk saya meremang. Ya, kami telah tiba di Meulaboh. Kami sudah
menghadapi kenyataan itu. Pelan-pelan saya mulai mencium bau anyir
dari arah daratan. Tak salah lagi! Memang bau kematian! 

Di anjungan itu saya mendengar komunikasi antara Komandan Kapal dengan
KRI Pati Unus yang ternyata menjadi koordinator bagi kapal-kapal
TNI-AL yang bertugas di Meulaboh. Pati Unus meminta agar proses
debarkasi (pembongkaran muatan) KRI Teluk Peleng segera dilaksanakan. 

Saya segera turun memberi tahu Aminsyah agar mempersiapkan anak
buahnya. Seperti telah kami rencanakan sebelumnya, satu peleton
relawan akan tinggal di KRI Teluk Peleng untuk membantu proses
debarkasi. Sedangkan dua peleton relawan turun ke darat untuk
menangani debarkasi dan melakukan evakuasi jenazah. 

Sekalipun masih terlihat ada canda yang agak berlebihan, tetapi pagi
itu para relawan tampak tampil lebih sigap. Semua perlengkapan yang
akan dibawa turun ke darat sudah siap di dekat tangga. Beberapa
relawan sempat berjabatan tangan dengan saya, minta doa restu. Saya
merasa sedikit kikuk. Tetapi, mungkin itu gaya Medan? 


Uji Nyali 

Saya berada di perahu kedua yang menuju ke darat. Di dermaga Meulaboh,
saya tercekam melihat "pemandangan" yang terpapar di sana. Kehancuran
total! Bangunan yang dari jauh kelihatan berdiri tegap, ternyata
sebenarnya sudah porak-poranda. Kaca-kacanya hancur, sebagian genting
hilang, sebagian dinding menganga, beberapa kolom beton patah. Banyak
perahu dan truk besar terlempar hingga sekitar 200 meter ke darat, dan
tetap teronggok di sana ketika air surut. 

Bau bangkai merebak di mana-mana di kawasan yang disebut Padang
Seurahit (Kampung Pasir) itu. Beberapa personel TNI-AL dan Marinir
tampak "menguasai" kawasan dermaga itu. Letda Arys Susanto yang sudah
tampak hitam-legam karena tiga hari berjemur di sana, menyambut dengan
senyum lebar. Ia sempat bercerita bahwa KRI Pati Unus dalam
perjalanannya ke Meulaboh berhasil menyelamatkan seorang perempuan
berusia 30 tahun yang sudah lima hari terapung-apung di laut. 

Tim TNI-AL di situ dipimpin oleh Kolonel Firman yang tampak sangat
simpatik menghadapi para pengungsi. Ia awas melihat sekeliling. Ketika
melihat seorang berjalan hilir-mudik kebingungan, ia segera
menyapanya. Ternyata, orang itu sungkan minta beras. Padahal, di
rumahnya ia menampung banyak pengungsi. "Ambil saja satu karung beras
dari tumpukan sana," kata Kolonel Firman. 

Kami urung membangun tenda di dekat dermaga. Kami diarahkan untuk
menggunakan saja bangunan yang masih bisa dipakai di dekat-dekat situ.
Saya mengajak Aminsyah melakukan survei. Bangunan pertama sangat
berbau anyir. Bangunan kedua lantainya dilapisi pasir laut setebal 20
senti. Seorang perwira TNI-AL yang melihat kami mengatakan bahwa kalau
malam di situ suasananya melebihi acara "Uji Nyali" di televisi. 

Akhirnya kami memilih lantai dua sebuah sekolah dasar yang kosong.
Sementara sebagian dari kami menyiapkan home base itu, sebagian lagi
ikut satu peleton Marinir "mencari" mayat, dan sebagian yang lain
membantu bongkar-muat barang di dermaga. Kami juga ikut truk-truk
pembawa logistik yang selalu dikawal petugas bersenjata untuk
menghindari penjarahan. 

Proses bongkar-muat barang bukanlah soal sepele di Meulaboh. Geladak
kapal perang yang sangat tinggi membuat kesulitan memindahkan barang
ke perahu-perahu nelayan kecil. Begitu pula ketika memindahkan barang
dari perahu nelayan ke dermaga, dan kemudian ke truk. Kotak mi instan
cukup ringan untuk dilempar. Tetapi, sekotak air minum cukup berat
untuk dilempar. Apalagi karung beras 30 kg! Padahal, kami juga
menurunkan dua drum avtur dan satu drum minyak tanah. Ya, relawan
memang harus juga rela menjadi kuli. 

Pencarian mayat pada hari ke-8 sesudah bencana itu memang sudah
memasuki tahap yang lebih sulit. Sebelumnya, penduduk setempat dan TNI
telah menguburkan sekitar 10 ribu jenazah di pemakaman massal Gunung
Bergang, Ujungkarang, dan Prembik. Hari itu, kami mulai mencari
mayat-mayat di antara reruntuhan bangunan yang hanya berjarak sekitar
200 meter dari garis pantai. 

Saya beruntung menemukan Nasrun Rasyid, seorang kontraktor asli
Meulaboh, yang sukarela mengantar saya melakukan reconnaissance
(pengamatan, Red) keliling Meulaboh. Pertama dengan mobil, lalu ganti
sepeda motor. "Maaf, Pak, bensin sulit. Kita pakai motor saja, ya?"
katanya. Di mana-mana saya melihat kehancuran. Di mana-mana saya
melihat pengungsi. 

Di sebuah kedai kopi, sambil menghirup secangkir kopi Aceh yang
nikmat, Nasrun bertanya. "Apa yang sekarang Bapak mau lakukan?" Saya
tercenung. "Dapur umum?" tanya saya. Ia langsung menepuk bahu saya.
"Ayo, Pak, bikin segera. Pengungsi tidak bisa makan beras mentah.
Jangan lupa bawa juga tangki-tangki air untuk menampung air hujan.
Kami tidak bisa mandi dengan air kemasan, kan?" 

Saya langsung pamit kepada Komandan KRI Teluk Peleng dan berpamitan
dengan Komandan Kompi Relawan untuk pergi ke Medan menyiapkan dapur
umum dengan Posko USU (Universitas Sumatera Utara). Saya naik minibus
ke Blang Pidie, 105 kilometer di selatan Meulaboh yang ditempuh dalam
waktu tiga jam berhubung banyak jalan rusak karena gempa. 

Minibus tiba di bandara Blang Pidie, tepat ketika pesawat SMAC yang
akan membawa saya ke Medan mendarat. Saya berlari ke "kantor" SMAC
yang lebih mirip gubuk di pinggir landasan untuk membeli tiket. Saya
"menyalahgunakan" nama Toto Iman Dewanto, anak buah Pramuka saya dulu
yang menjadi Dirut SMAC, agar mendapat kursi di penerbangan itu.
Maklum, pengungsi dari Meulaboh sudah sejak beberapa hari menunggu
giliran diterbangkan. 


Lessons Learned 

Di dalam pesawat Casa 212 itu, saya mencoba membuat beberapa catatan
lessons learned dari "operasi" yang baru saya lihat dan bahkan saya
jalani sebagian. 

Pertama, tentang penggunaan body bag dari plastik untuk membungkus
jenazah. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa
jenazah korban tidak perlu dikafani. Body bag juga terbukti di
lapangan merupakan alat yang praktis untuk menangani jenazah yang
sudah rusak. Tetapi, plastik akan menjadi masalah ekologi yang berat
karena tidak bisa hancur di tanah. 

