Ass. Wr. Wb.
 
Hehehe..., karena ada kalimat Islamic Studiesnya, maka saya berarti yang dimaksud dalam tanggapan bung Andrian ini. Jawaban saya ada pada celah-celah tulisan bung Andrian tersebut. Saya mohon agar diskusi ini tak sampai memutuskan ikatan persaudaraan kita. Soalnya kalo sampai diam-diam pula kalo ketemu, wah... bahaya kalilah tuh. :). Kiranya diskusi semacam ini bisa menambah dan mengisi kekuarangan saya selama ini. Saya ingin belajar yang lebih baik lagi dari rekan-rekan semua, dan tentunya kalao mau belajar tentang cinta, saya harus banyak bertanya dengan Nidya atau Echa. [izam] 
 
andriansyah putra anshori <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Salam,

Sepertinya ada ketidakpahaman dari apa yg saya paparkan. Saya bukan bermaksud utk menyalahkan si pengkritik 100 persen, tapi saya lebih tertuju kepada cara penyampaian ataupun tutur bahasa si Pengkritik. Kenapa anda jauh2 mengambil contoh sampai kepada kritikan rakyat terhadap Megawati, SBY, Ulil dan lainnya? Gak perlu jauh2 mengambil contoh sampai kesana, cukup nilai di lingkungan kita saja.

Izam: Mengapa saya harus jauh-jauh mengambil contoh sampai menyeret nama Mega, SBY atau Ulil? Karena memang nantinya kita juga akan kembali ke Indonesia. Kita tak selamanya di sini. Komunitas kita di India ini sungguh sangat kecil sekali. Itulah sebabnya saya mengajak untuk berpikir yang tak hanya mentok sebatas ruang India saja. Masih menurut saya bahwa untuk melihat seseorg tersebut, mengacalah kepada yang lebih besar. Contoh, untuk menjadi seorg manusia yang paling sempurna, mengacanya tentulah kepada Rasulullah. Rasul sendiri memang dalam menegakkan risalahnya tak pernah lepas dari cacian, makian, dan hamunan orang lain. Marahkan Rasul?

Untuk sekop yang lebih kecil, umpamanya, ingin menjadi seorg orator, mengacanya tentu kepada Soekarno. Untuk menjadi seorg pemikir, mengacalah pada Gusdur. Atau untuk menjadi seorg ilmuan bersahaja, tak ada salahnya bila kita mengaca kepada Abul Hasan Nadwi. Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang harus dilawannya. Semakin tinggi sekolah kita, tentu semakin berat tanggung jawab kita memikul keilmuan yang kita raih tersebut. (Z)

Dan gak perlu sampai cerita ini dan itu, langsung aja lihat diri anda, apakah cara dan bahasa anda benar2 diterima oleh org yg anda kritik?

Izam: Tergantung dari orangnya. Ada yang menerima, ada yang menolak. Ini biasa, seperti seorg penjual, kalao mau beli, silakan. Kalo gak minat, ya tinggalkan. (Z)

ataukah anda layak mengkritik org lain?

Izam: Saya mengkritik seseorg itu, juga bila memang saya anggap perlu.

Atau anda mengkritik org lain sementara org itu jauh lebih baik dari anda?

Izam: Ketika rombongan dari Kementerian Pendidikan Nasional RI mengadakan acara "Silaturrahmi" bersama masyarakat Indonesia di KBRI beberapa bulan lalu itu, dan begitu dibuka sesi tanya jawab, maka di forum tersebut saya juga mengkritik Departemen Pendidikan Nasional RI yang terus berdebat masalah RUU pendidikan. Begitu juga saya mengkritik tentang sistem penddikan kita yang selalu berubah-rubah, begitu juga dengan buku panduan siswa yang sering berubah-rubah. Bahkan bisa dipastikan, berganti Menteri Pendidikan, maka berganti pula buku panduan untuk sekolah.  

Dalam konteks ini, jelas mereka lebih baik dari saya. Ketika saya mengkritik Departemen Pendidikan  tersebut, memang ada sih yang membatasi saya untuk berbicara. Tapi, saya salut dan hormat kepada Dubes kita, Bapak Donnilo Anwar, dimana ketika itu beliau mengatakan, "Biarkan mahasiswa itu berbicara, teruskan Zam".

Saya juga masih ingat dengan kritikan Bapak Suhadi kepada saya pada acara Sosialisasi Pemilu kemaren. Kepada saya di hadapan banyak orang, Bapak Suhadi mengatakan, "Anda selaku ketua tak pantas untuk berkata begitu". Dalam hal ini saya sangat berterima kasih kepada Bapak Suhadi karena telah mengajari dengan cara mengkritik saya. Saya bangga karena masih ada yang peduli dengan saya. Kalau ada yang bertanya, "Bagaimana perasaan kamu ketika dikritik oleh Bpk Suhadi, Zam?" Saya akan menjawab,"Saya puas dan saya bangga".

Untuk itu, bila ada diantara rekan-rekan yang melihat kekuarangan pada diri saya, silakan dikritik saja. Karena krtikan rekan-rekan itu tentu menjadi pelajaran juga buat saya. (Z)

Apakah sama cara mengkritik org lain dlm forum diskusi atau dlm kedai kopi?

Izam: Tentu beda tuan, kalau dlm forum diskusi, tentunya dengan mengacungkan tangan dulu sambil minta izin dulu sama moderator. Tapi kalao di warung kopi, ya terserah disitulah. Tak jarang juga gelas melayang kalo di warkop ini.(Z)

Atau kritikan itu sama tutur bahasanya antara rekan-rekan anda dengan org tua anda, atau keluarga anda, atau sanak famili anda, atau dengan adik kelas anda, atau dengan org2 tua di KBRI, atau dengan tukang becak?

Izam: Sekali lagi jelas beda.(Z)

Kalau anda menganggap sama cara penyampaiannya, berarti anda juga harus menerima kalau di kritik org lain.

Izam: Meski metodenya berbeda, tapi kapanpun dan dalam forum apapun saya terus siap untuk menerima kritikan.(Z)

Apakah ada dalam tata cara mengkritik itu sampai menjatuhkan pribadi org lain, mengoloknya, dan bahkan mentertawakannya?

Izam: Bila memang ada rekan-rekan yang merasa dijatuhkan, diolok dan bahkan ditertawakan oleh saya, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon untuk dimaafkan. (Z)

Apakah baik menurut anda mengkritik org lain dengan menjelek2annya di belakang?

Izam: Jelas menceritakan keburukan orang lain itu tak baik. Itukan ghibah namanya. (Z)

Atau kah ada dlm tuntunan Islam sebagaimana anda pemeluk agama Islam, mengajak atau mengkritik org dgn kata2 yg menyakitkan hatinya?

Izam: Memang nggak ada lagi. (Z)

Anda justru lebih tau dari saya karna anda pelajar pada jurusan Islamic Studies.

Izam: Ooppss tunggu dulu. Bidang studi yang paling banyak saya geluti adalah masalah pemikiran. Disana jelas banyak perbedaan pendapat tentang Islam. Apalagi pendapat tersebut bermunculan dari kelompok orientalis. Jelas pendapat orientalis ini akan dikritisi oleh para ulama salafussaleh atau ulama-ulama tradisional. Mungkin juga karena materi yang saya makan adalah persoalan kritik-mengkrtik melulu, sehingga apa yang saya lahap itu rupanya menular juga kepada saya. Untuk itu, mohon perbaiki cara pikir saya tuan dan puan sekalian.

Seharusnya rekan-rekan kita yang banyak menguasai ilmu hadistlah yang harus berkhutbah menyampai adab dan tata krama ini kepada kita-kita ini. Bukanlah persoalan mu'amalat ini menjadi bagian dari kajian di dalam ilmu hadist. (Z)

jika cara menyampaikan sesuatu itu sampai menjatuhkannya atau mengejeknya, lebih baik gak usah mengkritik org lain.

Izam: Sip.(Z)

Selagi cara kita masih salah dan dianggap menghina org lain lebih baik kritik aja diri sendiri, kenapa org lain sampai menganggap diri kita demikian?

Izam: Ini maksudnya muhasabah itukan Da? Kalao kata Nawal "Hassib nafsakal awwal qobla an tuhaasibni"(Z)

Saya kira anda bukan tidak pantas utk mengkritik org lain, tapi lebih baik tidak usah mengkritik org lain.

Izam: Oke. Maafkan daku yang hina dina ini. Oya, buat bang Rozi, antarkan aku pulang..... hahahaha.(Z)

Saya bukan menilai status atau pun posisi anda, namun penilaian org-org yg tidak diterima oleh akal sehat mereka.

Izam: Saya tak perlu dinilai, saya hanya perlu dikritisi.(Z)

Ud 'uu ilaa sabiili rabbika bil hikmati wal mau 'izhatil hasanati

Izam: Artinya: "Serulah mereka itu kepada jalan Tuhan engkau dengan menggunakan hikmah dan mauizhah yang baik. Dan berargumenlah dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya dan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.An-Nahl: 125) (Z)

wassalam.

Ulis Can

Izam: Wassalam,

Izam -

Uda, sorri yah diskusi kita jadi melebar kemana-mana. Dan saya juga mohon maaf kepada bapak-bapak yang namanya saya sebutkan di sini. Terima kasih atas partisipasi dan sumbangan pemikiran dari kawan-kawan semua.[]

Yahoo! India Matrimony: Find your partner online.

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke