Tunggu aja apa bisa bikin Rizal jadi pemenang Nobel ... hehehe, paling banter 
think tank buat mempertahankan kekuasaan...
Gw inget yang 6 tahun lalu lembaga ini dapet duit dari Amerika (kalo enggak 
salah 5 milyar) dan beberapa pengusaha Indonesia (yang ini kagak tahu dan 
pastinya lebih deh...) untuk memenangkan SBY. Dan karena amerika masih seneng 
sama SBY (konsesi minyak di Tuban, de el el) so pasti didukung lagi, apalagi 
budgetnya 'unlimited'. Makanya ada yang mau taruhan dia masih akan berkuasa ??  
 hehehehe...


Anis 
(Yang pernah jadi Informan, tapi keluar karena idealisme--kasian rakyat kecil 
dijadiin mainan--)



________________________________
From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac...@alumni.ui.ac.id>
To: PPIBelgia@yahoogroups.com
Sent: Monday, April 20, 2009 8:40:00 PM
Subject: Re: [PPIBelgia] Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama





Bung Anis, sebenrnya Bakrie juga bikin lembaga Think
Tank seperti Freedom Institute yang digawangi oleh Rizal Mallarangeng
PhD dkk hehe

Kind regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke rtawacana. blogspot. com/

Anis Radianis wrote: 
hahaha.. nice thought .. Â 

Jadi kesimpulannya orang2 kaya dan pemimpin di Indonesia adalah
orang2 goblok menurut orang Eropa.. !!! buktinya mereka tidak berhasil
mencetak para pemikir cerdas, yang ada nyeburin orang2 pinter biar bisa
disetir... Contoh gampang di Indonesia si Bakrie berhasil jadiin SBY
--militer dan doktor-- presiden, terus in-retun si Bakrie dapet konsesi
macem2 dan dia jadi orang terkaya di Indonesia hanya ketika si SBY
berkuasa. Sri mulyani --Doktor-- direkrut SBY dan jadi kagak pinter
(buktinya ekonomi makin amburadul) karena disetir buat bikin kaya si
Bakrie. Nah karena untuk jadi presiden butuh uang banyak dari si kaya,
si SBY pasti jadi presiden lagi tahun ini (taruhan ayoo 100 Eurom, sapa
mau ??) karena si Bakrie udah dapet profit banyak dan dari profit itu
dia invest ke SBY dan konco2nya dia tentunya. Buat Bakrie lebih baik
invest ke politikus seperti SBY karena lebih menguntungkan dalam jangka
pendek daripada mencetak pemikir which enggak jelas dan long term
banget. So win-win buat orang kaya, politikus dan pemimpin. Tapi buat
rakyat, so pasti loose-loose. Misalnya nih kita rakyat berantem
beragumentasi, lah dia mah udah pasti jalan terus kayak gerbong kereta
TGV, so enggak ada yang berubah ... hahahaha, makanya golput aja biar
JELAS...



________________________________
From: Sulistiono Kertawacana <sulistiono.kertawac a...@alumni. ui.ac.id>
Sent: Friday, April
17, 2009 1:08:27 PM
Subject: [PPIBelgia]
Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama


Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama 

http://ferizalramli
.wordpress. com/

Wangsit Ngawur dari Mbah Gugel: Bangsa yang terkena Sindroma Rhoma Irama

Kala itu si jenius Karl Marx mendekati ajalnya. Tampak sahabatnya
Friedrich Engels menemaninya sampai hebusan nafas terakhir dari „Sang
Nabi" Sosialis. Engels dan Marx adalah contoh kolaborasi dan sinerji
nyata antara milyader dan intelektual.

Karl Marx adalah pemikir yang cemerlang, bahkan amat sangat cemerlang.
Kehidupan di dunia ini hanya „ditentukan" oleh dua pemikir besar
yaitu Karl Marx dan Adam Smith. (Saat menulis kata „ditentukan"
menggunakan tanda kutip).

Kehidupan Marx hanya diisi dengan berpikir, berpikir dan berpikir.
Seluruh kebutuhan hidupnya dijamin oleh sahabatnya Engels, sang
industriawan kaya raya. Marx tidak pernah dibebani untuk cari uang agar
bisa hidup. Tugas Marx selama hidupnya cuma satu: melahirkan
karya-karya Masterpiece!

Itulah tipikal kehidupan banyak intelektual di masyarakat Eropa. Para
industriawan, orang kaya, milyader tidak berbondong-2 menjadi politisi.
Tidak berbondong-2 menjadi caleg atau camen (calon menteri) atau capres
atau cawapres. Mereka justru mendedikasikan kekayaannya untuk
berkolaborasi dengan orang pandai agar bisa menghasilkan sesuatu yang
terbaik bagi bangsanya. 

Para orang kaya menjadi penyumbang terbesar universitas, penjamin hidup
dari para intelektual. Para intelektual tersebut tidak lagi dipusingkan
mencari uang untuk sesuap nasi karena hidupnya telah dijamin oleh orang
kaya. Para intelektual fokus menghasilkan karya masterpiece. Para orang
kaya ini bahkan menyokong tokoh-2 idialis agar bisa menjadi pemimpin.
Pada gilirannya negara akan dipimpin oleh orang-2 yang baik dan cerdas. 

Tapi mengapa hal yang baik ini; fenomena kolaborasi antara orang pinter
idialis dengan orang kaya untuk menghasilkan karya terbaik bagi
bangsanya tidak terjadi di Indonesia? Mengapa hal ini tidak terjadi di
masyarakat kita?

Sindroma Rhoma Irama! Sindroma Rhoma Irama lah yang menjadi jawabannya!

XXX

Ingatkah saat kanak-kanak dengan tokoh pujaan kita Rhoma Irama di tahun
70-an sampai pertengahan 80-an? Lagu Darah Muda, Begadang, Lari Pagi,
dll adalah lagu-2 legendaris karya Rhoma Irama. 

Ingatkah film-2 yang dilakoninya? Saat main Film sang tokoh pujaan kita
ini selalu menjadi lakon jagoan yang baik. Jago nyanyi. Jago musik.
Tokoh sukses yang kaya. Ustadz, pendakwah. Selalu menjadi pemimpin yang
mengayomi anak buahnya. Cerdas dengan ide-idenya. Jantan, jago berantem
dan bela diri. Dikelilingi oleh para wanita cantik, dsb…, dsb… 

Pokoknya semua atribut estetika keduniawiaan menyatu dalam diri Rhoma
Irama seorang. Sementara orang disekitar Rhoma Irama hanya akan jadi
obyek penggembira. Yang mereka harus ada sebagai pembanding antara si
sukses dengan si papa. Mereka harus ada untuk memuja sang Tokoh.

Dan kita, para penonton film Rhoma Irama, akan terkagum-kagum akan
lakon sukses sang jagoan. Sambil bermimpi untuk juga memiliki seluruh
atribut estetika tersebut: ingin terlihat kaya, sekaligus ingin
terlihat sukses, sekaligus ingin dianggap sebagai pendakwah, sekaligus
ingin menjadi pemimpin, sekaligus ingin dianggap intelektual pinter,
sekaligus ingin terlihat gagah dan jantan serta juga ingin dipuja oleh
para wanita cantik.

Figur dengan atribut estetika duniawi inilah yang tampaknya menjadi
obsesi besar bagi banyak diantara kita. Khayalan Rhoma Irama yang
diekspresikan dalam film tersebut ternyata menjadi obsesi buat banyak
diantara kita. 

Inilah yang dinamakan sindroma Rhoma Irama; terlalu tinggi mengukur dan
memuja diri sehingga ingin memiliki segalanya.

XXX

Saat seorang kaya raya maka yang dilakukannya adalah mengejar posisi
jadi menteri atau bahkan presiden. Tidak peduli apakah dia berbakat
menjadi pemimpin visioner atau tidak, tapi rasanya belum terlihat
sempurna jika belum menjadi pejabat publik. 

