Ah.. Rizal Ramli... capek deh... asal heroik doang... paling nasibnya kayak Sri 
Bintang.. Sangat heroik tapi tenggelam karena jualannya enggak laku...

Kayak dia tidak tahu saja, bahwa untuk mengevaluasi jumlah utang bukan dari 
nilai absolut, tp dari nilai relatif: yaitu rasio utang terhadap PDB/Belanja 
APBN/Penerimaan Dalam Negeri/Ekspor. Utang memang mengkhawatirkan, tapi apa yg 
disebut rizal ramli utang meningkat adalah betul, tapi keliru dilihat dari cara 
melihatnya.  

dendi,
golputer

--- On Wed, 4/1/09, Sulistiono Kertawacana 
<sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id> wrote:

From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
Subject: [PPIBelgia] utang Indonesia dalam 5 tahun terakhir justru mengalami 
peningkatan
To: 
Date: Wednesday, April 1, 2009, 7:26 PM











    
            



sayang kurang iklan nigh heheh



-------- Original Message --------

  
    
      Subject: 
      

      
    
    
      Date: 
      

      
    
    
      From: 
      OK Taufik <ok.tau...@gmail. com>
    
    
      Reply-To: 
      

      
    
    
      To: 
      

      
    
  







*Rakyat itu di bodohi...bagaimana pemerintahan sekarng di katakan
berhasil,

sementara hutang semakin bertambah.



Jakarta* - Tim Indonesia Bangkit (TIB) mencatat utang Indonesia dalam 5

tahun terakhir justru mengalami peningkatan sebesar 31 persen menjadi Rp

1.667 triliun. Utang sebesar ini merupakan utang terbesar Indonesia

sepanjang sejarah.



Demikian disampaikan Ketua Tim Indonesia Bangkit, Rizal Ramli dalam
Jumpa

Pers di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Selasa (1/4/2009).



Ia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir jumlah utang Indonesia
meningkat

sebesar 31 persen dari Rp 1.275 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp
1.667

triliun pada bulan Januari 2009 atau naik kurang lebih sebesar Rp 392

triliun.



"Itu menempatkan Indonesia pada rekor utang terbesar sepanjang sejarah,"

tegasnya.



Sementara itu, Rizal juga mengatakan jumlah utang per kapita Indonesia
pun

meningkat. Jika pada 2004 utang per kapita Indonesia sekitar Rp 5,8
jutan

per kepala, maka pada Februari 2009 melonjak jadi Rp 7,7 juta per
kepala.



"Kan aneh, data TIB menunjukkan utang naik, kok berani-beraninya
pemerintah

bikin iklan utang turun," katanya.

*

Indonesia Percuma Datang Ke G-20*



Tim Indonesia Bangkit (TIB) juga menilai kedatangan Indonesia di G-20
bisa

sia-sia jika tidak membawa kepentingan ekonomi khusus bagi Indonesia

sendiri.



"Percuma saja jika Indonesia di G-20 tidak membawa sebuah agenda khusus
yang

mengutamakan perekonomian di Indonesia, semua akan sia-sia," ujar
ekonom TIB

Hendry Saparini dalam kesempatan yang sama.



Menurut Hendry, jika kehadiran Indonesia hanya memperkuat peran IMF dan
Bank

Dunia serta membuka lebar pintu perdagangan bebas maka sama saja hal itu

akan merugikan Indonesia karena dampak dari perdagangan bebas tersebut
akan

menjatuhkan industri lokal karena pasar akan dibanjiri oleh produk
impor.



"Rugi bila kita tidak membawa suatu agenda yang tidak membahas
kepentingan

ekonomi kita, namun hanya mengurusi IMF dan Bank Dunia," jelasnya.



"Kita jangan mau dibodoh-bodohi. Selama ini negara-negara maju tidak
pernah

membuka luas pintu perdagangan bebas. Kalau Indonesia tidak berani

memperjuangkan kepentingan ekonominya ya percuma aja berada di sana,"

tuturnya.



[Non-text portions of this message have been removed]








-- 
Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke