Mo ikut meramaikan suasana ah

"Jadi tidak ada yang salah dengan 'Bangsa Indonesia', tapi banyak
kesalahan yang dilakukan oleh 'Negara Indonesia' kepada Bangsanya
sendiri"
Persepsi saya negara sama dengan pemerintah? betul ga?? CMIIW

ada artikel di bawah ini mengenai Pemerintah Indonesia penghisap darah rakyat

kita mulai dengan slogan :
Democracy is a government by the people, of the people, to fool the people.

Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dari rakyat untuk membodohi, menipu 
rakyat.

Sejarah
mengatakan demikian. Kali ini saya mau menunjukkan bahwa pemerintahan
SBY telah melakukan penggorokan leher rakyatnya dan menyengsarakan
rakyat.

Harga minyak bumi turun drastis dari $147 per bbl ke $33
per bbl (tanggal 18 Desember 2008). Dengan turunnya harga minyak bumi,
maka harga barang-barang turunannya juga turun. Bensin dan LPG sudah
turun harganya dengan drastis. Kita akan lihat pada ulasan berikut ini.

Harga
bensin tanpa timbal di NYMEX saat ini sudah mencapai $ 0.969 per
gallon, turun dari level tertingginya $3.60 per gallon di bulan Juni
lalu (Chart-1). Penurunan 73%. Di Indonesia, bensin hanya turun 10%
dari Rp 5500 per liter ke Rp 5000 per liter. Pertanyaannya, kenapa
hanya 10% saja. Apakah pemerintah masih mensubsidi bensin? Kenapa tidak
turun 70% atau 80%. Ini pertanyaan yang wajar dari orang waras.

Pembaca
yang waras sekalian, dengan harga bensin Rp 5000 per liter, pemerintah
saat ini untung hampir 80%. Jangan salahkan kalau menyebut
politikus itu penipu. Dan kalau berdagang lebih buruk dari lintah
darat. Kenapa lebih buruk? Pertama, pemerintah tidak membolehkan
pedagang lain untuk ikut bermain, tidak mau disaingi. Pemerintah
memonopoli perdagangan, dengan alasan untuk kesejahteraan rakyat.
Ternyata kemudian keuntungan diambil dengan seenaknya. Kalau ada
saingan harga pasti bersaing.

Harga bensin tanpa timbal
(unleaded gasoline) di pasar New York Mercentile Exchange (NYMEX) saat
ini (tanggal 19 Desember 2008) adalah $ 0.969 per gallon atau Rp 2800
per liter. Berarti pemerintah melalui Pertamina telah mengambil untung
sebesar Rp 2200 per liter atau hampir 80%. Hanya ada satu kata untuk
pedagang yang dengan kekuasaan menyingkirkan pedagang lain kemudian
mengambil untung sedemikian besarnya, - penghisap darah. Apakah pembaca
punya nama yang lebih tepat?


Chart 1

Bensin
masih belum apa-apa dibandingkan dengan gas LPG. Harga di NYMEX adalah
$ 0.653 per gallon atau Rp 2400 per kg. Pada saat yang sama, harga
eceran di depot Pertamina (pompa bensin Pertamina) untuk tabung ukuran
12 kg adalah Rp 65000. Dengan pemerintah telah mengambil untung
126%!!!! Wow.... edan!!!

Katanya harga eceran kemasan yang lebih
besar yang dipakai untuk restoran dan hotel lebih mahal lagi. Dari
harga bulan Agustus 2008, perbedaan antara LPG 12 kg dengan LPG 50 ada
perbedaan 26%. LPG kemasan 50 kg lebih mahal 26% dari pada kemasan 12
kg atau Rp 7225 per kg. Ini namanya penggorokan. Berarti ada perbedaan
200% antara harga ritel Indonesia dengan pasar NYMEX.

Harga
eceran gas LPG yang katanya disubsidi saya perkirakan masih di Rp 4250
per kilo atau Rp 13000 per kemasan tabung 3 kg. Itu yang saya peroleh
dari surat kabar, tidak melihat langsung di pasar. Kalau dugaan saya
benar, maka rakyat miskin telah memsubsidi pemerintah!!! Besarnya
hampir 50% dari LPG yang dibelinya. Wow!!!!


Chart 2


RENUNGAN
Sekali
lagi saya benar. Sebabnya sederhana saja. saya melihat data dan
menyimpulkannya. Kami tidak percaya pada gagasan-gagasan indah tanpa
data. Kami berpendapat punya motto lain:

Tuhan memberikan
mata untuk melihat dan memperhatikan kejadian-kejadian yang berlangsung
serta tidak mengabaikannya. Mata jangan sampai digunakan untuk
menangisi dan menyesali atas kejadian dimasa lalu karena kita tidak mau
menggunakan mata (yang kita enggan melihatnya).

Dunia
sedang menghadapi depresi ekonomi. Para politikus, pejabat negara rajin
ngomong di media massa mengenai persiapan dan penaggulangan krisis
ekonomi 2009 ini dan di tahun mendatang. Kalau dilihat datanya, mereka
ini munafik. Antara perbuatan dan perkataan tidak sama. Kalau mereka
mau membantu ekonomi, membantu industri, membantu rakyat kecil, maka
cukup untuk tidak membebani mereka dengan keuntungan yang berlipat
ganda dari BBM. Pemerintah mengambil untung yang besar dari perbedaan
penjualan ritel LPG ke perhotelan dan restoran dengan harga pasar
NYMEX. Berarti pemeritah mempercepat kematian hindustri hotel dan
restoran. Ini juga berarti mempercepat PHK karyawannya.

Harga
diesel di NYMEX ekivalen dengan Rp 4300 per liter, harga jual Pertamina
adalah Rp 8100 per liter. Ini yang membuat industri cepat bangkrut.
Karyawan cepat diPHK.


Foto diambil dari Kompas. Ibu-ibu di Koja sedang masak dengan kayu karena LPG 
mahal.

Yang
menyedihkan ialah kelangkaan LPG kemasan 3 kg karena LPG kemasan ini
digunakan oleh pedagang-pedagang kecil seperti tukang bakso, mie ayam
dan pedagang gorengan. Mereka kalang kabut mencari LPG ini. Keuntungan
mereka juga berkurang. Hidup mereka makin sengsara.

Inikah kerja
para politikus di DPR, kabinet dan birokrat kantor di
departemen-departemen? Inikah kerja Pertamina? Kita tahu, Pertamina
memang payah. Umurnya jauh lebih tua dari Petronas Carigali atau
Petronas Dagangan (ritel). Yang pasti Carigali sudah mengoprasikan
ladang minyak lepas pantai sejak lama, paling tidak 15 tahun lalu.
Mereka yang membuatnya dan mengoperasikannya. Bagaimana dengan
Pertamina? Takut atau tidak mampu. Demikian juga minyak lumas Syntium
5000, tak tertandingkan oleh minyak lumas Pertamina. Kenapa kita tidak
membuka pasar BBM agar Pertamina bisa tersaingi. Bukankah lebih baik
kalau mereka ada saingan. Disini mereka akan mati atau maju. Tetapi
konsumen memperoleh keuntungan.

Catatan: Harga-harga BBM yang
saya sitir adalah harga di NYMEX yang biasanya lebih murah dari harga
ritel. Akan ada perbedaan untuk biaya distribusi dan keuntungan
perusahaan. Tetapi kalau perbedaan itu sangat menyolok artinya
perusahaan (Pertamina dalam hal ini, atau pemerintah) mau merobek
kantong rakyat.

Tidak lama lagi Indonesia akan mengadakan
pemilihan umum. Seperti yang anda lihat, tidak ada satu partaipun
perduli dengan perbedaan yang menyolok antara harga BBM di pasar dan
harga ritel Indonesia (bukan harga ritel di tempat lain lho). Apa itu
PDIP yang katanya partainya wong cilik, atau PKB partainya bapak bangsa
Gus Dur, atau PAN yang pendirinya (Amin Rais) adalah motor reformasi,
atau partai Demokrat yang bossnya jadi presiden, atau Golkar yang
bossnya jadi wakil presiden dan berkeinginan jadi presiden, atau partai-partai 
gurem lainnya. Tidak ada yang perduli. Tanpa
mereka di DPR atau pemerintahan lebih baik. Paling tidak kita tidak
harus bayar gaji mereka.
Source : 
http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2008/12/pemerintah-indonesia-penghisap-darah.html








________________________________
From: Anis Radianis <aradia...@yahoo.com>
To: PPIBelgia@yahoogroups.com; "ppibelgia@yahoogroups.com" 
<ppibelgia@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, April 1, 2009 12:36:20 PM
Subject: Re: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


Tulisan ini sepertinya mengajak orang2 Indonesia agar tetap jalan 'ditempat' 
oleh karena alasan sentimentil. Segala kekurangan dianggap kelebihan, sudah 
jelas negara tidak baik masih saja menutup mata. Lagi pula sepertinya antara 
definisi 'berbangsa' dan 'bernegara' yang ada di pembukaan UUD '45 dicampur 
aduk. 

Bangsa adalah sesuatu yang tidak bisa hilang semenjak kita lahir, dimanapun 
kita berada, di eropa, di amerika, kita adalah bangsa Indonesia, bahkan buat 
beberapa Orang Indonesia yang memiliki kewarganegaraan asing sekalipun. We can 
not change that...  Tapi kalo soal warga negara itu sudah urusan Bernegara 
dimana bangsa Indonesia bisa memilih untuk tetap attach ke Negara Indonesia 
atau negara lain. Nyatanya kualitas 'Negara Indonesia' akhir2 ini sangat 
menurun bahkan cenderung memalukan. Tapi apa malu sebagai Bangsa Indonesia, 
TIDAK.. Kita malu kepada Negara Indonesia yang gagal melindungi Bangsanya., 
seperti pada kasus Situ Gintung. Tapi kita tidak malu sebagai Bangsa Indonesia 
karena itu adalah hal yang berbeda. Coba lihat berapa banyak bangsa Indonesia 
yang sudah berkarya di negara lain dan meraih sukses tidak hanya buat negara 
yang ditinggali tetapi juga buat Negara Indonesia sendiri.

Saya mencoba menceritakan pengalaman pribadi pada saat mengajukan kredit mobil 
di salah bank di Belgia. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pribadi saya 
sudah lolos, tetapi sistem bank-nya memblok salah satu point yang membuat saya 
terkejut. Hanya karena sebagai warga negara Indonesia yang berada di Belgia, 
mereka harus mengecek apakah saya terlibat dengan jaringan teroris. Artinya 
secara tidak langsung Negara Indonesia termasuk negara black list dalam issue 
ini. Sedih ? tidak, Lah wong tidak terlibat. Malu ? iya.. kok bisa2nya dianggap 
'miring' sebagai orang dengan kewarga negaraan Indonesia. Andai saja saya sudah 
jadi warga negara Belgia, atau negara asing lainnya mungkin langsung lancar, 
even saya orang yang sama.

So menjadi bangga sebagai Bangsa Indonesia adalah sesuatu yang HARUS, tapi 
bangga sebagai warga Negara Indonesia, Tunggu dulu. Selama Negara Indonesia 
dipimpin oleh orang2 rakus kekuasaan dan manipulator ulung, Impian agar bisa 
'Berbangsa dan Bernegara Indonesia' adalah mimpi siang bolong. Mohon maaf buat 
para pendiri Negara Indonesia yang ada di liang kubur, impian Anda hanya 
tinggal impian. 

Jadi tidak ada yang salah dengan 'Bangsa Indonesia', tapi banyak kesalahan yang 
dilakukan oleh 'Negara Indonesia' kepada Bangsanya sendiri... Sungguh Suatu 
Ironi .....  So lebih baik GOLPUT karena negara (via pejabat2 korup) telah 
memanipulasi rasa cinta bangsanya demi kepentingan pribadi... Masya Allah 



Anis

Bayu, Apa udah ada info tentang kewarganegaraan ganda ? so Berbangsa Indonesia 
dan Bernegara Belgia... :) 



________________________________
From: Cici Marsianda Widiyanto <cie...@hotmail. com>
To: "ppibel...@yahoogro ups.com" <ppibel...@yahoogrou ps.com>
Sent: Wednesday, April 1, 2009 9:40:05 AM
Subject: RE: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


nampaknya tulisan ini memang sdh ada di Jakarta Post.
Very Inspiring... ......
 

________________________________
 To: ppibel...@yahoogrou ps.com
From: ya...@vub.ac. be
Date: Tue, 31 Mar 2009 18:44:32 +0200
Subject: re:[PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


Dear Pak Bayu

Yang bikin surat ini kelihatannya seorang journalis ya, wah bagus sekali 
pemaparannya. Kalau bisa tulisan ini dikirim ke Koran JAKARTA POS.. dijamin 
pasti dimuat.

Salam hormat

Yulheri Abas

By the way: Being Indonesian and proud of it
>
>Sun, 03/29/2009 11:14 AM | Headlines 
>
>Another head scratching moment for me and for people who assist me - as an
>Indonesian passport holder I always face the same issue every time I need or
>plan to go to other countries outside ASEAN. Applying for entry visas, with
>stacks of documents and tedious preparations required. At the end I always
>feel overwhelmed filling in the forms and preparing necessary documents. 
>
>One has suggested to me to change nationality to make it easier for me
>whenever I need to travel overseas. You know, for citizens of some
>countries, they have visa waivers so they can just jump up and go overseas
>anytime they want. 
>
>As a spontaneous person I feel this visa issue burdening me a lot. When I am
>in the mood for travel I need to check entry requirement first, then have to
>start applying for visas. Depending on the country and my luck (and so far I
>have been lucky), I will get a visa approved in 1-2 weeks. But, hey, the
>anticipation may not be there anymore. But what can I do? Nothing. Just try
>to keep my name clear so every time I apply for a visa or when I enter any
>country the immigration officer's computer will flash "Clear" or "Not in the
>dangerous list" or whatever. 
>
>Back to the suggestion of changing nationality, I suddenly remember one
>story of an Indonesian singer who already went international. She has been
>living outside Indonesia for many years and had established her reputation
>as a reputable international singer in Europe. She changed her Indonesian
>nationality to another nationality. She told the papers that as an
>international artist she had difficulties and often has a headache applying
>for and getting entry visas to perform or do overseas tours and the
>Indonesian embassy people did not help her much too. Exchanging nationality
>for ease of travel? 
>
>It is true that being Indonesian we often have to line up outside the
>embassy applying for visas that may or may not be approved, with stacks of
>documents and financial proofs that should be prepared, and we have to wait
>for at least 1 week or, it could be worst, 1 month to get it. In the
>process, our passports will be kept with them. Honestly I hate this waiting
>time. I am hopeless without my green passport. 
>
>Now come to think of it, why do people, in this case governments, always
>make things so complicated? Is it their nature not to trust anybody? So is
>it that we are guilty before proven innocent? 
>
>Maybe changing nationality is worth doing it. But, my blood is Indonesian.
>Although, like many Indonesians, I swear a lot about the country, but, it is
>my country, and I belong to it. I was, am and always will be Indonesian. No
>matter what. 
>
>I never knew that I loved my country until I realized it one day. I still
>remember vividly that day. I was about to move to Canada. It was late
>November. I was at Cengkareng airport in Jakarta, waiting for my flight. It
>was not a time when the national anthem was normally played publicly, but,
>suddenly I heard the Indonesian national anthem. I was dumb struck and
>started crying quietly. I missed Indonesia already. I promised myself that
>being Indonesian overseas meant that I had to represent Indonesia, make the
>country proud of me, and that I would be proud of the country and defend it.
>
>
>Despite any troubling things that have been happening in Indonesia, I am
>never ashamed of being Indonesian. I am sometimes sad and disappointed with
>what's happening in the country but am never ashamed of the country. If any
>bad news about Indonesia reaches the shores where I live, I will always take
>it as my responsibility to help the country to explain - especially to
>non-Indonesian people or people who are not familiar with Indonesia - what
>exactly is happening. 
>
>I always believe it is our duty to learn the best things wherever we live
>overseas and bring them back to Indonesia someday, perhaps to help build a
>better Indonesia in the future. 
>
>Well, in the end, with my discovering my true love of my country, Indonesia,
>it is really worth going through the headaches and bother of applying for
>entry visas rather than exchanging my identity. I am Indonesian. I will
>always be Indonesian. And I am proud of it. 
>
>- Iene Muliati 
>
> 
>
>Bayu. 
>
> 
>
>
>



________________________________
Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. 
Windows Live 

   


      

Kirim email ke