hahaha.. nice thought ..  

Jadi kesimpulannya orang2 kaya dan pemimpin di Indonesia adalah orang2 goblok 
menurut orang Eropa.. !!! buktinya mereka tidak berhasil mencetak para pemikir 
cerdas, yang ada nyeburin orang2 pinter biar bisa disetir... Contoh gampang di 
Indonesia si Bakrie berhasil jadiin SBY --militer dan doktor-- presiden, terus 
in-retun si Bakrie dapet konsesi macem2 dan dia jadi orang terkaya di Indonesia 
hanya ketika si SBY berkuasa. Sri mulyani --Doktor-- direkrut SBY dan jadi 
kagak pinter (buktinya ekonomi makin amburadul) karena disetir buat bikin kaya 
si Bakrie. Nah karena untuk jadi presiden butuh uang banyak dari si kaya, si 
SBY pasti jadi presiden lagi tahun ini (taruhan ayoo 100 Eurom, sapa mau ??) 
karena si Bakrie udah dapet profit banyak dan dari profit itu dia invest ke SBY 
dan konco2nya dia tentunya. Buat Bakrie lebih baik invest ke politikus seperti 
SBY karena lebih menguntungkan dalam jangka pendek daripada mencetak pemikir 
which enggak jelas dan long
 term banget. So win-win buat orang kaya, politikus dan pemimpin. Tapi buat 
rakyat, so pasti loose-loose. Misalnya nih kita rakyat berantem beragumentasi, 
lah dia mah udah pasti jalan terus kayak gerbong kereta TGV, so enggak ada yang 
berubah ... hahahaha, makanya golput aja biar JELAS...



________________________________
From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
Sent: Friday, April 17, 2009 1:08:27 PM
Subject: [PPIBelgia] Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama





Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma 
Irama 

http://ferizalramli .wordpress. com/

Wangsit 
Ngawur dari Mbah Gugel: Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama

Kala itu 
si jenius Karl Marx mendekati ajalnya. Tampak sahabatnya Friedrich Engels 
menemaninya sampai hebusan nafas terakhir dari „Sang Nabi" Sosialis. Engels dan 
Marx adalah contoh kolaborasi dan sinerji nyata antara milyader dan 
intelektual.

Karl Marx adalah pemikir yang cemerlang, bahkan amat sangat 
cemerlang. Kehidupan di dunia ini hanya „ditentukan" oleh dua pemikir besar 
yaitu Karl Marx dan Adam Smith. (Saat menulis kata „ditentukan" menggunakan 
tanda kutip).

Kehidupan Marx hanya diisi dengan berpikir, berpikir dan 
berpikir. Seluruh kebutuhan hidupnya dijamin oleh sahabatnya Engels, sang 
industriawan kaya raya. Marx tidak pernah dibebani untuk cari uang agar bisa 
hidup. Tugas Marx selama hidupnya cuma satu: melahirkan karya-karya 
Masterpiece!

Itulah tipikal kehidupan banyak intelektual di masyarakat 
Eropa. Para industriawan, orang kaya, milyader tidak berbondong-2 menjadi 
politisi. Tidak berbondong-2 menjadi caleg atau camen (calon menteri) atau 
capres atau cawapres. Mereka justru mendedikasikan kekayaannya untuk 
berkolaborasi dengan orang pandai agar bisa menghasilkan sesuatu yang terbaik 
bagi bangsanya. 

Para orang kaya menjadi penyumbang terbesar universitas, 
penjamin hidup dari para intelektual. Para intelektual tersebut tidak lagi 
dipusingkan mencari uang untuk sesuap nasi karena hidupnya telah dijamin oleh 
orang kaya. Para intelektual fokus menghasilkan karya masterpiece. Para orang 
kaya ini bahkan menyokong tokoh-2 idialis agar bisa menjadi pemimpin. Pada 
gilirannya negara akan dipimpin oleh orang-2 yang baik dan cerdas. 

Tapi 
mengapa hal yang baik ini; fenomena kolaborasi antara orang pinter idialis 
dengan orang kaya untuk menghasilkan karya terbaik bagi bangsanya tidak terjadi 
di Indonesia? Mengapa hal ini tidak terjadi di masyarakat kita?

Sindroma 
Rhoma Irama! Sindroma Rhoma Irama lah yang menjadi 
jawabannya!

XXX

Ingatkah saat kanak-kanak dengan tokoh pujaan kita 
Rhoma Irama di tahun 70-an sampai pertengahan 80-an? Lagu Darah Muda, Begadang, 
Lari Pagi, dll adalah lagu-2 legendaris karya Rhoma Irama. 

Ingatkah 
film-2 yang dilakoninya? Saat main Film sang tokoh pujaan kita ini selalu 
menjadi lakon jagoan yang baik. Jago nyanyi. Jago musik. Tokoh sukses yang 
kaya. 
Ustadz, pendakwah. Selalu menjadi pemimpin yang mengayomi anak buahnya. Cerdas 
dengan ide-idenya. Jantan, jago berantem dan bela diri. Dikelilingi oleh para 
wanita cantik, dsb…, dsb… 

Pokoknya semua atribut estetika keduniawiaan 
menyatu dalam diri Rhoma Irama seorang. Sementara orang disekitar Rhoma Irama 
hanya akan jadi obyek penggembira. Yang mereka harus ada sebagai pembanding 
antara si sukses dengan si papa. Mereka harus ada untuk memuja sang 
Tokoh.

Dan kita, para penonton film Rhoma Irama, akan terkagum-kagum akan 
lakon sukses sang jagoan. Sambil bermimpi untuk juga memiliki seluruh atribut 
estetika tersebut: ingin terlihat kaya, sekaligus ingin terlihat sukses, 
sekaligus ingin dianggap sebagai pendakwah, sekaligus ingin menjadi pemimpin, 
sekaligus ingin dianggap intelektual pinter, sekaligus ingin terlihat gagah dan 
jantan serta juga ingin dipuja oleh para wanita cantik.

Figur dengan 
atribut estetika duniawi inilah yang tampaknya menjadi obsesi besar bagi banyak 
diantara kita. Khayalan Rhoma Irama yang diekspresikan dalam film tersebut 
ternyata menjadi obsesi buat banyak diantara kita. 

Inilah yang dinamakan 
sindroma Rhoma Irama; terlalu tinggi mengukur dan memuja diri sehingga ingin 
memiliki segalanya.

XXX

Saat seorang kaya raya maka yang 
dilakukannya adalah mengejar posisi jadi menteri atau bahkan presiden. Tidak 
peduli apakah dia berbakat menjadi pemimpin visioner atau tidak, tapi rasanya 
belum terlihat sempurna jika belum menjadi pejabat publik. 

Saat 
seseorang punya kesempatan menjadi pemimpin atau anggota legislatif maka yang 
dilakukannya adalah berusaha menjadi kaya. Aksesori keduniawiannya harus 
berubah. Harus selevel dengan para industriawan sukses atau para eksekutif-2 
perusahaan papan atas. Kalau perlu ikut juga mengkoleksi mobil mewah plus 
wanita 
cantik sebagai simbol suksesnya. 

Saat seorang yang lulusan Akabri justru 
bersusah payah mengejar gelar akademik biar dianggap sebagai Militer Pemikir. 
Jika gelar diperoleh dengan cara sah masih bolehlah. Ironisnya, banyak 
diantaranya mengambil gelar Doktor dari Doktor Paket Program Malam atau Doktor 
Paket Program Universitas Rumah Toko. 

Saat orang sipil yang biasa-biasa 
aja. Agar terlihat gagah dan perkasa memakai seragam yang atributnya 
mirip-mirip 
militer. Atas nama Satgas atau Garda Republik Pembela Bangsa atau apalah 
namanya, yang penting terlihat macho, gagah dan jantan!

Ini adalah 
sindroma Rhoma Irama…

XXX

Mengapa para industriawan atau pengusaha 
kaya ini tidak mendedikasikan kekayaannya untuk mendukung para pemimpin idialis 
untuk pemimpin publik? Mengapa tidak mendukung para intelektual agar 
menghasilkan karya-karya agung? Mengapa tidak mendedikasikan hartanya untuk 
membantu universitas- 2 negeri ini menjadi berkelas dunia?

Mengapa 
pula para orang pinter yang duduk di kursi pemimpin harus memaksakan diri agar 
terlihat sukses dan kaya bergaya perlente bak para industriawan dan pengusaha? 

Mengapa para intelektual pinter, doktor dari universitas reputasi tinggi 
yang mampu membuat paten berkelas dunia bukannya malah fokus dengan 
pengembangan 
ilmunya, tapi malah maju menjadi caleg partai politik? 

Tidak kah kita 
menyadari bahwa seorang yang berbakat mencetak profit itu belum tentu seorang 
pemimpin yang visioner?

Tidak kah kita menyadari bahwa kursi kepemimpinan 
itu bukan untuk mencari kaya raya. Karena jika kaya, bukan menjadi politisi 
tapi 
menjadi eksekutif atau pengusaha. 

Tidak kah kita menyadari seorang 
doktor penemu rumus Fisika atau Kimia itu belum tentu seorang pemimpin visioner 
yang memiliki kecerdasan sosial. Lantas mengapa harus memaksakan diri menjadi 
politisi?

Tidak kita menyadari bahwa seorang Ustadz yang paham nilai 
agama belum tentu canggih dan cerdas menangkap aspirasi rakyat. Mengapa harus 
memaksakan diri menjadi politisi?

Cerita tentang kesempurnaan Rhoma Irama 
itu hanya ada di film. Itu tidak eksis di alam nyata. Dia alam nyata yang 
dibutuhkan adalah kolaborasi dan sinergi. Di dunia nyata yang diperlukan adalah 
kesadaran mengukur diri, kesadaran untuk tidak memuja diri secara berlebihan. 
Kesadaran atas keterbatasan diri inilah yang membuat kita mau bekerja sama 
dengan orang lain untuk memujudkan sesuatu yang terbaik bersama…

Tradisi 
pola kerja sama yang tidak ingin mengusai semuanya untuk diri sendiri inilah 
yang menjadikan masyarakat Eropa pada akhirnya menjadi bangsa yang memimpin 
dunia…

Salam hangat,
16 April 2009, dari Kehangatan Musim Semi Tepian 
Lembah Sungai Isar,

Ferizal Ramli
Teruntuk salam empatik bagi para 
caleg dan keluarganya yang mengalami gocangan jiwa bahkan bunuh diri

-- 
Best regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/




      

Kirim email ke