Assalmualaikum Wr Wb.

Sekilas terdengar di telinga saya dan bahkan mejadi berita umum 
beberapa pekan ini di berbagai media di Indonesia tentang kisah 5 
hari (15 - 19 Maret) keberadaan dan persiapan menunggu hari 
terakhirnya terpidana mati Astini di Rumah Tahanan Negara (Rutan) 
Kelas I di Medaeng, Sidoarjo.

Astini tampaknya tetap seorang manusia, meski ibu berusia 51 tahun 
itu sempat kehilangan "kemanusiaan" saat membunuh dan memotong-motong 
tubuh tiga orang wanita, yakni Sri Astutik dan Rahayu (1992-1993) dan 
Puji Astutik (4 Januari 1996).

Bahkan, dibalik itu faktor yang membuatnya hilang "kemanusiaan" itu 
juga bersumber dari sifat kemanusiaan pula. Dia jengkel, kesel, 
ngamuk karena dia berutang Rp20 ribu untuk anak-anaknya, tapi ditagih 
secara paksa, dihina terus-menerus dan diolok-olok seperti bukan 
halnya seorang manusia.

Astini memang sadis! ia dinyatakan bersalah, karena melakukan 
mutilasi (membunuh dan memotong mayat korban) dengan dimasukkan ke 
dalam tas plastik yang dibuang di beberapa tempat sampah dan sungai�
di Surabaya.

Setelah mendapat vonis mati di PN Surabaya, akhirnya Astini pun 
mengajukan hak bandingnya sampai ke tingkat MA (Mahkamah Agung) dan 
Peninjauan Kembali (PK), namun ditolak dan mengajukan grasi ke 
presiden dengan grasi terakhir ditolak Presiden Megawati pada 9 Juli 
2004. (sungguh malang nasibmu Astini)

Perjuangan Astinipun berakhir hanya diujung peluru. Nasi telah 
menjadi bubur, tapi bagi Astini ini adalah hal yang memang harus ia 
hadapi karena telah membunuh. "Nyawa harus dibalas dengan Nyawa" 
kalimat ini yg paling tepat untuk disandang oleh setiap pelaku 
pembunuhan, Al qothlu bil qothli...apalagi pembunuhan multilasi 
sangat sadis.

Tapi yg menjadi pemikiran saya saat membaca, merenungi, menghayati 
hal� yg terjadi pada Astini. Dia (Astini) memang sadis, karena 
memotong mayat korbannya secara multilasi terhadap tiga korbannya, 
tapi tetap hukuman mati tidak adil buatnya, sedangkan koruptor bebas 
berkeliaran. Koruptor juga pembunuh lebih multilasi dari apa yg 
dilakukan oleh Astini saat itu.

Astini memang tidak berperikemanusiaan, tapi dia melakukan karena 
terpaksa, berpendidikan rendah, dan diolok-olok berkali-kali, 
sehingga harga dirinya tergerak untuk melakukan hal di luar 
kesadarannya.

Berbeda dengan koruptor yang melakukannya bukan terpaksa, tapi untuk 
menguntungkan diri sendiri bahkan sampai merugikan negara 
(bangsa=rakyat=anda), apalagi mereka (andakah sang koruptornya?) juga 
bukan orang yang bodoh dan bukan dipengaruhi orang lain. Lalu 
bagaimana posisi hukuman yg tepat bagi para koruptor?

Salah seorang anak kecil usia 14 tahun di salah satu desa di Surabaya 
menilai hukuman mati yg diberikan bagi Astini mungkin lebih layak 
lagi jika orang-orang besar, pejabat, priayi, PNS yg korupsinya 
ratusan juta bahkan milyaran, yang merugikan rakyat kecil harus 
dijatuhi hukuman yang sama dan kalau bisa lebih dari apa yg diterima 
oleh Astini. (sungguh malang nasibmu Astini...)

Yang lebih menggelikan lagi sesaat anak kecil tersebut pula berkata 
seperti ini "Rasanya, kok tiba-tiba ada orang kecil akan ditembak, 
tapi orang kecil seperti dia juga banyak sih yang ditembak karena 
mencuri sepeda motor, mencuri ayam, dan sejenisnya, sedangkan 
koruptor tak ada satu pun yang ditembak". Ortu di Kedubes pasti 
setuju jika Koruptor juga ditembak kepalanya sampai 
bolong...setujukan ortu?

Siapa pun harus mengakui bahwa proses percepatan pemberantasan 
korupsi bukan seperti membalik telapak tangan. Lebih dari itu, harus 
ada kerja-kerja keras yang spartan dan simultan antara aparat penegak 
hukum dan masyarakat. Juga harus dibangun kesadaran yang 
mengartikulasikan kejujuran dan budaya malu melakukan korupsi.

Menurut hemat saya dengan sekilas wacana di atas, seharusnya proses 
percepatan pemberantasan korupsi yg dilakukan oleh para pejabat yg 
koruptor yg paling tepat adalah seperti apa yg dipaparkan oleh anak 
kecil yg berusia 14 tahun tersebut yaitu di eksikusi alias ditembak 
kepalanya.

Andakah karuptor itu? tanyakan diri anda.

Semoga Allah mengampuni seluruh dosa Astini dan tentunya kita harus 
lebih waspada dan tidak lupa berterima kasih atas seluruh perjuangan 
astini yg dengan tegar menerima hukuman mati karena ini adalah 
pembelajaran terhadap para koruptor yg ingin bersembunyi dibelakang 
layar hukum. Ayo kita tembak kepala-kepal koruptor. Bung mario pasti 
setuju!

Wassalamualaikum.

ipuL





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/h8TXDC/6WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke