Merengkuh Fajar di Negeri Orang [1] Oleh: Ouiejaelza MALAM itu aku memilah-milah pakaian dan beberapa buku yang harus ku bawa pergi. Ibu dan ayahku hanya diam membisu. Aku yakin ada sesuatu yang ingin mereka katakan kepadaku, tapi sepertinya mereka tak kuasa untuk mengatakannya. "Ah, sudahlah", pikirku. Semua pakaianku ku masukkan ke dalam tas lusuh peninggalan kakekku. "Ya Tuhan, maafkan dosa-dosa kakekku dan tempatkan ia di jannahMu", doaku di malam itu.
Ayah dan ibu masih saja duduk di sampingku. Aku pun turut terdiam. Suara-suara jengkrik terdengar sahut-menyahut di kesunyian malam pertanda kala itu sudah benar-benar larut malam. Tak ada lagi suara anak-anak muda yang biasanya keluyuran dan begadang sambil main gitar. Aku menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ibu pun membelai rambutku. Tangannya gemetar pertanda ia sudah tak sama seperti 20 tahun silam. Ku lihat ada sesuatu yang menetes dari mataku ibu membasahi pipinya. "Air mata ibu inilah yang akan ku buat bekal menemapi perjalanan hidupku", ucapku. "Anakku, kuatkan hatimu nak. Tak banyak bisa ayah berikan untukmu, hanya seginilah yang ayah mampu". Kata ayah sambil memberikan amplop yang berisi uang 70.000 rupiah. Ku terima amplop itu, dan ku salam ayah dan ibu saat itu juga sebagai tanda hormatku kepada mereka. Ayahpun memelukku sambil membisikkan sesuatu, "Nak, pandai-pandailah kamu membawa diri di negeri orang". Aku mengangguk. "Ibu..., malam ini aku tak ingin tidur di kamarku, aku ingin tidur dipangkuan ibu", kataku. Ayah hanya tersenyum mendengarkan permintaanku. "Memang engkau ini anak yang manja", kata ayah. Akhirnya malam itu benar-benar tidur dipangkuan ibu. Ayah disebelah kiriku, dan ibu disebelah kananku. Aku merasa seperti kembali baru dilahirkan. Akupun tertidur dengan nyenyaknya. Seolah-olah tak hambatan ekonomi yang terjadi di keluarga kami. "Ya Tuhan..., ampuni dosa kedua orang tuaku". Adzan subuh terdengar sayup berkumandang dari musholla kecil di kampung sebelah. Ku dengar jejatuhan air di luar rumah. "Ooo..., rupanya ayah sudah bangun duluan dan ia sedang mengambil air sembahyang. Ibu pun rupanya juga sudah bangun. Aku pun bergegas bangkit dari tidurku. Ku ambil air sembahyang, dan selanjutnya kamipun melaksanakan sholat subuh berjamaah seperti biasanya. Tatkala ayah mengimami kami sholat subuh tadi, ku dengar suara ayah tak seperti biasanya. Rupanya ayah menangis tatkala sholat tadi. Entah gerangan apa yang membuat ia menangis di pagi itu. Setelah selesai membaca do'a, akupun menyalami ayah dan ibuku. "Nak, bila ada yang ingin kau minta dari ibumu sekarang, mintalah, karena waktumu untuk berada di rumah ini hanya beberapa saat lagi", kata ibu. Aku menangis haru, "Ibu..., tak banyak yang anak minta dari ibu dan juga ayah, doakan anakmu ini semoga bahagia di dunia dan di akherat kelak", mintaku. Tepat pukul 7.00 pagi, burung-burung pun berkicau dengan indahnya. Aku pun duduk bersimpuh di hadapan ayah dan ibuku. Ku salami dan ku cium tangan mereka. Air mataku menitik membasahi tangan ayah dan ibu. "Anakku, do'a kami menyertaimu, dan pagi ini, kami ridho engkau pergi menuntut ilmu di negeri orang", ucap ayahku. Ibupun meneruskan, "Nak..., belajar yang rajin ya". Aku mengangguk, "iya ibu", kataku. Bismillah, kaki kananku pun melangkah keluar rumah. Ku lihat ayah dan ibu melambaikan tangannya, aku tersenyum dan berangkat menuju ojek yang sudah menungguku di depan rumah untuk mengantarkanku ke terminal bus. Singkat cerita, kini tibalah aku di negeri orang. Hidupku benar-benar asing. Aku tak mengerti bahasa setempat, kecuali beberapa perbendaharaan kata saja yang ku ketahui. Aku tak tahu harus kemana. Dalam kebingunan itu, seorang nenek tua menghampiriku. Ia mengatakan sesuatu, tapi aku tak mengerti apa yang ia katakan. Rupanya ia tahu kalau aku ini adalah anak asing. Ia membawaku ke rumahnya, dan dirumah itu, ia hanya ditemani oleh seorang cucunya yang masih berumur empat tahun delapan bulan. Nenek ini rupanya ditinggal mati oleh suaminya sejak 30 tahun silam. Dan ayah serta ibu di cucu ini, juga ikut menjadi korban dalam bencana alam yang terhebat sejak 1 abad terakhir. Akhirnya, akupun menjadi anak angkat di rumah itu. [Bersambung....] Ouiejaelza, pemerhati masalah sosial, tinggal di Safdarjung Enclave, New Delhi. _________________________________________________________________ 44 Million Items on Sale.What Are you Looking for? http://adfarm.mediaplex.com/ad/ck/4686-26272-10936-377?ck=44MilItems Find it on eBay.in! _________________________________________________________________________ Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ========================================================================== Catatan penting: 1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India 2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326 4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647 5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