Kedua, antusiasme masyarakat agaknya perlu "diarahkan". Menko Kesra
Alwi Shihab benar ketika mengatakan bahwa sebaiknya masyarakat
menyumbang uang, bukan barang. Mengangkut pakaian bekas dan air dalam
kemasan yang terkumpul di Surabaya, misalnya, akan makan waktu sangat
lama untuk tiba di tujuan. Sudah pasti ongkosnya lebih besar dari
nilai barang yang disumbangkan itu, di samping akan menimbulkan
masalah administrasi logistik yang luar biasa. 

Tetapi, soalnya, masyarakat memang tidak pernah percaya kepada
Pemerintah. Jangan-jangan uangnya dikorupsi? Sayang, imbauan baik itu
tidak didukung dengan kredibilitas Pemerintah, sehingga terjadi
penumpukan bahan bantuan di tempat-tempat yang teramat jauh dari titik
bencana. 

Ketiga, sumbangan berbentuk bahan juga sering kali tidak sesuai dengan
kebutuhan korban. Contohnya, KRI Teluk Peleng membawa 25 pallets
makanan bayi siap saji dalam botol. Padahal, belum ada statistik yang
menyebut jumlah bayi yang berada di tempat-tempat pengungsian. Dugaan
saya, jumlah itu terlalu banyak untuk satu kota tujuan seperti
Meulaboh yang ditaksir antara 60-80 persen penduduk kota pelabuhan itu
tewas. Susu bubuk dan susu kental manis pun membawa persoalan karena
di sana tidak cukup tersedia dapur umum. Siapa yang akan memasak susu
itu? Mengapa bukan susu dalam kemasan siap saji? 

Keempat, soal relawan. Gubernur Sutiyoso benar ketika mengatakan di
Metro TV bahwa yang paling terlatih untuk menangani pascabencana
adalah personel militer. Tetapi, mengapa tampak ada keterlambatan
dalam mengirim tentara ke lokasi bencana? Mengapa tak cukup ada
pelatihan bagi warga sipil untuk menjadi relawan yang terlatih guna
membantu penanganan pascabencana? 

Belum selesai catatan saya, pesawat sudah mendarat dengan mulus di
Polonia. Ketika kemudian melangkah masuk ke lobi hotel untuk
beristirahat di Medan, tiba-tiba saya terguncang. "Adik-adik" relawan
saya masih di bekerja keras di Meulaboh sana. Ah, mengapa saya ada di
hotel semewah ini? Tiba-tiba air mata saya mengalir, tanpa dapat
menghentikannya. Apakah ini trauma yang selalu terjadi pada setiap
relawan yang pulang dari katastrofi yang mencekam seperti dikatakan
Doreen? 

Terima kasih kepada Dharma Eddie Salim dan Linda Widjaja dari V-Kool
yang telah menyediakan dana untuk proyek kemanusiaan ini. Terima kasih
kepada Danlantamal I Brigjen (Mar) Halim, Wadanlantamal I Kolonel
Sudarsono, dan Komandan KRI Teluk Peleng Mayor Heru Supriyanto. Terima
kasih kepada Yendy Yan, Corrie, Rudy, dan Salam dari Sejahtera Ban di
Medan. Terima kasih kepada Amin, Eri, Mawardi, Aswadi dan semua
relawan yang benar-benar rela mengabdikan dirinya untuk
saudara-saudara kita yang tengah menderita. 

Terbayang oleh saya Hendra, si pengasong, yang bertekad untuk terus
membantu di Meulaboh. Si Dewa yang pincang, tetapi rajin bekerja di
dapur. Suhardiman yang juga tampak ringkih, tetapi selalu berada di
depan bila pekerjaan datang. Terbayang lagi betapa mereka semua
bekerja sangat keras selama kami di Meulaboh. Dan, tentu saja,
terbayang lagi wajah-wajah "adik-adik nakal" itu ketika tiba-tiba
semuanya menjadi serius menyanyi di geladak kapal. 

Padamu neg'ri kami berjanji 

Padamu neg'ri kami berbakti 

Padamu neg'ri kami mengabdi 

Bagimu neg'ri, jiwa raga kami.*


[Non-text portions of this message have been removed]






[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke