Wah nama saya terkait kait niy
tanggung sekalian basah, 
untuk bung Anis, saya hanya tidak setuju dengan pendapat anda mengenai MUI
"yang lebih parah lagi MUI mengharamkan kalau tidak memilih atau golput.
Alias kalau Anda tidak memilih berarti Anda masuk neraka. Kadang saya
berpikir ketika dahulu diceritakan oleh ustadz bahwa isi neraka itu
paling banyak adalah para pemimpin, mungkin sekarang neraka akan penuh
dengan para 'golputer'. So MUI berperan besar merubah komposisi neraka
dengan kebijakannya, wow.. how powerful is MUI"

saya termasuk orang yang mempunyai pandangan positip dan percaya bahwa MUI 
sudah mempertimbangkan dengan baik fatwa tersebut (tanpa pesanan para politikus 
n pejabat tentunya). untuk masuk neraka saya kira MUI tidak berperan sama 
sekali,  fatwa MUI bersifat anjuran/larangan untuk kebaikan umat.
orang masuk neraka mah bukan karena MUI tapi karena perbuatan individu yang 
bersangkutan.


back to the topic, menurut Undang-Undang pemilu kita 
(http://www.kpu.go.id/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=8&Itemid=78)
 
(saya kutip dari milis tetangga sebelah) Kalau kita baca Pasal 204 dan 
seterusnya dalam undang-undang tersebut, maka sebenarnya tidak ada ruang bagi 
Gol-Put untuk menyebut diri sebagai bentuk
perlawanan. Dalam pasal-pasal tersebut diterangkan bahwa seberapa persen pun 
suara
yang masuk maka jumlah kursi di DPR akan tetap terisi penuh. Hal ini
dilakukan dengan cara membagi jumlah kursi yang tersisa pada
partai-partai yang lolos electoral threshold, menurut prosentase
perolehan suara mereka.

Dengan kata lain, walaupun hanya 10% dari pemilih potensial yang
memberikan suara dalam pemilu, kursi DPR tetap saja akan terisi penuh
dan tidak akan kosong. Kalau yang menang dari 10% tersebut adalah
orang-orang yang korup, maka merekalah yang bakal memegang tongkat
komando kebijakan negara ini.

Begitu juga dalam pemilihan Presiden, yang berhak mencalonkan adalah
mereka yang memiliki 20% perolehan suara pemilu. Jadi yang dapat 20%
suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak mengajukan
capresnya. Dan capres yang memenangkan 51% suara dari 10% orang yang
ikut pemilu tetap berhak menjadi Presiden RI walaupun 90% lainnya
Golput.

Inilah romantika demokrasi, preview nya adalah Mesir, Hosni Mubarak
memenangkan pemilu yang hanya diikuti tidak lebih dari 30% pemilih
potensial karena calon-calon legislatif dari oposisi seperti kelompok
Ikhwanul Muslimin habis ditangkapi dan dipenjarakan, selain itu para
pendukung kelompok ini juga dipersulit bahkan dilarang ikut mencoblos
di banyak TPS negeri itu. Al-hasil Hosni Mubarak tetap jadi presiden
seluruh Mesir walau cuma beberapa persen dimenangkan.

saya percaya di antara partai partai pemilu 2009 yang katanya jelek  dan 
korupsi semua, masih ada yang
terbaik di antara yang terjelek, yang korupsinya jarang, yang anggotanya bukan 
preman, yang ga sellingkuh, etc
setidaknya dengan memilih partai yang lumayan ga korup, lumayan amanah, lumayan 
jarang tidur waktu rapat dpr, lumayan ga pernah selingkuh, etc  saya bisa ikut 
mengurangi politikus jelek,korup,selingkuh (inget lho selingkuh bukan poligami) 
menjadi anggota DPR periode 2009-2014

salam
  --utong--
yang mo ikut pemilu






________________________________
From: Anis Radianis <aradia...@yahoo.com>
To: PPIBelgia@yahoogroups.com
Sent: Sunday, April 5, 2009 6:31:12 PM
Subject: Re: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


Wah jadi rame nih, padahal terus terang rada males ngebales reply dari Cici 
yang kalau diteruskan akan lebih banyak jadi debat kusir yang menghabiskan 
banyak waktu, lebih baik menikmati cuaca spring yang rada bagus di belgia tahun 
ini. Anyway, kadang tangan ini enggak bisa diajak kompromi untuk memaparkan apa 
yang ada dikepala. 

Dari reply Cici saya mencoba menganalisa bahwa Cici paling tidak berasal dari 
lingkungan pemerintahan, either orangtua, paman atau kerabat dekatnya. Kenapa ? 
jawabannya sangat sederhana, betapa emosinya reply yang dibuat Cici ketika 
saya, Utong dan Dendi mencoba memaparkan borok pemerintah Indonesia. Ketika 
seseorang mengkritik seseorang dan kemudian seseorang itu mengkritik balik, 
disitulah titik ketidakdewasaan orang yang dikritik, yang menurut saya sudah 
menjadi warisan dari para pejabat kita yang 'kebal kritik'. 

Disinilah yang banyak orang sebut sebagai salah satu bentuk 'arogansi' pihak 
yang punya kuasa terhadap pihak yang tidak punya kuasa. Meminjam istilah 
sejarah Perancis dengan slogan le'etat c'est moi yang berarti negara adalah 
saya, milik saya, terserah saya, mau2 gue dan lain2. Lucunya paham ini masih 
ada di hati para pejabat kita even setelah era reformasi. Bukannya bagaimana 
berpikir untuk memberikan jasa kepada rakyatnya, malah berpikir apa yang bisa 
saya manfaatkan dari rakyat saya. Sekali lagi saya mengucap astagfirullah. ..

Salah satu event besar untuk memanfaatkan rakyat Indonesia adalah pemilu nanti 
dimana rakyat Indonesia diberi hak untuk memilih. Lucunya, beberapa pejabat 
menyebut sebagai kewajiban dan yang lebih parah lagi MUI mengharamkan kalau 
tidak memilih atau golput. Alias kalau Anda tidak memilih berarti Anda masuk 
neraka. Kadang saya berpikir ketika dahulu diceritakan oleh ustadz bahwa isi 
neraka itu paling banyak adalah para pemimpin, mungkin sekarang neraka akan 
penuh dengan para 'golputer'. So MUI berperan besar merubah komposisi neraka 
dengan kebijakannya, wow.. how powerful is MUI... bravo... Kadang saya cuma 
bisa tertawa kecil melihat kebodohan-kebodohan di negeri Indonesia.

Kalau kita cukup cerdas melihat fakta bahwa sistem pemilu yang sekarang 
tidaklah se demoktaris yang digembor-gemborkan, tentu akan banyak para golput 
di Indonesia yang nyatanya itulah fakta yang terjadi. Menurut survey yang 
dimuat harian Kompas (kalau saya tidak salah) golput di Pilkada meningkat 
hampir mencapai 40%. Atau sederhananya dari 10 teman dekat kita 4 teman kita 
tidak mau memilih dengan berbagai alasan. Inilah yang membuat.. tikus...oops 
sorry politikus..kalang kabut, sampai2 melobi MUI untuk meningkatkan angka ini, 
termasuk bermain dengan uang tunai.

Saya coba memaparkan fenomena memilih di pemilu ini dengan fenomena yang di 
analisa dan dijadikan teori di bidang behavioral economics oleh prof. Dan 
Ariely dari MIT (ww.predictablyirra tional.com) . Jangan mengernyitkan dahi 
dulu, cabang behavior economics ini agak beda dengan classical economic yang 
menurut saya agak rumit walau latar belakang saya dari jurusan ekonomi. Menurut 
teori Dan, dalam memilih ternyata manusia lebih banyak bersikap irrasional 
daripada rasional. Dia memberi beberapa contoh ketika kita berbelanja di 
supermarket dan kita dihadapkan pada beberapa pilihan harga dan barang. 
Ternyata kita cenderung memilih secara relatif barang dengan harga terendah 
atau berkualitas diantara barang2 yang di disdisplay saja. Alias kita lupa 
untuk melihat bahwa harga barang tersebut sebetulnya sangat mahal dibanding 
barang yang sama di tempat lain. Behavior manusia ini dimanfaatkan dengan 
sangat baik oleh para pemilik supermarket tersebut dengan
 memberikan 'jebakan'. Barang yang ingin dijual secara optimal di buat menarik 
dan ada barang yang dijual sangat mahal dan jelek hanya sebagai pembanding agar 
supaya orang memilih barang yang menjadi target, how smart..!!

Nah dalam kasus pemilu nanti kita sudah tahu bagaimana kita diberikan pilihan 
yang sangat terbatas dengan alasan electroral treshold atau semacamnya yang 
didisain oleh sekelompok orang seperti pemilik supermarket tadi.  Tujuan 
akhirnya, si pemilih atau rakyat Indonesia hanya diberikan beberapa pilihan 
yang ujung2nya hanya jago yang sudah didisain lah yang memenangkan pemilu. 
Lihat bagaimana SBY memenangkan pemilu 5 tahun lalu, bukan karena dia bagus 
tapi karena lawan2 dia adalah jebakan agar dia terpilih. Saya sebetulnya ingin 
menulis fenomena ini dengan judul 'Indonesian Election, A contest to choose the 
Sweetest Bandit from all of Indonesian Archipelago' , mudah2an saya ada waktu 
menyelesaikannya.

Jadi pemilih yang memilih dalam pemilu nanti cenderung 'irrasional' meminjam 
istilah Dan, karena mereka hanya memiliki beberapa pilihan yang percaya atau 
tidak sudah didisain dengan sangat baik. Tapi Tuhan itu maha adil kawan2, kita 
bisa saja tidak memilih dalam pemilu atau dalam kasus supermarket tadi tidak 
jadi membeli kalau kita 'rasional'. Sayangnya kebanyakan dari kita adalah 
orang2 yang 'irrasional' , ce'est la vie...
 
Terakhir dan yang terpenting, apa yang Cici ucapkan adalah hal yang wajar 
karena memang itulah sudut pandang Cici yang hidup dalam habitatnya sendiri. 
Sungguh suatu yang sangat aneh kalau Cici mendukung analisa saya, utong, Dendi 
dan masyarakat Indonesia di Belgia lainnya... Kalau kata Joshua.. Mosok Jeruk 
makan Jeruk...!!



Anis

-- Selamat untuk tidak memilih because we are just a rational human being.




________________________________
From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac a...@alumni. ui.ac.id>
To: ppibel...@yahoogrou ps.com
Sent: Saturday, April 4, 2009 11:56:02 AM
Subject: Re: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


jadi ternyata ada "kode  diplomatiknya"  ya mba
untuk urut2an Foto hehhe 

Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/

Cici Marsianda Widiyanto wrote: 
 
Boleh saja tidak sependapat Mas Dendi, Indonesia adalah negara
demokrasi. Jangankan cuma kritik, tidak ikut Pemilu juga tidak ada
sanskinya.  Nah, boleh donk saya mengkiritik orang yang tidak mau
terlibat dalam proses politik negaranya sendiri tapi kemudian justru
mengkritik sistim politik yang dia tidak mau ikut terlibat padahal dia
bisa. Sampai kita menemukan sistim partisipasi politik lain yang lebih
baik, Pemilihan Umum adalah salah satu cara kita bernegara.  Saya hanya
melihat bahwa saat ini negara kita sedang mencari arah menuju yang
lebih baik. Apa tidak elok jika kita turut serta menentukan arah
tersebut ? 
 
Mungkin kita berbeda pandangan atas hal ini. So What ? Tidak masalah.
Kita tetep orang Indonesia.
 
Well, just a piece of my mind
 
 
(Saya kok tidak yakin urutan photo ditentukan oleh besar kecilnya
devisa. Biasanya sih urut abjad).    

 

________________________________
To: ppibel...@yahoogrou ps.com
From: dendiramdani@ yahoo.com
Date: Thu, 2 Apr 2009 03:42:51 -0700
Subject: RE: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it


Saya agak tidak sependapat dengan email
dibawah, terutama paragraph terakhir. Juga saya tidak mengerti apa yang
dimaksud dengan kalimat "Jangan hanya bisa mengkritik. Coba ikut
menyelesaikan masalah". 

Saya pikir wajar-wajar saja tiap orang melontarkan kritik kepada orang
yg bekerja di publik sektor (birokrasi) atau para penyelenggara negara
(DPR dan pemerintahan: presiden/gubernur/ walikota) karena adalah
tugas mereka memberikan pelayanan publik. 

Tentang ikut menyelesaikan masalah, saya pikir dengan menjalankan peran
profesi masing-masing sebaik mungkin adalah kontribusi yang sangat
besar. Misalnya: yang lagi sekolah, sekolah lah yang baik; yang dosen
jadilah dosen yang baik; yang pegawai BUMN jadilah pegawai yang baik;
yang jadi birokrat di departemen atau pemda, jadilah birokrat yang
baik; yang kerja di sektor swasta jadilah pekerja yang baik dan
produktif. Kan tidak mungkin misalnya, seseorang yang dosen disuruh
menangai kisruh kampanye, ini kan tugas Panwaslu/KPU. Atau, yang kerja
di swasta ikut memberantas korupsi, ini kan tugasnya Kejaksaan dan KPK.

Tentang keikutsertaan pemilu, buat saya yang selalu golput sejak jaman
Soeharto, kecuali pemilu tahun 1999 karena aktif di partai, keputusan
tidak ikut memilih karena saya memandang semua partai sama kualitasnya,
tidak ada yg lebih baik atau buruk. Tidak ada satu pihak pun yang bisa
membawa perbaikan berarti, kalaupun ada perbaikan di Indonesia itu
adalah hasil proses alamiah sebagai keharusan sejarah. Seperti ketika
harga BBM turun, itu adalah keharusan sejarah karena harga minyak dunia
turun, bukan hasil kerja langsung SBY/JK. 

Susah juga kalau memilih partai hanya berdasarkan "anggapan" bahwa
partai A berkualitas baik sedangkan partai B berkualitas jelek. Juga,
saya kira tidak ada relevansi "pemilih memilih dengan baik dan tulus"
akan membuat negara maju. Yang perlu adalah pemilih yang rasional dan
kritis yang bisa mendorong negara maju. 

Selain itu, tidak ada yang menjamin bagaimana mekanisme saya bisa
mengontrol kinerja orang/partai yang saya pilih, kecuali 5 tahuk
mendatang tidak memilih dia lagi (seandainya itu orang mencalonkan lagi
dan partainya masih ada). Kalau pemilu partai saya pasti golput sebab
saya tidak kenal orang dan tawaran program tidak jelas, dilihat dari
sisi partainya jg tidak ada yg bisa menjamin kualitas dan integritas. 

Buat saya menentukan pilihan dalam pemilu seperti berjudi. Beruntung
kalau kebetulan memilih yang baik; sial kalau kebetulan memilih yang
buruk (tahunya itu caleg kena kasus suap/korupsi, misalnya). 

Tentang keikutsertaan Indonesia di G20, memang Indonesia cukup besar
dibanding singapore dan malaysia dilihat dari size penduduk, luas
wilayah dan size ekonomi, tapi kalau dilihat kapasitas per kapita
(misalnya income per kapita), kemampuan militer, atau dari sisi
keuangan pemerintah jauh sekali dibandingkan negara peserta G20.
Contoh, cadangan devisa Indonesia cuma 60 milyar dolar, bandingkan
dengan singapore yg penduduknya sama dengan jumlah bayi yang lahir di
Indonesia setiap tahun, punya cadangan devisa 160 milyar dolar. Jangan
tanya berapa jumlah cadangan devisa Cina. Makanya tidak heran kalau Pak
Budioni dan Sri Mulyani, waktu difoto bareng-bareng dengan menteri
keuangan dan gubernur bank sentral negara lain, nyempil sendiri paling
pinggir, bukan di tengah.

salam,
dendi





--- On Thu, 4/2/09, Cici Marsianda Widiyanto <cie...@hotmail. com> wrote:


From: Cici Marsianda Widiyanto <cie...@hotmail. com>
Subject: RE: [PPIBelgia] Being Indonesian and proud of it
To: "ppibel...@yahoogro ups.com" <ppibel...@yahoogrou ps.com>
Date: Thursday, April 2, 2009, 10:47 AM


Masalah negara dan bangsa Indonesia memang menarik untuk
dibicarakan.  Well,  Indonesia bersama India, Cina dan Korea Selatan
adalah  negara berkembang yang diundang untuk menghadiri KTT G-20 di
London untuk membicarakan solusi atas krisis ekonomi dunia.  Presiden RI
akan duduk bersama Presiden AS, PM Inggris dll untuk mengatasi krisis
ini. Bukan sekedar duduk, pendapat Indonesia akan didengar dan
didiskusikan. Kenapa bukan Malaysia ? Kenapa bukan Thailand ?
 
Sejak tahun 2004 Indonesia menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di
dunia setelah AS dan India. Sejak tahun 2004 telah digelar ratusan
Pemilihan Kepala Daerah di berbagai daerah TK I dan TK II di Indonesia.
Hampir seluruh sengketa terkait hasil PILKADA ini terselesaikan melalui
Keputusan Mahkamah Konstitusi. Memang ada yang berdampak pada
pertentangan fisik seperti di Maluku Utara. Namun setelah Mahkamah
Konstitusi memutuskan relatif sengketa menjadi selesai.
 
Memang Tanggul Situ Gintung jebol dan membawa korban jiwa. Memang
masalah LAPINDO tidak kunjung selesai permasalahannya. Memang kasus
BLBI masih terkatung-katung. Memang Australia mengalami masalah bush
fire terbesar beberapa waktu lalu, Memang bos AIG menggunakan dana
talangan Pemerintah AS sebagai bonus mereka, Memang Belgia masih
memiliki masalah politik pemerintahan yang tidak kunjung selesai. Pun
Pakistan punya masalah terorisme yang makin menggila. There are no
countries which are problem free. That is not the issue. The issue is
how we handle them. How the problems are managed.
 
Jangan hanya bisa mengkiritik. Coba ikut menyelesaikan masalah.
Bagaimana kita bisa ikut menyelesaikan masalah negara ? Mari Ikuti
Pemilu. Pilih partai yang kita angap berkualitas. Pilih pemimpin yang
baik. Apakah negara jadi maju ? Iya kalau para pemilih memilih dengan
baik dan tulus.  
 
Well, sekedar saran.
 

 


________________________________

________________________________
 Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 
 

________________________________
Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the
way you want. Windows Live 

   


      

Kirim email ke