gosip terbarunya...SBY menolak gelar tersebut...nah lhoooo

biz
-ati-

--- On Wed, 4/2/09, Sulistiono Kertawacana 
<sulistiono.kertawac...@alumni.ui.edu> wrote:
From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.edu>
Subject: [PPIBelgia] Kado Politis Doktor ITB untuk SBY
To: 
Date: Wednesday, 4 February, 2009, 7:49 PM











    
            








Mungkin kalo yang berpendapat Onno W Purbo lebih
memiliki otoritas heheh





http://inilah. com/berita/ politik/2009/ 02/04/81155/ kado-politis- doktor-itb- 
untuk-sby/

Politik
04/02/2009 - 14:31
Kado Politis Doktor ITB untuk SBY
Berlianto & Raden Trimutia Hatta





Susilo Bambang Yudhoyono

(inilah.com/Raya Abdullah)

INILAH.COM,
Jakarta - Kebetulan atau tidak, Institut Teknologi Bandung dipastikan
akan memberi gelar kehormatan bagi Presiden SBY yakni Doktor Honoris
Causa dalam musim kampanye politik, Maret 2009. Tidak
tanggung-tanggung, SBY akan disandangkan titel terhormat itu pada
bidang teknologi informasi. Nuansa akademik berbau politik.
Pihak kampus sendiri membenarkan rencana pemberian doktor HC
tersebut. Meski, surat keputusannya sendiri belum diteken oleh Rektor
ITB Djoko Santoso. Tetapi, rektorat kampus yang berdiri sejak 1920 itu
menampik bila ada motif politik di belakangnya. "Inikan pemberian
gelar, jadi tidak ada hubungannya, " jelas Wakil Rektor ITB Bidang
Komunikasi dan Kesekretariatan, Boy Kombaitan.
Anggota Senat Akademik ITB Miftah Faridl mengungkapkan keputusan ini
diambil dalam rapat yang digelar pada 16 Januari lalu. Rapat itu
dihadiri 30 dari 51 anggota senat. Keputusannya pun diambil dengan cara
voting.
Miftah menambahkan mekanisme itu diambil karena forum tidak bisa
menyepakati wacana tersebut. Sebagian peserta meminta pemberian
dilakukan usai pelaksanaan Pemilu. Hal ini untuk menghindari adanya
politisasi penghargaan tersebut.
"Kami melalui diskusi yang panjang di senat dan juga ada tim khusus
yang mempelajari pencapaian presiden dalam pengayaan teknologi
informasi di Indonesia," beber Miftah dalam sebuah surat kabar.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ini menambahkan tidak ada yang
menolak ide pemberian gelar tersebut. Keberatan anggota senat akademik
ITB hanya pada soal waktu pemberiannya semata. Gelar ini direncanakan
akan diberikan dalam perayaan Dies Natalis ITB ke 50 pada 2-3 Maret
mendatang.
Tak ayal, ide ITB ini menuai polemik. Para alumni ITB pun
ramai-ramai mengecam. Aktivis mahasiswa ITB tahun 1970-an, Rizal Ramli
misalnya menilai tidak ada alasan memberikan SBY gelar doktor bidang
TI. Ia menduga, gelar ini lebih terkait motif rektor ingin menjadi
menteri jika SBY terpilih nanti.
"Ini adalah upaya pihak Rektorat ITB agar masuk ke dalam Kabinet SBY
di masa yang akan datang," ujar Rizal.
Selama ini, lanjut mantan Menko Perekonomian era Gus Dur ini, tidak
ada kebijakan atau inisiatif dari SBY yang bisa dikatakan mengembangkan
TI. Sehingga kredibilitas SBY untuk menerima gelar tersebut dalam
bidang TI patut dipertanyakan. "Habibie sendiri alumni ITB, mendapatkan
gelar Doktor di Jerman, tetapi tidak diberikan gelar Doctor Honoris
Causa dari ITB. Padahal kontribusinya bagi pengembangan teknologi
informasi sangat besar," tegas Rizal.
Senada dengan Rizal, alumni ITB lainnya, Bernard Chili berpendapat
gelar ini lebih mengesankan menyaingi Wapres Jusuf Kalla yang baru
mendapat gelar doktor HC dari Universitas Soka, Jepang. Karena itu
dirinya berharap para guru besar ITB berpikir ulang untuk memberi gelar
tersebut.
"Logika umumnya seperti itu. SBY iri dengan JK karena mendapatkan
gelar Dr HC, karena dua-duanya ingin maju menjadi Capres. Ini semua
merupakan politik pencitraan diri," ucap Bernard.
Tidak hanya alumni, kalangan politisi juga ikut mempertanyakan
alasan ITB tersebut. Sebab, selama ini tidak ada prestasi menonjol yang
dihasilkan SBY selama memimpin. "Cuma saya bingung saja kompetensi SBY
mengenai teknologi informasi. Karena tidak hal yang menonjol," ujar
Ketua FPKS, Mahfudz Shiddiq.
Di mata pakar Teknologi Informatika, Onno W Purbo,
kebingungan PKS
tersebut terasa wajar. Alasannya, kebijakan keilmuan pemerintahan SBY
semisal pengadaan buku elektronik oleh Departemen Pendidikan Nasional
dan Open Source, bukan dilakukan oleh SBY. Justru para menteri yang
bekerja keras.
"SBY tidak menghasilkan kebijakan yang mendukung
perkembangan
teknologi informasi. Saat menterinya mengerjakan sesuatu yang
bermanfaat seperti open source, SBY malah menyembah-nyembah dan
menghadirkan Bill Gates ke Indonesia," kata mantan dosen ITB ini. 
Karena itu, tidak sepantasnya gelar doktor diberikan atas dasar
kebijakan pemerintahan. Bila itu yang terjadi maka keputusan kampus
akan bersifat politis dan tidak lagi didasarkan pada prestasi keilmuan.
"Kalau dilihat dari prestasinya SBY, tidak ada di bidang teknologi
informasi. Yang ada hanya kebijakan-kebijakan di bidang teknologi
informasi," cetus dosen FISIP UI, Arbi Sanit. 
Namun, cibiran tersebut enggan ditanggapi serius oleh Partai
Demokrat. "Maaf ya saya katakan ini, gelar doktor kehormatan tidak
lebih tinggi dari gelar doktor yang sebenarnya. Pak SBY sudah
mendapatkan gelar doktor di bidang ekonomi pertanian,” kata Ketua
Fraksi PD, Syarif Hasan.
Banyaknya pertanyaan dan tanggapan miring terhadap ITB tentu saja
wajar bermunculan. Selama ini, ITB sering dikesankan dengan kampus yang
'pelit' memberi penghargaan. Buktinya, mantan Presiden BJ Habibie yang
lulusan ITB belum pernah diberi doktor kehormatan.
Sejatinya, kampus tidak menambah karut marut wajah perpolitikan.
Kampus seharusnya dapat menahan syahwat politik sesaat. Dengan begitu
masyarakat masih mempunyai harapan dalam masa transisi politik ini. [L4]


-- 

Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/



 

      

    

           
  
    
        
         
        
        








        


        
        


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke