Mbak Lina yang baik..:)
Ada satu hal lagi yang mungkin kemarin lupa saya tekankan soal tanggapan mbak. :)
Soal itu lho mbak..feminisme barat..sebenernya saya pengen tanya, feminisme barat itu stands for what/whom ya ? Soalnya, yang aku tau,Justru para Feminis Muslim yang getol mengkritisi dan merekonstruksi hadis dan ayat ayat Al-qur'an yang Misoginis.Contohnya, Fatima Mernissi dari Maroko.Soal hak waris, ada artikel yang mungkin bisa dijadikan referensi bahwa pengutak- atikan hukum islam itu dari sononya bukan sesuatu yang tabu dan konyol, yang bahkan di jaman Rasul, sah sah aja tuh dilakukan, intinya utak atik itu berhubungan sama relevansi hukum dan konteks sosial dalam masyarakat.beghitu lho mbak.Mungkin bisa diliat di link ini :
 
http://www.rahima.or.id/SR/10-03/Fokus.htm
 
Hak waris itu kan sangat erat kaitannya sama peran sosial laki dan perempuan, spesifiknya; dalam keluarga. Kalau sekarang ada yang utak atik, mungkin karena mereka find out bahwa realitasnya, peran sosial perempuan sekarang sudah lebih berkembang dari sekedar kanca wingking yang harus dinafkahi oleh laki laki,sehingga ada perdebatan soal hak waris yang harusnya didapat oleh perempuan itu.Jadi saya sejujurnya sama sekali nggak bisa melihat itu cuma penyederhanaan variabel hak, tanpa ada landasan ideologis yang jelas.Itu menurut saya lho.. :)
Hak waris cuma salah satu contoh aja sih mbak. Ada banyak isu hangat yang juga rame dibicarakan sama pro feminis, misalnya ; poligami, hak reproduksi dll dll.
 
Lalu soal agama sebagai tolak ukur..
 
Agama itu apa ya sebenernya? Datangnya dari mana ? Proses tumbuh kembangnya bagaimana?Sebelum agama itu ada, manusia kerjaannya bunuh bunuhan dan saling tindas nggak ya ?
 
semua pertanyaan saya diatas akhirnya terjawab ketika saya baca buku The origin f the family itu..menarik banget bagaiaman sejarah perkembagan masyarakat dari jaman berburu meramu sampai...manusia kenal dan aware sama penguasaan faktor faktr produksi :) 
 
ehm ehm..mbak, sepakat nggak kalau banyak banget filosofi cinta kasih, kesetaraan, keadilan, kebersamaan, anti penindasan, yang lahir dari proses pemikiran dan perkembangan masyarakat yang 'tidak beragama?' :)
Kalau  Mbak liat lagi, banyak banget lho, orang orang yang baik hati, tidak sombong, pejuang kemanusaiaan , yang mengaku atheis..:) he he..
 
Marx itu Atheis, tapi dia ngelahirin pemikiran anti penindasan..:)
Dia justru kabur dari segala 'dogma' yang di ajarkan sama agama :)
 
Teman saya, aktivis kemanusiaan yang sangat konsisten puluhan tahun bekerja buat kaum tertindas, juga nggak percaya agama, meski di percaya Tuhan :) dia baik banget lho mbak, mendedikasikan nyawa, harta, otak, tenaga untuk kaum tertindas di afrika sana.Berani pula.Dan yang saya liht sih, yang dia lakukan itu 'benar', meskipun dia bilang sih, dia nggak pernah menjadikan agama sebagai referensi kebenaran.
 
 Terus, kalau mbak sempat, bisa mbak liat di bukunya marx & engels yang judulnya The origin of the family. Disitu, keliatan jelas banget darimana segala bentuk penindasan di duia ini berakar..:) ilmiah kok mbak, nggak penuh prejudice
 
Tapi sekali lagi, ini bukan berarti saya nggak sepakat bahwa agama bisa dijadiin tolak ukur 'kebenaran' sih mbak. Sampai sekarang juga, dalam konteks personal, saya masih beragama,he he he..
 
akhirnya, mengakhiri ocehan ngalor ngidul saya di mail ini, saya mau cerita, ada dua quotes  Gandhi-ji yang menariik banget buat saya, isinya gini :
 

"Everyone has faith in God though everyone does not know it. For everyone has faith in himself and that multiplied to the tenth degree is God. The sum total of all that lives is God. We may not be God, but we are of God, even as a little drop of water is of the ocean."


 

"Truth quenches untruth, love quenches anger, self-suffering quenches violence. This eternal rule is a rule not for saints only but for all."


 


Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear Mbak Tylla,..ehem...ehem...
Syukur alhamdulillah kalau feminisme memang tidak
menuntut 'persamaan' tetapi 'kesetaraan'. Saya sangat mendukung
beberapa ide feminisme untuk memberikan kesempatan yang sama kepada
wanita dalam mendapatkan pendidikan, pekerjaan, ..dan yang ingin
mengangkat derajat kaum wanita bhw kaum wanita bukanlah kaum kelas
kedua di dunia yang dalam sejarahnya dunia yg terbangun dgn
perspektif 'laki-laki' ya mbak?.

Tapi yang ingin saya katakan juga adalah semoga feminisme ini bisa
memberikan pengertian kepada kaum wanita bahwa mereka adalah kaum
kelas utama didunianya dan kaum lelaki juga kaum kelas utama di
dunianya...:-). Semoga feminisme bisa membuka nuansa berfikir pada
kaum wanita dimana fitrah mereka sesungguhnya. Saya teringat kata-
kata bijak lagi yang berbunyi bahwa Allah akan merahmati orang yang
tau akan fitrah dirinya.

Saya kira feminisme itu lahir karena memang adanya ketimpangan.
Ketimpangan ini memang harus diluruskan. Apa pedomannya atau tolok
ukurnya supaya manusia tahu mana jalan yang lurus tsb? Saya pikir
lagi, itulah agama. Bagi feminisme di Barat dimana negaranya tidak
lagi mendasarkan agamanya sebagai tolok ukur, apa yang dipakainya
sbg tolok ukur?

Dear mbak Tylla,
Sebetulnya masih banyak yang ingin saya utarakan disini..diantaranya
kekecewaan saya kepada lelaki manapun (apalagi yang mengaku muslim)
yang telah menindas perempuan atas alasan agama dan harapan saya
kepada kaum pere utk belajar agama dgn baik dan benar (shgg bisa
mengcounter pendapat laki2 yg memakai alasan agama utk
penindasan...he..he), juga soal suku arapesh dan tsambuli, peran
jendernya .... tapi saya harus kembali bekerja.

Hanya masih tersisa pertanyaan dalam diri saya ketika kaum
feminisme, dengan fahamnya yang ingin memperjuangkan 'kesetaraan'
masuk ke dalam ranah agama (Islam) dan mengutak-utik ayat ttg
pembagian waris yang dianggap kaum feminisme tidak 'fair'. Apa yang
mereka perjuangkan disini? Apakah ini bukannya merupakan demand
penyederhanaan persoalan penindasan perempuan dengan
solusi 'menyamakan' variabel 'hak' antara laki laki dan perempuan.


wassalam,


--- In [email protected], tylla subiyantoro
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Mbak Lina

> hmm..

> "Feminisme barat"
> idiom ini mengingatkan saya pada debat kusir yang sering terjadi
sekitar 6-7 tahun yang lalu, ketika sya masih jadi mahasiswa 'bloon'
di kampus oranye, FISIP UI(sampai sekarang saya masih bloon juga
ding..he he he )Debat kusir itu umumnya berisi kontroversi soal
ide 'persamaan' dan 'kesetaraan'.

> Rasanya saya perlu bicara sedikit, kenapa idiom yang digunakan
untuk menyelesaikan persoalan ketimpangan jender adalah kesetaraan,
bukan persamaan.Sepakat, jika dikatakan adahal musykil, bahkan
mustahil jika kita bermimpi 'menyamakan' sesuatu yang jelas
berbeda.Sangat sepakat, kalau dibilang  persoalan laki  laki dan
perempuan sangatlah 'lebih' dari sekedar berpenis atay tidak
berpenis ( terinspirasi dari teorinya penis envy freud)
> jiika di telaah lebih teliti, nggak ada satu kata pun  soal
persamaan dalam konsep feminsime, yang ada kesetaraan(equity). Nah,
mbak, kalau dilihat lagi, 'feminisme barat' atau timur atus utara
atau selatan atau apapun nama dan istilahnya itu, nggak ada satupun
yang demand penyederhanaan persoalan penindasan perempuan dengan
solusi 'menyamakan' variabel 'hak' antara laki laki dan perempuan.

> Perlu diketahui,  Kritik terbesar justru tertuju pada dunia yang
menafikan perbedaan laki laki dan perempuan , karenanya, perempuan
jadi korban , jadi kelompok yang terpinggirkan. Kenapa bisa begitu ?
Karena dunia, dan sejarah peradaban dunia in terbangun dengan
prespektif 'laki laki' sekali lagi, laki laki ini tidak ada
hubungannya dengan person laki laki yang berpenis lho, tetapi lebih
ke ideologi maskulin-nya, male centrist-nya. Basically, setiap
individu punya aspek aspek feminin dan maskulin.Persoalannya,
bagaimana lingkungan soasial menumbuhkan kedua aspek ini dalam
konteks gender, hingga aspek aspek ini akan muncul dominan di
kelompok gender yang mana.Begitu lho. Kalo mbak Lina pernah baca
soal suku arapesh dan tsambuli, peran jendernya
terbalik.perempuannya sangat maskulin dan menguasai ranah publik.
Ini ilmiah lho, bisa mbak baca di jurnal jurnal antropologi, atau
browse aja, gampang kok ketemunya.

> Kenapa ada Feminis? apakah feminisme itu merupakan 'gerakan sakit
hati' karena perempuan tidak boleh nyangkul di sawah ?Karena
perempuan tidak boleh mengerjakan 'pekerjaan laki laki' yang identik
dengan kekuatan fisik itu ? (kalau mbak ngomong soal perbedan hakiki
ya memang soal itu toh ? Sejarah feminisme sih ,sepengetahuan
saya,lebih dari sekedar itu. Sekali lagi, gerakan feminis itu lahir
justru untuk memperjuangkan 'perbedaan' laki laki dan perempuan,
sehingga kedua belah pihak punya kesempatan yang SETARA untuk
beraktualisasi baik dalam ranah PUBLIK maupun DOMESTIK, gitu lho.

> Bopleh saya beri contoh yang sangat sederhana saja.ada beberapa
saat diamana kondisi fisik perempuan memang lebih lemah
dan 'terbatas' ketimbang laki laki. MIsalanya, saat sedang datang
bulan, terlebih, saat sedang hamil.Nah, berdasarkan prespektif
feminis (saya nggak tau deh ini feminis barat atau timur, utara,
selatan..yang saya tau, semua faham feminis sih sepakat sama ide
ini :D)seharusnya fasilitas publik, dibuat sensitif dengan situasi
semacam ini..begitu. Misalanya, pemberlakuan cuti haid di lingkungan
industri, penyediaan WC umum yang lebih banyak dan representatif
buat perempuan, dan fasilitas kendaraan umum yang lebih ramah
perempuan.Di india, beberapa dari ide ini sudah di realisasikan lho,
seperti misalnya, dalam bus umum, ada seats khusus untuk perempuan,
di line sebelah kiri, semua bangku di khususkan untuk perempuan.Soal
hamil, beberapa negara skandinavia (kalau nggak salah Finlandia deh)
sudah memberlakukan cuti tiga bulan untuk lakil laki yang isterinya
hamil
>  :).Kenapa ? karena difahami bahwa kehamilan bukanlah sesuatu yang
mudah dan lebih dari itu..kehamilan bukan hanya tanggung jawab
perempuan..laki laki juga bertanggung jawab untuk menjaga dan
merawat bayi ynag ada dalam kandungan perempuan, termasuk, menjaga
dan merawat perempuan yang mengandung anaknya.Keren kan ..he he
he..DI India juga mulai muncul polemik soal kebijakan ini..

> Nah, kalau dilihat dari contoh diatas, jelas banget yang namanya
feminisme itu jauuuuh dari  'usaha perlawanan kodrat' seperti yang
tersirat dari tulisan yang mbak post di milis ini.Buktinya,
kebijakan kebijakn yang justru memperjuangkan 'perbedaan' untuk
memperoleh kesetaraan yang adil, datangnya dari kaum feminis lho
mbak..he he he..

> Regards

> Tylla Subijantoro






> Alexis Carrel, pakar Perancis peraih Nobel bidang
> kedokteran dan sains menulis dalam bukunya Man The
> Unknown bahwa "Orang-orang yang menyerukan persamaan
> antara laki dan perempuan serta mengajak untuk
> menyatukan pendidikan dan pengajaran serta pekerjaan
> kedua jenis itu, sama sekali tidak mengetahui
> perbedaan antara lelaki dan perempuan, yakni
> perbedaan-perbedaan yang tanpa diragukan, sangat
> esensial dan mendasar. Perempuan sebenarnya sangat
> berbeda dengan lelaki, perbedaan yang sungguh
> sempurna. Setiap sel pada diri perempuan memiliki ciri
> khasnya, yakini ciri khas keperempuanan, dan selama
> perempuan memiliki keistimewaan dalam hal perasaan
> halus, serta selama lelaki memiliki kemampuan
> penguasaan terhadap perasaan dan kemampuan memikul
> tanggung jawab-tanggung jawab besar, maka selama ini
> pula harus dibebankan kepadanya kekuasaan dan
> pengaturan. "Perbedaan antara lelaki dan perempuan
> bukannya lahir dari perbedaan alat kelamin, adanya
> rahim serta kandungan, atau akibat perbedaan cara
> pendidikan, tetapi perbedaan2 itu lahir dari sebab
> yang sangat dalam, yakni keterpengaruhan anggota badan
> seluruhnya dengan unsur-unsur kimiawi serta apa yang
> dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar. Ketidaktahuan
> menyangkut kenyataan-kenyataan dasar di atas itulah
> yang menjadikan kaum feminis mendukung pendapat yang
> menyatakan bahwa kedua jenis-lelaki dan pere-bisa
> menerima pendidikan yang sama dan bisa melakukan
> pekerjaan yang sama pula. Sesungguhnya hukum-hukum
> yang mengatur fisik manusia, sama dengan hukum-hukum
> alam angkasa. Ia tidak dapat dilanggar,d an mustahil
> dapat diganti oleh keinginan manusia, karena itu kita
> terpaksa harus emnerima sebagaimana adanya."
>
> "Problema terbesar yang dialami oleh peradaban Barat
> adalah mereka menetapkan hukum serta melakukan
> perencanaan bagi manusia yang mereka tidak kenal sifat
> dan ciri-cirinya, apalagi rahasia dan tujuan hidupnya,
> dan karena mereka tidak mengetahuinya—sebagaimana apa
> adanya—maka kelirulah mereka dalam segala hal."
>
>
> wassalam,
>
>
>
>            
> __________________________________
> Yahoo! Music Unlimited
> Access over 1 million songs. Try it free.
> http://music.yahoo.com/unlimited/
>
>
>
*********************************************************************
******
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://www.ppi-india.org
>
*********************************************************************
******
>
_____________________________________________________________________
_____
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> SPONSORED LINKS
> Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course
>
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
>  
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>  
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>            
> ---------------------------------
>  Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://dear.to/ppi dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Mukhlis): 09871815229 ; Sek. PPI(Herman): 09897160536
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke