Ada IQ, EQ, SQ dan yg terbaru AQ (adversity quotient).
Apa itu? bagi yg belum pernah dengar, silahkan dibaca.
biar gak ketinggalan. 

tulisan ini saya ambil dari milis umum, pengirimnya
ratna hidayati.
salam,


Koran Tokoh, Denpasar Bali
-----------------------------
 
Dengan Adversity Quotient tak Ada Alasan untuk mudah
Menyerah 

 HAMIL Tiga Bulan, Ibu Muda Gantung Diri. Begitu
berita dimuat Denpost. 
Dugaan penyebab kenekadan wanita muda itu karena
kesulitan ekonomi yang 
membelenggunya. Tak cuma Ni Wayan Diah, begitu
namanya, yang melakukan 
aksi nekad. Belakangan, makin banyak berita yang
mengabarkan, pria dan 
wanita dari seluruh golongan usia memilih untuk
mengakhiri hidup karena 
tak tahan terhadap berbagai tekanan. Tak hanya di
Bali. Di beberapa 
daerah di Indonesia, masalah ini merebak. Beberapa
siswa SD juga 
dikabarkan melakukan aksi serupa karena malu sekolah
akibat orangtua tak bisa 
membayar SPP.

Hidup pada zaman yang serbamudah dan canggih ternyata
memiliki tingkat 
kesulitan yang lebih tinggi. Beberapa di antara kita
malah tak sanggup 
menyelesaikannya dan memilih jalan pintas; bunuh diri.
Hidup seakan tak 
punya harapan. Dalam dunia yang sama, sebagian orang
sangat mudah 
menyerah. Sebagian lagi, sebaliknya, mirip perjuangan
Susi Susanti dan Alan 
Budi Kusuma saat mengawinkan medali emas dalam
Olimpiade Barcelona; 
melelahkan namun sampai juga ke puncak.

Kehidupan ini ibarat pohon. Makin tinggi, makin
kencang angin 
meniupnya. Sama halnya persoalan hidup. Berada dalam
sekolah kehidupan, sama 
halnya ketika kita harus menyelesaikan jenjang
pendidikan satu per satu, 
mulai TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Tiap
naik kelas atau 
tingkat, kita wajib menyelesaikan ujian dengan baik.
Nilai standar 
kelulusan minimal 4 harus berhasil kita lewati. Jika
tidak, kita tak akan 
pernah naik tingkat. Demikian halnya hidup.

Namun, apa yang telah membedakan kita? Mengapa ada
orang yang mudah 
menyerah dan sebagian lagi tidak? Pendidikan kita yang
lebih mementingkan 
intelligent quotient (IQ) perlahan mulai tergeser.
Sebagian kalangan 
pendidikan mulai merasakan pentingnya mengembangkan
emotional quotient 
(EQ) yang sampai sekarang masih dijadikan tolok ukur
kemampuan berempati 
dengan orang lain. Pemikiran Daniel Goleman itu pun
kini ditambah lagi 
dengan pentingnya mempertinggi spiritual quotient
(SQ). Namun rupanya, 
itu belum cukup. Masih ada yang ketinggalan, adversity
quotient (AQ).

Kecerdasan yang dipopulerkan Paul G. Stoltz, Ph.D ini
penting saat 
hidup serasa tak indah lagi. AQ mengukur kemampuan
kita dalam mengatasi 
kesulitan. Hidup tentu tak akan pernah lepas dari
masalah dan karena 
masalah itulah kita menjadi lebih baik dalam menyikapi
hidup. Dalam 
kesulitan, selalu ada kesempatan, begitu kata orang.
Saat bergelut dengan 
masalah, sesungguhnya kita sedang menyempurnakan
hidup. Kadang, sesuatu yang 
tak nyaman dalam kehidupan ini, sesungguhnya merupakan
penyempurnaan 
sisi spiritual bagi diri kita. Contohnya, pengalaman
Anand Khrisna saat 
ia sekarat karena kanker darah.

Sayang, tak semua orang menyadarinya. Perjuangan
Andrie Wongso, pria 
yang tak lulus SD namun berhasil dengan pabrik
kata-kata mutiaranya, 
Harvest, bisa kita jadikan contoh. Ketika bertemu
beberapa waktu silam, ia 
berkata, “Jika lebih baik itu bisa, baik saja
tak cukup.” Ia 
membuktikannya. Tak ada alasan untuk menyerah.

Musuh yang paling berbahaya sesungguhnya adalah diri
kita sendiri. 
Siapa orang pertama yang mengatakan kita tidak pintar?
Siapa pula yang 
pertama berkata, kita tak bisa berhasil? Diri kita
sendiri. Kita bahkan 
tidak mempercayai diri kita bahwa kecerdasan yang kita
miliki lebih dari 
apa yang ada sekarang. Kemampuan otak yang kita
gunakan seperti fenomena 
gunung es. Hanya puncaknya yang kelihatan. Sesedikit
itulah kemampuan 
yang baru kita manfaatkan.

Menjadi anak zaman sekarang sebenarnya lebih banyak
yang harus 
dipelajari. Selain bertumpuknya kurikulum yang harus
dikejar, anak didik sudah 
selayaknya mendapat pelajaran mengenal hidup sejak
dini. Tekanan atas 
berbagai persoalan yang mereka rasakan harus bisa
mereka kenali sebagai 
suatu respons. Mengajarkan kepada mereka dalam bahasa
yang paling 
sederhana, tentu memberi pengertian agar mereka tak
mudah putus asa.

Ibarat terhalang tembok tinggi padahal mereka harus
berada di 
seberangnya, anak-anak harus diajari mencari jalan
keluar. Jangan bertindak 
bodoh dengan membenturkan diri ke tembok yang keras
karena itu sangat 
menyakitkan. Ajak mereka berpikir, kita bisa melompati
tembok itu dengan 
bantuan sebuah tangga. Tak berhasil? Hmm…pasti
ada seutas tali untuk 
memanjat. Tak ada juga? Kita harus yakin, ada jalan
lain untuk memutar; 
bukannya berkutat di depan tembok yang keras.


Mario Gagho
Agra University
www.ppi-india.org
---------
A WINNER works harder than a loser and has more time. 
A LOSER is always "too busy" to do what is necessary.


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/KZzaMD/.WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org 
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke