Refleksi: Harta dan Level Pendidikan
Oleh: Mario Gagho
Apa tujuan kita belajar sampai mencapai gelar S1, S2
bahkan S3? Di kalangan masyarakat dari negara
berkembang seperti Indonesia, jawaban yang umum
adalah: meningkatkan taraf hidup. Dg kata lain, ingin
kaya. Setidaknya, dengan gelar minimum S1, kita akan
dapat pekerjaan yang agak layak dan tidak jadi
pengangguran.
Orientasi sekolah tinggi untuk tujuan kerja layak dan
dapat harta banyak sebenarnya wajar, apalagi dalam
konteks masyarakat dunia berkembang di mana bahkan
untuk mendapat sesuap nasi pun terkadang sangat sulit.
Negatifnya pola pikir semacam ini adalah apabila ia
mendominasi mindset seluruh masyarakat yang sebenarnya
beragam alias tidak monolitik. Secara faktual, dari
ratusan juta populasi Indonesia, tidak semuanya
berlatarbelakang miskin. Ada juga kalangan menengah:
yaitu kalangan yang berbackground hidup layak atau
sudah menempati posisi jabatan tinggi di pemerintahan
atau swasta (ini definisi kelas menengah versi saya,
sekedar memudahkan bahasan).
Apabila kalangan menengah yg lumayan beruntung ini
juga berpola pikir sama dg mereka yg hidup pas-pasan
(sekolah untuk tujuan hidup layak), maka dalam jangka
panjang akan merugikan Indonesia, karena beberapa
faktor:
Pertama, kalangan yang sudah hidup layak, baik karena
keturunan atau sudah mendapatkan pekerjaan mapan dan
bergaji besar (seperti diplomat) menjadi malas untuk
melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi (buat apa
kuliah lagi, saya sudah kaya, jabatan sudah mapan).
Padahal kalangan inilah yg paling berpeluang untuk
melanjutkan studi sampai setinggi mungkin (S3) dalam
segi biaya.
Kedua, Indonesia akan kekurangan SDM (sumber daya
manusia) handal yg sebenarnya dapat ditutupi apabila
kalangan menengah yg "sudah kaya" ini mau terus studi.
Di sisi lain, banyak kalangan tak beruntung yg ingin
studi sampai S3, tapi terhalang biaya.
Ketiga, akan terjadi ketidakefektifan sistem kerja.
Kalangan pejabat yg kebanyakan lulusan S1 ini apabila
membutuhkan tenaga ahli, maka mereka biasanya akan
mengangkat staf ahli yakni kalangan lulusan S3 yg
nantinya digaji dg uang negara: mengapa tidak sekalian
saja sang tenaga ahli itu yg menjabat sesuai konsep
efektifitas?
Keempat, secara psiko-sosial, kalangan pejabat yg
berpendidikan kurang tinggi umumnya kepeduliannya pada
dunia pendidikan juga kurang (bisa karena cemburu
sosial atau memang tidak peduli). Yg paling sinis akan
mengatakan:
"Buat apa sekolah tinggi-tinggi, saya cuma S1 tapi
bisa hidup layak." (ini mindset orang kaya kampungan)
"Buat apa titel DR, saya yg S1 bisa memerintah
mereka." (ini yg gila jabatan)
Selain itu, berbagai kebijakan mereka nantinya (dan
sudah sering terjadi di era sekarang maupun dulu)
terkesan tidak cinta pendidikan dan orang yg
berpendidikan, tentu dg berbagai alasan yg tak perlu
dibahas di sini.
***
Fenomena di negara maju tentu saja berbeda. Dan itulah
salah satu sebabnya mengapa negara mereka menjadi
negara maju. Sebagai perbandingan, setiap satu juta
penduduk di Amerika memiliki 5000 orang yg bergelar
Ph.D sedang di Indonesia dari setiap satu juta
penduduk, hanya 600 orang yg bergelar Ph.D.
Saya ambil satu contoh kisah nyata dari negara maju.
Anda yang berhubungan dg internet tentu tahu atau
pernah cari info via search engine google.com. Google
adalah mesin pencari informasi online yg paling
terkenal. Begitu terkenalnya sampai menjadi kosakata
bahasa inggris untuk "mencari info online".
Sejak tahun lalu, google menjual sahamnya di bursa
saham Wallstreet, New York yg terjual laris manis.
Saat ini saham google menjadi saham paling laku dan
termahal melebihi aset yg sebenarnya dan nilainya
berhasil mengalahkan TIME WARNER CO. yg membawahi
majalah TIME dan stasiun tv CNN.
Di sisi lain, google terkenal dg kebijakan "customer
friendly"-nya. Konsumen bagai raja. Semua layanan
google gratis. Berbeda dg Yahoo! misalnya yg untuk
beberapa layanannya harus bayar. Salah satu layanan
gratisnya adalah "google scholar" yg dikhususkan untuk
mencari bahan tesis dan jurnal dunia bagai kalangan
mahasiswa S2 dan S3. Dg demikian, pemilik google tentu
saja kaya raya. CEO (chief executive officer) nya saja
adalah mantan CEO IBM.
***
Siapa pendiri dan pemilik google? Ada dua orang,
namanya Sergey Brin (asal Rusia) dan Larry Page
(Amerika). Mereka mendirikan google pada waktu
sama-sama kuliah S1 di University of Michigan pada
usia sekitar 25 tahun.
Dg pesatnya perkembangan google, keduanya menjadi kaya
raya dalam sekejap. Namun, itu tidak menghentikan
mereka untuk melanjutkan studi. Saat ini, keduanya
sedang menempuh Ph.D di universitas yg sama dalam
jurusan komputer. Berbagai penghargaan pencapaian
(achievement) telah mereka terima, namun itu tidak
menghentikan mereka untuk terus berkarya dan
meneruskan kuliah sampai Ph.D.
Karena studi bagi keduanya bukan hanya untuk mencari
harta, popularitas atau kedudukan saja (yg semuanya
sudah mereka capai dalam usia sangat muda); juga bukan
karena sekedar kewajiban akademis untuk peningkatan
status kepegawaian, dll.
Studi tinggi adalah simbol kepakaran (walau tak semua
Ph.D pantas disebut pakar). Ia juga simbol dari
"sampai di finish line": seorang pantas disebut
bermental juara apabila dia mencapai finish line
(walau tidak harus menang dalam kompetisi itu). Ia
mewakili sebuah ambisi untuk terus maju demi kualitas
dirinya dan kualitas bangsanya.
Kebijakan google yg "educational and educated-people
friendly" juga menguatkan asumsi saya di atas: bahwa
untuk mencintai dunia pendidikan dan menyayangi semua
hal yg berkaitan dg pendidikan tidak bisa dilakukan
oleh orang yg pendidikannya rendah. Banyak kasus di
Indonesia, seperti kebijakan pemerintah yg tak
"educational friendly"; sikap pejabat yg terkesan
sekedar "bermanis muka" terhadap mahasiswa semakin
memperkuat statemen di atas.
Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Larry Page
dan Sergey Brin menduduki berbagai posisi penting di
pemerintahan. And we need it very badly, to make our
country much better than it's actually been.
Presiden SBY telah memberi contoh bagus dg tetap
kuliah sampai mencapai gelar Ph.D di tengah-tengah
kesibukannya bekerja. Di India, peluang itu lebih
besar lagi. Hampir setiap universitas negeri di India
memiliki program "non-regular" bagi mereka yg sudah
disibukkan rutinitas pekerjaan tapi masih ingin
melanjutkan studi. Bagi diplomat yg rata-rata bertugas
sekitar tiga tahun, ini kesempatan luas untuk
mengambil program S2 yg hanya dua tahun, atau S3 yg
dapat ditempuh dalam tiga tahun. Apalagi untuk
kalangan staf lokal.
Untuk apa, saya 'kan sudah tua? (a) Untuk menambah
daftar insan bergelar Ph.D; (b) Untuk menambah wawasan
dan semakin cinta dunia pendidikan; (c) Untuk memberi
contoh pada generasi berikutnya (termasuk anak-anak
sendiri) bahwa betapa pentingnya studi sampai tingkat
tertinggi, ("Bapak saja yg sudah tua masih belajar,
kenapa kalian yg masih muda-muda kok malas-malasan?")
Bagi rekan-rekan muda, jangan pernah mimpi hidup
sukses di masa depan hanya dg bermalas-malasan. Tidak
ada keberhasilan yg dicapai dg hanya mimpi di siang
bolong (karena malemnya habis begadang).***
Mario Gagho
Agra University
www.ppi-india.org
---------
A WINNER works harder than a loser and has more time.
A LOSER is always "too busy" to do what is necessary.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di
http://dear.to/ppi dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/