Kang Utong si calon peneliti... (nunggu ikut diklat fungsional dulu ya...)
  Mumpung ada disini, kita manfaatkan sebaik mungkin membangun jaringan sama 
para peneliti belgia (dan negara lain, kalau mungkin)... PPI-Belgia dan 
alumninya juga bisa nanti dimanfaatkan untuk kerjasama antar peneliti di 
Indonesia.  Beberapa kali ada kan anggota milis yang minta tolong download 
paper...sampeyan nanti bisa juga begitu.  Tetapi mudah2an tidak karena udah 
sanggup langganan banyak jurnal...
   
  salam,
  bagusco
  "lagi sibuk cari topik penelitian"

Furqon Azis <uton...@yahoo.com> wrote:
              Boro boro mikirin nulis, mikirin gmana menjaga kelangsungan agar 
'dapur tetep ngebul' ajah susah
contoh kasus : CMIIW, (tunjangan peneliti muda di LIPI sekitar 200 rebu or 
professor riset 1,1 juta) + gaji 1,5 juta.
sedangkan untuk membeli jurnal internasional as reference per paper 30 ยค karena 
institusinya tidak ada
dana buat berlangganan jurnal tsb (tp anehnya dana non budgeter untuk 
............... malah ada).
gmana mo bersaing n submit ke jurnal internasional klo modal ajah cekak
ibaratnya kita disuruh berperang dengan dunia internasional dengan 
bersenjatakan bambu runcing


salam
--utong--
'calon peneliti'
 



  
    
---------------------------------
  From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.edu>
Sent: Monday, December 22, 2008 11:31:13 AM
Subject: [PPIBelgia] Ilmuwan, Mengapa Publikasi Internasional?

              

  

Oleh
Paimin Sukartana

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal, menyatakan bahwa 
publikasi internasional ilmuwan Indonesia sangat rendah, hanya 0,8 artikel per 
satu juta penduduk. Angka ini jauh di bawah India, yang telah mencapai 12 
artikel. Inikah gambaran prestasi (profil) ilmuwan kita. Lalu, apa ada yang 
salah? Bagi peneliti dan dosen, menerbitkan karya tulis ilmiah (KTI) termasuk 
persyaratan utama untuk peningkatan karier. KTI akan dinilai menjadi angka 
kredit yang harus dikumpulkan untuk mencapai jenjang jabatan tertentu. 
Sekarang ini ada empat jenjang jabatan fungsional di lingkungan perguruan 
tinggi; asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar, atau kalau di 
lingkungan peneliti: asisten peneliti, peneliti muda, peneliti madya dan 
peneliti utama. Untuk tiap jenjang, dosen atau peneliti harus mengumpulkan 
angka kredit sebesar 100-150, 200-300, 400-750, 850-1050, yang berasal dari 
berbagai unsur, termasuk KTI. Dengan persyaratan tertentu, guru besar dan 
peneliti utama berhak menyandang gelar profesor atau profesor riset. Tentu 
bobot angka kreditnya berbeda antara keduanya, jabatan profesor di perguruan 
tinggi lebih berfokus pada pendidikan dan pengajaran, dan profesor riset lebih 
pada penelitian. 
Namun, ada kesamaan antara keduanya, KTI hasil penelitian termasuk prasyarat 
utama. Selain latar belakang pendidikan, untuk memperoleh gelar profesor 
(riset) seorang dosen atau peneliti harus menulis KTI di jurnal ilmiah yang 
terakreditasi. Seorang Peneliti Utama dapat diangkat menjadi profesor riset 
melalui orasi ilmiah bila memiliki jenjang pendidikan minimal S2 dan mempunyai 
jumlah angka kredit yang cukup dari berbagai KTI di media ilmiah nasional yang 
terakreditasi, atau memiliki KTI di media internasional minimal dua buah 
(Peraturan Kepala LIPI: 04/E/2005). Di sini jelas, KTI di media internasional 
tidak diperlukan bagi peneliti berlatar pendidikan S2 dan S3, namun diperlukan 
untuk yang tidak masuk kategori tersebut. 

Tidak Sehat
Keadaan ini tidak banyak berbeda dengan perguruan tinggi, kecuali latar 
belakang pendidikan, yang sekarang ini, harus S3. Keputusan Mendiknas pun 
(36/D/0/2001) bersifat minimalis, hanya diperlukan satu KTI di jurnal ilmiah 
internasional. Hal ini terjadi juga di ITB Bandung. Untuk menjadi guru besar, 
yang diperlukan hanyalah sebagai penulis utama KTI dalam satu jurnal 
internasional yang diakui dan satu jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi; 
atau dalam dua jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi dalam bidang ilmunya 
(Kep Senat Akademik: 041/SK/K01-SA/ 2002, ITB). Di Universitas Indonesia pun 
kurang lebih sama (Kep. Majelis Wali Amanat: 003/SK/MWA-UI/ 2004). Jadi, 
menerbitkan artikel di jurnal internasional sepertinya menjadi optional saja. 
Tidak (atau belum) ada keharusan untuk menulis sebanyak-banyaknya di jurnal 
internasional. 
Persyaratan- persyaratan tersebut tidak mendorong peneliti untuk berkiprah di 
dunia internasional. Mengapa harus bersusah-susah menulis di jurnal 
internasional, sementara di jurnal nasional, atau bahkan jurnal internal asal 
telah terakreditasi sebagai jurnal nasional saja sudah cukup. Bahkan hampir 
dipastikan, tiap lembaga penelitian di Indonesia, fakultas atau bahkan tingkat 
jurusan di perguruan tinggi memiliki jurnal sendiri (jurnal internal), yang 
semuanya mungkin akan terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional. Penerbitan 
jurnal-jurnal ini umumnya sudah diprogramkan/ dianggarkan sebagai media 
penerbitan yang umumnya lebih untuk menampung hasil-hasil penelitian di lembaga 
tersebut daripada dari penulis di luar instansinya. 
Editornya pun umumnya diambil dari masing-masing lembaga yang bersangkutan, 
tanpa mitra bestari (peer reviewer) dari lembaga lain yang memadai. Kedalaman 
dan wawasan keilmuannya tentu lebih terbatas. Bahkan, ada kesan terjadi semacam 
persaingan antara peneliti di lingkungan sendiri. Objektivitas editor juga 
sering dianggap kurang memadai, karena penulis dan editornya berasal dari 
lembaga yang sama. Tentu ini tidak sehat, persaingan itu mestinya terjadi 
dengan para peneliti di luaran sana, dengan para peneliti atau kolega di negara 
lain.

Bersaing dengan Peneliti di Seluruh Dunia
Ini beda dengan negara maju. Banyak lembaga penelitian yang tidak punya jurnal 
ilmiah sendiri. Kalau toh punya, misalnya beberapa perguruan tinggi di Jepang, 
jurnal tersebut punya reputasi internasional. Itu pun para penelitinya masih 
berlomba-lomba menulis di berbagai jurnal internasional yang reputasinya lebih 
tinggi. 
Jurnal-jurnal yang ada umumnya dikelola oleh suatu lembaga nirlaba dari 
asosiasi ilmuwan. Sebutlah misalnya, Forest Pruducts Journal yang dikelola oleh 
Forest Products Society di Amerika, atau Journal Economic Entomology oleh 
Entomological Society of America (ESA). Di jurnal-jurnal semacam inilah mereka 
bersaing dengan peneliti lainnya di seluruh dunia. Tidak mudah memang masuk ke 
jurnal tersebut, persaingan sangat ketat, melibatkan peer review dari seluruh 
dunia untuk menentukan layak tidaknya suatu artikel untuk diterbitkan. Namun, 
dengan ikut serta dalam persaingan ini, kita akan menjadi bagian dari komunitas 
mereka. Mereka adalah pesaing, namun juga sekaligus sebagai kolega. 
Terbentuklah jejaring ilmiah (scientific networking), di antara kita dengan 
para ilmuwan di luar negeri.
Menerbitkan KTI di media internasional, untuk ukuran kita, sangat mahal, 
sekitar 50-150 dolar AS, per halaman cetak (rata-rata 5-8 halaman). Ada juga 
yang gratis, namun tidak banyak. Bandingkan dengan jurnal kita, penulis 
kadang-kadang malah dibayar, meskipun hanya sekitar Rp 200.000-300. 000, atau 
kalau membayar juga murah (ongkos cetak), tak lebih dari angka-angka tersebut. 
Lalu apa yang harus dilakukan? Sudah saatnya, persyaratan menduduki jabatan 
ilmiah (peneliti dan dosen) harus ditingkatkan. Ketentuan-ketentuan normatif 
seperti dari Diknas dan LIPI perlu ditinjau, supaya menulis di jurnal 
internasional menjadi keharusan. Susah dan mahal memang, tapi kalau ingin maju, 
itu harus dilakukan.
Tentu, penghargaan setinggi-tingginya perlu diberikan kepada sementara ilmuwan 
kita, yang secara voluntary berhasil menembus jurnal-jurnal ilmiah 
internasional. Namun, itu masih terlalu sedikit untuk menakhodai negeri sebesar 
ini, masih terlalu kecil seperti yang dinyatakan oleh Pak Dirjen Dikti 
tersebut. 

Penulis adalah Peneliti Utama, Bidang Entomologi, Badan Litbang Kehutanan. 
Tinggal di Ciomas, Bogor.
            http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0812/ 20/opi01. html







-- 
Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/
  





  

                           

       

Kirim email ke