Saat seseorang punya kesempatan menjadi pemimpin atau anggota
legislatif maka yang dilakukannya adalah berusaha menjadi kaya.
Aksesori keduniawiannya harus berubah. Harus selevel dengan para
industriawan sukses atau para eksekutif-2 perusahaan papan atas. Kalau
perlu ikut juga mengkoleksi mobil mewah plus wanita cantik sebagai
simbol suksesnya. 

Saat seorang yang lulusan Akabri justru bersusah payah mengejar gelar
akademik biar dianggap sebagai Militer Pemikir. Jika gelar diperoleh
dengan cara sah masih bolehlah. Ironisnya, banyak diantaranya mengambil
gelar Doktor dari Doktor Paket Program Malam atau Doktor Paket Program
Universitas Rumah Toko. 

Saat orang sipil yang biasa-biasa aja. Agar terlihat gagah dan perkasa
memakai seragam yang atributnya mirip-mirip militer. Atas nama Satgas
atau Garda Republik Pembela Bangsa atau apalah namanya, yang penting
terlihat macho, gagah dan jantan!

Ini adalah sindroma Rhoma Irama…

XXX

Mengapa para industriawan atau pengusaha kaya ini tidak mendedikasikan
kekayaannya untuk mendukung para pemimpin idialis untuk pemimpin
publik? Mengapa tidak mendukung para intelektual agar menghasilkan
karya-karya agung? Mengapa tidak mendedikasikan hartanya untuk membantu
universitas- 2 negeri ini menjadi berkelas dunia?

Mengapa pula para orang pinter yang duduk di kursi pemimpin harus
memaksakan diri agar terlihat sukses dan kaya bergaya perlente bak para
industriawan dan pengusaha? 

Mengapa para intelektual pinter, doktor dari universitas reputasi
tinggi yang mampu membuat paten berkelas dunia bukannya malah fokus
dengan pengembangan ilmunya, tapi malah maju menjadi caleg partai
politik? 

Tidak kah kita menyadari bahwa seorang yang berbakat mencetak profit
itu belum tentu seorang pemimpin yang visioner?

Tidak kah kita menyadari bahwa kursi kepemimpinan itu bukan untuk
mencari kaya raya. Karena jika kaya, bukan menjadi politisi tapi
menjadi eksekutif atau pengusaha. 

Tidak kah kita menyadari seorang doktor penemu rumus Fisika atau Kimia
itu belum tentu seorang pemimpin visioner yang memiliki kecerdasan
sosial. Lantas mengapa harus memaksakan diri menjadi politisi?

Tidak kita menyadari bahwa seorang Ustadz yang paham nilai agama belum
tentu canggih dan cerdas menangkap aspirasi rakyat. Mengapa harus
memaksakan diri menjadi politisi?

Cerita tentang kesempurnaan Rhoma Irama itu hanya ada di film. Itu
tidak eksis di alam nyata. Dia alam nyata yang dibutuhkan adalah
kolaborasi dan sinergi. Di dunia nyata yang diperlukan adalah kesadaran
mengukur diri, kesadaran untuk tidak memuja diri secara berlebihan.
Kesadaran atas keterbatasan diri inilah yang membuat kita mau bekerja
sama dengan orang lain untuk memujudkan sesuatu yang terbaik bersama…

Tradisi pola kerja sama yang tidak ingin mengusai semuanya untuk diri
sendiri inilah yang menjadikan masyarakat Eropa pada akhirnya menjadi
bangsa yang memimpin dunia…

Salam hangat,
16 April 2009, dari Kehangatan Musim Semi Tepian Lembah Sungai Isar,

Ferizal Ramli
Teruntuk salam empatik bagi para caleg dan keluarganya yang mengalami
gocangan jiwa bahkan bunuh diri

-- 
Best regards,
Sulistiono Kertawacana
http://sulistionoke
rtawacana. blogspot. com/





      

Kirim email ke